
"Rey, Rayn, panggil Jasmine kepada dua anak yang sepertinya sedang menunggu jemputan.
"Oma," kata mereka bersamaan dengan tatapan berbinar.
Rey dan Rain kemudian berlari ke arah Jasmine dan Jasmine pun merentangkan kedua tangannya menyambut kedua anak kecil itu.
"Loh Mami belum menjemput?" Tanya Jasmine setelah menciumi seluruh wajah Rey dan Rain.
"Mami tidak jemput Oma, kan Mami sedang kerja," jawab Rain.
"Terus kalian yang jemput siapa?" Tanya Jasmine khawatir.
"Bibi yang akan jemput Oma," kini gantian Rey yang menjawab perkataan Jasmine.
"Oh terus Bibinya mana? Belum datang?" Jasmine menengok kiri kanan, mencari seseorang yang mungkin menjemput kedua bocah itu.
"Bibi belum datang."
Kemudian pandangan ketiganya teralihkan saat mendengar seorang anak kecil berteriak.
"Oma!" Teriak anak kecil itu, berlari ke arah Jasmine dan kemudian memeluk wanita itu, Rey dan Rain saling pandang dengan pandangan polos.
"Aira sayang kenalin dulu, ini Rey dan Rain, kalian sekelas bareng kan?" Tanya Jasmine kepada cucunya. Ya anak kecil yang tadi berlari dan memeluk Jasmine adalah Aira.
"Sudah kenal, ayo Oma pulang, Aira ingin bertemu dengan Opa," ucap bocah itu menarik tangan omanya.
"Tunggu dulu sayang, kita temani Rey dan Rain dulu ya sampai ada yang menjemput," kata Jasmine berjongkok di depan cucunya, sambil membujuknya.
Aira melirik sinis Rey. "Tidak usah Oma, kita pulang saja," jawab gadis itu.
"Sayang, kok gitu sih sama temennya, tidak boleh loh!" Tegur Jasmine.
"Kita bukan teman Oma, " jelas Aira menyilangkan kedua tangannya di depan dada.
"Eh, siapa yang mengajari seperti itu hmm," ujar Jasmine menegur cucunya.
"Tapi Oma…"
"Hmm Oma tidak apa-apa kok jika mau pulang dulu, sebentar lagi, Bibi juga akan datang," jawab Rey.
Dan benar seperti apa yang Rey katakan, Bibi mereka akhirnya datang.
"Tuh Bibi," kata Rain yang melihat wanita paruh baya berjalan ke arah mereka.
"Maaf Nak Bibi terlambat datang," kata wanita paruh baya itu begitu sampai di hadapan Rey dan Rain.
"Tidak apa-apa Bi," jawab keduanya kompak.
"Ayo kita pulang, sehabis ini Bibi harus pergi, kalian tidak apa-apa kan jika Bibi tinggal?"
"Memang Bibi mau kemana?" tanya Rey menatap wanita yang sudah ikut andil membesarkannya.
"Bibi harus pulang ke kampung Bibi, anak Bibi sakit," ucapnya.
Sebenarnya wanita itu khawatir meninggalkan kedua anak itu, apalagi, dirinya belum sempat meminta izin kepada Cyara.
"Hmmm maaf, bagaimana jika Rey dan Rain ikut dengan saya," ucap Jasmine membuat ketiga orang yang berbincang itu menoleh ke arahnya.
"Maaf, Anda siapa ya?" Tanya Bibi menatap Jasmine dari atas ke bawah.
"Oh ya perkenalkan saya Jasmine, saya Oma dari Aira," ucap Jasmine memperkenalkan dirinya sendiri.
"Maaf tapi…"
"Saya mengenal Cyara, jadi Anda tidak perlu khawatir," Jasmine mencoba meyakinkan wanita itu.
"Kalau Anda tidak percaya, Anda bisa telepon dia."
"Maaf bukannya tidak percaya, tapi bagaimanapun saya harus hati-hati."
"Saya mengerti kok," ucap Jasmine tersenyum.
Bibi pun kemudian menghubungi ponsel Cyara, tapi Cyara tidak juga mengangkatnya, dan saat untuk kesekian kalinya hendak menghubungi wanita itu lagi, ponselnya lebih dulu berdering dan dia harus benar-benar pulang saat itu juga.
"Bibi tidak perlu khawatir, Rey dan Rain kenal kok sama Oma, mami juga kenal," ucap Rey kini angkat suara setelah tadi hanya diam memperhatikan.
"Hmm baiklah, tapi bisakah saya minta kartu identitas Anda, biar saya foto, jika ada apa-apa, jadi saya tidak bingung harus menghubungi siapa," ucap Bibi memberanikan diri berkata seperti itu.
Jasmine pun tersenyum maklum, kemudian memberikan apa yang wanita itu minta, bahkan Jasmine juga memberikan nomor ponselnya untuk meyakinkan wanita itu.
"Baiklah kalau gitu, saya titipkan Rey dan Rain kepada Anda," ucap Bibi dan kemudian berjongkok menyetarakan tingginya dengan tubuh Rey dan Rain.
"Rey dan Rain ikut Oma dulu ya, dan ingat jangan nakal," tambahnya memberi pesan kepada kedua anak Cyara itu.
"Iya Bibi," jawab keduanya kompak.
Bibi pun mencium kedua anak itu dan berpamitan pas Jasmine
"Baik Bi, berhati-hatilah!" ucap Jasmine membiarkan wanita itu pergi.
"Oma Ayo! Aira sudah lapar," Aira menarik-narik baju terusan yang Jasmine pakai.
"Oh iya sayang, ayo kita pulang, ayo Rey, Rain," ucap Jasmine yang kemudian mengajak ketiga anak kecil itu untuk masuk ke mobilnya.
"Jalan Pak!" Kata Jasmine pada sang supir setelah memastikan cucunya sudah duduk dengan benar.
*
*
Habislah aku," gumam Cyara yang melihat jika saat ini Vier sedang menatapnya tajam.
Tak lama, telepon di mejanya berbunyi, Martin akan membantu menjawabnya tapi dengan cepat, Cyara merebutnya. Martin sampai mengernyitkan dahi dibuatnya
"Biar aku saja," kata Cyara dan Martin pun mengangguk.
"Halo," ucap Cyara begitu pelan apalagi dia sangat tahu siapa penelpon itu.
"Ke ruanganku sekarang Cyara!" Perintah orang itu tegas dan tidak bisa diganggu gugat.
"Cepat!" Bentak Vier saat Cyara hanya melamun dan tidak merespon perkataannya.
"Ba...baik Tuan," jawab Cyara gugup, dan Martin pria itu hanya menatap Cyara penuh keheranan.
"Martin aku harus ke dalam," kata Cyara yang kemudian bangkit dari duduknya.
Martin memegang tangan Cyara, "Kenapa?" Tanya pria itu yang melihat wajah panik Cyara.
Dan Vier yang menyaksikan pemandangan itu mengepalkan tangan dan langsung berdiri, berjalan dengan langkah tegapnya penuh amarah.
Pintu terbuka membuat kedua orang yang masih berpegangan tangan menoleh. Tatapan Vier saat ini seperti menusuk ke dalam jantung Cyara. Cyara langsung melepaskan tangan Martin yang memegang tangannya.
"Cyara apa kau tidak bisa mematuhi perkataanku?" Teriak Vier yang kini tiba-tiba ada di depan pintu.
"Ma...maaf Tuan," kata Cyara yang langsung berlari ke arah ruangan atasannya.
Cyara berlari masuk ke dalam dan tiba-tiba pintu di belakangnya sudah tertutup. Cyara terkejut bukan main ternyata Vier tadi ada dibalik dinding di samping pintu.
"Tuan!" Kata Cyara yang melihat Vier terus mendekat ke arahnya.
"Apa kau suka sekali melanggar peraturan dariku?" Vier memajukan satu langkahnya.
"Ti...tidak aku tadi hanya…"
"Sedang bermesra-mesraan dengan pria?"
"Tuan Anda salah paham!"
"Aku salah paham? Kau pikir aku tidak bisa melihat? Jelas-jelas kau di depanku bermesraan dengan pria itu Cyara, jadi jangan mengelak!" Kata Vier yang sudah meninggikan suaranya.
Cyara benar-benar menguji kesabaran Vier, Vier berulang kali mengingatkannya tapi wanita itu rupanya tidak pernah mendengar apa yang Vier ucapkan.
Vier semakin mendekat dan mendekat hingga tubuh Cyara tidak punya ruang lagi untuk mundur karena sudah terpentok di meja kerja Vier. Dan hal itu membuat jantung Cyara semakin berdebar tak karuan.