
"Kalian sejak kapan ada disini?" Tanya Jasmine setelah mendorong suaminya menjauh.
"Dari tadi, kebiasaan deh, tidak tahu tempat," ucap Vier melirik ke arah Cyara.
Stevano mendengus kesal, "Lagian kalian datang tidak ada suara, tidak ada apa, sudah ada disini saja," ucap Stevano yang kini menarik kursi dan duduk disana.
"Kenapa?" Tanya Jasmine melihat Vier dan Cyara bergantian.
"Rey tidur?" Ucap Jasmine yang kini memelankan suaranya.
"Iya Ma, kami mau pamit pulang sekarang," kali ini Cyara yang menjawab pertanyaan Jasmine.
"Kenapa tidak menginap saja? Kasihan juga si Rey," kata Jasmine yang mendekat ke arah Cyara yang menggandeng putrinya.
Jasmine berjongkok dan meraih tangan Rain menggenggamnya.
"Rain tidak mau menginap lagi di rumah Oma?" Jasmine kini mencoba membujuk gadis kecil itu.
Rain melihat ke arah mami dan papinya kemudian kembali menatap Jasmine.
Jasmine balas menatap Rain penuh harap, tapi harapannya pupus sudah saat melihat gadis kecil itu justru menggeleng.
"Maaf Oma, Rain mau pulang, lain kali saja ya," jawab gadis kecil itu.
Jasmine mengerucutkan bibirnya, "Kenapa?" Tanyanya kemudian mengelus rambut panjang Rain.
Rain justru kini tampak berpikir, bingung harus menjawab apa, dan ekspresinya terlihat begitu lucu.
"Ya sudah tidak apa-apa, tapi beneran ya, lain kali menginap lagi disini, sama Mami juga," kata Jasmine yang kini mendongak menatap Cyara.
Rain mengangguk semangat, "Iya Oma, hmm Rain pamit pulang dulu ya," kata gadis kecil itu meraih tangan Jasmine dan mencium punggung tangan wanita itu.
"Oke deh," Jasmine kemudian berdiri menerima uluran tangan Cyara yang juga akan menyalaminya.
"Ma, kami pulang dulu," ucap Cyara yang kemudian berjalan menghampiri Stevano dan mencium punggung tangan pria itu.
Vier pun berjalan ke arah mama dan papanya melakukan hal yang sama seperti yang Cyara lakukan tadi.
"Silahkan kalau mau dilanjut yang tadi," ucap Vier pelan kepada papanya sebelum dirinya pergi.
"Sini biar Rey sama aku," ucap Cyara setelah membuka pintu mobil bagian belakang, mengambil Rey dari gendongan Vier dan mendudukkan putranya yang lelap dengan perlahan, takut membangunkan putranya itu.
"Rain mau di belakang saja Pi, tidak apa-apakan?" Tanya gadis kecil itu, saat Vier akan membawanya masuk ke mobil bagian depan.
Vier pun menatap Cyara yang sedang memposisikan Rey agar merasa nyaman.
"Ya sudah sini, Rain sama Mami."
"Terus Papi harus sendiri di depan?" Kata Vier dengan nada memelas.
Rain kemudian menatap pria itu sekilas kemudian menatap maminya.
"Tidak apa-apa Pi, kan Rain hanya di belakang tidak kemana-mana? Kalau Papi berbicara Rain juga masih mendengar kok," kata gadis kecil itu yang Vier tahu maksudnya, bahwa Rain tetap mau duduk di belakang.
"Baiklah, ya sudah Papi bantu Rain masuk."
"Kamu masuk saja dulu," ucap Vier meminta Cyara agar masuk lebih dulu.
Cyara menurut, dan Vier yang sudah melihat posisi duduk Cyara nyaman, barulah pria itu mengangkat Rain dan membantunya masuk dan duduk di sebelah kiri Cyara, karena Rey sudah berada di sebelah kanannya.
"Sudah," ucap Vier mengelus rambut Rain sebentar sebelum akhirnya pria itu menutup pintu dan berlari kecil menuju kursi kemudi, masuk dan kemudian melajukan mobilnya ke rumah Cyara.
*
*
*
"Kenapa?" Tanya Martin yang tiba-tiba muncul dan berdiri di samping Cyara, hingga membuat wanita itu terkejut, karena tadi Cyara hanya fokus menatap ke dalam ruangan bosnya.
"Hmm tidak apa-apa," jawab Cyara yang kemudian fokus mengerjakan pekerjaannya.
"Tuan Vier tidak masuk hari ini, katanya ada urusan mendadak," ucap Martin kemudian, padahal Cyara tidak bertanya, ya walaupun sebenarnya Cyara memang penasaran karena tidak melihat Vier di ruangannya.
"Kenapa?" Tanya Cyara yang baru menyadari jika Martin tengah memperhatikannya.
Martin seperti ingin mengatakan sesuatu, dan Cyara mengernyitkan dahi sambil menunggu pria itu membuka suaranya.
"Hmmm tidak, oh ya nanti mau makan siang dimana? Bagaimana kalau kita makan siang bersama, waktu itu…"
"Baiklah," ucap Cyara yang langsung mengiyakan tidak ingin Martin membahas soal waktu itu, terutama tentang Vier.
"Kenapa Vier lagi?" gumam Cyara yang tanpa sadar memikirkan Vier.
"Kamu mengatakan sesuatu?" Tanya Martin yang seperti mendengar Cyara mengatakan sesuatu.
"Hah tidak, oh itu aku ingin makan di restoran langgananku, bagaimana kamu mau atau tidak? Tapi tempatnya lumayan jauh dari sini," jawab Cyara mengalihkan pembicaraan.
"Kurasa tidak masalah, asal jangan makan di restoran luar kota saja," ucap Martin dengan candaannya.
"Ya kali," Cyara mendorong bahu Martin kemudian membereskan berkas-berkas yang dikerjakannya tadi, karena sebentar lagi akan tiba waktunya jam makan siang.
"Ya sudah ayo!" Ucap Cyara bangun dari duduknya mengajak Martin untuk berangkat saat itu juga.
"Ayo," jawab Martin tersenyum, senang karena akhirnya bisa makan berdua dengan Cyara.
"Cyara!" Martin memanggil Cyara yang berjalan di sampingnya hingga membuat Cyara menoleh.
"Hmm?"
"Sebenarnya…"
"Sebenarnya?" Cyara mengulang apa yang Martin katakan.
"Tidak apa-apa," ucap Martin kemudian masuk ke dalam lift, dan Cyara segera menyusul.
"Aku dengar Tuan Vier akan menikah," ucap seorang wanita yang sudah di ada di dalam lift.
"Benarkah?"
"Iya, kemarin aku melihatnya di butik sedang fitting baju, tapi sayangnya aku tidak melihat calon istrinya," sahut wanita yang lain.
Cyara hanya diam mendengar bisik-bisik karyawan Vier itu.
"Ehem, ehem," Martin berdehem hingga tiga orang yang tadi asyik bergosip langsung terdiam saat melihat orang kepercayaan Vier ada disana. Mereka takut jika Martin akan melaporkannya pada bos mereka.
Ting
Pintu lift terbuka, ketiga orang tadi menghela nafas lega, berpamitan kepada Martin dan Cyara sebelum akhirnya mereka keluar dari dalam lift.
"Dasar suka banget bergosip," gerutu Martin dan Cyara hanya bisa menggelengkan kepalanya mendengar gerutuan pria itu.
"Sudah ayo! Lagian ngapain kamu yang marah-marah, toh bukan kamu yang digosipin," kata Cyara menarik tangan Martin karena pintu lift sudah terbuka dan pria itu justru menggerutu sendiri.
"Kalau sampai Tuan Vier mendengarnya sudah pasti…"
"Ssttt sudah jangan bicara tentang bos kamu itu terus, sekarang jadi tidak makan siang bersama? Kalau jadi ya Ayo, keburu macet," ucap Cyara kini berjalan ke arah dimana mobilnya berada.
"Kita mau pakai mobil kamu?" Tanya Martin.
"Iya, tapi terserah sih, jika kamu mau membawa mobil sendiri."
"Tidak pakai mobilmu saja, sini kuncinya!" Martin menengadahkan tangannya meminta kunci mobil Cyara dan Cyara pun langsung memberikannya.
Keduanya pun meninggalkan tempat menuju ke tempat makan yang Cyara maksud.
Tak lama mereka sampai ke tempat tujuan, Martin dan Cyara pun keluar dari mobil, berjalan masuk dan memilih tempat duduk.
"Kamu pesan dulu saja, kalau tidak kamu juga pesankan untukku, aku makan apa aja kok, aku mau ke toilet dulu," ucap Martin dan Cyara pun mengangguk mengiyakan.
"Mbak!" Cyara memanggil pelayan dan memesan makanan untuknya dan juga Martin.
Selesai memesan, Cyara pun mengedarkan pandangan, sudah lama dirinya tidak ke tempat itu, tapi pandangannya terhenti pada dua orang yang dikenalnya ada di sana, di tempat yang tidak jauh dari tempat duduknya.