Love Revenge

Love Revenge
Bab 129



"Angkat tangan!"


Beberapa orang berseragam kini tengah mengepung ketiga wanita.


Salah satu dari wanita itu mencoba kabur, sementara dua wanita lainnya tengah berpelukan bersamaan dengan cairan warna merah yang mengotori baju mereka.


Salah satu pria berseragam langsung mengejar wanita yang mencoba melarikan diri, yang lain yang melihat juga ikut mengejarnya. Sementara itu dua orang yang berseragam yang tersisa buru-buru menghampiri kedua wanita itu. Salah satunya menelpon ambulance untuk menolong korban yang terluka.


Dari arah depan Vier langsung panik dan berlari menghampiri istrinya. Apalagi melihat baju sang istri penuh dengan cairan merah.


"Cyara!" Teriaknya dan langsung duduk bersimpuh di samping kedua wanita itu.


Vian yang kini juga ada disana berbicara dengan pria berseragam, mereka saling berjabat tangan, hingga kedua pria berseragam itu segera pergi, apalagi saat salah satunya sudah mendapatkan kabar bahwa wanita yang mencoba kabur tadi ditangkap.


"Sayang, bertahan oke, mobil ambulance akan datang dan kita bisa segera ke rumah sakit ." 


Kata Vier dengan wajah yang sudah dipenuhi air mata, dirinya benar-benar khawatir, takut terjadi sesuatu dengan istri dan anaknya.


"Vier!" Panggil Cyara lirih, saat dia baru menyadari jika suaminya ada disana.


"Sayang!" Vier langsung merangkul istrinya dari samping.


"Vier, ibu…" air mata Cyara menetes begitu saja.


"Ibu… tolong ibu Vier! Tolong cepat bawa ibu ke rumah sakit," tangis Cyara akhirnya pecah juga.


"Cepat Vier!" Teriak Cyara karena suaminya justru diam saja.


Entah dari arah mana, Vian tiba-tiba berlari dan menghampiri kakaknya.


"Ambulance sudah datang kak!" Teriaknya.


Dan di belakangnya dua petugas ikut berlari dan menghampiri korban dan langsung mengangkat tubuh Ibu Cyara dan segera membawanya. 


"Ibu… ibu bertahan Bu… Cya mohon!" Cyara ikut berlari bersamaan dengan petugas yang membawa ibunya.


"Sayang!" Vier berusaha menahan istrinya, tapi Cyara langsung menepis tangan Vier begitu saja, khawatir, takut terjadi dengan ibunya, Cyara sampai melupakan jika saat ini dirinya tengah hamil.


Saat Cya hendak ikut masuk ke mobil ambulance, Vier buru-buru mencegahnya dengan memeluk istrinya itu dari belakang.


"Lepaskan, aku ingin menemani ibu!" Teriaknya sambil memberontak dari pelukan Vier. 


Vier pun memberikan isyarat pada Vian untuk ikut dengan ambulan itu.


"Lepas!"


"Sayang tenanglah!"


"Lepaskan aku! Aku mohon! Aku harus menemani ibu!"


"Cyara!" Vier berteriak dan langsung membalik tubuh istrinya agar menghadapnya.


Melihat istrinya yang terus menangis, Vier langsung menarik Cyara ke dalam pelukan.


"Maafkan aku sayang, kamu tenangkan dirimu dulu, setelah ini kita akan ikut menyusul, oke!"


"Aku takut Vier...aku takut… bagaimana kalau ibu… apalagi tadi ibu…"


"Sstt tenanglah sayang, jangan berpikir seperti itu, kita berdoa saja semoga ibu baik-baik saja."


"Tapi aku takut Vier."


"Aku tahu, aku sangat tahu sayang bagaimana perasaanmu saat ini, jadi tenang dulu ya!"


Kini Cyara tidak memberontak , bahkan sudah tidak mengatakan apa-apa lagi, yang terdengar kini hanya isak tangis wanita itu, yang membuat hati Vier juga ikut sakit saat mendengarnya. Jujur saja Vier sendiri masih shock dengan apa yang terjadi barusan, dia takut istri dan anaknya terluka, jika saja Vier terlambat sedikit saja, dia pasti akan menyesal seumur hidupnya. 


Vier kemudian melepaskan pelukan dan menatap sang istri, tangannya yang penuh dengan cairan merah kental itu, meraih wajah Cyara gemetar.


"Kamu beneran tidak apa-apa sayang, kamu baik-baik saja? Kamu tidak terluka kan?"


"Vier ibu akan baik-baik saja kan, ibu…" Tangis Cyara. Dia tidak sanggup lagi meneruskan perkataannya.


"Pak cepat Pak!" Pinta Cyara pada sopir. Ya suami istri itu kini sudah berada di dalam mobil menuju ke rumah sakit terdekat.


"Ssst kamu tenang dulu ya sayang, pikirkan juga anak kita" hanya itu yang bisa Vier ucapkan. Dia sendiri tidak yakin apalagi melihat kondisi ibu Cyara tadi.


Cyara hanya bisa menangis di dalam pelukan Vier. Untungnya tadi Vier membawa serta sopirnya hingga kini dia tidak harus mengendarai sendiri mobilnya.


Menempuh perjalanan yang cukup lama, kini mereka semua sudah sampai di sebuah rumah sakit yang tidak begitu besar. Vier dan Cyara turun dan mengikuti beberapa perawat yang membawa ibunya.


"Maaf Tuan, Nyonya, kalian dilarang masuk!" Ucap perawat yang langsung menutup ruangan.


"Vier...ibu…"


Vier hanya bisa diam dan memeluk istrinya. Sementara Vian, dia langsung menghubungi keluarganya dan menceritakan kejadian secara singkat. 


"Mama dan Papa akan segera kesini," beritahu Vian.


"Rey dan Rain?"


"Mama akan membawanya ke rumah Kak Alno."


Vier mengangguk mengerti, mereka kemudian langsung menghampiri dokter yang baru saja keluar, setelah memeriksa kondisi ibu Cyara.


"Kami sudah berusaha semaksimal mungkin, tapi pasien tidak bisa diselamatkan," beritahu dokter dan Cyara yang mendengar itu, langsung jatuh tidak sadarkan diri, untungnya Vier dengan cepat menangkap tubuh sang istri.


Vian memanggil perawat dan membantu mengangkat tubuh Cyara.


Dan hampir satu jam kemudian Stevano dan Jasmine akhirnya sampai di rumah sakit, yang alamatnya sudah dikirimkan oleh Vian. Suami istri itu berlari menuju tempat yang tadi diberitahu receptionist. Hingga mereka melihat Vian yang sedang berbicara dengan perawat, Stevano dan Jasmine menghampiri putranya. Sedangkan perawat itu pamit untuk melanjutkan pekerjaannya.


"Bagaimana?" Tanya Stevano yang baru saja sampai.


"Vier sama Cyara mana?" Kini giliran Jasmine yang bertanya pada Vian.


"Kak Vier disana, Kak Cya pingsan tadi, ibu Kak Cya meninggal Ma, beliau tidak bisa diselamatkan," kata Vian lirih, dia juga ikut sedih, walaupun dia hanya beberapa kali saja bertemu dengan ibu Cyara.


Tubuh Jasmine hampir saja limbung, jika Stevano tidak segera menahannya.


"Cya, bagaimana keadaan Cya sekarang?" Tanya Jasmine, dirinya benar-benar sedih atas apa yang menimpa menantunya itu.


"Kak Cya belum sadarkan diri Ma, dan Pa kita perlu mengurus kepulangan Ibu Kak Cya," ucap Vian kemudian.


Jasmine menghampiri menantunya, sementara Stevano dan Vian mengurus segala keperluan untuk memulangkan Ibu Cyara.


*


*


"Sayang ayo pulang!" Bujuk Vier pada Cyara yang kini tengah memeluk nisan ibunya.


Cyara terus menggeleng, dirinya masih tidak percaya bahwa kini ibunya sudah tiada.


"Sayang!"


"Aku mau disini dulu Vier,"


"Tapi sayang…"


"Aku baik-baik saja Vier," jawab Cyara dan hal itu tidak membuat Vier langsung percaya, karena Cyara bahkan sudah berkali-kali tidak sadarkan diri saat dalam perjalanan tadi.


Jasmine mengangguk, memberi isyarat pada putranya untuk membiarkan Cyara tetap disana. 


Vier mengangguk, dan  meminta yang lainnya untuk pulang lebih dulu. Setelah semuanya berpamitan, Vier dengan setia menemani istrinya.


"Ibu… maafkan Cya Bu! Maafkan Cya, ini semua salah Cya, jika saja ibu tidak melindungiku, mungkin saja Ibu...Ibu..." Tangis Cyara kembali meluap saat disana kini hanya ada mereka berdua. Dan Vier dengan segera menarik sang istri yang tengah rapuh itu ke dalam pelukannya.