
Cyara meraba perutnya, walau dia sudah berusaha menahannya sekuat tenaga nyatanya air matanya terjatuh juga.
"Jangan menangis lagi Cyara, sudah cukup air mata yang kau keluarkan selama ini, lupakan dia dan mulailah hidup baru," gumam Cyara sambil menghapus air matanya yang lagi-lagi keluar seakan tiada habisnya.
"Dan kamu sayang, maafkan Mami ya, karena Mami kamu jadi ikut menderita, Mami tidak punya pilihan lain, hanya ini yang bisa Mami lakukan agar hati Mami tidak semakin terluka," ucap Cyara pada janin yang ada di dalam kandungannya sekarang.
Cyara tadi memang menginginkan beberapa makanan, tapi sebenarnya tidak harus kakaknya yang membelikannya, tapi tiba-tiba Cyara berpikir agar meminta Damian yang pergi karena Cyara ingin menyendiri dulu.
Cyara hendak keluar tapi salah satu pengawal yang menjaga di rumah yang dia dan kakaknya tinggali sekarang, melarangnya untuk pergi, dan Cyara memohon pada pria itu untuk mengizinkannya, dan Cyara akhirnya mendapatkan izin itu tapi dengan syarat pria itu akan menemaninya, dan dengan terpaksa Cyara pun mengiyakan, dia akan pergi ke tempat yang bisa membuatnya tenang, dan Cyara memutuskan untuk berjalan kaki kesana karena tempatnya juga tidak terlalu jauh dari rumahnya.
Dapat Cyara lihat air laut yang masih biru, dengan deburan ombak yang tampak tenang, Cyara merentangkan kedua tangannya, menikmati terpaan angin yang terasa menyejukkan di sore hari ini, sinar matahari yang sudah tidak terlalu terik karena sebentar lagi akan terbenam, benar-benar suasana yang menenangkan.
Cyara kemudian duduk di atas pasir. Tidak peduli pakaiannya akan kotor nanti. Dirinya teringat kejadian setelah Damian mengatakan bahwa dia adalah kakaknya.
Cyara terdiam, seperti dia terkejut dengan apa yang baru saja di dengarnya.
"Lalu apakah kamu bisa membuktikan bahwa kamu benar-benar kakakku, selain foto-foto ini?"
"Baiklah, aku akan membuktikannya," Damian pun menyebutkan apa saja yang terjadi dulu saat mereka masih kecil. Damian juga mengatakan rahasia yang hanya Damian dan Cyara tahu.
Cyara kemudian menangis, meluapkan apa yang membuat dadanya terasa sesak. Damian yang memang tadi menyaksikan apa yang terjadi pada adiknya langsung menarik Cyara ke dalam pelukan.
"Bawa aku pergi Kak, bawa aku pergi ke tempat yang jauh, aku lelah Kak, aku sungguh lelah," ucap Cyara sambil terisak.
"Ya tentu, Kakak akan membawamu ke tempat yang jauh, tempat yang tidak ada seorangpun mengenalmu."
Cyara mendongak agar air matanya tidak lagi jatuh, "Sudah jangan menangis lagi Cyara!"
Tapi Cyara tidak bisa mempungkiri bahwa dia begitu merindukan kedua anaknya Rey dan Rain. Cyara sungguh sangat merindukan mereka.
"Maafkan Mami Rey, Rain, Maaf karena Mami egois dan meninggalkan kalian, berbahagialah sayang, berbahagialah bersama Papi kalian, walaupun tanpa Mami."
"Aku mohon kuatkan aku Tuhan! Kuatkan aku walau harus hidup tanpa Rey dan Rain, juga tanpa Vier."
*
*
Setelah membawa Rain ke kamar, Vier mengecup kening putrinya dan melangkah keluar, Vier berpamitan kepada mamanya, dan setelah itu dia memilih untuk pulang ke rumah, rumah yang sebelumnya dia tinggali bersama istri dan anak-anaknya.
Dengan kecepatan di atas rata-rata, Vier melajukan mobil yang cukup padat di sore yang sudah mulai petang, hingga tak lama dia pun sudah sampai di pelataran kediamannya. Vier kini masuk dan melangkah gontai menuju kamarnya. Kamar yang kini terasa hampa dan dingin. Kamar yang memiliki kenangan bersama sang istri tapi rasanya sudah tidak berarti lagi, bulir bening menetes dari kedua mata Vier, dia begitu merindukan Cyara hingga rasanya sulit bernafas dan ingin sekali memeluk wanitanya itu.
Vier menatap foto pernikahan yang terpajang di kamarnya dan dirinya baru menyadari jika wanita yang bersanding dengannya di foto itu sangat-sangatlah berarti.
Bug
Kepalan tangan Vier menghantam dinding di depannya. Hingga cairan merah mengalir di kepalan tangannya bahkan sebagian ada yang menempel di dinding.
Tubuh Vier lalu merosot ke lantai, air mata pun mengalir begitu saja. Tangisnya kini pecah sudah
"Aku memang b******k, aku b******n! Aku b**oh! Apa yang sebenarnya kau lakukan Vier? Kenapa kamu menyakiti Cyara yang sama sekali tidak tahu apa-apa? Kenapa kamu melukai wanita yang sama sekali tidak bersalah, dan malah kau jadikan pelampiasan rasa amarahmu? Kenapa Vier?"
Vier benar-benar terpuruk saat ini, dia begitu menyesal, menyesal karena sudah memberikan banyak luka pada Cyara, menyesal karena Cyara pergi meninggalkannya karena dia terlalu banyak memberikan rasa sakit kepada Cyara. Lalu apa yang bisa Vier lakukan sekarang, dia ingin menemukan Cyara dan memulai semuanya dari awal, lantas apa Cyara akan memberikannya kesempatan? Atau mungkinkah dirinya pantas mendapatkan kesempatan itu setelah luka yang dia torehkan selama ini padanya. Apa Vier pantas menerima itu.
"Cyara maafkan aku, aku merindukanmu dan apa aku terlambat jika mengatakan bahwa aku baru sadar kalau aku mencintaimu? Aku mencintaimu Cyara, makanya aku selama ini tidak rela jika kau bersama pria lain, waktu itu aku hanya ragu akan perasaanku, dan b***h nya aku karena baru menyadarinya disaat kamu sudah pergi jauh meninggalkanku. Cyara aku masih mengharapkanmu untuk kembali bersamaku, aku sungguh sangat merindukanmu," ucap Vier terisak dengan kepalanya menunduk mengingat bagaimana dia menyakiti Cyara sebelumnya.
Dering ponsel Vier berbunyi dan Vier langsung menjawab panggilan yang ternyata dari Vian. Adiknya itu bilang jika saat ini, Rey menangis mencarinya, anaknya itu kini sudah bangun dan Vier baru menyadari jika dirinya sudah pergi terlalu lama.
Vier keluar meninggalkan kamarnya yang awalnya penuh kebencian tapi berubah dengan kerinduan, kamar yang kini terasa menyesakkan dilihat dari luarnya saja, karena sang pemiliknya sudah tidak disana lagi.
Vier meminta supir untuk mengantarnya ke rumah sakit, sang supir awalnya terkejut melihat tangan Vier, tapi melihat wajah Vier yang kini begitu mengerikan sopir itu pun memutuskan untuk berpura-pura tidak tahu saja. Supir membukakan pintu, dan kemudian melajukan mobilnya menuju ke rumah sakit.
Lima belas menit perjalanan Vier pun kini sudah sampai. Vier meminta supir untuk kembali saja dan setelah itu dirinya memutuskan untuk masuk. Vier ingin segera menuju ke kamar putranya tapi di urungkannya saat melihat luka di tangannya, Vier kemudian berbalik arah dan memutuskan mengobati lukanya dulu, agar tidak membuat Rey khawatir. Setelah Vier selesai mengobati lukanya, dia pun kini pergi ke ruangan putranya, tapi langkah kakinya berhenti ketika dia melihat seseorang yang kini juga menatapnya.