Love Revenge

Love Revenge
Bab 117



Vier dengan seksama mendengar penjelasan Cyara tentang siapa Arga juga Damian. Awalnya pria itu terkejut, karena menurut orang-orangnya, kakak laki-laki Cyara sudah meninggal dan ternyata dia masih hidup, tidak, Vier merasa jika semua ini ada yang janggal, sepulang dari sini Vier akan kembali menanyakan semua ini kepada orang-orangnya.


"Jadi ini suami kamu?"


Pertanyaan Arga membuyarkan lamunan Vier. 


"Iya, jadi ku harap kau berhenti, jangan lagi mengganggu istriku, walaupun kamu sepupu atau apapun itu aku tidak peduli yang paling penting, kamu tidak mendekati Cyara, karena aku tidak suka, apa kau mengerti?


Bukan Cyara yang menjawab pertanyaan Arga melainkan Vier.


"Aku tidak mengganggu, aku hanya melindungi dan menjaga Nia, ah sudahlah aku mau pergi, jika tahu dia suamimu, aku tidak akan repot-repot memanggil petugas hanya untuk menggedor pintu kamar ini," ucap Arga lalu segera bangun dari duduknya.


"Dan kau jaga Nia baik-baik, jika Damian saja bisa membawanya pergi darimu, aku pun bisa," tambahnya lalu memasukkan kedua tangannya di saku celana berjalan keluar meninggalkan Vier dan Cyara hanya berdua.


"Aku harus bekerja," ucap Cyara memecah keheningan, karena sepeninggal Arga tadi, mereka berdua hanya saling diam.


"Tapi…"


"Please Vier, aku harus menyelesaikan pekerjaanku," potong Cyara cepat.


"Baiklah, biar aku antar," ucap Vier tapi Cyara justru menggeleng.


"Tidak perlu, aku bisa sendiri, kakiku juga sudah membaik," kata Cyara dan Vier hanya bisa menyetujuinya.


Cyara pergi melangkah meninggalkan kamar Vier, tapi bukan menuju ke ruangannya, tapi justru menuju ke ruangan Arga, ada yang harus dia katakan kepada pria itu. Sebelum sampai di ruangan pria itu, Cyara lebih dulu menghubunginya, memastikan jika Arga benar-benar ada di ruangan, agar kedatangannya tidak sia-sia.


Begitu sampai, Cyara pun langsung mengetuk pintu, dan Arga mempersilahkan dirinya masuk.


"Ada apa?" Tanya Arga langsung mengerti jika ada sesuatu yang akan dibicarakan sepupunya itu.


Cyara pun mengatakan semuanya, termasuk keinginannya untuk kembali, dia sangat merindukan anak-anaknya.


Arga hanya menghela nafas, "Kamu yakin akan memberikan dia kesempatan? Bagaimana jika nantinya dia kembali menyakitimu?"


"Aku yakin, bagaimanapun aku tidak boleh egois, anak-anakku butuh ayahnya, dan aku ingin anak-anak tumbuh besar merasakan kasih sayang seorang ayah, hmm lebih tepatnya kedua orang tuanya, seperti layaknya teman-teman yang lain," ucap Cyara dengan pandangan menerawang jauh.


"Baiklah jika memang itu keputusanmu, aku yakin kamu sudah menpertimbangkan semuanya, dan aku berharap memang itulah yang terbaik," Arga bangun dan langsung memeluk Cyara.


"Padahal belum lama aku dekat denganmu dan baru merasakan punya saudara, tapi kamu sudah akan kembali meninggalkanku," ucap Arga dramatis.


Cyara kemudian balas memeluk Arga, "Hmm kita bisa bertemu nanti, kamu kan juga bisa datang berkunjung, dan lagi kau bilang akan kembali," jawab Cyara melepaskan pelukan mereka terlebih dahulu.


"Tapi nanti aku disana sebentar, aku tidak mau terlalu lama, dan berakhir aku diminta mengurus perusahaan Daddy, tidak!"


Cyara hanya terkekeh mendengar curhatan Arga, dia memang kabur dari rumah karena tidak ingin mengurus perusahaan keluarga, tapi dia sukses dengan resort ini tanpa bantuan dari orang tuanya.


Cyara yang hanya niatnya mengatakan maksud kedatangannya, kini malah dia harus mendengar curhatan Arga.


"Oh ya kapan rencananya kamu akan kembali, atau kita bersama saja?"


"Hmm entah mungkin lusa, karena besok aku harus bersiap-siap dulu, lagian banyak yang harus aku urus juga disini kan sebelum pergi."


Arga manggut-manggut mengerti, "Baiklah kamu serahkan pekerjaan kepada Linda saja," ucapnya dan langsung diangguki Cyara.


"Ya sudah aku mau lanjut bekerja," pamit Cyara pada Arga, dan setelahnya wanita itu pun pergi dari ruangan bos nya itu.



Vier menghubungi orang-orangnya, rasanya dia tidak sabar untuk segera menanyakan kejanggalan yang terjadi. Dan dirinya dibuat terkejut saat ternyata ada keterlibatan kakaknya dalam hal ini.


Kata orang suruhannya, mereka sebenarnya sudah tahu dari sekitar seminggu yang lalu, bahwa Cyara ternyata pergi bersama kakaknya, mereka tahu jika kakak Cyara masih hidup bahkan mencarinya hingga akhirnya menemukan Cyara dan membawanya pergi saat itu, tapi mereka tidak mengatakan itu karena perintah Alno. Mereka hanya bilang tentang lokasi keberadaan istrinya, dan karena begitu senangnya, karena akhirnya bisa menemukan Cyara, Vier sampai tidak memikirkan hal lainnya. Dan pertemuan mereka di awal? Pantas saja, Damian saat itu menatap Cyara lekat, Vier kira Damian melakukan itu karena tertarik dengan istrinya tapi kenyataannya jauh lebih mengejutkan Vier.


Apa Damian saat itu sudah mengenali Cyara sebagai adiknya?


Dan dia memantau semuanya?


Dan kenapa pria itu meminta Sheira untuk mengurus proyek kerja sama mereka padahal dia tahu, jika itu bisa menyakiti adiknya?


Terus inikah maksud pria itu menginginkan lokasi proyeknya disini?


Apa karena dia ingin mempertemukan kami?


Tapi kenapa dia tidak mengatakan apapun? 


Apa Cyara tahu dan terlibat untuk merencanakan semua ini? Tapi dilihat dari dia yang terkejut saat pertemuan pertama kami, rasanya tidak mungkin dia tahu?


Lalu kenapa kakaknya Alno tidak pernah mengatakannya? Apa segitu kecewanya Alno sampai menutupi semua itu darinya? Apa Alno tidak mempercayainya? Ya jelas saja, Alno tidak mempercayainya, dia sadar bahwa dia keterlaluan terhadap Cyara walaupun berulang kali kakaknya itu mengingatkan.


Vier teringat hari pernikahannya, di saat dia mencium Sheira, rasanya sangat berbeda seperti saat dirinya mencium Cyara, dan sebenarnya sudah sejak saat itu lah perasaannya berubah, tapi Vier selalu mengabaikan, dia tidak percaya perasaannya pada Cyara bisa tumbuh secepat itu, dia ingin cepat-cepat menikahi Cyara mengira itu karena dia ingin segera membalas sakit hatinya pada Sheira, tapi dia salah, dia menikahi Cyara, karena sejak awal, sesuatu dalam dirinya memang menginginkan itu. Entah sejak kapan Vier tertarik pada Cyara, tapi dia sadar, dia tidak suka jika Cyara berdekatan dengan pria lain. Dan saat dia mau untuk menemui Sheira, itu karena Vier ingin memastikan perasaannya, tapi Vier tidak tahu jika hal itu justru menyakiti Cyara. Ya Cyara terluka dalam proses dirinya mencoba memastikan perasaannya. Harusnya Vier mengatakan itu pada Cyara, harusnya Vier meminta waktu pada Cyara, untuk meyakinkan hatinya, Vier yakin Cyara akan mengerti, tapi sayangnya Vier tidak melakukannya, hingga membuat Cyara memilih menyerah dan meninggalkannya.


*


*


"Nyonya yakin tidak mau turun? Atau mungkin menawari anak-anak itu untuk ikut mobil kita?" Tanya pria yang selalu setia menemani wanita yang belakangan ini terus memperhatikan kedua anak kecil yang sekarang sedang berdiri menunggu seseorang.


"Kita tunggu sebentar lagi," ucap wanita itu  sambil terus mengamati sepertinya kedua anak itu sedang menunggu jemputan.


Sopir itu hanya mengangguk, tapi pria itu dibuat heran saat tiba-tiba wanita yang duduk di belakangnya segera turun dari mobil dan betapa terkejutnya pria itu saat melihat apa yang terjadi selanjutnya, pria itu segera turun dan menghampiri wanita yang kini tergeletak di tengah jalan, dengan cairan merah mengalir di sekitar kepalanya.