
"Anda? Bukankah Anda Ibu Sheira istri Ken dan tunggu kenapa Anda disini? Tunggu jangan bilang jika Anda adalah Ibu Cyara," ucap Liora kepada wanita itu.
Belum juga wanita itu menjawab, Sheira datang dari belakangnya.
"Tante Liora? Kenapa Tante bisa ada disini?" Sheira langsung menghampiri Liora merasa heran kenapa tante dari suaminya ada di rumah kakaknya.
Tiba-tiba beberapa mobil datang mengalihkan perhatian mereka. Jasmine dan Stevano turun bersama anak-anak Cyara disusul Alno dan Vira, Vian dan istrinya serta Zeline bersama sang suami dan yang terakhir Vier yang tampil menawan.
Langkah Vira terhenti melihat siapa yang dilihatnya, tangannya menggenggam tangan Alno kuat, Alno menoleh dia pun juga merasa ada sesuatu yang akan mungkin terjadi. Liora memandang Kakak dan Kakak Iparnya, yang kini justru saling pandang seakan berbicara lewat tatapan mereka. Berbeda dengan Vier yang terlihat tenang, pria itu bahkan mengambil alih kedua tangan mungil yang ada di gandengan mama dan papanya.
"Ayo masuk sayang! Kita temui mami, kalian bilang kalian merindukan mami," ucap Vier kepada kedua anak itu yang langsung mengangguk antusias.
Vier menatap Sheira sekilas, benar-benar hanya sekilas kemudian segera berjalan masuk untuk menemui Cyara.
Liora yang tadi sedang mencerna keadaan yang terjadi sekarang, kini tersadar.
"Mari semuanya masuk!" Ucap Liora menghilangkan kecanggungan yang terjadi di antara mereka semua.
Sheira terdiam dan menatap Vier dengan pandangan sendu. "Apa? Apa kamu yang akan menikahi Kak Cyara, Vier? Kenapa?" Gumamnya pelan.
"Kenapa? Apa kau menyesal telah meninggalkannya? Dan sekarang dengan siapapun Vier kau sudah tidak berhak lagi bertanya kenapa padanya, karena dari awal semua adalah salahmu," kata Vira yang tidak terima saat mendengar ucapan yang Sheira lontarkan.
"Tapi Vi…"
"Cukup, kali ini biarkan Vier hidup bahagia dengan Kak Cya."
"Sayang, sebaiknya kita masuk," dengan segera Alno mengajak sang istri untuk masuk.
"Ayo kalian juga masuk!" Alno pun ikut menggiring adik-adik beserta iparnya agar segera masuk.
Terakhir hanya ada Jasmine dan Stevano, serta Sheira dan ibunya yang sebentar lagi akan menjadi besannya.
"Kita bertemu lagi Kak Chintya, aku tidak menyangka jika Cyara adalah putri Anda, oh ya, Ayo silahkan masuk!" Justru Jasmine lah yang kini mempersilahkan Ibu Cyara untuk masuk, Chintya terdiam entah terkejut, atau tidak menyangka.
Cyara yang mendengar ribut-ribut pun akhirnya keluar dari dalam kamarnya.
"Mami!" Rey dan Rain langsung berlari menghampiri Cyara dan keduanya menarik tangan kanan dan kiri Cyara agar duduk di samping Vier.
"Mi, kata Om Pir, Om Pir akan menjadi papi Kakak dan adik, Rain senang sekali Mi, nanti kita akan tinggal sama-sama kan Mi?" Kata gadis kecil itu, mendongak menatap Cyara.
Cyara hanya tersenyum dan mengangguk.
"Yeah, kita akan beneran jadi keluarga Om Pir!" Teriak Rain girang.
Sementara Rey hanya diam saja, sambil menatap dua orang yang terasa asing baginya.
"Rey kamu kenapa sayang?" Tanya Cyara yang langsung tanggap menyadari perubahan sikap putranya.
"Apa itu Nenek?" Tanya Rey menunjuk wanita yang duduk di seberang Cyara bersama Sheira.
Semua orang yang mendengar perkataan Rey, langsung menatap Rey dan Chintya bergantian.
Cyara mengangguk dan tersenyum, "Iya sayang, itu Nenek, ayo sapa Nenek!" Kata Cyara kepada putra-putrinya.
Rey dan Rain saling pandang, kemudian beranjak menghampiri wanita paruh baya yang ternyata adalah neneknya.
"Nenek, Kak Rey mau menyalami tangan Nenek," ucap Rain yang sudah tidak sabar untuk bergiliran menyalami tangan neneknya.
Semua orang diam memperhatikan, hampir semua menatap interaksi mereka dengan penuh rasa penasaran.
"Sayang sini sama tante saja, siapa namanya?" Tanya Sheira meraih tangan Rain dan mendudukkannya di pangkuan Sheira. Rey ikut menatap Sheira yang duduk di pangkuannya.
"Tante siapa?" Rain mendongak memperhatikan wajah wanita yang memangkunya.
"Kenapa tante mirip sama Mami?" Kini giliran Rey yang bertanya setelah dari tadi juga ikut memperhatikan wajah Sheira.
"Mami?"
"Mereka anak-anak Kakak," jawab Cyara yang mengerti maksud adiknya.
"Anak-anak Kak Ara?"
"Sudah Sheira, bagaimana apa kita perlu melanjutkan acara ini atau tidak?" Kata Chintya yang kini mulai membuka suara, merasa tidak nyaman dengan tatapan keluarga calon suami Sheira, yang ternyata adalah keluarga besannya.
"Tapi Ma…"
"Sayang!" Chintya menghentikan ucapan Sheira, dia ingin cepat-cepat menyelesaikan acara ini, tidak ingin terlalu lama berada di rumah Cyara.
"Iya lebih baik kita mulai saja, kedatangan kami kesini untuk melamar Cyara, putri Anda, menikahkan dengan Vier putra kami," ucap Stevano yang tidak ingin berbasa-basi.
Acara pun dimulai dari mengatakan niat mereka sampai makan malam. Pandangan Cyara tidak lepas dari Vier yang terus menatap Sheira adiknya, entah kenapa tatapan Vier pada adiknya seperti ada sesuatu, bahkan disaat tatapan keduanya bertemu, Cyara merasa jika ada rasa cinta diantara mereka berdua. Tapi Cyara segera menepis pikirannya.
"Cyara apa yang kau pikirkan? Bagaimana dua orang yang tidak saling mengenal bisa memiliki perasaan cinta," Cyara menertawakan dirinya dalam hati yang sempat berpikir seperti itu.
"Mama tidak sabar, menunggu satu bulan lagi, Mama ingin segera kamu menjadi menantu Mama," kata Jasmine mengelus rambut Cyara dan Cyara pun tersenyum menatap calon mama mertuanya.
Sheira terdiam dan menatap interaksi kakaknya dan Ibu dari pria yang lama disukainya.
"Aku ke toilet dulu," ucap Sheira.
"Toiletnya ada di ujung kanan, atau apa perlu kakak antar?" Tanya Cyara pada adiknya.
"Tidak perlu, aku bisa sendiri," ucapnya dingin dan segera beranjak.
Cyara menatap kepergian Sheira, dan kenapa ada perasaan yang mengganjal di hatinya.
"Aku mau ke dapur dulu," Vier bangun dan melangkah ke belakang.
Jasmine menatap Vier yang beranjak. Kemudian menatap Cyara. Cyara pun tersenyum, "Cya susul Vier dulu ya Ma," ucap Cyara bangkit dari duduknya meninggalkan Jasmine sendiri karena tadi di ruang keluarga hanya ada mereka berempat, Jasmine, Vier, Cyara dan Sheira.
"Vier!" Sheira menarik Vier, ternyata dirinya sedari tadi ada di balik dinding.
Vier segera menepis tangan Sheira, "Lepas!"
"Kenapa? Kenapa kau menikah dengan Kak Ara? Kulihat bahkan kamu tidak terkejut saat aku berada disini? Kamu tahu bahwa Kak Ara adalah Kakakku? Iya kan?"
"Kenapa kalau aku tahu? Semua tidak ada urusannya sama sekali denganmu, perlu aku ingatkan jika hubungan kita sudah berakhir, jadi kamu tidak perlu ikut campur pada apa yang aku lakukan," ucap Vier datar dan dingin, kemudian meninggalkan Sheira.
"Tapi aku masih mencintai kamu Vier, dari dulu sampai sekarang perasaan aku ke kamu masih sama," teriak Sheira membuat Vier yang sudah berjalan kini menghentikan langkahnya.