
Suasana gedung tampak ramai dan pesta pun berlangsung meriah. Lima belas menit yang lalu, Cyara sudah sah menjadi istri dari Zavier Gottardo. Keduanya tersenyum menyambut para tamu seharian ini. Cyara begitu terlihat cantik dengan gaun pengantin berwarna putih lengan panjang serasi dengan Vier yang terlihat begitu tampan.
Para tamu kini sudah bergantian pergi meninggalkan tempat dan kini yang tersisa hanya keluarga besar mempelai pria yang masih asyik bercengkrama karena baru berkumpul karena kesibukan masing-masing. Jasmine menghampiri Cyara yang sedang bersama Vier dan seseorang yang mungkin adalah teman Cyara.
"Cya sayang, ayo sini! Mama akan kenalkan kamu dengan seluruh keluarga Vier," ajak Jasmine membawa Cyara menemui keluarga besarnya yang belum sempat dikenalkan tadi.
Cyara tersenyum dan bangkit dari duduknya, "Aku kesana dulu," pamit Cyara pada pria yang kini sudah berstatus sebagai suaminya.
Vier mengangguk, Cyara berjalan meninggalkan Vier bersama dengan Rayyan.
Saat Cyara mengobrol dengan keluarga Vier, arah pandang Cyara tertuju pada tempat duduk yang ditempati suaminya. Rayyan sudah tidak ada, dan Vier pergi bersama seseorang, sedangkan yang lain seperti belum menyadarinya. Hanya Cyara, Cyara seorang yang melihat seseorang yang dikenalnya menarik tangan Vier pergi menjauh.
"Ma, Cya kesana dulu," pamit Cyara dan Jasmine hanya mengangguk.
Cya diam-diam mengikuti langkah mereka, bahkan saat wanita itu menarik Vier ke sebuah tempat yang lumayan jauh dari tempat pesta.
Cyara melihat Vier menepis tangan wanita itu, dan akan segera berlalu tapi langkah Vier berhenti ketika mendengar wanita itu berbicara, bahkan nafas Cyara pun ikut tercekat mendengar itu. Cyara membalikkan badannya dan bersandar di dinding. Dalam sebuah ruangan yang pintunya sedikit terbuka, Cyara mendengar semuanya.
"Vier aku menikah dengan Ken karena terpaksa, aku tidak punya pilihan lain, saat itu papa terbaring di rumah sakit, dia ingin aku menikah dengan cucu sahabat kakek, aku terpaksa menyetujui Vier, aku tidak tahu jika itu Keanu, aku benar-benar tidak tahu, aku tahu di saat hari pernikahan itu terjadi, Vier maafkan aku, tapi Vier perlu kamu tahu, walaupun aku menikah dengan Ken, nyatanya hatiku tetap mencintaimu, aku sangat mencintaimu Vier."
Vier mengepalkan kedua tangannya erat, bahkan air matanya kini berjatuhan sudah. Tak berbeda dengan wanita yang kini ada di balik dinding yang juga mendengarkan itu semua. Tubuh Cyara bahkan terasa lemas dan hampir saja jatuh, jika dia tidak berpegangan. Dia hari ini baru menikah, tapi Cyara sudah merasakan sakit yang teramat dalam hatinya.
"Saat itu aku ingin menghampiri dan mengejarmu, tapi maaf aku tidak bisa, aku ingin sekali menjelaskan semuanya padamu, tapi aku takut kau tiba-tiba meninggalkanku. Itulah kebenarannya Vier, itu kebenarannya," teriak Sheira menjelaskan pada Vier apa yang sebenarnya terjadi.
Vier berbalik, berjalan cepat, menarik tengkuk Sheira dan menciumnya.
Cyara benar-benar terkejut melihat itu semua, rasanya oksigen serasa di rampas darinya hingga membuatnya kesulitan bernafas. Cyara merasa sesak di dadanya, apalagi melihat tatapan Vier kepada adiknya, Vier jelas masih mencintainya, dan itulah kenyataan yang selalu Cyara berusaha tepis belakangan ini.
Hati Cyara begitu sakit, pedih dan terluka, Vier masih sangat mencintai adiknya.
Vier melepaskan tautan bibir mereka, air mata Sheira jatuh membasahi pipinya.
"Baiklah Vier, lakukanlah apa yang ingin kau lakukan, tapi perlu kau tahu Vier, aku sangat mencintaimu."
Dengan mata yang membanjiri wajahnya, dengan dada yang terasa begitu sesak, Cyara berbalik dan kembali memandangi kedua orang itu lekat. Hatinya ingin dialihkan dari pemandangan menyakitkan itu, tapi tubuhnya menolak, Cyara melihat Vier mencium Sheira lagi, ciuman penuh kerinduan.
Detak jantungnya serasa berhenti saat itu juga, nyawanya serasa di renggut paksa dari tubuhnya.
"Kenapa Tuhan mengujiku seberat ini disaat aku baru akan memulainya? Tidak Cyara ini salahmu, ini takdir yang kau tentukan sendiri, dan kau tidak seharusnya menyesal dengan apa yang kau putuskan, kau tidak boleh menyesal Cyara."
Genggaman tangan Cyara menguat, dengan sekuat tenaga dia mencoba berdiri lagi, berdiri diatas kakinya sendiri.
"Kau tidak boleh lemah Cyara, dulu kau juga pernah jatuh dan akhirnya bisa bangkit, dan saat ini kau pasti bisa Cyara, kau pasti bisa, demi Rey dan Rain, demi kebahagian anak-anak," kata Cyara pada dirinya sendiri.
"Apa aku pergi dari sini? Tidak seharusnya aku berada disini? Tidak Cyara, mungkin Vier dan Sheira adalah kekasih tapi dulu, sekarang Vier adalah suamimu dan kau lah yang berhak atasnya. Kau berhak menghalangi siapapun yang akan merebutnya darimu."
"Biarlah sakit dan terluka, aku harus mempertahankan apa yang memang sudah menjadi milikku."
Vier melepaskan ciumannya. Vier menatap Sheira lekat begitupun dengan wanita itu menatap Vier.
"Aku mencintaimu She, bahkan ketika kau menyakitiku, aku tetap mencintaimu," Vier menangkup kedua pipi Sheira, menghapus air mata wanita itu.
"Tidak, aku tidak bisa, aku tidak bisa mendengar itu lagi," ucap Cyara dalam hati.
Cyara ingin pergi, tapi kakinya terasa berat, hingga membuat Cyara tetap ada di sana. Cyara menghapus air matanya, menghela nafasnya panjang.
"Tapi itu dulu Sheira, kisah kita sudah berakhir saat aku melihatmu bersanding dengan pria lain, apapun alasanmu, yang aku tahu kau sudah meninggalkanku Sheira, kau sudah mencampakkanku, itulah yang aku tahu, dan aku sangat benci pengkhianat," ucap Vier begitu lirih, tiba-tiba Vier menarik tangannya dari pipi Sheira dan berlalu, Vier terkejut saat melihat Cyara ada di sana, wanita itu kini terlihat tenang, Cyara berhasil menutupi rasa sakitnya.
"Tapi aku tidak berdaya Vier saat itu!" Teriak Sheira yang tidak terima Vier pergi begitu saja.
"Vier!"
"Tunggu Vier!" Sheira berjalan menghampiri Vier yang berhenti di depan pintu. Dan Sheira terkejut saat melihat Vier dan Cyara.
Sejak tadi pandangan Vier tidak sama sekali beralih, begitupun dengan Cyara, keduanya kini masih saling tatap, dan hal itu seolah ada sesuatu yang menampar Vier begitu keras.
"Apa kau akan melepasku Vier?" Tanya Cyara tenang.
Vier menatap Cyara tidak menoleh sedikitpun ke belakang.
"Aku akan disini Vier, jika kau memilihku, kau yang harus menghampiriku," kata Cyara lagi dengan suara yang bergetar.
Sheira menatap Cyara tajam, tapi Cyara tidak peduli, Cyara tidak ingin ada orang yang merebut suaminya, apalagi itu adiknya sendiri.
"Vier kau tidak akan meninggalkanku Vier, kau masih mencintaiku," kini Sheira ikut bersuara, berharap Vier akan lebih mendengarkannya.
"Aku akan mengurus perceraian jika kamu memang memilihnya," ucap Cyara dengan nafas tercekat.
Vier terdiam, dia masih memandang Cyara lekat.
"Vier jangan tinggalkan aku Vier!" Teriakan Sheira kembali terdengar dan Vier menoleh menatap Sheira.
Melihat itu, bahkan tidak juga mendengarkan jawaban Vier, Cyara memundurkan langkahnya perlahan, Cyara berbalik dan akan pergi dari sana. Tapi langkahnya terhenti ketika ada sepasang tangan yang memeluknya dari belakang.
Vier membalik tubuh Cyara dengan cepat, dan merengkuh wanita itu ke dalam pelukannya.
"Bawa aku pergi Cyara! Bawa aku pergi meninggalkan semua ini," ucap Vier begitu lirih memeluk Cyara erat.
Dan pertahanan Cyara akhirnya berakhir sudah, air mata Cyara mengalir begitu deras, dia tidak menyangka, benar-benar tidak menyangka, jika Vier akhirnya memilihnya.