
Ken tidak berangkat ke kantor, Keisha sama sekali tidak mau ditinggalkannya. Saat ini Ken sedang menyiapkan baju Keisha, sebentar lagi, dia akan membangunkan Keisha dan mengajaknya mandi.
"Mau apa kamu masuk?" Tanya Ken saat melihat seseorang masuk ke dalam kamar putrinya.
"Maaf Tuan, saya hanya akan membangunkan Nona kecil, kata Nyonya, jam segini biasanya Nona kecil bangun."
"Tidak perlu," jawab datar.
"Tapi Tuan."
Ken menghentikan kegiatannya menatap perempuan itu tajam.
"Saya bilang tidak usah ya tidak usah, apa kamu tidak mengerti juga? Dan satu lagi jangan panggil saya Tuan, saya bukan Tuan mu, karena yang menyuruhmu bekerja disini ibu saya bukan saya."
Gadis itu menarik nafas dan menghembuskannya perlahan. Dirinya kemarin sudah bersabar, tapi dengan sikap Ken yang terus-terusan seperti itu padanya, membuat Meisya lama-lama juga kesal. Dirinya kemarin memang terkejut karena Ken berteriak padanya, tapi dia tidak mau jika Ken terus meneriakinya seperti tadi.
"Apa Nyonya tidak salah mengatakan dia pria yang lembut dan ramah," gumam Meisya pelan.
"Apa yang tadi kau katakan?"
"Tidak, saya tidak mengatakan apa-apa Tuan, ya sudah kalau begitu saya permisi dulu," ucap Meisya dengan jalan yang sedikit kesusahan.
"Kalau luka itu diobati, nanti infeksi yang ada nanti jadi repotin orang lain."
Meisya yang hendak membuka pintu menoleh dan melihat Ken yang sedang mengambil handuk.
"Bapak bicara sama saya?"
"Menurutmu?"
"Bapak tidak perlu khawatir, kalau saya akan merepotkan orang lain, karena yang paling penting bukan bapak orangnya."
Meisya membungkukkan sedikit badannya, lalu segera keluar dari kamar itu. Berada satu ruangan dengan Ken hanya membuatnya emosi.
Saat dirinya berjalan ke ranjang putrinya, tiba-tiba, dia berhenti.
"Tunggu, dia tadi memanggilku apa? Bapak?"
"Ayah, apa kamu disana?"
Lamunan Ken buyar saat mendengar suara putrinya. Dia lihat kini putrinya sudah bangun dan duduk di atas ranjang.
Ken mendekat lalu duduk di sisi ranjang kosong putrinya.
"Iya ayah disini, ayo ayah akan membantu Keisha mandi."
Keisha mengangguk, dia kemudian mengulurkan tangan, dan Ken pun segera menggendongnya membawa ke kamar mandi.
*
*
Cyara kini sudah tiba di rumah sakit, seperti janjinya tadi siang pada sang ibu untuk menemaninya kini Cyara sudah sampai diantar oleh suaminya. Cyara tidak tahu kemana ibunya akan membawa dirinya pergi, karena ibunya sama sekali tidak mengatakannya.
"Sayang maaf aku tidak bisa menemanimu," ucap Vier berat, sebenarnya dia ingin sekali menemani istrinya, dia takut terjadi sesuatu dengan Cyara, tapi sayangnya ada hal yang lebih penting yang harus dia lakukan, hingga terpaksa membiarkan Cyara pergi hanya bersama ibunya.
"Tidak apa-apa, lagian aku kan juga perginya sama supir, jadi kamu tidak perlu khawatir," jawab Cyara meyakinkan suaminya.
"Baiklah, jika ada apa-apa, kamu harus segera hubungi aku, dan kamu harus ingat, untuk selalu memastikan ponselmu agar selalu aktif, aku akan terus menunggu kabar darimu," ucap Vier yang kemudian mengecup kening Cyara dan berlalu pergi meninggalkan istrinya itu.
Cyara menatap kepergian suaminya, dan setelah dia tidak melihat suaminya lagi, barulah kemudian wanita itu masuk ke dalam ruang rawat ibunya. Begitu dirinya masuk, Cyara langsung disambut senyuman wanita yang telah melahirkannya, mengingat hal itu, membuat hati Cyara menghangat, sebelumnya dia tidak pernah mengalami hal seperti itu.
"Sudah, ayo kita berangkat sekarang! Takut nanti kemalaman" Ajak ibu Cyara yang kini langsung bangkit dari duduknya.
"Ibu yakin? Hmm maksudku ibu sudah benar-benar sehat, tidak apa-apa jika kita keluar malam ini?" Tanya Cyara merasa khawatir.
Wanita itu yang sedang merapikan baju pasien yang baru saja dilepasnya, segera menghentikan kegiatannya.
"Maksud Cya, apa ibu yakin ibu sudah baik-baik saja, apalagi ibu mau pergi di malam hari seperti ini," kata Cyara menatap ibunya.
Ibu Cyara tersenyum, lalu mengangguk.
"Ibu, baik-baik saja, jadi kamu tenang saja. Lagian ibu juga sudah mendapatkan ijin dari dokternya," Jawab ibu Cyara kemudian.
Cyara menghela nafas, berjalan mendekat ke arah ibunya dan membantu wanita itu untuk berjalan keluar dari ruang rawat.
"Ibu bisa sendiri," jawab wanita itu menolak.
"Baiklah." Cyara hanya bisa membiarkan ibunya itu.
Keduanya kemudian berjalan bersama melewati lorong, dan masuk ke dalam lift, hingga keluar menuju mobil yang sudah siap menunggu mereka.
Sopir yang melihat istri Tuan nya itu mendekat, buru-buru membukakan pintu untuk mereka. Cyara membantu ibunya masuk dan kali ini ibu Cyara tidak menolaknya.
Setelah keduanya masuk, kini sopir menjalankan mobil menuju ke alamat yang ibu Cyara katakan.
Cyara merasakan genggaman tangan dari sang ibu yang kini telapak tangannya sudah basah oleh keringat.
Cyara menatap ibunya yang terlihat gugup, entah kenapa ibunya seperti itu, membuat Cyara bertanya-tanya dalam hati kemana sebenarnya mereka akan pergi. Merasa diperhatikan oleh putrinya, ibu Cyara menoleh dan tersenyum, seolah tidak terjadi apa-apa.
"Sebenarnya kita mau kemana Bu?"
Pertanyaan yang Cyara pendam dalam hati, kini terlontar juga.
"Nanti kamu akan tahu," ucap wanita itu menatap Cyara sebentar, lalu dengan cepat mengalihkan pandangannya ke luar jendela.
Hingga tiga puluh menit menempuh perjalanan, kini keduanya pun turun, Cyara mengernyit begitu melihat sebuah gedung yang jauh dari keramaian, bahkan gedung itu seperti lama tidak dipakai.
"Ayo masuk!" Ibu Cyara mengajaknya untuk masuk, setelah berbicara dengan sopir tentunya, Cyara tidak tahu apa yang mereka bicarakan, tidak terlalu fokus karena merasa tercengang saat melihat yang di depannya sekarang.
Cyara menatap ibunya, dan lagi-lagi wanita itu hanya tersenyum. Dengan ragu dia melangkah mengikuti wanita yang melahirkannya. Cukup jauh mereka berjalan, ibu Cyara melepaskan genggaman tangannya, lalu mengambil ponsel menghubungi seseorang, Cyara tidak tahu siapa itu, tapi yang Cyara dapat simpulkan, jika sepertinya mereka tidak berdua, karena Cyara mendengar ibu mengajak orang lain untuk segera masuk. Siapa dia, Cyara hanya memikirkan satu orang. Dan saat sibuk dengan pikirannya, terdengar langkah kaki seseorang masuk, dugaan Cyara benar, Sheira kini sudah ada di hadapannya, tengah memberikan senyuman sinis kepadanya.
"Maafkan ibu."
Ibu kedua wanita itu tiba-tiba saja meminta maaf.
Cyara menatap ibunya tak percaya, berbeda dengan Sheira yang kini terus tersenyum sinis padanya.
"Bu…"
"Tugas Mama sudah selesai, jadi Mama boleh pergi dari sini, atau Mama akan menyaksikan bagaimana aku menyingkirkan putri kesayangan Mama ini?" seringaian kini muncul di sudut bibir Sheira.
Cyara hanya mengerutkan dahi bingung mendengar ucapan adiknya.
Wanita itu menatap Cyara dan Sheira bergantian, kemudian dia memutuskan untuk tetap di sana.
Tawa Sheira terdengar menggelegar, "Bagus jika seperti itu.
Sheira mengeluarkan sebilah pisau kemudian memainkannya. Sheira berjalan mendekat dengan cepat dan...