
"Kamu mau apa?" Tanya Vier yang melihat Cyara membuka lemari pakaiannya.
"Aku harus bersiap, kamu tenang saja, aku sudah baik-baik saja," jawab Cyara yang memang sudah merasa baik, dia kemudian mengambil pakaian kerjanya dan hendak masuk ke kamar mandi untuk ganti disana.
"Istirahat saja, tidak perlu berangkat hari ini," ucap Vier merebut pakaian kerja Cyara kemudian meletakkannya asal di atas tempat tidur dan dirinya yang kini malah masuk ke kamar mandi mengambil handuk milik Cyara, tidak peduli jika saat ini wajah Cyara memberengut kesal karena tingkah seenaknya pria itu.
"Vier itu milikku," kata Cyara sebelum Vier benar-benar masuk ke dalam kamar mandi.
Vier hanya melambaikan tangannya ke atas tanpa menoleh.
"Dasar pria aneh! Dia pikir disini rumah siapa? Seolah-olah dialah yang jadi penghuni rumah ini" kesal Cyara yang kemudian melangkahkan kakinya menuju ke lemari yang terletak paling pojok, dan membuka lemari itu.
Cyara menatap pakaian-pakaian itu, baik yang tergantung maupun terlipat, dari pakaian santai hingga pakaian formal, semuanya masih sama dan tersusun rapi, melihat itu semua, Cyara pun menghela nafasnya panjang, mengambil setelan jas yang cocok untuk Vier kenakan, yang untungnya, ukurannya sama, karena yang Cyara lihat saat Vier mengenakan pakaian santainya juga terlihat cocok saja.
"Dia mau tidak ya? Terserah deh mau dipakai atau tidak, yang penting aku sudah siapkan, lagian sepertinya tidak memungkinkan jika pria itu harus balik dulu untuk mengambil pakaiannya karena sekarang saja sudah hampir jam tujuh," ucap Cyara yang melihat dari jadwal Vier, jam delapan nanti, Vier ada jadwal meeting untuk membahas produk baru perusahaan mereka sebelum akhirnya akan diluncurkan.
Cyara membawa satu setelan jas lengkap beserta dengan dasinya ke tempat tidur dan meletakkannya di sana. Kemudian dia memungut pakaiannya yang diletakkan asal oleh Vier dan menaruhnya di tempat semula.
Tak lama pintu kamar mandi terbuka dan Vier keluar dengan handuk yang melingkar sebatas pinggang.
"Vier apa yang kau lakukan?" Cyara dengan segera menutup kedua matanya dengan satu tangannya.
"Memangnya apa yang kulakukan," ucap Vier yang seolah tidak berbuat apa-apa.
Vier mengambil pakaian yang Cyara siapkan, kemudian memakainya di tempat itu juga tanpa merasa canggung sama sekali.
"Kenapa tidak di kamar mandi saja? Apa biasanya kau selalu memakai pakaian sembarangan seperti ini, terlebih ini dikamar lawan jenismu," Kesal Cyara yang melihat Vier sedang memakai kemeja saat dia menyingkirkan tangan yang menutupi kedua matanya.
"Oh iya aku lupa jika kau seorang wanita, soalnya biasanya wanita itu berbicara dengan lembut, tidak sepertimu yang terus saja teriak-teriak dan berbicara ketus," ucap Vier dengan senyuman mengejek.
"Kau!" Cyara mengepalkan tangannya, dirinya benar-benar kesal kepada Vier.
"Kenapa? Atau kamu ingin menunjukkan jika kamu seorang wanita?" Ucap Vier yang kemudian melepaskan handuknya.
"Vier!" Teriak Cyara hingga dia pun harus membalikkan badannya saat Vier melakukan itu.
"Hahaha," tawa Vier pecah melihat ekspresi Cyara dan dia pun dengan cepat melanjutkan apa yang tadi akan dia lakukan.
"Kenapa berbalik? Ayolah hadap kesini!" Kata Vier setelah mendekat dan menyentuh pundak Cyara untuk berbalik menatapnya.
"Tidak," Cyara segera menepis tangan Vier, tapi tenaganya kalah dengan pria itu, apalagi saat dengan kedua tangannya Vier membalikkan tubuh Cyara agar menghadapnya dan spontan Cyara langsung menutup mata dengan telapak tangan.
"Apa yang kau pikirkan ha?" Kata Vier yang menurunkan tangan Cyara yang digunakan untuk menutup matanya, tapi wanita itu kini justru memejamkan mata, Vier mendekatkan wajahnya, ke wajah Cyara dan memandanginya begitu intens.
"Vier sudah belum?"
"Sudah."
"Jangan bohong!"
"Tidak, kalau tidak percaya, buka saja matamu," ucap Vier dan Cyara pun akhirnya membuka mata tapi dirinya terkejut karena begitu membuka matanya, pemandangan yang pertama dia lihat justru wajah Vier yang begitu dekat dengannya, hingga refleks Cyara memundurkan langkahnya.
"Pakaian siapa ini?" Tanya Vier yang menahan pinggang Cyara, karena wanita itu hampir saja jatuh karena kurang keseimbangannya.
"Bukan siapa-siapa, sebaiknya kamu makan dulu sebelum berangkat, Bibi pasti sudah siapkan makanan" jawab Cyara yang kemudian menyingkirkan tangan Vier dan segera berbalik badan akan keluar dari kamarnya tapi menoleh saat Vier menarik tangannya.
"Kenapa?" Tanya Cyara saat melihat Vier hanya menatapnya.
"Kamu bisa memakainya sendiri kan?" Kata Cyara yang tidak langsung menerima dasi itu.
"Ini tugas seorang istri," ucap Vier dengan entengnya.
"Tapi aku bukan istrimu, itu yang perlu kamu ingat," kesal Cyara yang mendengar dengan gampangnya Vier mengatakan itu.
"Dan perlu kamu ingat juga jika sebentar lagi kamu akan menjadi istriku, dan hal ini juga akan kamu lakukan nanti, jadi mulai sekarang, kamu harus membiasakan diri," jawab pria itu yang menarik tangan Cyara dan meletakkan dasi itu di tangan Cyara dengan paksa.
Cyara pun akhirnya menerimanya, dan menuruti apa yang diminta pria itu.
"Sudah," ucap Cyara begitu dia sudah selesai memakaikan dasi.
"Lumayan," komentar Vier kemudian dia keluar lebih dulu meninggalkan Cyara.
"Lumayan," kata Cyara menirukan perkataan Vier, mengambil handuk yang Vier letakkan begitu saja di kasur dan langsung memasukkan ke keranjang kotor. Setelah itu, dia pun ikut melangkah keluar kamarnya menuju dapur.
"Selamat pagi Tuan, Nona," ucap Bibi begitu melihat Vier dan Cyara ke ruang makan.
"Pagi Bi," balas Cyara menyapa yang kemudian langsung menarik kursi dan duduk di sana.
"Apa perlu saya siapkan untuk Tuan?" Tanya Bibi yang melihat Vier hanya diam saja dan menatap makanan yang sudah terhidang di atas meja.
"Tidak perlu Bi, biar aku saja, Bibi duduk saja!" Ucap Cyara dan Vier langsung menoleh menatap wanita yang kini duduk tepat di sampingnya.
"Kenapa? Tanya Cyara yang tahu jika saat ini Vier tengah menatapnya.
Vier hanya menggeleng, kemudian menyuapkan makanan yang baru saja diambilkan Cyara ke dalam mulutnya.
"Oh ya Nona, bahan-bahan dapur sudah hampir habis," ucap Bibi melapor.
"Baiklah, nanti biar aku saja Bi yang belanja, nanti Bibi kasih catatannya saja ya," jawab Cyara.
"Baik Non."
Ketiganya pun kini makan dengan tenang.
Selesai makan, Cyara membereskan bekas makan mereka, sedangkan Bibi mengambil piring kotor dan mencucinya.
"Kapan kamu akan ke supermarket?" Tanya Vier sebelum dirinya pergi.
"Nanti agak siang saja, sekalian nanti mau jemput anak-anak," jawab Cyara.
"Baiklah, nanti biar aku jemput, kita ke sekolah anak-anak barengan saja," Vier mengambil jas nya dan menyampirkan di lengannya kemudian berlalu pergi setelah mencium kening Cyara.
Deg
Deg
"Jantungku kenapa kamu langsung bereaksi secepat ini," gumam Cyara memegang dadanya saat merasakan debaran hebat pada jantungnya.
"Non Cyara kenapa?" Tanya Bibi yang melihat Cyara terdiam sambil terus memegang dada.
"Hah? Oh aku tidak apa-apa kok Bi," kata Cyara langsung menurunkan tangannya yang tadi berada di depan dada dan segera pergi dari dapur merasa malu karena Bibi memergoki tingkah anehnya.