Love Revenge

Love Revenge
Bab 58



"Apa ada yang ingin Mama katakan?" Tanya Vier meletakkan ponsel yang sedari tadi di pegangnya menoleh ke arah mamanya yang duduk di sampingnya terus menatapnya.


"Kenapa bisa sama Sheira?" Tanya Jasmine to the point.


Vier menghela nafasnya dan menatap sang mama.


"Apa Mama berpikir aku mengajaknya?"


"Bukan seperti itu, Mama hanya ingin kamu menghargai perasaan Cyara. Bagaimanapun dia calon istri kamu, terlepas kamu sudah melupakan Sheira atau belum."


Saat Vier akan menjawab ucapan Jasmine, tiba-tiba saja tirai terbuka dan menampilkan Cyara dalam balutan gaun putih model kemben yang membuat kulit mulus wanita itu terekspos jelas.


"Bagaimana cantik kan?" Puji Liora yang berdiri di samping Cyara.


Jasmine tersenyum puas, kemudian kakinya menyenggol kaki Vier karena pria itu hanya diam saja. "Bagaimana Vier?" Tanyanya meminta pendapat sang putra.


"Lumayan," jawab Vier begitu singkat.


"Ayolah Vier buka matamu, masa Cya sudah secantik ini hanya kau bilang lumayan, lagian apa salahnya mengakui jika calon istrinya memang cantik, lihat saja jika sampai ada pria lain yang mengatakan Cyara cantik, kebakar tuh hati sampai bau gosong," ucap Liora mengungkapkan kekesalannya  mendengar jawaban keponakannya.


Vier hanya mengedikkan bahu acuh. Cyara melirik Vier yang kembali sibuk dengan ponselnya, menghela nafas kemudian menatap Liora.


"Bibi, apa aku sudah bisa mengganti bajuku lagi?" Tanya Cyara yang sudah merasa tidak nyaman.


"Boleh sayang, ganti saja," kata Liora mempersilahkan Cyara untuk kembali ke ruang ganti.


"Pakaian untuk kamu nanti menyusul saja, ucap Liora.


Vier hanya mengangguk pelan.


"Kak aku kembali ke dalam dulu," pamitnya kemudian pada Jasmine untuk segera pergi dari sana.


"Kamu sih," kata Jasmine yang kemudian meninggalkan Vier menyusul Liora ke dalam.


Setelah melihat kepergian Mama dan bibinya, Vier menghembuskan nafas, dan pandangannya  beralih pada tirai yang masih tertutup. Vier tiba-tiba bangun dan melangkah kesana.


"Pegawai yang akan membantu Cyara melepas gaunnya terkejut melihat Vier tiba-tiba sudah ada di dalam sana, bahkan Cyara pun merasakan hal yang sama. Cyara mengurungkan niatnya untuk berganti pakaian.


"Aku mau bicara dengan calon istriku," ucap Vier pada pegawai tadi.


"Tapi Tuan…"


"Tidak apa-apa," ujar Cyara dan pegawai tadi pun akhirnya keluar meninggalkan mereka berdua.


"Ada apa?" Tanya Cyara.


"Sehabis ini kamu langsung ikut denganku, kemanapun aku pergi hari ini," ucap Vier.


"Tapi…"


"Rey dan Rain nanti biar aku minta Mama untuk menjemput mereka dan membiarkan mereka di rumah Mama dulu sebelum kita kembali," jawab Vier yang sepertinya tahu apa yang akan Cyara ucapkan.


"Baiklah," pasrah Cyara.


"Kenapa lagi? Sudah kan hanya itu yang ingin kau katakan," ucap Cyara yang melihat Vier masih ada disana.


Vier berjalan mendekat ke arah Cyara.


"Vier kau mau apa?" Cyara sudah siap siaga saat jarak pria itu hanya tersisa satu langkah.


"Kenapa? Apa kau takut?" Tanya Vier.


"Tentu saja aku takut, apalagi disini cuma ada kita berdua."


Vier menyeringai dan semakin mendekati Cyara. 


"Vier!"


Kedua tangan Cyara dengan cepat menahan dada Vier. 


"Vier apa yang mau kamu lakukan?" Wajah Cyara kini semakin memanas dan memerah.


"Apa kamu tahu, aku bisa melakukan apapun bahkan dimanapun, termasuk tempat ini," Vier berbisik tepat di telinga Cyara.


"Vier!" Ucap Cyara tercekat, wanita itu memalingkan wajahnya ke samping.


"Kenapa lagi? Tidak apa-apa bukan, tidak ada yang salah, kau wanita dan aku pria, apalagi kau adalah calon istriku" ucap pria itu.


"Aku tahu, tapi jelas saja itu salah, kita bahkan belum menikah."


"Tapi sebentar lagi akan…"


"Vier! Jangan gila!"


Vier diam dan ditariknya dagu Cyara, "Tapi kurasa hanya ciuman saja tidak masalah," katanya dan dalam hitungan detik saja bibir Vier sudah menempel di bibir Cyara.


Cyara mendorong dada Vier, berharap pria itu akan menghentikan kegilaannya. Bahkan kini Cyara memukul pelan dada Vier, tapi Vier dengan cepat menangkap tangan Cyara.


Vier menarik tengkuk Cyara dan memperdalam ciumannya, sementara Cyara mengatupkan bibirnya rapat-rapat, tidak membalas ciuman pria itu sama sekali.


"Vier apa yang sedang kalian lakukan?" Tiba-tiba terdengar suara Jasmine dari luar.


Vier melepaskan ciumannya dan menghela nafas, "Mama mengganggu saja," gumam pria itu pelan.


Cyara melotot mendengar gumaman pria itu.


"Vier, Cyara! Apa yang sedang kalian lakukan di dalam?" Teriak Jasmine lagi.


Cyara hendak menjawab tapi Vier segera membungkam mulut wanita itu.


"Vier kalian tidak berbuat sesuatu kan di sana?"


Vier tersenyum menyeringai, "Mungkin saja, jika Mama terus mengganggu, teriak Vier yang membuat mata Cyara melotot seketika, apalagi saat Vier kembali menempelkan bibirnya.


"Balas ciumanku Cyara!" Ucap Vier parau, dia kesal karena untuk kesekian kalinya mencium bibir wanita itu, tapi tidak pernah sekalipun Cyara membalas ciumannya.


Bibir keduanya kini kembali menyatu, Vier semakin memperdalam ciumannya, diraihnya tangan Cyara dan mengalungkannya di lehernya, sementara satu tangan Vier menarik pinggang Cyara semakin mendekat dan tangan satunya menarik tengkuk wanita itu. Vier memiringkan kepalanya, dan Cyara mengikuti, Cyara sepertinya kehilangan kendali hingga akhirnya membalas ciuman pria itu, keduanya pun kini sudah terhanyut.


Vier tersenyum setelah pagutan bibir mereka terlepas. Diusapnya bibir Cyara dengan ibu jarinya, membuat Cyara terkesiap dan baru sadar apa yang baru saja terjadi. Nafasnya naik turun, matanya menatap pria itu yang juga menatapnya, dan tatapan keduanya pun bertemu.


"Aku keluar sekarang," kata Vier kemudian dan mengecup bibir Cyara sekilas sebelum akhirnya dirinya keluar dari ruang ganti itu.


Tubuh Cyara hampir saja limbung jika saja dia tidak segera berpegang pada dinding. Entah kenapa kakinya terasa lemas seketika. Cyara memegang dadanya, jantungnya serasa mau melompat dari tempatnya.


"Kenapa jantungku jadi berdebar seperti ini?" 


Sementara itu di luar, Jasmine langsung menatap putranya curiga. "Apa yang kau lakukan tadi? Kenapa lama sekali?"


Vier hanya mengedikkan bahunya acuh. "Mana Bibi El? Ya sudah aku cari Bibi El di ruangannya." Ucapnya kemudian mengalihkan pembicaraan dan juga memang ada yang ingin dia bicarakan kepada bibinya sehingga dia mencari Liora


"Vier kamu belum menjawab pertanyaan Mama," Jasmine menahan tangan Vier yang hendak pergi.


"Vier mau cari Bibi El dulu Ma, ada yang ingin Vier katakan dan ini penting," kata Vier menatap mamanya.


"Kenapa mencari Bibi?" Kata Liora yang tiba-tiba saja sudah ada di sana.


"Tunggu dulu Liora, biarkan Vier menjawab dulu pertanyaanku tadi."


"Ma…"


"Ya sudah apa yang mau kamu katakan sama Bibi El, katakan disini saja," putus Jasmine yang penasaran apa yang ingin putranya itu sampaikan.


Vier menghela nafasnya, "Aku mau gaun Cyara diganti," ucapnya kemudian membuat Jasmine dan Liora hanya bisa saling pandang dan mengernyitkan dahi mereka.