Love Revenge

Love Revenge
Bab 104



Sebulan sudah Vier mencari keberadaan Cyara tanpa hasil, Vier benar-benar merasa putus asa, bagaimana Cyara bisa pergi tanpa meninggalkan jejak apapun. 


Vier menghela nafas berat dan kini menatap anak-anaknya yang tengah terlelap, seminggu ini anak-anaknya menjadi penyemangatnya dan Vier beruntung memiliki mereka, anak-anak yang selama ini tidak diketahui keberadaannya. Dan bo**hnya Vier tidak menyadari hal itu sejak awal, mungkin karena Rey dan Rain tidak begitu mirip dengannya. Sebenarnya Rey sedikit mirip dirinya jika diperhatikan baik-baik. 


Jadi perasaan anehnya selama ini, terjawab sudah. Perasaan yang ingin selalu bersama kedua anak itu, perasaan sayang kepada mereka, dan perasaan sedih ketika melihat menangis, bahkan rasa takut saat waktu itu Rey kecelakaan, kini dia tahu jawabannya, karena Rey dan Rain adalah anak kandungnya, anak yang tidak pernah mendapatkan kasih sayangnya sedari kecil, Cyara harus berjuang sendirian kala itu, dan dia justru menyakiti Ibu dari anak-anaknya. Vier menyesal sungguh sangat menyesal.


"Papi, papi menangis?" 


Sentuhan lembut tangan mungil yang kini Vier rasakan, tengah menghapus air mata yang tiba-tiba saja jatuh membasahi pipi.


"Papi jangan sedih, Mami pasti akan pulang, mungkin Mami sedang di jalan dan jalanan macet, atau mungkin mobil Mami rusak makanya Mami tidak sampai-sampai," kata Rain sambil mengerjapkan matanya lucu.


Vier yang tadi menangis kini tertawa mendengar ucapan gadis kecilnya. 


"Papi tidak menangis, ini tadi kelilipan saja, makanya matanya perih." Jawab Vier memaksakan senyumannya.


"Sini biar Rain tiup," kata gadis kecil itu, meminta Vier mendekat, dan pria itu hanya menuruti permintaan putrinya.


Fiuh 


"Sudah, bagaimana sekarang sudah tidak sakit lagi kan?"


"Hmm iya, wah hebatnya anak Papi," ucap Vier yang langsung mengecup seluruh wajah Rain gemas.


Rain tersenyum, "Begitu dong Papi harus tersenyum, nanti Papi cepat tua loh karena jarang senyum."


"Masa sih?"


"Iya nih, buktinya wajah Papi sudah seperti ini. Nanti bagaimana coba jika Papi jemput Rain terus teman-teman Rain bilang kalau Papi adalah Kakek Rain, Rain tidak mau itu."


Bukan tidak ada alasan Rain berkata seperti itu, karena sepeninggal Cyara, Vier bahkan tidak merawat dirinya. Vier benar-benar sudah seperti orang yang tidak terurus. Rambutnya yang kini lebih panjang dari sebelumnya, serta bulu-bulu halus yang tumbuh di wajahnya, Vier enggan untuk mencukurnya.


"Tidak apa-apa kakek, tapi nanti teman-teman Rain pasti heran melihat seorang kakek setampan ini," ucap Vier sengaja menggoda putrinya.


Rain hanya mengerucutkan bibir kesal.


"Papi ih!" 


"Sudah-sudah ayo Rain tidur lagi, ini masih jam 2 pagi loh, nanti besok Rain terlambat bangun dan nanti bisa-bisa terlambat lagi ke sekolahnya," kata Vier meminta putrinya untuk kembali tidur.


"Hm," jawab Rain yang kini sudah memejamkan matanya lagi.


"Papi tepuk-tepuk," ujar Rain sambil memejamkan matanya, Vier hanya tersenyum dan menuruti perintah putrinya itu. Vier sedikit mengangkat kepalanya, dilihatnya sang putra yang tertidur sangat lelap, tidak terusik sama sekali dengan keberisikan adiknya tadi.


Setelah memastikan keduanya terlelap Vier bangun perlahan dan kembali ke kamarnya. Vier duduk di lantai menyandarkan tubuhnya pada tempat tidur, diambilnya foto pengantin yang terpajang di atas meja nakas.


Vier teringat saat dirinya waktu itu mendapat telepon dari orang suruhannya, Vier kira dirinya mendapat kabar baik bahwa mereka menemukan Cyara, ya Vier memang mendapatkan petunjuk bahwa Cyara tidak pergi sendiri melainkan bersama seorang pria tapi wajah pria itu tidak jelas, itulah yang anak buahnya sampaikan melihat dari cctv sebrang rumah Cyara. Tapi setelah itu mereka tidak mendapatkan hasil apapun lagi.


Pikiran Vier saat itu tertuju pada Rayyan, Vier mencari alamat pria itu, dan langsung mendatanginya, tapi bukan mendapatkan hasil, Rayyan justru terkejut mendengar hilangnya Cyara. Dia menghajar Vier hingga terkapar karena Vier sama sekali tidak mengelak pukulan pria itu, karena dia mengakui jika memang itu salahnya. Vier juga sempat dilarikan ke rumah sakit dan dirawat selama tiga hari, karena pola makan dan tidurnya yang tidak teratur bahkan dia yang terlalu menyibukkan diri bekerja dan mencari Cyara membuat tubuhnya drop. Hingga orang tuanya yang saat itu masih kecewa dan marah padanya, mengesampingkan itu semua, karena Vier memang butuh dukungan dan semangat dari keluarganya, termasuk kedua anaknya, hingga dia bisa bangkit lagi.


"Aku harus mencari kamu dimana lagi Cya? Aku mohon pulanglah, sudah cukup kamu menghukumku seperti ini," tangis Vier kembali pecah dan itulah yang sering terjadi padanya belakangan ini. 


Setelah anak-anaknya tidur, Vier akan berdiam diri di kamarnya bersama Cyara sambil memeluk foto pernikahannya, hingga dia tertidur.


Sepasang mata sedari tadi diam memperhatikan dari balik pintu dengan wajah yang banjir dengan air mata, dia sedih melihat putranya terpuruk seperti itu.


"Cya, Mama mohon pulanglah Nak, suami dan anak-anakmu sangat merindukanmu," ucap Jasmine yang memang memutuskan tinggal di rumah tempat dia dibesarkan, karena tidak tega melihat kondisi Vier belakangan ini.


*


*


"Ini pak bagaimana menurut Anda?" Tanya seorang wanita yang kini tubuhnya semakin berisi.


Pria itu tersenyum, sudah aku katakan berulang kali Nia, jangan terlalu formal memanggilku.


"Tapi ini di kantor, jika aku tidak memanggil Anda Pak, apa nanti kata yang lainnya."


"Tapi kita sepupuan dan aku tidak suka kamu memanggilku pak, kesannya aku seperti sudah tua banget, lagian usiamu lebih tua empat tahun dariku."


"Baiklah, Pak Arga."


Pria itu melotot dan menatap tajam Nia, karena wanita itu masih memanggilnya Pak.


"Ya, iya Arga, bawel deh, kalau kamu seperti itu, mana ada cewek yang mau denganmu," ujar Nia.


"Oh ya hari ini, kamu ada jadwal untuk cek kan? Nanti aku antar, kita pergi saat jam makan siang saja, aku juga sudah hubungi dokternya."


"Iya, bagaimana menurutmu?" Tanya Nia.


"Ini yang menyewa resort kita untuk pernikahan ya? Hmm coba aku lihat, bagus kok, sesuai dengan konsep yang mereka minta, aku yakin klien kita pasti suka, tidak salah aku mempekerjakanmu disini." Kata Arga yang merasa bangga pada kemampuan sepupunya itu, padahal dia baru bekerja selama dua minggu, tapi hasil kerjanya selalu memuaskan.


"Ya siapa dulu, dong Lavenia!" Jawab wanita itu bangga, "Sudah ah aku mau lanjut kerja," tambahnya kemudian berbalik melangkah pergi meninggalkan ruangan bos sekaligus sepupunya.


"Ingat kamu jangan terlalu lelah, aku tidak mau keponakanku kenapa-napa." Teriak pria yang tadi di panggil Arga.


Nia hanya melambaikan tangannya ke atas tanpa menoleh.


"Lavenia...Lavenia, tidak menyangka aku punya sepupu seorang wanita cantik sepertimu, aku kira, aku hanya punya sepupu yang menyebalkan seperti Ian," ujar Arga yang kemudian kembali sibuk dengan pekerjaannya.