Love Revenge

Love Revenge
Bab 137



Vier dan Cyara kini memandangi kedua anaknya yang tengah sibuk membuka kado. Mereka terlihat senang dan Cyara juga ikut senang. Setengah jam yang lalu acara ulang tahun yang Damian persiapkan telah selesai. Bahkan anggota keluarga kini sudah kembali ke rumah masing-masing.


"Mami, yang ini buat adek Bryan," teriak Rey menunjuk sebuah kado yang berisi mainan.


"Wah senangnya, tuh Dek, dapat bagian dari Kak Rey," ucap Cyara pada Bryan yang kini dia tidurkan di atas ranjang Rey dan Rain.


"Makasih Kak Rey," ucap Cyara menirukan suara anak kecil.


"Sama-sama adek," jawab Rey tanpa menoleh dan justru kembali sibuk dengan kado-kado yang tersusun rapi di kamar mereka.


"Sepertinya mereka tidak bisa diganggu untuk saat ini," ucap Vier dan Cyara pun mengangguk setuju.


"Mami!"ย 


Cyara menoleh saat mendengar suara putrinya, dan dapat dia lihat kini Rain berjalan ke arahnya.


"Kenapa sayang?"ย 


"Mau bobok," ucap Rain yang kini mengucek matanya, gadis kecil itu sepertinya sudah benar-benar mengantuk.


"Sini sama Papi, ujar Vier meminta putrinya untuk mendekat ke arahnya.


Rain hanya menurut, dengan langkah gontai dia memutari tempat tidurnya.


Vier tersenyum, kemudian dirinya turun dan mengangkat tubuh putrinya, merebahkannya di atas ranjang. Dan baru saja gadis kecil itu naik, kini dia sudah memejamkan matanya dan terlelap.


"Pasti sudah mengantuk dari tadi," ucap Cyara dan Vier setuju dengan perkataan istrinya itu.


Pandangan keduanya kini beralih pada sang putra yang kini terlihat sedang membereskan bekas-bekas kado yang tadi dibukanya.


Cyara dan Vier tersenyum melihat itu, putranya benar-benar sangat pengertian. Dan Vier salut dengan didikan Cyara kepada mereka.


"Aku bantuin putra kita dulu," kata Vier yang kemudian melangkah menghampiri putranya.


Cyara hanya mengangguk, dia memperhatikan dua laki-lakinya dari kejauhan, hingga akhirnya keduanya kini melangkah mendekat dengan Vier yang menggandeng putranya.


"Rey juga tidur ya sudah malam," kata Vier yang kini membawa Rey ke kamar mandi untuk mencuci tangannya.


Cyara turun, dan mengambil Bryan pelan-pelan, takut jika putra kecilnya itu akan terbangun.


"Aku ke kamar dulu ya, mau menidurkan Bryan," ucap Cyara begitu melihat suami dan anaknya telah kembali.


Vier mengangguk, pria itu lalu berkata akan menemani sampai Rey tidur dulu, baru kemudian dirinya akan menyusul.


Cyara mengiyakan, dan berjalan keluar menuju kamarnya. Tujuan utamanya adalah Box bayi, dia harus menidurkan Bryan disana. Dan saat dia sedang memperhatikan tidur putranya, Cyara terkejut saat tiba-tiba sepasang tangan melingkar di perutnya, hingga otomatis, Cyara menoleh, sebenarnya tanpa menoleh pun, Cyara tahu siapa orangnya dari aroma tubuh orang itu.


"Kenapa?" Tanya Cyara saat suaminya kini memeluknya begitu erat.


"Terima kasih," ucap Vier tiba-tiba.


"Untuk?" Cyara berbalik dan menatap suaminya.


"Untuk semuanya, untuk kamu yang mempertahankan anak-anak kita, membesarkan mereka, mencintaiku, bertahan denganku walau sakit dan terluka, memberiku kesempatan kedua, hingga kita bisa berkumpul lagi dan bisa bahagia seperti ini," ucap Vier menatap ke dalam manik mata istrinya.


"Sama-sama," jawab Cyara.


"Hmm, memangnya apa yang kamu harapkan?"


"Tidak," jawab Vier yang kini langsung melepaskan pelukan dan hendak pergi tapi tertahan karena Cyara kini memeluknya dari belakang.


Vier memegang tangan itu dan berbalik badan, tersenyum menatap orang yang saat ini memeluknya.


"Alih-alih terus mengucapkan terima kasih, aku hanya ingin kamu selalu ada di sampingku bersama anak-anak kita, membesarkan mereka bersama, dan yang penting rasa cinta kamu kepada kami tidak pernah berubah, sekarang atau nanti."


Vier memeluk Cyara, "Aku bahagia, sangat bahagia karena memiliki kalian," ucapnya.


"Aku juga sangat bahagia," kata Cyara tidak mau kalah menyatakan kebahagiaannya.


"Aku tidak menyangka, jika hubungan yang kita jalani akan seperti ini, aku yang berawal menikahimu untuk membalas rasa sakit hatiku, berakhir dengan aku yang kini sangat mencintaimu, dan tidak ingin kehilangan kamu."


"Begitulah cinta, kita tidak tahu kapan dia datang dan pada siapa berakhir, tapi sayang, tidak peduli bagaimana awal cinta kita berasal, yang terpenting sekarang kita sudah saling mencintai dan hidup bahagia," ujar Cyara.


"Kau benar," ucap Vier yang kini mendekatkan wajahnya ke wajah Cyara, kemudian pria itu mencium bibir istrinya, Cyara pun membalas ciuman Vier. Vier mengangkat tubuh Cyara ala bridal lalu merebahkan tubuh istrinya itu perlahan di atas ranjang, mengungkung tubuh wanitanya dan kembali menciumnya cukup lama. Hingga tiba-tiba Cyara menahan dada pria itu, bisa Cyara lihat pandangan suaminya kini penuh dengan kabut gairah.


"Sayang, kamu lupa aku belum lama melahirkan," kata Cyara mengingatkan suaminya yang ingin meminta lebih.


Vier terdiam menghela nafasnya panjang, kemudian menjatuhkan dirinya di samping sang istri. Pria itu memejamkan matanya sebentar, kemudian segera bangkit dan berjalan cepat menuju kamar mandi.


Cyara hanya tersenyum melihat pintu kamar mandi yang tertutup. Dia terdiam menatap langit-langit kamarnya, mengingat kejadian tadi pagi, dimana dia mendapatkan telepon, awalnya Cyara ragu untuk menjawabnya, tapi tidak tahu kenapa, ada dorongan dalam hatinya yang meminta dirinya untuk segera menjawab panggilan itu.


Cyara terdiam mendengar suara dari seberang telepon. Sheira menelponnya, dia meminta Cyara untuk menemaninya ke makam ibu mereka, Sheira bahkan mengatakan sudah meminta izin untuk keluar, walaupun harus dijaga dengan pengawasan ketat tapi wanita itu menyanggupi. Semalaman setelah bertemu Cyara, Sheira terus terdiam, bayangan kejadian itu terus muncul di kepalanya dan membuat dirinya harus mengingat bahwa apa yang dia lakukan sangatlah kejam, Sheira menangis dan dia menyesal, dia ingin bertemu dengan ibunya dan meminta maaf, mungkin terlambat, tapi setidaknya Sheira harus melakukan itu.


Sheira tahu ibunya sangat menyayangi Cyara kakaknya, tapi Sheira juga tidak bisa lupa, jika ibunya pun tak kalah sayang padanya, bahkan ibunya selalu membelanya. Hanya saja rasa iri yang tertanam di hatinya sedari dia kecil, membuat Sheira merasa bahwa kasih sayang yang diberikan untuknya kurang, padahal Cyara juga sangat menyayanginya, bahkan selalu melakukan apapun untuknya. Tapi Sheira melupakan itu, karena saat itu Sheira diam-diam mencintai seorang laki-laki, tapi ternyata laki-laki itu mencintai kakaknya, membuat Sheira membenci Cyara dan berusaha untuk menghancurkan Cyara. Rayyan lah laki-laki itu, dia cinta pertama Sheira, tapi sayangnya pria itu menganggap Sheira adiknya, dan Sheira tidak terima akan hal itu. Tapi perlahan rasa cinta Sheira terhadap Rayyan hilang begitu saja saat kehadiran Vier, tapi lagi-lagi, semua orang yang dicintainya berakhir mencintai Cyara, mata Sheira sudah dibutakan oleh kebencian, dan dia sadar bahwa dia salah, hingga dia memutuskan meminta Cyara menemaninya sekaligus meminta maaf pada ibu dan kakaknya itu saat tiba di makam ibu mereka. Sheira menceritakan tentang itu semua, fakta yang akhirnya Cyara tahu kenapa adiknya begitu membencinya. Mendengar perminta maafan adiknya yang begitu tulus, Cyara pun langsung memaafkannya tanpa pikir panjang, tapi Cyara bilang, jika hanya maaf yang bisa dia berikan, tapi tidak mencabut hukuman Sheira, karena bagaimanapun, Cyara ingin Sheira mempertanggung jawabkan perbuatannya, dan Cyara lega, saat Sheira menerima hal itu dengan lapang dada. Cyara juga mengingat perkataan Sheira yang meminta maaf di depan ibunya, dia bilang, ingin ibunya tahu, jika mereka kini sudah berbaikan dan Cyara senang mendengar itu.


"Kenapa melamun?"


"Sayang kamu mengagetkan saja," ucap Cyara yang melihat Vier kini sudah berbaring di sampingnya.


"Kenapa melamun?"


"Aku tidak melamun, hanya memikirkan tentang pertemuanku dengan Sheira, aku merasa sangat lega," jawab Cyara.


Vier tersenyum, "Aku juga senang mendengarnya, akhirnya semuanya berada di tempatnya masing-masing.


"Ya dan mulai sekarang, aku hanya akan fokus ke kamu dan anak-anak kita, aku akan berusaha agar kita selalu hidup bahagia," kata Cyara yang kini merubah posisi tidurnya menghadap Vier.


"Tidak hanya kamu sayang, tapi kita, kita akan berusaha bersama, untuk membahagiakan satu sama lain, karena aku mencintaimu Cyara, wanitaku, istriku, ibu dari anak-anakku."


"Aku juga mencintaimu Suamiku, ayah dari anak-anakku."


Keduanya pun tertawa, Vier mencium kening istrinya cukup lama.


"Ya sudah ayo tidur!" Ucap Vier yang kini langsung memeluk sang istri. Cyara tersenyum dan balas memeluk suaminya erat. Menyembunyikan wajahnya di dada pria itu, keduanya terlelap dengan saling berpelukan dengan senyuman yang terukir jelas di sudut bibir keduanya.


๐Ÿ Tamat ๐Ÿ


Terima kasih sudah mengikuti perjalanan cinta Sheira dan Vier๐Ÿ™. Mohon maaf, jika masih banyak kekurangan. Dan juga terima kasih๐Ÿ™ banyak atas Vote, komen, like serta dukungan semuanya. Jangan lupa mampir juga di cerita yang lainnya ya, makasih๐Ÿ˜Š๐Ÿ˜˜