Love Revenge

Love Revenge
Bab 64



"Mami kenapa belum bersiap-siap?" Tanya Rain yang melihat Cyara masih mengenakan pakaian rumahannya.


Cyara mendekat ke tempat putrinya yang sudah tampil cantik karena pagi-pagi sekali, Rain dan Rey sudah bergantian mandi, mereka teringat akan janji Vier yang akan mengajaknya pergi jalan-jalan.


Cyara duduk di samping Rain, menguncir rambut panjang putrinya.


"Rain, jika Papi tidak datang Rain jangan sedih ya, kita bisa jalan-jalan lain kali, kalau tidak, kita bisa jalan-jalan bertiga bagaimana?" Ucap Cyara menatap putrinya yang juga menatapnya.


"Papi pasti datang Mam, papi sudah janji sama kita," ucap Rey yang datang menghampiri mereka membawa tasnya.


"Tapi sayang, papi sangat sibuk belakangan ini," ucap Cyara memberikan pengertian kepada kedua anaknya itu.


"Tidak Mam, papi sudah janji, dan Rey yakin papi akan datang," jawab putra Cyara penuh keyakinan.


Cyara menghela nafasnya, ternyata menjelaskan kepada putranya jauh lebih sulit dibandingkan putrinya.


"Jika papi memang tidak datang, tidak apa-apa kok Mi, seperti yang mami katakan tadi, kita bisa pergi bertiga," jawab Rain menatap maminya yang tengah menatap kakaknya.


Cyara menatap Rain dan tersenyum, tapi langsung mengalihkan pandangannya kembali pada putranya yang menyahut ucapan adiknya.


"Papi pasti datang dek!" Sahut Rey mendengar ucapan adiknya.


"Ya sudah, kalau begitu Mami siap-siap dulu ya," kata Cyara berpamitan kepada anak-anaknya dan mencium kening keduanya bergantian, sebelum akhirnya dia berlalu pergi.


Cyara berjalan meninggalkan kedua anaknya, menatap keduanya dari kejauhan.


"Aku mohon Vier datanglah, jangan buat mereka kecewa," gumam Cyara dengan pandangan sendu.


"Tapi apakah mungkin dia akan datang, bahkan lima hari ini dia pergi, dia sama sekali tidak memberi kabar," tambahnya, dan Cyara pun kemudian berlalu menuju ke kamarnya untuk bersiap-siap.


"Mami! Mami! Mami cepat kesini!"


Saat Cyara sedang bersiap-siap terdengar suara ribut-ribut putra putrinya yang terus memanggilnya.


"Sayang kenapa?" Cyara ikut berteriak dan buru-buru menuruni tangga memastikan putra dan putrinya baik-baik saja.


Cyara yang berlari tergesa-gesa hampir saja tergelincir saat akan sampai di lantai bawah, kalau saja, tidak ada seseorang yang dengan sigap menangkap tubuhnya.


"Vier," Cyara begitu terkejut melihat keberadaan Vier di rumahnya.


"Apa kau tidak bisa lebih berhati-hati?" Marah Vier, tapi walaupun marah, pria itu tetap saja membantu Cyara.


"Makasih," ucap Cyara buru-buru merapikan pakaiannya.


Rey dan Rain berlari menghampiri Cyara.


"Tuhkan apa kata Rey, Mam, papi pasti akan datang," ucap Rey tersenyum lebar, apalagi saat apa yang anak itu katakan benar.


Vier mengernyitkan dahinya, mendengar ucapan Rey.


"Memang siapa yang bilang, jika Papi tidak datang?" Tanya Vier kepada Rey.


"Mami bilang Papi sibuk, dan mungkin saja papi tidak bisa datang," sahut Rain dengan polos.


"Memangnya benar Papi sibuk?" Tanya gadis kecil itu mendongak, mengerjapkan matanya menatap Vier.


"Tidak, Papi tidak sibuk kok, memangnya siapa yang mengatakan itu?" Tanya Vier berjongkok di hadapan gadis kecil itu.


"Mami yang bilang," jawab Rain dengan polosnya.


Mendengar jawaban Rain, Vier kini menatap tajam Cyara dan wanita itu hanya bisa memalingkan wajahnya.


"Benar kan dia memang sibuk, tunggu bukankah dia sedang melakukan perjalanan bisnis dan sedang pergi keluar negeri? Terus


"Ya sudah ayo kita berangkat," ucap Vier menggandeng kedua anak itu, tapi dirinya menoleh saat merasa jika tidak ada seseorang yang berjalan di belakangnya.


Dan benar saja, Cyara masih terdiam di tempatnya, seperti sedang memikirkan sesuatu.


"Kenapa diam saja? Ayo!" Ucap Vier yang sudah membalikan tubuhnya.


Mendengar ajakan Vier, Cyara pun melangkah menghampiri ketiga, dan keempat orang itu pun berjalan bersama menuju mobil.


Perjalanan yang cukup lama, tapi tak membuat Vier merasakan lelah, rasa lelahnya, rasa lelahnya entah menguap begitu saja, saat melihat senyum anak-anak Cyara. Entah kenapa dia begitu menyayangi Rey dan Rain.


"Sudah sampai," ucap Vier dan mendengar itu anak-anak Cyara bersorak senang. Ketiga orang itu pun langsung berlarian begitu turun dan saling mengejar.


Cyara diam memperhatikan Vier yang saat ini sibuk dengan kamera memfoto anak-anaknya. Suasana pantai sangat indah, itulah yang bisa Cyara lihat saat ini, apalagi melihat senyum orang-orang yang dicintainya.


Cyara melipat tangannya di depan dada,  diam-diam mengamati Vier dari belakang. Cyara mengamati pria itu dengan tenang dan seksama, Vier terlihat begitu tampan.


Vier tidak sadar jika sejak tadi Cyara sedang memperhatikannya. Tampaknya pria itu terlalu fokus memotret Rain dan Rey, juga pemandangan di sekitarnya, sesekali Vier 


terlihat memeriksa hasil fotonya. 


Cyara memegang dadanya kala melihat Vier tersenyum, "Perasaan apa ini? Kenapa rasanya begitu menenangkan melihat senyumannya?" Batin Cyara berbicara. 


Saat Cyara sedang menatap Vier lekat, jantungnya semakin bergemuruh saat melihat Vier yang kini juga menatapnya dan tersenyum.


"Ayo cepat panggil mami untuk ikut foto bersama kita," kata Vier kepada kedua anak Cyara.


"Mami sini!" Teriak Rey, Rain dan juga Vier bersamaan.


Cyara tersenyum dan menurut tanpa membantah ajakan ketiganya.


"Coba, kamu lihat hasil foto mereka," kata Vier menunjukkan hasil fotonya pada Cyara.


"Bagus dan juga sangat cantik," puji Cyara saat melihat foto anak-anaknya. Bahkan wanita itu terus saja tersenyum.


"Sekarang ayo kita foto berdua, setelah itu kita foto bersama anak-anak," kata Vier merebut kamera dari tangan Cyara dan menghentikan seseorang meminta tolong untuk memfoto mereka.


"Terima kasih," ucap Vier kepada orang yang tadi membantunya.


"Sama-sama, senang deh lihat keluarga kecil kalian, lengkap ya anaknya, cewek dan cowok. Cewek mirip mamanya, yang cowok mirip papanya," kata wanita itu mengelus pipi Rain.


"Cantiknya, gemesin" kata wanita itu kini mencubit pipi Rain pelan.


"Terima kasih Kak," kata Cyara kepada wanita yang mungkin usianya lebih tua darinya.


"Sama-sama," kata wanita itu dan kemudian berpamitan untuk pergi.


Cyara kini menoleh ke sampingnya dimana Vier sedang melihat hasil foto-foto yang terakhir tadi.


"Vier setelah ini kita mau kemana lagi?" Tanya Cyara saat mereka kini sudah kembali berjalan di pinggiran pantai merasakan angin hangat yang menerpa wajahnya.


"Kenapa?"


Cyara hanya memberengut kesal saat Vier justru kembali bertanya bukannya menjawab pertanyaannya.


"Tidak bisa apa langsung jawab, bukan bertanya balik," ucap Cyara dalam hatinya.


Vier melihat Cyara yang memanyunkan bibirnya, ingin sekali Vier mencium bibir itu saat ini juga, tapi Vier harus bisa menahannya, karena bagaimanapun disini  ada Rey dan Rain anak-anak Cyara yang bersama sedang bersama mereka.


"Sepertinya lain kali, aku harus pergi berdua saja," gumam Vier yang tiba-tiba menggenggam tangan Cyara, membuat wanita itu langsung terkesiap kaget.