Love Revenge

Love Revenge
Bab 50



"Apa Anda belum tahu, sebenarnya…"


Ting tong


Ting tong


Ucapan Bibi terpotong saat tiba-tiba terdengar suara bel berbunyi.


"Itu pasti dokternya datang, hmm Bibi tolong bukakan pintunya dan suruh masuk dan langsung antarkan kesini saja ya," pinta Vier meminta tolong pada Bibi yang bekerja di rumah Cyara, sementara dirinya mulai mengompres wanita itu yang kini tengah demam.


"Baik Tuan, Bibi permisi dulu," pamitnya dan kemudian bergegas keluar untuk membukakan pintu.


"Tolong! Aku takut, Ibu, tolong aku Bu!" Cyara terus saja meracau.


"Sst! Tenanglah Cyara jangan takut, ada aku disini," Vier berbisik ke telinga Cyara, tangannya menggenggam tangan Cyara yang begitu panas, Cyara yang merasakan ada seseorang yang menggenggam tangannya semakin mengeratkan genggamannya.


"Jangan pergi! Aku takut."


"Aku tidak akan pergi, aku akan disini, jadi kamu jangan takut," bisik Vier lagi.


Setelah mendengar itu, Cyara pun kini mulai tenang.


Vier kemudian menoleh ke arah pintu, begitu mendengar suara langkah kaki mendekat.


"Silahkan dokter!" Vier mendengar Bibi mempersilahkan seseorang yang baru datang untuk masuk dan memeriksa Cyara.


"Kenapa lagi Vier? Apa ini ulahmu lagi?" Tanya Al tanpa basa-basi lagi berjalan mendekat ke arah ranjang dimana Cyara sedang terbaring disana.


"Sudahlah Paman periksa saja, aku jelaskan juga paman tidak akan percaya," ucap Vier yang menyingkir membiarkan Al memeriksa Cyara.


Al pun melakukan tugasnya, memeriksa kondisi Cyara.


"Baru sebentar sama kamu, tapi sudah dua kali dia begini, besok apalagi yang akan kau perbuat," kata Al melirik ke arah Vier yang sedang memperhatikan dirinya memeriksa Cyara


Vier mendengus kesal karena Al terus saja menyalahkannya tanpa tahu apa yang sebenarnya terjadi, "Bukan aku yang melakukannya Paman, terserah paman percaya atau tidak," jawab Vier akhirnya.


"Baiklah anggap saja bukan kamu yang melakukannya, tapi kau juga seharusnya menjaganya kan? Jangan sampai dia terus-terusan sakit seperti ini, apalagi Paman dengar dari mamamu kau akan menikahinya, tapi lihatlah hanya menjaganya saja kamu tidak bisa," ucap Al lagi.


"Iya, iya, sudah belum? jika sudah lebih baik Paman kembali saja."


"Kamu mengusir Paman?"


"Iya."


"Bilang saja kau ingin hanya berduaan dengannya," kata Al kemudian pergi.


"Biar saya antar dokter," ujar Bibi yang sedari tadi hanya diam saja.


"Jangan katakan hal ini sama Mama, aku tidak mau Mama cemas," ucap Vier saat Al akan keluar dari kamar Cyara.


"Kamu tenang saja, dan tidak perlu khawatirkan itu," jawab Al yang kemudian


melangkah keluar, mengikuti instruksi dari Bibi yang bekerja di rumah Cyara.


"Aku tidak tahu apa yang sebenarnya hati ini inginkan, tapi Cyara melihatmu seperti tadi sungguh aku tidak bisa, rasanya jantungku seakan dicabut paksa dari tempatnya. Iya awalnya aku berlari memang untuk Sheira, entah kenapa mendengar suaranya yang meminta tolong seakan memanggilku hingga aku berlari tanpa tujuan, tapi saat aku melihatmu berada di tempat itu, membuat perasaanku tidak karuan, asal kamu tahu Cyara, bukan hanya kamu saja yang takut, karena jujur aku juga tiba-tiba merasa begitu takut, aku takut jika kau tiba-tiba saja pergi dari hidupku, entahlah mungkin itu semua aku rasakan karena aku tidak ingin kamu pergi sebelum aku membalaskan semua dendamku, sebelum kau benar-benar hancur di tanganku, aku tidak akan biarkan kau pergi. Dan Sheira, benarkah dia yang melakukan itu? Tapi rasanya tidak mungkin, Sheira yang aku kenal bukankah orang yang seperti itu, karena sedari dulu, dia begitu menyayangi kakaknya yang tak lain adalah dirimu, dan jika dia tahu kamu memiliki trauma, bukankah itu lebih tidak memungkinkan lagi?" Vier kini sedang bergelut antara hati dan pikirannya. Sepertinya hati dan pikiran pria itu, saat ini sedang tidak sinkron.


*


*


Byur


"Tolong!"


"Siapapun tolong aku!"


Ketika sudah tidak bisa bertahan lagi, dan saat akan memejamkan matanya, tiba-tiba ada tangan hangat yang menggenggamnya, tiba-tiba, tubuhnya melayang.


"Vier! Gumam Cyara pelan.


"Aku tidak berharap pria itu yang menolongku, tapi aku tidak menyangka jika dia kali ini yang menggenggam tanganku, Vier pria yang sama sekali tidak aku duga akan menolongku, rupanya dia benar-benar yang menyelamatkanku."


Cyara segera terbangun dari mimpinya, iya kejadian itu, Cyara mengira hanya mimpinya saja, tapi bukan, ternyata semua benar-benar nyata, karena saat terbangun tangan Vier masih terus menggenggamnya. Pria itu kini tengah tertidur sambil duduk dengan kepala di atas satu tangannya yang terlipat di sisi ranjang kosong di sampingnya.


Cyara menatap Vier "Terima kasih karena kau sudah menyelamatkanku kali ini, aku tidak tahu apa alasan kamu menyelamatkanku, tapi aku benar-benar sangat berterima kasih padamu," gumam Cyara dengan satu tangannya mengelus rambut Vier.


Merasa ada seseorang yang menyentuhnya Vier pun terbangun.


"Kenapa? Apa kamu baik-baik saja? Apa yang kamu rasakan? Apa ada yang sakit?" Rentetan pertanyaan keluar dari Vier yang memang begitu mengkhawatirkan Cyara.


"Aku baik-baik saja," ucap Cyara yang mencoba duduk dan Vier pun membantunya dengan menyusun bantal agar posisi Cyara  nyaman.


"Terima kasih, aku mau minum," Cyara menggeser  tubuhnya ke sisi ranjang yang kosong mengulurkan tangan hendak meraih gelas di atas nakas, dan dengan sigap Vier mengambilkannya.


"Jika butuh sesuatu, cukup katakan saja!" Ucap Vier membuat Cyara langsung menatapnya.


"Tolong Vier, jangan terlalu baik, aku takut nanti akan terlena dengan kebaikanmu, hingga membuat aku akan semakin terluka, jika sedikit saja apa yang kamu lakukan mengecewakanku," ucap Cyara dalam hati.


"Kenapa? Apa kamu memerlukan sesuatu lagi?" Tanya Vier yang melihat Cyara melamun.


"Hmm tidak ada, ini jam berapa?" Tanya Cyara mencari-cari ponselnya.


"Ponselmu mati," kata Vier tiba-tiba seakan tahu apa yang Cyara cari.


"Sudah jam tiga," kata Vier yang melihat jam di pergelangan tangannya.


"Sebaiknya kamu istirahat di kamar anak-anak, besok kamu juga harus kerja kan? Aku sudah tidak apa-apa," ucap Cyara kemudian.


Vier bangun kemudian berjalan memutari ranjang, kemudian membaringkan tubuhnya di sana, tepatnya di tempat tadi Cyara tidur.


"Apa yang kau lakukan?" Kata Cyara menarik selimutnya hingga sebatas dada.


"Istirahat, memangnya apa lagi? Bukankah tadi kamu yang menyuruhku," kata Vier melipat kedua tangan untuk menutupi kedua matanya yang dia pejamkan.


"Iya aku memang menyuruhmu untuk istirahat, tapi tidak disini," kata Cyara menatap ke sampingnya.


"Diamlah Cyara aku mengantuk," ucap Vier dan tidak lama terdengar deru nafasnya yang teratur menandakan bahwa dia memang benar-benar tertidur.


"Bolehkah aku meminta agar waktu berhenti saat ini saja, disaat kamu ada disampingku, disaat kamu bersikap penuh perhatian padaku, disaat dunia ini hanya ada kita berdua, Vier perlu kamu tahu, sepertinya aku benar-benar jatuh cinta padamu," gumam Cyara menatap Vier yang terlihat tenang dalam tidurnya.