
"Apa itu yang bisa kau lakukan? Kau hanya bisa menuruti apa yang aku katakan? Tidak bisakah kau punya pendapatmu sendiri dan melakukan apa yang kau inginkan bukan yang orang lain katakan," teriak Vier tiba-tiba saat melihat Cyara justru meninggalkannya.
Cyara berhenti, hatinya begitu sakit, tidakkah cukupkah Vier dengan membuat keputusan itu saja, kenapa Vier justru menanyakan apa yang hatinya inginkan?
"Kenapa diam Cyara?"
"Lalu aku bisa apa Vier? Bukankah aku tidak punya pilihan? Jika aku ingin melakukan apa yang hatiku inginkan apa kau akan mengikuti apa mauku? Apa dengan itu kau bisa merubah keputusanmu? Tidakkan Vier? Percuma bukan, aku ingin bertahan tapi kau tetap saja ingin meninggalkanku? Sudahlah Vier jangan kau bahas tentang keinginanku, jika kamu saja tidak bisa melakukannya. Aku sangat lelah aku mau tidur dulu."
Setelah mengatakan itu Cyara langsung masuk kembali ke kamarnya, lebih tepatnya kamar Vier.
"Kamu tenang saja, besok aku akan menandatanganinya" ucap Cyara sebelum dirinya benar-benar berlalu.
Vier diam menatap kepergian Cyara dengan tatapan yang sulit diartikan. Vier bangun dan menyusul Cyara, sampai di kamar Vier menatap Cyara yang mengambil bantal.
"Kita tetap sekamar, aku tidak ingin orang luar tahu tentang pernikahan kita, bukannya aku takut, tapi aku tidak mau menyakiti keluargamu jika tahu pernikahan apa yang sebenarnya kita jalani. Kamu bisa tidur di tempat tidur, aku akan tidur di tempat lain," ucap Cyara yang menyadari keberadaan Vier.
Cyara melangkah menuju sofa, meletakkan bantal di sana, dan merebahkan dirinya yang benar-benar merasa lelah, lelah hati, pikiran dan tubuhnya.
Baru satu hari dia bersama Vier hatinya sudah terluka, baru satu hari bersama Vier, Vier berhasil membuat dirinya menjadi lemah, harga diri? Hal itu seakan hilang dari Cyara saat Vier bertemu anak-anaknya. Demi anak-anaknya Cyara seperti wanita yang kehilangan harga diri, Cyara hanya tidak ingin nasib anak-anaknya seperti dirinya dulu, dimana dia tidak ada keluarga yang menyayanginya, ada tapi keduanya justru meninggalkannya untuk selamanya.
"Aku terpaksa membuatmu hadir di dunia ini, cukup ucapkan terima kasih dan jangan ganggu hidupku lagi," kata-kata ibunya tiba-tiba terngiang-ngiang di benaknya.
Air mata Cyara menetes dan dengan segera dihapusnya. Cyara memejamkan matanya dan tak lama dia pun terlelap.
*
*
*
Vier bangun dari tidurnya, menyibak selimut kemudian melihat ke arah sofa, dimana ada selimut yang sudah terlipat rapi di atas bantal. Cyara sudah tidak ada di tempatnya. Vier menyibak selimutnya hendak turun, tapi arah pandangnya tertuju pada selembar kertas yang Vier sangat kenali, kertas yang sama seperti yang semalam dia berikan pada Cyara, bedanya di kertas itu sudah dibubuhi tanda tangan Cyara. Vier menatap kertas itu lama, kemudian kembali meletakkan di atas meja.
Vier buru-buru melangkah keluar dari kamarnya menuruni anak tangga menuju dapur, biasanya sehabis bangun tidur, wanita itu pasti pergi ke dapur.
"Selamat pagi Tuan," sapa pelayan pada Vier, Vier tidak langsung menjawab sapaan justru mengedarkan pandangannya sekeliling mencari sosok istrinya.
"Tuan mencari siapa?"
"Istriku mana Bi?"
"Nyonya sudah berangkat ke kantor Tuan, katanya ada pekerjaan yang harus diselesaikan, selain itu Nyonya juga akan mengantar anak-anak ke sekolah," jelas pelayan yang sudah lama bekerja di rumahnya.
"Baiklah, terima kasih Bi."
"Oh ya Tuan, Nyonya sudah menyiapkan sarapan untuk Anda, Nyonya berpesan agar saya memastikan Tuan memakan makanannya."
"Tuan, mau disiapkan sekarang?" Ucap pelayan pada Vier yang malah melamun.
"Oh, itu nanti saja Bi, aku mau mandi dulu," jawab Vier berlalu kembali menaiki anak tangga menuju kamarnya.
"Baik Tuan," jawab pelayan tadi yang memutuskan untuk kembali melanjutkan pekerjaannya.
*
*
*
Cyara terbangun dari tidurnya, meregangkan badannya yang terasa pegal.
"Selimut?" Kata Cyara memegang selimut yang menutupi tubuhnya.
Seingat Cyara semalam dia tidak mengenakan selimut, tapi kenapa tiba-tiba sudah ada selimut yang menutupi tubuhnya. Arah pandang Cyara tertuju pada seseorang yang kini tampak lelap dalam tidurnya di atas ranjangnya yang empuk.
"Apakah Vier yang memakaikannya?" Tak ingin memikirkan hal itu, Cyara pun turun dan berjalan menuju nakas, dimana Vier meletakkan kertas yang semalam diberikannya.
Cyara menarik nafas dalam-dalam, kemudian mengambil pulpen dan membubuhkan tanda tangannya disana.
Cyara menghela nafas, kemudian berjalan ke arah koper yang belum sempat dia bereskan, mengambil pakaian dan membawanya menuju ke kamar mandi.
Tiga puluh menit kemudian, Cyara keluar dengan setelan kerjanya, melihat Vier yang masih terlelap, Cyara tidak tahu kapan pria itu tertidur, hingga dia memutuskan untuk membiarkannya.
Mengambil tas dan berjalan keluar menuju ke dapur dan memasak untuk suami dan bekal anak-anaknya.
"Nyonya apa yang Nyonya lakukan? Biar saya saja, ini sudah menjadi tugas saya," kata pelayan yang baru datang ke dapur dan melihat Cyara tengah berkutat dengan peralatan masaknya.
"Tidak apa-apa Bi, biar saya saja, ini juga sudah selesai kok," jawab Cyara yang memang tinggal memindahkan hasil masakannya.
"Oh ya Bi, tolong sampaikan pada suami saya, saya berangkat ke kantor dulu ya, ada pekerjaan yang harus saya selesaikan, soalnya beberapa hari saya tidak masuk, sampaikan juga saya akan menjemput anak-anak dari rumah mama dan mengantarnya ke sekolah. Dan tolong juga Bibi pastikan suami saya menghabiskan makanannya," kata Cyara dan Bibi pun tersenyum dan mengangguk.
"Baik Nyonya, Tuan Vier beruntung memiliki istri seperti Anda," ucap Bibi masih dengan senyuman terukir di sudut bibirnya.
Cyara hanya tersenyum menanggapi ucapan Bibi.
"Ya sudah Bi, kalau begitu saya permisi dulu ya, oh ya ini juga untuk Bibi, Bibi makan dulu aja, mikirin kerjaan tidak ada habisnya," kata Cyara menyentuh bahu wanita paruh baya dan berlalu keluar, untungnya Cyara sudah memesan taxi lebih dulu hingga dia tidak perlu menunggu terlalu lama, karena sebelum menjemput anak-anaknya, Cyara akan kembali ke rumah dan mengambil mobilnya terlebih dahulu, karena tidak mungkin Cyara mengandalkan Vier yang sudah jelas mengabaikannya.
Sementara itu Vier yang sudah selesai mandi mengambilkan pakaian yang sudah Cyara siapkan, sebelum berangkat Cyara memang sudah menyiapkan segala keperluan Vier, walaupun hubungan pernikahan mereka kini sudah menjadi pernikahan kontrak, tapi Cyara berusaha sebaik mungkin untuk menjadi seorang istri yang baik, dia bahkan tidak akan melupakan kewajibannya.
Vier yang sudah berpakaian rapi kini menuju ke dapur, menikmati makanan yang sudah dimasak oleh sang istri. Tiba-tiba Vier melihat Cyara berjalan mendekat, tersenyum kemudian duduk di sampingnya, ikut mengambil makanan dan menikmatinya.