
"Alno cukup sayang!" Jasmine menahan tangan Alno yang akan melayangkan lagi kepalan tangannya.
Alno menatap mamanya menghela nafasnya, kemudian menarik kembali tangannya.
"Aku berhenti karena mama yang meminta, jika tidak mungkin aku akan membuat wajahmu tidak berbentuk lagi," kata Alno yang kemudian duduk di sofa.
Vier menyeka mulutnya yang keluar cairan warna merah, tanpa peduli dengan ucapan kakaknya.
Rupanya sakit yang dialaminya begitu dalam hingga Vier memiliki dendam yang begitu dalam pula, dendam membutakan Vier hingga dia lupa bahwa apa yang dia lakukan akhirnya akan menyakiti banyak orang.
"Vier, kau tidak apa-apa sayang?" Jasmine menghampiri Vier dan membantu putranya berdiri.
"Aku tidak apa-apa Ma, Vier pergi dulu!" Kata Vier yang kemudian berpamitan untuk keluar kepada mamanya.
"Tunggu Vier! Luka kamu belum diobati!" Kata Jasmine mencegah kepergian putranya.
"Biarkan saja Ma!" Ucap Alno yang melihat Jasmine menahan pergelangan tangan adiknya.
Vier melirik Alno kemudian menatap mamanya, melepaskan tangan Jasmine yang menahan pergelangan tangannya perlahan.
"Aku baik-baik saja, Mama tidak perlu khawatir, nanti aku akan obati sendiri," ucapnya kemudian segera berlalu meninggalkan Jasmine yang menatapnya sendu.
"Al…," kata Jasmine menatap putranya.
"Tidak apa-apa Ma, biarkan dia sendiri dan berfikir atas perbuatannya, dia akan baik-baik saja, ya sudah Alno temui Papa dulu untuk membicarakan tentang berita itu," kata Alno berpamitan untuk menemui papanya yang dia yakin ada di halaman belakang, tempat biasanya sang papa menenangkan diri.
Sementara itu di lain tempat Vier mengendarai mobilnya dan entah kenapa tempat yang dia tuju justru adalah rumah Cyara.
Vier menatap rumah Cyara lama, rasanya Vier ingin masuk tapi dia enggan, apalagi tadi antara dia dan Cyara sempat ribut, entah kenapa di saat seperti ini Vier justru teringat anak-anak Cyara, Rey dan Rain.
Melihat senyum anak-anak itu membuat hati dan pikiran Vier menjadi tenang.
Vier kemudian memutuskan untuk memejamkan matanya sejenak. Melepas penat yang baru terasa dirasakannya.
*
*
*
Setelah membacakan cerita dan anak-anaknya tertidur, Cyara berdiri dan berjalan ke arah jendela dan membuka tirai.
Dari kejauhan di tengah guyuran air hujan, Cyara samar-samar melihat mobil Vier. Cyara memicingkan mata, memastikan bahwa apa yang dilihatnya benar. Setelah pasti, Cyara pun kembali menutup tirai kemudian keluar dari kamarnya.
Cyara mengambil payung dan melangkah keluar rumah, berjalan menghampiri mobil yang begitu dikenalnya.
Cyara mengetuk kaca mobil berkali-kali, hingga akhirnya Vier pun bangun dan menurunkan kaca mobilnya.
"Apa yang kau lakukan disini? Hujannya deras, lebih baik kamu masuk sekarang!" Teriak Cyara agar suaranya bisa di dengar di tengah derasnya hujan.
Vier dengan mata yang memerah dan pandangan sayu, menatap Cyara kemudian keluar dari mobil menuruti perintah wanita itu.
Cyara mengangkat payungnya tinggi-tinggi, agar bisa memayungi Vier, Vier yang melihat Cyara kesusahan, merebut payung dari wanita itu hingga berakhir Vier lah yang memayunginya. Vier menarik pinggang Cyara mendekat agar tubuh wanita itu tidak kehujanan. Cyara mendongak menatap Vier yang lebih tinggi darinya hanya sekitar 10 senti. Wajah Vier yang tampak lebam itu yang menjadi perhatian Cyara saat ini.
Cyara mendengus kemudian menatap jalan di depannya. Cyara membuka pintu dan mempersilahkan Vier masuk.
"Kamu tunggu disini!" Pinta Cyara agar Vier duduk di sofa di ruang tamunya, sementara wanita itu langsung menghilang entah kemana.
Tak lama, Cyara kembali membawa baskom dan handuk kecil, meletakkannya di atas meja.
"Aku obati dulu lukamu," kata Cyara yang kemudian mengompres lebih dulu wajah Vier dengan begitu telaten.
Vier hanya terdiam menatap wajah serius Cyara.
"Anak-anak mana?" Tanya Vier yang melihat suasana rumah yang tampak sudah sepi.
"Mereka sudah tidur, jika kau ingin istirahat, istirahat di kamar anak-anak saja, kebetulan anak-anak juga sedang tidur di kamarku, lagian kamu pasti lelah," kata Cyara yang kemudian bangkit dan membereskan peralatan yang tadi dia gunakan untuk mengobati wajah memar Vier.
"Cyara ayo secepatnya menikah!" Ujar Vier hingga Cyara langsung menghentikan langkahnya yang akan pergi ke dapur.
"Aku mau pernikahan kita dipercepat," kata Vier lagi, dan itu membuat Cyara yakin bahwa dirinya tidak salah mendengar.
"Kenapa?" Hanya kata itu yang keluar dari mulut Cyara.
"Ini demi Rey dan Rain, aku tidak mau jika ada pria lain yang mendekatimu dan mengambil mereka dariku," jawab Vier dan Cyara hanya bisa menahan rasa sesak di dadanya mendengar ucapan pria itu.
"Apa kamu tidak ingin melihat anak-anakmu bahagia? Kamu jelas tahu jika mereka sangat dekat denganku, bahkan mereka sangat senang jika aku menjadi papinya jadi apalagi yang kau pikirkan?" Tambahnya lagi.
Cyara menghela panjang nafasnya, "Istirahatlah, mungkin kamu lelah," ucap Cyara yang kemudian memilih melanjutkan langkahnya.
"Aku harap kamu memikirkan perkataanku tadi baik-baik," kata Vier yang dia yakin jika Cyara masih mendengarnya.
.
.
Cyara bernafas lega, saat tidak melihat Vier di ruang keluarga, dan dengan segera Cyara pun masuk ke dalam kamarnya agar tidak bertemu dengan Vier lagi. Bukannya takut, tapi Cyara tidak tahu harus bagaimana bersikap jika bertemu Vier saat itu juga.
Begitu sampai di kamarnya, Cyara mendengar ponselnya berdering, tak ingin tidur kedua anaknya terganggu, dengan cepat Cyara mengambil ponselnya dan segera menjawab begitu melihat nama pemanggil.
"Halo Cyara, sayang apa Vier datang ke rumah kamu Nak, Mama datang ke apartemennya tapi dia tidak ada," tanya Jasmine panik.
"Vier ada disini Ma, Mama tidak perlu khawatir, hanya saja...hmm Ma apa sebelumnya ada masalah, maaf bukan maksud Cya ikut campur tapi..."
"Tidak apa-apa sayang, tadi hanya Vier sempat ribut dengan kakaknya, tapi Mama lega karena Vier ada di tempat kamu, Mama titip Vier ya. Maaf Mama jadi merepotkan kamu. Oh ya sudah malam, lebih baik kamu istirahat dan sebelumnya makasih ya sayang."
"Iya Ma, Mama juga sebaiknya istirahat," ucap Cyara kemudian panggilan berakhir.
Cyara meletakkan ponselnya kembali di atas meja kemudian dengan perlahan naik ke atas ranjangnya.
"Sepertinya aku benar-benar tidak punya pilihan," Cyara menghela nafasnya panjang. Dipandangi wajah anak-anaknya yang kini tertidur lelap.
"Lakukanlah Cyara, bayangkan saja senyuman yang terukir diwajah anak-anakmu, wajah bahagia mereka saat bersama dengannya, apa kamu tega menghilangkan senyuman mereka hanya karena kamu lebih mementingkan egomu? Apa kamu akan mengorbankan kebahagian mereka hanya karena kamu takut terluka? Jika kau bertanya tentang cinta, bukankah itu hanya rasa yang bisa tumbuh seiring berjalannya waktu, cinta hanya sebuah kebiasaan. Semakin kamu terus bersamanya, maka rasa cinta itu juga pasti akan hadir. Tapi bagaimana jika akhirnya hanya aku yang jatuh padanya? Bagaimana jika dia tidak merasakan perasaan yang sama nantinya? Apalagi sangat terlihat jelas bahwa sampai saat ini dia masih begitu mencintai Sheira. Bagaimana jika akhirnya dia akan pergi meninggalkanku? Lalu bagaimana dengan anak-anak? Bagaimana jika yang terjadi kedepannya tidak sesuai dengan apa yang aku harapkan? Bukankah itu hanya akan membuatku terluka untuk kesekian kalinya?" Pandangan Cyara sedikitpun tidak teralihkan dari anak-anaknya.
"Sayang, apa yang harus Mami lakukan?