Love Revenge

Love Revenge
Bab 96



"Kita jemput Rey dan Rain sekarang," ucap Stevano pada Alno yang saat ini menyetir.


Alno hanya mengangguk, kemudian berkata setelah tadi memikirkan itu cukup lama.


"Ma, Pa, sebaiknya kita rahasiakan ini dulu dari Rey dan Rain, aku takutnya anak-anak itu merasa bersalah dan mengira bahwa merekalah yang menyebabkan maminya pergi," kata Alno melirik mama dan papanya lewat kaca di atasnya.


"Tapi apa yang akan kita katakan Al? Apa kita harus membohongi mereka?" Kata Jasmine yang merasa pusing dengan ini semua.


"Ini juga demi mereka Ma, kita tidak punya pilihan lain," kata Alno lagi.


Jasmine menghela nafas panjang, kemudian melirik suaminya yang kini memejamkan mata dan mengurut pangkal hidungnya. Jasmine  bisa melihat jika suaminya tidak 


dalam keadaan baik-baik saja.


"Baiklah," putus Jasmine akhirnya, berharap keputusan yang mereka buat saat ini adalah yang terbaik.


Tak lama mobil mereka pun telah sampai di kediaman orang tua Jasmine. Mereka turun, dan Jasmine menatap lama rumah itu, rumah yang dia tinggali selama 18 tahun sebelum akhirnya dia harus menikah dengan Stevano.


Jasmine menghapus air matanya, merasakan rindu yang teramat sangat pada kedua orang tuanya yang telah meninggalkan dirinya untuk selama-lamanya.


"Sayang?" Stevano langsung merangkul sang istri menenangkannya.


"Tidak apa-apa, aku baik-baik saja," kata Jasmine kemudian memutuskan untuk masuk terlebih dahulu.


Pintu terbuka oleh seorang pelayan yang kini terlihat panik.


"Kenapa Bi?"


"Itu Nyonya, Tuan dan Nona kecil sedari tadi menangis terus sejak bangun tadi, dan selalu merengek ingin bertemu dengan maminya. Tapi Nyonya, Nyonya Cyara belum juga pulang sedari tadi, bahkan tadi Tuan Vier juga keluar untuk mencari Nyonya Cyara tapi belum juga kembali sampai saat ini," jelas Bibi.


"Dimana mereka sekarang?" Tanya Stevano.


"Di kamar Tuan dan Nyonya, Tuan," jawab Bibi.


Stevano, Jasmine, Alno dan Vian segera berlari menaiki anak tangga menuju kamar Vier untuk melihat anak-anak itu.


Stevano membuka pintu, membuat kedua anak itu menoleh dan berlari memeluk dirinya dan sang istri.


"Oma, Opa, kami mau ketemu Mami, Mami kemana? Mami marah ya sama kami, makanya Mami tidak ada di kamar," tangis Rain di dalam pelukan Jasmine.


"Tidak sayang, Mami tidak marah, Mami hanya pergi sebentar nanti juga kembali," Jasmine berusaha menenangkan sambil menepuk-nepuk pelan punggung gadis kecil itu.


"Tapi Mami sudah pergi lama," sahut Rey yang kini juga menangis.


Jasmine memandang Alno yang berdiri tidak jauh dari tempatnya.


"Tadi mami sama papi, telepon oma, katanya harus bekerja, makanya nih opa, oma, papa juga Om Vian datang menjemput kalian, mami mau Rey sama Rain tinggal dulu sama opa sama oma," kata Alno berusaha membujuk mereka.


"Tapi Mami beneran tidak marah sama Rey dan Rain kan oma?" Tanya Rey menatap Jasmine menunggu jawaban dari oma nya itu.


"Marah? Kenapa Mami harus marah?" Tanya Stevano yang sudah mendengar hal itu dua kali dari mereka.


Rey kemudian menceritakan semuanya pada keempat orang dewasa itu. Dan Alno mengepalkan erat saat mendengar cerita kedua anak itu, adiknya benar-benar keterlaluan.



"Ini!" Seorang pria amplop berwarna coklat di meja tepatnya di depan seorang wanita yang kini sedang melakukan ritualnya sebelum tertidur.


Wanita itu menoleh dan menatap tajam sang pria.


"Tidak bisakah kau mengetuk pintu terlebih dahulu sebelum masuk ke kamarku?"


"Aku sudah menandatangani surat cerai yang pernah kau berikan saat itu, dan pergilah dari rumah ini, kita akan bertemu di pengadilan nanti," ujar pria itu yang kemudian segera keluar dari kamar wanita yang sudah dia nikahi selama 6 tahun ini.


"Oh ya?" Dengan mata berbinar, wanita itu membuka amplop itu kemudian dirinya tersenyum puas.


"Kenapa tidak sedari waktu itu saja? Sungguh Ken kau hanya membuang-buang waktuku saja."


Tak mendengarkan wanita itu, Ken segera pergi meninggalkan Sheira untuk menuju kamar putrinya.


Sheira terus saja tersenyum sambil memandangi amplop coklat itu.


"Vier sayang, tunggu aku, aku akan memberikanmu kejutan, dan kamu pasti akan senang dengan kejutan yang akan aku berikan, karena kita sebentar lagi akan bersatu," ucap Sheira dengan tawa yang menggema di seluruh ruang kamarnya.


*


*


Vier membuka matanya dan terkejut saat ternyata sinar matahari sudah terik . Vier buru-buru mengambil ponselnya berharap Cyara akan menghubunginya, tapi tidak ada dan itu membuatnya begitu kecewa.


"Cyara kamu dimana?" Gumam Vier yang kembali meneteskan air matanya yang sudah membengkak karena sudah menangis semalaman.


Vier membuka ponselnya dan hanya melihat ada beberapa pesan dari mamanya yang mengatakan semalam sudah menjemput Rey dan Rain bahkan sekarang mereka sudah berangkat ke sekolahnya.


Vier merasa lega, dirinya merasa bersalah karena kesedihannya dia sampai mengabaikan anak-anak itu.


Vier kemudian membalas pesan mamanya, dia meminta maaf dan berterima kasih karena sudah mengurus Rey dan Rain, bahkan Vier bilang ke mamanya jika dia nanti yang akan menjemput anak-anaknya sepulang sekolah, tapi Vier mengernyitkan dahi bingung saat dengan cepat mamanya melarang dirinya melakukan itu.


Dan Vier akhirnya mengerti alasan kenapa mamanya melarang dia untuk menemui Rey dan Rain saat ini.


Setelah itu Vier menelpon orang menyuruhnya untuk mencari keberadaan istrinya. Begitu panggilan terputus, pandangan Vier kini tertuju pada foto yang dari semalam dia peluk.


"Aku pasti akan menemukanmu Cya," ucap Vier yang kemudian mengecup foto itu.


Vier meregangkan tubuhnya yang terasa kaku, semalaman dia tertidur dengan posisi duduk dengan bersandar pada ranjang.


Tatapan Vier kini tertuju pada seluruh isi kamar istrinya, karena semalam dirinya tidak menemukan apapun di ponsel Cyara. Vier pun kemudian memutuskan untuk mencari di ruangan itu, membongkar seluruh isi kamar sang istri, berharap bisa menemukan petunjuk kemana perginya Cyara. Vier terus membongkar dan membongkar tidak peduli jika kamar itu sudah seperti  kapal pecah, yang ada di pikirannya hanya Cyara, Cyara, dan Cyara, Vier harus segera menemukan wanitanya itu. Hingga tiba-tiba, Gerakan tangan Vier kemudian terhenti saat menemukan sebuah benda yang tidak asing baginya. 


"Bukankah ini?" Vier mengamati benda itu cukup lama, memastikan jika benda itu adalah benda yang sama seperti yang dimilikinya.


Vier terdiam cukup lama, hingga dering ponsel membuyarkan lamunan pria itu.


"Nomor tidak dikenal?" Vier kemudian segera menjawab panggilan itu berharap jika yang menghubunginya adalah Cyara, lama, Vier tidak kunjung mendengar suara dari seberang telepon, hingga beberapa saat kemudian, Vier menjatuhkan ponselnya saat mendengar apa yang orang seberang telepon katakan, air mata Vier kembali menetes untuk kesekian kalinya. Vier buru-buru bangun dan berlari keluar sambil menghubungi mamanya.