Love Revenge

Love Revenge
Bab 123



Vier berjalan mendekat menghampiri Ken, pria itu kemudian memeluk sepupunya setelah hampir 7 tahun mereka berselisih. Setelah memikirkan ucapan Cyara, Vier memutuskan mendengarkan apa kata sang istri. Berdamai dengan masa lalu dan hanya menjadikan masa lalu sebagai pelajaran bukan menghambat masa depan.


Ken hanya mengernyitkan dahi bingung karena Vier tiba-tiba memeluknya tanpa mengatakan apa-apa. 


"Vier!"


"Oh maaf," kata Vier kemudian melepaskan pelukannya.


"Bisa kita bicara," tambah Vier meminta persetujuan Ken.


"Baiklah, tapi tidak disini," jawab Ken kemudian berjalan lebih dulu meninggalkan Vier.


Vier mengikuti Ken yang kini berjalan ke arah taman. Pria itu kemudian duduk di bangku panjang. Dan Vier pun ikut duduk di sampingnya.


"Maaf," ucap Vier setelah mereka cukup lama terdiam.


Ken menoleh, "Aku yang harusnya minta maaf padamu Vier, jika saja aku dulu menolak permintaan ayah Sheira, mungkin saja kamu sudah bahagia saat ini, Sheira pasti tidak akan berubah."


"Tidak Ken, entah kamu menikah dengan Sheira atau tidak semuanya tidak akan berubah, karena aku yakin jika Sheira memang bukanlah takdirku, dan aku yakin kamu tahu, jika Sheira terhadapku bukan karena perasaan cintanya, tapi karena dia begitu terobsesi padaku, karena jika Sheira mencintaiku, harusnya dia bahagia jika aku bahagia, tapi dia selalu berusaha untuk menghancurkan kebahagiaanku. Cinta itu seperti yang kamu miliki Ken, kau menikahi Sheira berharap untuk kebahagiaannya, dan kamu melepas Sheira karena kamu berharap dia bahagia kan dengan pilihannya, aku justru salut padamu Ken, kamu selalu melakukan yang terbaik untuk wanita yang kamu cintai, sedangkan aku...aku justru terus melukai Cyara, aku tidak bisa membayangkan bagaimana hidupku, jika Cyara tidak memberikan kesempatan padaku," Vier menghela nafas dan menatap Ken.


"Terima kasih Ken, terima kasih karena saat itu kamu menikahi Sheira hingga aku bisa menemukan cintaku sesungguhnya, Cyara, aku sungguh beruntung mendapatkannya."


"Iya Vier kau beruntung tapi tidak denganku, aku kira menikahi orang yang aku cintai bisa membuatmu bahagia, tapi ini justru sebaliknya, padahal aku begitu tulus mencintainya, tapi apa boleh buat jika ternyata pengorbananku selama ini, justru tidak menghasilkan sesuatu yang baik," ucap Ken dalam hati.


Mereka berdua kembali saling diam, hingga tiba-tiba bunyi dering ponsel memecahkan keheningan yang terjadi antara mereka berdua.


"Bukan milikku, sepertinya milikmu," ucap Vier setelah mengecek ponselnya, ya karena bunyi dering ponsel mereka ternyata sama.


"Aku harus pergi sekarang," Ken buru-buru bangkit.


"Kenapa?" Tanya Vier yang melihat wajah Ken yang tampak panik.


"Tidak apa-apa, hanya Keisha katanya belum mau makan karena menungguku," jawab Ken yang tidak sepenuhnya berbohong, setelah berucap itu, dia pun segera pergi meninggalkan Vier setelah berpamitan pada sepupunya itu.


Ken buru-buru memasuki mobilnya, kata pelayan di rumahnya, Keisha mengurung diri dan tidak mau makan sama sekali. Dan hal itulah yang membuat Ken khawatir belakangan ini, Keisha selalu tampak murung, dia sama sekali tidak bersemangat, bahkan kadang dia akan marah jika pelayan masuk untuk membujuknya, Ken jadi mengingat sebelum Sheira pergi dari rumahnya, dia meminta Sheira untuk menemui putrinya walaupun itu untuk yang terakhir kalinya. Ken meninggalkan keduanya memberikan waktu untuk ibu dan anak itu berbicara. Tak lama, Sheira sudah keluar dari kamar putrinya, Vier menghampirinya menanyakan bagaimana pembicaraan mereka, tapi Sheira hanya mengedikan bahu acuh dan melengos begitu saja. Dan keesokan paginya, putrinya berubah, dia lebih banyak diam dan selalu berwajah murung. Mengingat itu, Ken mengacak rambutnya frustasi, seharusnya dia tidak meninggalkan mereka berdua. Entahlah apa yang dikatakan wanita itu hingga membuat putrinya jadi seperti sekarang ini.


Sepuluh menit perjalanan akhirnya kini Ken sudah sampai di rumahnya, dengan tergesa-gesa dia masuk, pelayan dari arah dalam berlari tergopoh-gopoh menghampirinya.


"Meisya di dalam Tuan, tadi saya sudah melarangnya masuk, tapi…"


"Meisya?"


"Ah iya Tuan, dia baru disini. Nyonya Flo sendiri yang mempekerjakannya," ucap pelayan yang menghampiri Ken.


"Baiklah Bi, Bibi bisa lanjut bekerja, biar saya yang akan ke kamar Keisha," ucap Ken yang kemudian buru-buru melangkah menuju ke kamarnya.


Begitu membuka pintu, Ken dikejutkan dengan kamar putrinya yang begitu berantakan. Kemudian arah pandangnya tertuju pada gadis muda yang sedang memungut pecahan kaca.


"Pergilah!" Ucap Ken tiba-tiba.


Gadis itu pun mendongak, begitu mendengar suara seorang pria, dia yakin jika pria itu adalah putra yang dimaksud Nyonya Flo.


"Pergilah, biar saya yang mengurus," kata Ken dingin.


"Baiklah, saya akan membersihkan ini du…"


"Pergi! Apa kau tidak mendengar apa yang aku katakan tadi?" Teriak Ken yang mendadak marah, saat berulang kali gadis yang bernama Meisha itu tidak menuruti perkataannya.


Bahkan Keisha pun sampai terlonjak kaget, saat mendengar ayahnya berteriak.


"Ba...baik Tuan," Meisya dengan mata berkaca-kaca, langsung berdiri dan ingin segera pergi dari tempat itu, tapi saat akan melangkah, tiba-tiba, kakinya terkena pecahan kaca yang belum selesai di bersihkan.


"Aww!" Dirinya jongkok mencoba mengambil pecahan kaca yang menancap di telapak kakinya.


Ken menghela nafas panjang, lalu menghampiri gadis itu.


"Tidak bisakah kau berhati-hati?" ucap Ken dengan suara tinggi.


"Ma...maaf Tuan, saya permisi," ucap gadis itu berjalan pergi dengan menahan rasa sakit di kakinya.


"Ken memencet bel yang menghubungkan pada para pelayan. Dan pelayan yang lokasinya paling dekat dengan kamar Keisha pun segera menghampiri.


"Bersihkan ini semua!" Ucap Ken kemudian menghampiri putrinya.


"Ayo ikut ke kamar Ayah," katanya langsung mengangkat tubuh Keisha dan membawa pergi dari kamar putrinya itu.


*


*


"Vier!" 


Vier langsung menoleh begitu mendengar suara orang memanggilnya.


Vier memutar bola mata malas, mengetahui siapa orang yang memanggilnya, dia belum membuat perhitungan pada pria itu, karena telah membawa Cyara pergi darinya.


Vier kemudian memilih melanjutkan langkahnya.


Pria itu menarik tangan Vier, "Dimana Cyara? aku dengar kemarin dia pingsan, bagaimana keadaannya sekarang, dia baik-baik saja kan?" Tanya Damian panik.


Vier yang melihat kekhawatiran di wajah Damian pun tidak tega, dia kemudian mengajak Damian untuk mengikutinya, karena kebetulan dia juga akan kembali ke ruang rawat mertuanya, setelah tadi selesai berbicara dengan Ken yang membuat Vier jauh lebih tenang dan merasa sangat lega, setelah mengobrol dengan sepupunya itu.


"Bagaimana keadaan Cyara?" Tanya Damian lagi, karena Vier belum juga menjawab pertanyaannya.


"Cyara baik-baik saja," jawab Vier dan tak lama kini kedua pria itu telah sampai di tempat tujuan.


Vier membuka pintu, membuat kedua orang yang berada di dalam ruangan menatap ke arahnya.


Cyara tersenyum saat melihat suaminya. Dan senyumnya semakin mengembang kala melihat seseorang yang dia rindukan ada di belakang Vier.


Vier langsung merentangkan kedua tangannya, menyambut sang istri yang kini berjalan ke arahnya. Tapi Vier memberengut kesal saat istrinya justru memeluk pria yang berdiri di belakangnya. Sedangkan kini Cyara  hanya mengulum senyum, melihat wajah Vier tadi, saat dirinya melewatinya begitu  saja, menggemaskan.