
"Ayo pergi!" Vier menarik tangan Cyara setelah membayar pesanannya.
Cyara pun menurut, dan segera mengikuti pria itu masuk ke mobil, walaupun dirinya masih dirundung rasa penasaran akan perkataan pegawai tadi.
"Kemarikan tanganmu!" Ucap Vier tiba-tiba begitu mereka sudah ada di dalam mobil.
"Memangnya Kenapa?" Cyara mengernyitkan dahinya mendengarkan ucapan dadakan pria itu.
"Sudah kemarikan saja!" Perintah Vier lagi yang tidak ingin menjelaskan.
Dan dengan ragu Cyara akhirnya mengulurkan tangannya, sementara Vier mengambil paper bag dan membuka sebuah kotak, dimana disana ada sepasang cincin yang membuat mata Cyara membelalak tak percaya.
Vier mengambil salah satunya dan
memasangkan cincin itu di jari manis Cyara, kemudian meraih dan mengamati tangan Cyara.
"Cantik," ucap Vier kemudian tersenyum puas pada pilihannya.
Blush
Pipi Cyara merona mendengar apa yang barusan Vier katakan, bahkan rasanya Cyara ingin mendorong Vier menjauh darinya, karena dia takut dan pastinya akan merasa sangat malu jika pria itu mendengar detak jantung Cyara saat ini.
"Sekarang pakaikan ini di jariku!" Vier menyerahkan satu cincin yang lain agar Cyara memakaikannya.
"Cyara!"
"Cyara!"
Wanita itu masih saja terdiam sambil menatap jarinya.
"Hah? Kenapa?"
"Pakaikan ini!"
Cyara pun menerima cincin yang Vier berikan dan memakaikannya di jari pria itu.
"Ingat jika ada pria lain yang mendekatimu, kamu tunjukkan cincin ini pada mereka," kata Vier sambil mengangkat tangan Cyara.
"Cyara kamu dengar kan apa yang aku katakan? Tambah pria itu lagi karena Cyara tidak menyahuti ucapannya.
"Iya aku dengar, aku tidak akan dekat dengan pria manapun lagi, kau puas?" Kata Cyara kemudian menyandarkan tubuhnya dan menghadap ke luar jendela.
"Baiklah, ayo sekarang kita ke rumah Mama jemput anak-anak," kata Vier yang kemudian mengemudikan mobilnya menuju ke rumah mamanya dimana anak-anak Cyara sekarang sudah berada disana.
Mobil yang dikendarai Vier kini sudah di kediaman orang tuanya, Vier langsung turun diikuti oleh Cyara. Rey dan Rain berlari menghampiri keduanya. Rey berlari dan kemudian memeluk Vier, sementara Rain berlari dan memeluk Cyara, bahkan gadis itu kini meminta gendong Cyara.
"Kenapa sayang?" Tanya Cyara merasakan putrinya yang tidak seperti biasanya.
Rain menggeleng dan semakin mengeratkan pelukannya di leher sang mami.
"Sayang?" Kini Cyara menatap putranya tapi dia tampak baik-baik saja, seperti tidak ada yang terjadi.
"Kalian sudah datang?" Jasmine berjalan keluar menghampiri anak dan calon menantunya.
"Ma…" Cyara langsung mencium punggung tangan wanita itu.
"Cyara, ada yang ingin Mama katakan, Rey ajak papi masuk ke dalam!" Kata Jasmine meminta Rey mengajak Vier ke dalam.
"Iya Oma," jawab anak laki-laki itu.
"Ayo papi!" Rey melepaskan pelukan dan menarik tangan Vier agar masuk ke dalam rumah.
"Baiklah, ayo! Tak ingin menolak calon putranya itu, Vier hanya bisa menurutinya.
"Vier bawa Rain juga bersamamu!" Perintah Jasmine kepada sang putra.
"Rain sama Papi dulu ya," ujar Jasmine.
Sebelum pergi, Vier menatap Cyara dan mamanya, merasa jika ada yang tidak beres.
"Ayo ikut Mama," Jasmine membawa Cyara ke taman samping rumah, dan mengajaknya duduk di sebuah gazebo.
"Apa ini ada hubungannya dengan Rain?" Tanya Cyara yang merasa jika apa yang akan calon mertuanya sampaikan berkaitan dengan putrinya.
Jasmine menghela nafas dan mengangguk.
"Tadi saat Mama akan menjemput, Mama melihat ada Sheira di sekitar sekolah anak-anak. Mama juga melihat Rain ada disana, Mama tidak tahu apa yang Sheira katakan sama Rain, tapi setelah Sheira pergi Rain diam saja bahkan jika ditanya hanya mengangguk dan menggeleng. Sayang, boleh Mama tahu, apa hubungan kamu dan Sheira tidak baik-baik saja.
Cyara menggeleng, "Tidak Ma, hubungan kami baik-baik saja," jawab Cyara yang kemudian terdiam saat dirinya mengingat kejadian yang belum lama terjadi, dimana Sheira menariknya ke kolam renang, padahal jelas-jelas Sheira tahu jika dirinya tidak bisa berenang.
"Kenapa sayang?"
"Hmm tidak apa-apa, ya udah Ma nanti biar aku tanya ke Rain pelan-pelan, aku tadi juga merasa ada yang aneh dengannya, makasih ya sebelumnya, maaf jadi sering merepotkan Mama."
Jasmine meraih tangan Cyara dan menggenggamnya, "Mama yang makasih sama kamu, makasih karena sudah hadir di kehidupan kami, dan perlu kamu ingat, Mama sama sekali tidak merasa direpotkan jadi jangan berkata seperti itu ya," kata Jasmine yang kemudian menyadari ada cincin yang melingkar di jari manis Cyara.
"Ini…"
Cyara yang tahu arah pandang Jasmine pun mengerti. "Vier tadi yang memberikannya," jawab Cyara yang mengangkat tangannya memperhatikan cincin yang diberikan Vier padanya.
"Jadi tadi kalian…"
"Iya, makanya Cya tidak enak sama Mama, karena jadinya mama yang harus jemput anak-anak."
"Baru tadi Mama bilang jangan katakan seperti itu."
"Iya baiklah, aku tidak akan mengatakan hal seperti itu lagi."
"Ya sudah ayo masuk! Oh ya Cya, tolong kamu jangan katakan hal itu sama Vier ya," pinta Jasmine menahan Cyara dan mengatakan itu sebelum mereka masuk.
"Iya, Mama tenang saja," jawab Cyara dan kemudian keduanya pun masuk tanpa tahu jika ada seseorang yang tidak jauh dari sana mendengarkan ucapan mereka,
"Ayo sayang kita pulang!" Ajak Cyara begitu sudah masuk ke dalam.
Kedua anaknya yang sedang menonton televisi menoleh kemudian dengan perlahan turun.
"Kok kalian cuma berdua, Papi mana?" Tanya Jasmine kepada dua cucunya itu.
"Papi ke belakang ambil minum," jawab Rey yang kini sudah memeluk kaki Cyara.
"Tidak makan siang dulu disini?"
"Tidak Ma," jawab Cyara.
"Hmmm sepertinya mereka juga sudah mengantuk, kalau gitu aku pamit dulu ya Ma," tambah wanita itu yang melihat mata anaknya sudah semakin sayu.
"Baiklah, tapi sering-sering ya main kesini," kata Jasmine yang sebenarnya berat hati membiarkan mereka pergi.
"Iya Ma," jawab Cyara yang kini beralih menatap anak-anaknya.
"Ayo sayang, kalian bisa kan jalan sendiri sampai mobil?" Cyara menundukkan kepala bertanya kepada anak-anaknya yang hanya diangguki lemah baik oleh Rey maupun Rain karena kedua kakak beradik itu sudah tampak sangat mengantuk.
"Biar aku antar!" Ucap Vier dari arah belakang.
"Ma aku antar mereka dulu," pamit Vier menyalami mamanya dan membungkuk mengangkat tubuh Rey dan berjalan keluar lebih dulu.
Melihat Rey dibawa Vier, akhirnya Cyara memutuskan untuk menggendong Rain.
"Kalian hati-hati ya," ucap Jasmine kepada Cyara karena Vier tiba-tiba sudah menghilang saja.
"Iya Ma, kalau gitu aku pulang dulu ya," Cyara pun mencium punggung wanita itu, dan segera berjalan menyusul Vier yang mungkin saja sudah sampai di mobilnya.