Love Revenge

Love Revenge
Bab 77



Cyara terus mengecek ponselnya dan merasa lega karena sepertinya dirinya tidak terlambat untuk mengambil ponselnya. Cyara yang terlalu fokus sampai tidak menyadari jika Vier kini tengah menatapnya.


"Apa ada yang kau sembunyikan di ponselmu?"


Cyara langsung menoleh dan menatap Vier sebentar kemudian kembali memalingkan wajahnya.


"Tidak ada," jawab Cyara. Kemudian pandangannya beralih ke anak-anaknya yang sedang bermain ponsel yang Cyara yakin milik Vier.


"Sudah ya sayang bermain ponselnya, ayo kita turun dulu, Mami masakin buat kalian," ucap Cyara meminta anak-anaknya meletakkan ponsel dan turun dari ranjang.


"Baik Mami," kata kedua anak itu, Rey mengembalikan ponsel Vier dan turun dibantu Cyara.


Cyara bahkan mengabaikan tatapan Vier padanya. 


"Tidak perlu memasak, kita makan di luar saja," kata Vier ikut turun kemudian mengambil kunci mobil dan dompetnya kemudian mengangkat Rain membawa ke dalam gendongannya kemudian berlalu keluar lebih dulu.


Cyara menghela nafas melihat Vier yang sudah berlalu.


"Ayo sayang!" Kata Cyara mengajak Rey menggandengnya.


Mereka berjalan keluar dan rupanya Vier  sudah memarkirkan mobilnya di depan, dapat Cyara lihat suaminya kini sudah masuk ke dalam mobil dengan Rain duduk di sampingnya. Cyara pun melangkah menuju ke pintu belakang mobil, membukanya, membantu Rey masuk dan kemudian dirinya pun ikut masuk.


"Rey sama Rain mau makan apa?" Tanya Vier menatap kedua anak itu bergantian sebelum menjalankan mobilnya.


"Bagaimana kalau kita ke tempat makan favorit kita Mami," jawab Rain yang kini malah menatap maminya yang duduk di tepat di belakang papinya.


"Tapi itu lumayan jauh sayang dari sini," jawab Cyara.


"Tidak apa-apa, ayo kesana!" Kata Vier dan Cyar pun refleks menatap Vier yang kini juga menatapnya, tatapan mereka bertemu, tapi dengan cepat Cyara memutuskannya dan memilih melihat ke arah putranya yang kini juga tengah mendongak menatapnya.


"Yeah," teriak Rey dan Rain merasa senang, sudah cukup lama juga mereka sudah tidak pergi kesana.


Vier segera melajukan mobilnya setelah Cyara menyebut alamat yang akan menjadi tempat tujuan mereka kali ini. Di dalam mobil, Cyara dan Vier hanya saling diam, dan yang terdengar hanya celotehan Rey dan  Rain, mereka mengatakan jika mereka gagal akan naik pesawat karena oma dan opa mereka tidak jadi berangkat, lebih tepatnya menundanya karena tiba-tiba tante Vira menghubunginya.


"Kamu tahu?" Tanya Vier entah pada siapa.


"Iya, tadi pagi-pagi sekali, Mama menghubungiku jadi aku memutuskan untuk datang sekalian mengantarkan anak-anak ke sekolah dan setelah itu menjemputnya untuk pulang kesini," jawab Cyara karena dia yakin pertanyaan yang Vier ajukan ditujukan pada dirinya.


"Kenapa tidak bilang?"


"Aku sudah bilang," jawab Cyara yang tidak terima.


"Iya sudah bilang, tapi sama Bibi, bukan kepadaku langsung."


"Sama aja, yang penting ujung-ujungnya kamu tahu kan? Daripada tidak bilang sama sekali," jawab Cyara sambil mengelus lembut rambut sang putra yang duduk di sampingnya.


Mendengar jawaban Cyara, Vier hanya menghela nafasnya. 


"Kapan kamu menjemput anak-anak yang aku lihat kamu tidak keluar dari kantor seharian ini?" Tanya Vier yang diam-diam memperhatikan Cyara.


"Daddy yang menjemput kita."


Mendengar jawaban Rain spontan membuat Vier menoleh ke arah gadis kecil kesayangannya.


"Iya, aku minta tolong padanya. Tidak salah bukan, bagaimanapun dia Daddynya," jawab Cyara yang justru semakin memancing amarah Vier. 


Vier yang marah langsung menambah kecepatan laju mobilnya.


"Vier apa yang kau lakukan? Vier jangan gila kita  sedang bersama anak-anak sekarang!" Teriak Cyara apalagi saat melihat anak-anaknya ketakutan.


"Mami takut Mami!" Rain menangis menatap ke arah Maminya.


Cyara memeluk Rey di sampingnya dan maju menggenggam tangan mungil putrinya.


"Vier!" 


Vier yang mendengar tangisan Rain kini mulai kembali memelankan laju kendaraannya dan segera menepikan mobil.


"Apa yang kau lakukan tadi ha? Kau membuat mereka ketakutan! Apa kau tidak bisa…"


"Maafkan Papi sayang," tak mendengarkan ucapan Cyara, Vier kini memilih memeluk Rain berusaha untuk menenangkan gadis kecil itu.


*


*


*


"Darimana saja kau?" Seorang pria menyalakan lampu begitu mendengar suara langkah kaki seseorang.


Wanita itu langsung berhenti dan melihat ke arah sofa dimana pria itu duduk sambil menyilangkan kakinya.


"Bukan urusanmu, dan ku mohon jangan campuri urusanku!"


"Ini urusanku Sheira, kau ini istriku, selama ini aku tidak pernah ikut campur urusanmu, tapi kali ini kau keterlaluan! Vier sudah menikah jadi lupakanlah dia."


"Aku tahu, tapi Vier hanya mencintaiku, selamanya Vier akan terus mencintaiku, dan aku tidak akan menyerah sampai aku benar-benar mendapatkannya."


"Cukup Sheira, jika kau terus seperti itu, bukan cinta namanya, kau hanya terobsesi dengan Vier, lupakan dia dan lanjutkan hidupmu sendiri!"


"Melanjutkan hidupku? Denganmu? Itu tidak mungkin Ken, kau tahu dari awal aku sudah katakan, aku mau menikah denganmu bukan karena aku mencintaimu, kau tahu itu dengan jelas Ken, jadi kali ini biarkan aku mengejar cintaku yang sudah hancur karena pernikahan kita."


Sheira tidak ingin terus seperti ini, dirinya ingin cepat bisa kembali dengan Vier dan mengulang kembali kisah mereka yang telah usai. Tapi belakangan ini, Ken selalu menghalanginya hingga membuatnya merasa kesulitan hanya untuk sekedar bertemu Vier, untungnya saat pernikahan Vier, dia berhasil kabur hingga bisa menghadiri pernikahan kekasihnya itu. Ya selama ini, Sheira masih menganggap Vier sebagai kekasihnya, karena bagaimanapun tidak pernah ada kata putus diantara mereka.


"Jika kamu tidak melakukan untuk dirimu sendiri, setidaknya kau lakukan ini demi Keisha," ucap Ken begitu dingin dan datar.


Sheira menghentikan langkahnya yang sudah berada di tengah-tengah anak tangga. Dia mengepalkan tangannya erat kemudian berbalik menghadap Ken.


"Jangan selalu jadikan Keisha alasan untuk menahanku untuk terus bersamamu Ken, kau yang menginginkannya, dan dia adalah tanggung jawabmu, seharusnya kau berterima kasih padaku, jadi biarkan aku mengejar cintaku dan anggap saja itu sebagai ucapan terima kasihmu."


Setelah mengatakan itu, Sheira pun melanjutkan langkah kakinya menuju ke kamar. Sementara itu Ken menatap punggung Sheira yang kini menjauh dengan tatapan yang sulit diartikan. Ken mengusap wajahnya kasar, mendudukan tubuhnya, menunduk dan  menutup wajahnya dengan kedua tangan.


Ken merasa gagal, gagal dalam segalanya, gagal menjadi saudara, gagal sebagai seorang suami bahkan seorang ayah. Dirinya sebenarnya juga tidak ingin terus seperti ini, tapi dia juga tidak punya pilihan lain, jika ada pilihan lain pun, belum tentu Ken akan memilih pilihan itu, selama ini dia menyembunyikannya, menyembunyikan kehidupan pernikahan yang sebenarnya tidak bisa dikatakan sebagai pernikahan.