Love Revenge

Love Revenge
Bab 126



Sibuk berpelukan, keduanya sampai tidak menyadari jika ada orang yang masuk ke dalam ruang rawat Ibu Cyara.


"Ada apa ini?" 


Mendengar suara yang begitu mereka kenal, kedua wanita itu menoleh.


"Kenapa?" Tanya Vian yang kini berjalan melangkah mendekat dan duduk di samping sang istri.


Aulia hanya menggeleng ditanya seperti itu oleh suaminya, Vier yang baru saja datang, juga melakukan hal yang sama. 


"Ada apa sayang?" Tanyanya sambil merapikan helaian rambut Cyara yang menutupi wajah cantiknya.


"Tidak apa-apa, aku hanya merindukanmu," ucap Cyara yang langsung saja memeluk suaminya.


Vier tersenyum senang, baru pertama, dia mendengar kata rindu dari istrinya, karena biasanya, dia yang akan mengatakannya, entah istrinya malu atau memang tidak merindukannya, kadang Vier ingin mendengar kalimat sederhana itu, dan hari ini dia mendapatkannya.


 Padahal aku baru pergi sebentar," ucap Vier dan Cyara langsung melepaskan pelukannya.


"Kamu perginya lama."


"Tidak sayang, hanya 30 menit."


"30 menit itu lama," ucap Cyara tidak terima saat suaminya mengatakan bahwa dia hanya pergi sebentar.


Vian dan Aulia yang mendengarkan perdebatan mereka memilih untuk berpamitan. Lagian tugas mereka untuk menemani Cyara sudah selesai, karena Vier sudah ada disana.


Vier dan Cyara hanya mengangguk setuju, dan mengucapkan terima kasih kepada keduanya. Dan begitu melihat adik dan adik iparnya pergi, Vier duduk menghadap istrinya dan menggenggam tangan wanita itu.


"Kata dokter, ibu kamu besok sudah diperbolehkan pulang," ucap Vier memulai pembicaraan.


"Benarkah?" Kata Cyara yang tentu saja senang mendengar kabar itu.


"Tapi Cya… sebelumnya aku minta maaf, karena begitu kita pulang nanti, kita akan tinggal di rumah mama dan papa, dan…


"Dan apa?"


"Aku tidak bisa membawa ibu kamu untuk tinggal bersama seperti yang kamu minta kemarin. Tapi sayang, kamu tidak perlu khawatir, karena aku akan mencari perawat untuk merawat ibu kamu hingga sembuh."


"Tapi kenapa Vier? Apa mama atau papa tidak setuju?"


"Hmm bisa dikatakan seperti itu, karena papa tidak akan pernah mengizinkan wanita lain untuk tinggal di rumah. Papa sudah berjanji bahwa mama satu-satunya wanita papa yang akan tinggal disana selain anak-anaknya, itu prinsip papa dan aku tidak bisa melanggarnya.


"Tapi Ibu…"


"Aku tahu, tapi sejak papa masih muda, papa tidak pernah dekat sama wanita manapun dan hanya mama, ya walaupun tidak punya hubungan apapun, tapi menurut papa tidak baik, dan aku tidak bisa membantah," jelas Vier, selain karena papanya, Vier juga punya alasan lain, dia belum percaya dengan ibu Cyara, saat dia terluka pun dia masih ingin Cyara memaafkan Sheira, bagaimana jika Sheira datang menemui ibunya dan membujuk ibunya, untuk melakukan sesuatu yang bisa saja membahayai istrinya, Vier tidak akan membiarkan hal itu terjadi. Dan Vier berusaha untuk mencegah kemungkinan-kemungkinan buruk, yang bisa saja dilakukan oleh mantan kekasihnya itu.


"Baiklah, bagaimana jika kita tinggal di rumahku?"


"Tidak sayang, Kamu sedang hamil dan aku tidak akan membiarkanmu sendiri lagi, seperti saat kamu hamil Rey dan Rain, aku akan selalu menemani kamu, dan aku merasa tenang jika kamu ada di rumah dan dalam pengawasan keluargaku," kata Vier yang masih berusaha membujuk Cyara agar menjaga jarak dulu pada wanita yang belum Vier percaya ketulusannya kepada sang istri.


"Tapi Vier…"


"Bukan seperti itu Vier."


"Lalu?"


Cyara menghela nafasnya, "Baiklah, tapi aku tetap dibolehkan kan untuk tiap hari mengunjungi Ibu?"


"Tidak Cya, itu akan membuatmu lelah, kamu boleh mengunjungi tapi tidak tiap hari juga, kamu tidak lupa kan jika kamu sedang hamil?"


"Vier kamu tahu kan, aku baru saja baikan sama ibu? Aku tidak mau hubungan kita akan jauh lagi," ucap Cyara lirih.


"Ibumu yang akan datang ke rumah," kata Vier dan Cyara sudah tidak bisa membantah perkataan Vier lagi, dia lelah berdebat dengan Vier, karena dirinya yang pastinya akan kalah.


Dan Vier, sungguh Vier melakukan ini untuk kebaikan istrinya, Sheira saat ini sedang bersembunyi, dan dia takut wanita itu akan mengambil kesempatan disaat dirinya lengah tidak berada di sisi istrinya.


"Suatu saat kamu akan mengerti sayang, kenapa aku melakukan semua ini," gumam Vier menatap istrinya.


"Apa yang suami katakan benar Nak, biar nanti ibu yang akan usahakan datang ke rumah kalian, kamu sedang hamil dan akan melelahkan jika kamu bolak-balik ke rumah ibu, ibu juga tidak ingin jika sampai terjadi sesuatu dengan cucu ibu."


Cyara bangkit dari duduknya dan berjalan menghampiri ibunya. 


"Ibu sudah bangun?" Tanya Cyara yang kini duduk di kursi samping ranjang rawat ibunya, setelah membantu menaikan ranjang, agar ibunya bisa duduk dengan nyaman.


"Hmm apa ibu…" Cyara ragu hendak bertanya apa ibunya itu mendengar apa yang dibicarakan dirinya dan Vier.


Ibu Cyara tersenyum dan mengangguk, "Ibu mendengar semuanya, dan ibu tahu jika Tuan Stevano memang begitu mencintai istrinya, ibu dulu pernah mendengar kisah cinta mereka," katanya kemudian.


"Ibu tahu…?"


"Ya kisah mereka dulu hangat-hangatnya menjadi perbincangan, hmm intinya Tuan Stevano begitu menghormati istrinya dan ibu mengerti itu, lagian ibu juga memang ingin tinggal di rumah, kamu tahu kan banyak kenangan di rumah itu, termasuk masa kecil kamu yang terabaikan, ibu akan menghukum diri ibu, dengan menyesali perbuatan ibu itu, yang telah menyia-nyiakan kamu, ibu akan selalu mengingat hal itu, jika ibu tetap tinggal disana."


"Bu, Ibu tidak perlu sampai seperti itu, Cyara sudah memaafkan ibu, bisa berbaikan seperti ini saja sudah membuat Cyara senang, jadi Bu, lupakan semua itu, dan mulailah hidup baru ibu, tentunya hidup berbahagia."


"Sayang, kita harus menjemput Rey dan Rain, kita sudah berjanji tadi pagi," kata Vier mengingatkan sang istri, takut jika istrinya itu lupa.


"Oh iya, Bu Cyara harus pergi dulu," pamit Cyara merasa tidak enak meninggalkan ibunya.


Ibu Cyara hanya tersenyum, lalu mengangguk. 


"Ibu tidak apa-apa kan jika Cyara tinggal?" Tanyanya merasa tidak tega harus meninggalkan ibunya.


"Tidak apa-apa, kamu tidak perlu khawatir, ada perawat yang menjaga ibu."


"Baiklah, nanti Cyara akan kesini lagi."


"Ya."


"Ayo!" Vier menggenggam tangan istrinya, mengajaknya keluar ruangan. Dia harus cepat-cepat mengajaknya pergi, karena tidak ingin putra dan putrinya menunggu lama, ya walaupun ada orang suruhan Vier yang menjaga mereka, tapi tetap saja tidak bisa membuat Vier tenang.


Sementara itu, di dalam ruang rawat, ibu Cyara baru saja keluar dari kamar mandi, dan dia tersenyum kala melihat siapa seseorang yang datang saat ini, "Sheira kamu datang Nak," ucapnya senang melihat wanita yang kini duduk di sofa menyilangkan kakinya.