Love Revenge

Love Revenge
Bab 42



"Ayo kita pulang sekarang, tapi Cyara kenapa aku jadi deg-deg an gini ya mau ketemu sama anak kamu, rasanya lebih deg-deg an dari akan menghadapi klien," ucap Martin dan Cyara tertawa mendengar ucapan pria itu.


"Martin kamu ini ada-ada saja, lagian kenapa coba pakai gugup segala, kan yang mau kau temui cuma anak kecil," Cyara menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Tapi Cyara bagaimana nanti jika anakmu itu malah mengusirku?"


"Tidak akan, ya sudah ayo ah, nanti kesorean kasihan mereka pasti sudah menunggu," kata Cyara yang lebih dulu memasuki lift dan Martin segera menyusulnya.


"Sebenarnya ada banyak hal yang ingin aku tanyakan terutama tentang alasan kenapa kamu berbohong dan menutupi jika sebenarnya kamu sudah memiliki anak, tapi rasanya aku tidak berhak untuk menanyakan itu, Cyara entah kenapa sejak mengenalmu, ada rasa di hati ini, yang tidak bisa aku jelaskan, ingin rasanya aku melindungimu, dan membuatmu ada di sisiku, dan juga selalu membuat tersenyum," ucap Martin dalam hati menatap Cyara yang berdiri di depannya sedang memainkan ponsel.


Lift terbuka keduanya pun keluar, "Oh ya nanti aku mau mampir sebentar di supermarket, ada yang harus aku beli," beritahu Cyara.


"Oke, aku juga akan beli sesuatu, nanti kita mampir sebentar."


Cyara pun mengangguk dan masuk ke dalam mobilnya begitupun dengan Martin yang juga masuk ke dalam mobil pria itu.


*


*


*


"Seorang model cantik Sheira Adelia istri dari Keanu Anderson terciduk jalan bersama dengan pengusaha muda putra dari Stevano Anderson, Zavier Gottardo, yang tak lain adalah sepupunya," Cyara yang akan baru saja sampai dan hendak membereskan barang-barang yang dibelinya, refleks menghentikan gerakannya begitu mendengar berita itu. Cyara berjalan pelan, menatap layar televisi, dimana di sana Vier berjalan sambil menutupi tubuh Cyara dengan jasnya.


Cyara meremas kuat pakaian yang dikenakannya, matanya memerah, menahan rasa sesak yang tiba-tiba muncul di dalam dadanya. 


"Cyara kau kenapa?" Martin tiba-tiba muncul di belakang Cyara.


Cyara tersentak, dia menarik nafasnya dalam-dalam kemudian menoleh dan tersenyum, "Aku tidak apa-apa, oh ya sudah dibawa masuk semua belum?"


"Sudah, ini yang terakhir," jawab Martin kemudian melihat ke arah layar yang tadi juga dilihat Cyara dimana sedang menampilkan acara gosip.


"Sepertinya Tuan Vier masih mencintainya," ucap Martin tiba-tiba.


Cyara mendongak menatap Martin, Martin pun tersenyum kemudian berkata, "Sheira dan Tuan Vier pernah menjalin hubungan selama 6 tahun, sayangnya Sheira justru menikah dengan sepupunya tanpa alasan."


"6 Tahun?" Kenyataan itu membuat Cyara semakin merasakan nyeri di hatinya.


"Tidak Cyara, kau tidak boleh lemah, hanya karena pria itu, dia hanya orang yang kebetulan lewat  dan singgah, tapi kenapa? Kenapa jika dia masih mencintainya dia mengatakan ingin menikahiku? Bukankah Sheira sudah kembali  dan kini sedang bersamanya bahkan memperlihatkan dengan jelas di depan umum, bukankah itu artinya dia secara terang-terangan ingin merebut Sheira dari suaminya? Ini semua tentang mereka kenapa harus menyangkut pautkan denganku? Oke, jika hanya aku, tapi kenapa harus melibatkan anak-anakku? Bagaimana perasaan mereka nantinya? Bagaimana? Apa yang harus aku jelaskan? Dan kenapa  rasanya sakit sekali? Tidak mungkin, tidak mungkin...aku tidak mungkin menyukainya."


Martin menatap Cyara yang hanya diam saja ketika merespon ucapannya, dan begitu melihatnya tampak jika Cyara menatap kosong ke depan, "Cyara kamu melamun? Tunggu apa kamu menangis?" Martin  begitu panik melihat air mata yang menetes di wajah cantik wanita beranak  dua itu.


"Tidak, tidak tahu kenapa mataku rasanya perih," ucap Cyara memberi alasan, tidak mungkin jika Cyara mengatakan dia menangis tiba-tiba karena pria yang berstatus sebagai bosnya.


"Jadi dia pria yang dulu ingin menemuiku," gumam Cyara pelan.


"Kamu mengatakan sesuatu?" Tanya Martin yang seperti mendengar gumaman Cyara.


"Non Cyara sudah pulang?" Bibi datang dari arah belakang, saat mendengar Rey sakit, Bibi mempercepat keberangkatannya, wanita tua itu sangat mengkhawatirkan keadaan Rey yang sudah seperti cucunya sendiri.


"Oh iya Bi, anak-anak mana?" Untuk saat ini Cyara ingin melupakan apa yang baru saja dilihatnya, setidaknya Cyara merasa lega karena kedua anaknya tidak melihat tayangan itu.


"Anak-anak sedang bermain di belakang Non," jawab Bibi yang kemudian membantu Cyara membereskan barang belanjaannya.


"Ayo kita ke belakang, anak-anak sedang bermain disana," ajak Cyara pada Martin.


"Bi, kami ke belakang dulu ya, oh ya Bi, jangan sampai anak-anak melihat tayangan yang Bibi tonton tadi ya," ujar Cyara yang kemudian berlalu.


"Baik Non," Bibi menatap kepergian Cyara bersama seorang pria setelah sekian lama.


"Semoga Nona segera mendapatkan pendamping yang bisa menerima anak-anak," gumamnya pelan.


Sementara itu, Cyara dan Martin berjalan ke belakang dimana disana ada kolam ikan, dan kini keduanya tengah memberi makan ikan-ikan itu.


"Mami pulang!" Teriak Cyara, dan kedua anak Cyara pun segera berlari menghampiri Cyara yang kini merentangkan kedua tangannya. Rey dan Rain dengan kompaknya langsung memeluk Cyara.


Rey segera melepas pelukannya begitu melihat ada seorang pria yang berdiri di belakang maminya.


"Oh ya sayang, kenalin ini om Martin," ucap Cyara memperkenalkan Martin kepada kedua anaknya, ayo salim dulu!" Ucap Cyara, tapi Rey justru menjauh tidak melaksanakan apa yang Cyara katakan.


"Sayang, ayo dong tidak boleh begitu sama Om Martin, tidak sopan tahu, Mami tidak mengajari Rey untuk bersikap tidak sopan kepada orang yang lebih tua ya, terlebih ini teman Mami, Om Martin adalah tamu, dan kedatangannya juga berniat baik yaitu menjenguk Rey," kata Cyara menasehati putranya yang justru menyilangkan tangannya di depan dada, saat dia memintanya untuk mencium punggung tangan Martin.


"Om itu, tamu Mami bukan tamu aku, lagian aku juga tidak minta dijenguk, kenapa sih Mami bawa Om itu, kenapa Mami tidak bawa Om Pir saja, lagian kan Om Pir mau jadi papi kita, iya kan Dek?" Ucap Rey yang meminta dukungan adiknya.


"Betul."


"Kalau bukan Om Pir yang datang kita tidak mau menemui siapapun."


"Betul."


"Lagian aku lihat-lihat Om ini datang kesini pasti karena ingin dekat-dekat dengan Mami, perlu aku katakan ya Om, Mami sebentar lagi akan menikah dan kita akan memiliki Papi.


Jadi Om, lebih baik pulang dan jangan datang-datang kesini lagi," ucap Rey.


"Rey tidak boleh seperti itu! Mami bilang tidak sopan! Siapa yang mengajari kamu berbicara seperti itu?" Bentak Cyara tanpa sengaja.


Mata Rey dan Rain sudah berkaca-kaca, "Mami jahat, Mami marahin Kak Rey, ini semua gara-gara Om!" Teriak Rain yang kini sudah menangis dan melempar makanan ikan ke arah Martin.


"Rain!" untuk kedua kalinya Cyara lepas kendali, perasaannya yang sedang tidak karuan di tambah anak-anaknya yang tumben sekali sulit diajak bicara baik-baik, membuatnya tidak bisa mengontrol emosinya.


"Cyara sudah, lebih baik aku pulang saja," ucap Martin merasa tidak enak karena kedatangannya justru membuat Ibu dan anak itu ribut.


"Apa seperti ini kamu biasanya berbicara dengan anak-anak kamu?" Kata seseorang yang baru saja datang membuat Cyara bahkan Martin serta anak-anak Cyara langsung menoleh dengan ekspresi wajah yang berbeda-beda.