
Setelah mendonorkan darahnya, Vier kembali menunggu di luar. Dia dan Vian sama-sama terdiam, keduanya sibuk dengan pikirannya masing-masing.
Vian hendak bertanya tentang maksud Vier melakukan tes dna, sebelumnya Vian tahu jika kakaknya mendonorkan darah untuk Rey, padahal Vian tahu jika golongan darah Vier merupakan golongan langkah menurun dari mamanya. Dan Vian merasa heran kenapa Rey juga memilikinya. Dan tes dna, apa Vier pikir Rey anaknya, dan tunggu jika Rey anak Vier lantas berarti Vier sudah pernah melakukannya dengan Kak Cyara, kapan? Jika melihat usia Rey saat ini, apa mungkin hal itu terjadi...bukankah saat itu Kakaknya patah hati karena Sheira...lalu apa Kakaknya itu sudah mengenal Cyara sebelumnya, berbagai pertanyaan terus bermunculan di pikiran Vian saat mengaitkan satu dengan yang lainnya.
Vian hendak membuka mulutnya untuk berbicara tapi keburu Vier bangkit karena kini ruangan operasi terbuka, dan Vian pun mengikutinya.
"Bagaimana dokter?" Tanya Vier.
"Operasinya berjalan lancar, pasien selamat dan sudah melewati masa kritisnya. Kita tinggal menunggu pasien sadarkan diri," jelas dokter.
Vier mengangguk mengerti, dirinya merasa lega, dan banyak-banyak bersyukur, Rey telah selamat, tanpa sadar bulir bening kini kembali lolos dari kedua matanya.
Vian menepuk bahu Vier, membuat Vier menoleh ke arah adiknya dan tersenyum meyakinkan bahwa dirinya baik-baik saja.
Tak lama, kini Rey dipindahkan ke ruang rawat, Vier dan Vian pun mengikutinya.
Vier mengangguk saat melihat suster yang kini pergi meninggalkan ruangan setelah melakukan tugasnya.
Vier duduk dan menggenggam tangan mungil itu erat sambil menghela nafasnya lega.
"Rey bangun ya Nak, temani Papi, Papi akan selalu menunggu Rey disini."
Vian hanya memandang iba kakaknya. Dan keduanya menoleh saat melihat pintu terbuka. Jasmine dan Stevano melangkah mendekat.
"Bagaimana keadaan Rey?" Tanya Jasmine yang kini berdiri di samping Rey dan mengusap lembut wajah mungil itu.
"Kata dokter Rey sudah melewati masa kritisnya Ma, dan menunggu dia sadar."
"Syukurlah, lebih baik kamu makan dulu Vier, kamu belum makan kan? Mama sudah bawa makanan untukmu," ujar Jasmine menunjuk makanan yang dibawanya tadi di tangan suaminya.
"Rain bagaimana Ma?"
Jasmine menghela nafas panjang kemudian menceritakan semuanya.
"Dimana dia sekarang?"
"Di rumah Paman Al, mama tidak bisa menitipkannya di tempat Vira."
Vier mengangguk mengerti.
"Ini kamu makan dulu, biar kami yang menjaga Rey," kini Stevano berjalan mendekat menyerahkan bungkusan makanan itu pada Vier.
Vier menerimanya, tapi justru meletakkannya di meja.
"Kenapa tidak dimakan?"
"Vier belum lapar Ma, Vier akan menunggu sampai Rey sadar dulu.
Ketiga orang lainnya hanya bisa menghela nafasnya.
Dering ponsel Vier mengalihkan perhatian mereka.
"Ya halo bagaimana?" Tanya Vier langsung begitu panggilan sudah terhubung.
"Maaf Tuan, kami belum bisa menemukannya," jawab orang suruhan Vier.
Vier menghela nafas
"Baiklah kalian terus cari, jika di penerbangan dan di terminal tidak ada namanya berarti istriku masih ada di kota ini," ucap Vier yang kemudian mengakhiri panggilan saat melihat tangan Rey bergerak.
Semua orang kini bernafas lega dan tersenyum saat melihat Rey kini sedang mengerjapkan matanya beberapa kali, dan tak lama kedua mata itu terbuka sepenuhnya.
"Pa...pi!"
"Papi, Oma, Opa, Om Vian," Rey memandang semua orang yang ada disana.
"Mami mana, Papi?" Tanya mencari-cari Cyara.
Vier menatap mama dan papanya bergantian.
"Mami sedang ada urusan sayang, Oma sudah menghubungi Mami, Mami pasti akan segera kembali," ucap Jasmine memberi alasan seperti alasan yang tadi juga disampaikan pada Rain.
"Sayang apa masih ada yang sakit?" Tanya Vier mengalihkan perhatian anak itu.
Rey hanya menggeleng, "Rey ingin bertemu Mami, Rey mau minta maaf sama Mami, karena waktu itu ninggalin Mami," ucap Rey dengan mata yang berkaca.
"Papi, Rey ingin sama Mami."
"Apa Rey tidak mau sama Papi lagi? Apa Rey tidak sayang sama Papi?" Vier begitu sedih mendengarkan ucapan putranya.
"Rey sayang Papi, Rey juga sayang sama Mami, tapi Rey tidak bisa jauh dari Mami, Rey ingin tinggal bersama Mami lagi."
"Iya nanti Rey pasti tinggal sama Mami lagi, sama Papi juga, tapi Rey harus sembuh dulu," jawab Vier.
"Iya Papi, Rey pasti cepat sembuh."
"Rey mau makan bubur?"
Rey pun mengangguk mengiyakan. Vier mengambil bubur yang tadi sempat di belikan juga oleh mamanya dan menyuapi Rey.
*
*
Seorang wanita kini sedang melamun di depan jendela menikmati angin sore, sambil terus menatap sebuah foto yang selalu dia bawa kemanapun. Dirinya mengingat sesuatu yang membuatnya sekarang berada di tempat ini.
"Kamu?" Cyara terkejut saat melihat pria yang menggendongnya.
"Kamu mau apa? Cepat lepaskan aku!" Teriak Cyara meminta turun.
"Kaki kamu sakit Cyara!" Ucap pria itu yang kini membawa Cyara masuk ke dalam mobilnya.
"Itu bukan urusanmu," kata Cyara mencoba membuka mobil, tapi pria itu menghalanginya dan segera ikut masuk dan duduk di samping Cyara.
"Tuan kita tidak saling mengenal, Anda hanya rekan bisnis suamiku, selain itu kita tidak punya hubungan apa-apa, jadi ku mohon biarkan aku turun," ucap Cyara yang hendak membuka pintu di samping kanannya tapi ternyata sudah dikunci.
"Jalan Pak!" Ucap pria itu yang justru menyuruh supir untuk menjalankan mobilnya.
"Tuan!"
"Apa kamu tidak bisa mengasihani diri kamu sendiri Cya? Dia sudah menyakitimu, dan lihatlah tadi dia membawa anak-anakmu, dan saat melihatmu terjatuh, dia tidak punya hati hingga terus melajukan mobil dan tidak ada niat untuk menolongmu! Cukup Cya! Aku tidak mau kamu terus disakiti seperti itu, bahkan aku dan ayah pun tidak pernah menyakitimu, tapi dia…
"Ayah? Apa maksudmu?" Kata Cyara menatap pria itu meminta penjelasan.
"Aku kakakmu, dan aku tidak mau adikku, terus disakiti oleh satu pria yang sama, dulu tepatnya enam tahun yang lalu, dia juga membuat hidupmu harus diasingkan dan sekarang saat dia hidup bersamamu, dia justru menyia-nyiakan kamu, Ibu dari anak-anaknya? Apa seorang Kakak akan membiarkan hal itu terjadi pada adiknya? Tidak akan Cya!"
Cya hanya menatap bingung apa yang dikatakan pria yang dia kenal sebagai rekan bisnis suaminya. Sampai akhirnya pria itu menyerahkan sebuah map, dimana disana ada foto dirinya, kakaknya dan juga sang ayah tepatnya sebelum Cyara tinggal bersama ibu kandungnya.
"Itu foto kita," ucap pria itu.
"Tunggu bukankah..."
"Kakak selamat dalam kecelakaan itu, dan kakak melupakan semuanya, setelah Kakak ingat dan sembuh, Kakak berusaha mencarimu. Dan ini, pria itu kemudian menyerahkan ponselnya pada Cyara dimana di dalam ponsel itu ada terekam pria yang membuat Cyara akhirnya memiliki Rey dan Rain.
Lamunan Cyara buyar dan dia menoleh ketika mendengar langkah kaki seseorang yang masuk ke kamarnya.