
Cyara benar-benar terkejut, dia mengira bahwa Arga yang datang, tidak menyangka jika yang sedari tadi memencet bel rumahnya adalah Vier, suaminya, tidak bukan suaminya lagi melainkan mantan suaminya, itu lah yang ada di pikiran Cyara.
Vier lagi-lagi memberinya kejutan, setelah tadi pagi pria itu berada di tempat kerjanya dan sekarang pria itu ada di depan rumahnya.
"Kenapa bisa?"
"Darimana Vier tahu rumahnya?"
"Lalu untuk apa Vier datang? Apa untuk menemuinya?"
Banyak pertanyaan kini terlintas di kepalanya, dan Cyara tidak dapat menemukan jawaban atas pertanyaannya itu.
"Cyara hentikan!" Aku tidak mau jika kamu sampai terluka," ucap Vier yang takut nanti dia mendorong pintu itu terlalu kuat dan membuat istrinya terjatuh.
"Kamu lepaskan dulu!" Ucap Cyara dan Vier hanya bisa menghela nafas, melepaskan tangan yang sedari tadi mencoba menahan pintu agar tidak tertutup.
Cyara kembali menutupnya dengan keras.
"Argh!" Teriak Vier dan Cyara pun langsung membuka lebar pintunya. Vier memang melepaskan satu tangannya tapi tangan satunya ternyata masih menahan pintu.
"Maaf, apa sangat sakit?" Tanya Cyara meraih tangan Vier dan melihat lukanya sambil meniupnya.
"Argh, iya sangat-sangat sakit," jawab Vier sambil merintih kesakitan.
Cyara buru-buru menarik Vier masuk.
"Kamu duduk disini!" Pinta Cyara dan wanita itu kemudian menghilang entah kemana meninggalkan Vier sendiri yang kini tengah mengamati rumah yang ditempati sang istri selama empat bulan ini menghilang.
Tak lama Vier melihat Cyara datang menghampirinya.
"Sini tanganmu!" Pinta Cyara tapi Vier hanya diam saja, hingga Cyara pun menarik tangan pria itu.
"Aww!" Teriak Vier.
Cyara melirik Vier sekilas, kemudian kembali melanjutkan untuk mengompres tangan Vier dengan es batu.
"Uda tahu sakit, pakai acara tangan di pintu segala," gerutu Cyara.
"Aku tidak tahu jika kamu akan menutupnya lagi," jawab Vier membela diri.
"Tapi aku sudah bilang untuk melepaskan tanganmu."
"Dan aku hanya ingin bertemu denganmu, tapi kamu terus mengusirku."
"Aku tidak mengusirmu, aku hanya tidak mau bertemu denganmu."
"Kenapa? Kenapa kamu tidak mau bertemu denganku? Itu tidak adil," jawab Vier tidak suka mendengar ucapan Cyara.
Sementara Cyara mengernyitkan dahi, merasa bingung dengan maksud ucapan Vier
"Kenapa jadi tidak adil?" Tanyanya kemudian.
"Ya tidak adil, aku ingin menemuimu tapi kamu tidak ingin menemuiku? Apa kamu tidak merindukanku?"
Cyara terdiam mendengar ucapan terakhir Vier, tidak, lebih tepatnya pertanyaan pria itu. Rindu? Kenapa Vier menanyakan itu? Sejujurnya Cyara sangat merindukannya, tapi dia bisa apa? Cyara mengubur dalam-dalam perasaan rindunya, karena mengira jika dia dan Vier sudah benar-benar berpisah. Dan sekarang pria itu mempertanyakan apakah Cyara merindukannya?
Cyara membereskan peralatan yang tadi dia gunakan kemudian bangkit.
"Setelah ini, kamu bisa pergi, pintunya ada disana!" Ucap Cyara sambil menunjuk ke arah pintu.
Greb
Vier langsung memeluk Cyara, tubuh Cyara kembali menegang, dua kali pria itu memeluknya, dan perasaannya masih sama.
"Apa usahaku untuk melupakanmu selama aku pergi bisa semudah ini luluh hanya menatap wajahmu saja?" Ucap Cyara dalam hati, jantungnya kembali berdebar kencang merasakan pelukan hangat pria itu, pelukan yang memang selalu Cyara rindukan di tengah kesendiriannya.
Hati kenapa kau mudah goyah?
Apa segampang itu kau menyia-nyiakan usaha yang sudah kau lakukan dengan susah payah?
Dan kenapa kau juga berdebar hanya karena sebuah pelukan dan mendengar suaranya?
Kenapa tidak sekali saja mendengar apa yang otak pikirkan sekali saja?
Vier melepaskan pelukan dan menatap tepat di manik mata Cyara.
"Ada yang harus kita bicarakan," ucap Vier kemudian menghela nafas lega saat akhirnya bisa mengatakan kalimat itu.
"Duduklah!" Ucap Cyara kemudian melangkah dan duduk di sofa.
Tapi belum juga melangkah, Cyara terkejut saat tiba-tiba Vier membawanya kembali ke dalam pelukan.
Hening
Ruangan itu kini hanya hening, Vier yang tadi bilang jika ingin membicarakan sesuatu pun kini hanya diam.
"Kembalilah padaku Cyara," ucap Vier berbisik lirih dengan berderai air mata.
Cyara membeku mendengar ucapan Vier, air matanya pun kini sudah ikut menetes membasahi wajahnya. Tapi dengan cepat wanita itu menyekanya.
Cyara melepaskan pelukan Vier dan duduk di sofa.
"Apa yang ingin kamu katakan?" Tanya Cyara, dia berusaha bersikap tenang, walaupun sebenarnya dadanya bergemuruh hebat.
Vier kini melangkah mendekat dan duduk di samping Cyara. Tapi sayangnya Cyara menggeser tubuhnya, Vier pun kemudian bergeser lagi, Cyara juga melakukan yang sama, hingga tubuh Cyara tidak bisa bergeser lagi karena sudah mentok dengan pinggiran sofa. Dan saat Cyara hendak bangkit, Vier menahannya, dia ingin berada di dekat sang istri dan tidak ingin jauh darinya.
"Kamu apa kabar?"
Pertanyaan umum tapi berhasil mengobrak-abrik hati dan pertahanan yang Cyara buat selama ini.
"Apa kamu masih peduli bagaimana kabarku Vier?" Bukannya menjawab Cyara justru bertanya balik pada pria itu.
Vier berusaha tersenyum meski hatinya sakit mendengar ucapan sang istri. Tentu saja Vier peduli, bahkan Vier tidak henti-hentinya mencari keberadaan sang istri selama ini.
"Bagaimana dengan kandunganmu?"
Cyara terdiam menahan air matanya agar tidak terjatuh, sambil mengelus perutnya lembut.
"Aku baik-baik saja," jawab Cyara. "Tapi itu, sebelum kau datang lagi Vier," tambahnya dalam hati.
"Maaf, maafkan aku Cyara," ucap Vier yang entah sejak kapan sudah duduk bersimpuh di hadapannya dan bahkan tangan pria itu menggenggam tangan Cyara erat.
"Sudah malam Vier, sebaiknya kau pergi, tidak enak jika sampai ada tetangga yang melihatmu disini," ucap Cyara melepaskan tangan Vier.
Vier mengernyitkan dahinya, kemudian dia pun kini mengerti, Cyara pasti mengira jika mereka sudah bercerai. Karena bukan hanya tidak menandatanganinya, Vier bahkan tidak pernah menyentuh surat itu, tidak akan pernah.
"Kenapa harus merasa tidak enak?" Ucap Vier kemudian.
Cyara hanya mengangkat kedua alisnya, bingung, mencoba mencerna apa maksud perkataan Vier.
"Kenapa kita harus merasa tidak enak sama tetangga?" Ucap Vier mengulangi perkataannya.
"Tentu saja karena bukan suami istri lagi," jawab Cyara dia kemudian bangkit dari duduknya.
"Cyara ada hal penting yang belum aku katakan."
"Besok saja," jawab Cyara yang kini melangkah meninggalkan Vier berjalan menuju pintu.
Sesungguhnya saat ini Cyara belum siap mendengarkan apa yang akan Vier katakan padanya, sungguh Cyara butuh waktu untuk itu.
"Kamu tidak seharusnya tidak berada disini Vier, jadi lebih baik kamu pulang sekarang!" Ucap Cyara yang kini membukakan pintu untuk Vier pergi.
Rahang Vier mengeras, dia tahu jika saat ini Cyara berusaha menghindarinya.
Vier bangun dan berjalan mendekat ke arah Cyara.
"Maaf karena sudah memisahkanmu dengan anak-anak, kamu boleh marah padaku, kamu boleh membenciku sebanyak yang kamu mau Cyara, karena aku tahu aku salah dan kesalahanku tidak termaafkan. Tapi Cyara, anak-anak sangat membutuhkanmu, jadi aku mohon, kembalilah Cyara! mereka selalu menanyakanmu dan ingin berkumpul bersamamu lagi.
Ucapan Vier berhasil menusuk hati Cyara. Air matanya kembali menetes. Tiba-tiba pelukan hangat menyapa tubuhnya.
"Aku mohon kembalilah Cyara! Aku juga membutuhkanmu, sungguh aku tidak bisa lagi jika terus berjauhan denganmu, aku menyesal Cyara, aku menyesal."
Tubuh Vier meluruh setelah mengucapkan itu, bahkan kini pria itu terlihat seperti bukan Vier yang selama ini Cyara kenal.