
Vier menatap wajah Cyara saat ini, dengan posisi saling berhadapan tanpa sehelai benang pun hanya ditutupi selimut.
Sejak setengah jam yang lalu, Vier menggenggam tangan Cyara berada di tengah-tengah. Tidak ada yang berbicara, Vier menghela nafasnya, dia tahu jika sebenarnya Cyara sudah bangun, walaupun tampaknya wanita itu masih memejamkan matanya.
"Cyara!" Panggil Vier lirih memecah keheningan.
Tanpa diduga bulir bening kembali menetes dari sudut mata Cyara.
"Aku mohon Vier, biarkan aku istirahat, aku lelah sekali," ucap Cyara tanpa membuka kedua matanya.
Vier kemudian melepaskan tangannya dari tangan Cyara.
"Istirahatlah," ucap Vier kemudian bangun, membenarkan selimut menutupi tubuh Cyara dan berjalan menuju kamar mandi.
Cyara yang merasakan pergerakan Vier, membuka matanya, kosong, pria itu sudah tidak ada di tempatnya. Cyara menghapus sisa air mata yang kini sudah mengering.
Cyara memejamkan mata dan mungkin karena lelah, akhirnya Cyara pun benar-benar tertidur.
Vier keluar dari kamar mandi melihat Cyara yang masih dengan posisi yang sama sebelum dirinya meninggalkan wanita itu. Vier menatap punggung Cyara cukup lama, dan kemudian memutuskan berjalan menuju ke walk in closet mengganti pakaiannya di sana.
Vier menghela nafas panjang, kemudian berlalu keluar kamar, menuju ke kamar anak-anaknya. Dilihatnya Rey dan Rain masih tertidur, karena hari ini hari minggu, Vier memutuskan untuk membiarkannya, dia pun memutuskan untuk ke dapur membuatkan sarapan untuk mereka.
*
*
Cyara menggeliat, badannya terasa remuk, di angkatnya sedikit selimutnya, dan kejadian semalam ternyata bukan hanya mimpinya semata, tapi benar-benar nyata. Cyara menarik selimut dan melilitkan di badannya, dan berlalu ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Sesampainya disana, rupanya Vier sudah menyiapkan air hangat untuknya.
Cyara memilih merendam tubuhnya, memejamkan mata, kejadian semalam, kejadian saat itu, tiba-tiba muncul di benaknya. Cyara buru-buru menepisnya, tidak ingin mengingat kenangan itu.
Merasa tubuhnya yang sedikit relax, Cyara segera mengakhiri berendamnya. Cyara menyalakan shower dan mengguyur tubuhnya.
Setengah jam menghabiskan untuk membersihkan diri, kini Cyara keluar, menggunakan bathrobe nya. Dirinya terkejut melihat Vier yang duduk di atas ranjang, dengan pakaian yang rapi.
"Aku mau ke kantor dulu, anak-anak sedang menonton televisi, kamu nanti jangan lupa makan sarapanmu, aku sudah menyiapkannya di meja makan," ucap Vier yang kini tengah memasangkan jam tangannya.
"Hmm," jawab Cyara hanya dengan gumaman tidak menatap Vier sama sekali.
Vier berjalan mendekat, memegang kedua bahu Cyara agar menatapnya, tiba-tiba, Vier mencium kening Cyara cukup lama. Hingga membuat Cyara terdiam membeku.
"Ingat untuk memakan sarapanmu, tidak mungkin bukan sarapan lagi namanya, karena ini sudah hampir jam 11," kata Vier melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya.
"Iya, aku akan mengajak anak-anak jalan-jalan," jawab Cyara sekalian berpamitan.
"Baiklah, jangan nanti pulang aku jemput, aku hanya pergi sebentar, dan tunggu…" Vier kemudian mengambil dompetnya dan mengambil sesuatu di sana.
"Kamu bisa pakai kartu ini untuk membeli keperluan kalian," tambahnya memberikan sebuah kartu kepada Cyara. Lebih tepatnya memaksa Cyara untuk menerimanya, setelah mengatakan itu, Vier pun kemudian berlalu setelah mengecup bibir Cyara sekilas.
Cyara hanya menatap sendu kepergian Vier.
"Sebenarnya kau itu orang macam apa Vier, kenapa terkadang kau baik, kadang kau mengecewakanku, kadang kau menyakitiku," gumam Cyarax dan setelah Vier benar-benar menghilang dari pandangan barulah Cyara, berjalan menuju ke walk in closet untuk mengganti pakaiannya.
Dirinya ingin menepati janjinya pada anak-anak juga untuk sedikit menyegarkan pikirannya dengan berjalan-jalan bersama anak-anaknya.
Cyara menuruni anak tangga satu persatu dan di ruang keluarga, dia bisa melihat kedua anak-anaknya sedang asyik menonton. Cyara pun memilih duduk di sampingnya.
"Mami? Mami sudah bangun? Mami sudah sehat? Kata papi, mami tidak enak badan," Rey langsung mengalihkan pandangannya ke arah maminya.
Tangan kecil itu mencoba menggapai kening Cyara, Cyara yang tahu apa yang ingin putranya lakukan pun membungkukkan sedikit tubuhnya agar putranya bisa menyentuh keningnya.
"Sama," gumamnya.
Cyara mengangkat Rey dan mendudukan di pangkuannya. "Mami sudah sehat kok sayang, gimana kalau kita pergi jalan-jalan untuk mengganti yang semalam," ucap Cyara.
Mendengar kata jalan-jalan, Rain yang masih fokus pada layar televisi barulah menoleh dan berteriak senang.
"Ayo Mami," katanya mematikan televisi dan turun dari sofa.
"Ayo kakak dan adik ganti baju dulu ya," Cyara pun mengajak anak-anaknya ke kamar untuk mengganti baju mereka terlebih dahulu sebelum pergi.
"Siap Mami," jawab keduanya kompak.
Ketiga orang itu pun kembali naik ke atas tepatnya ke kamar Rey dan Rain.
"Cantik dan tampannya anak Mami," bangga Cyara menatap kedua anaknya.
"Iya dong, anak siapa dulu, Mami" ucap keduanya bersamaan.
Cyara tidak bisa menahan untuk tidak menciumi seluruh wajah mereka hingga mereka kegelian.
"Mami sudah Mami," teriak mereka.
Hingga Cyara pun menyudahi aksinya.
"Ya sudah, ayo kita berangkat sekarang, keburu siang nanti macet."
"Ayo!"
Cyara pun menggandeng anak-anaknya untuk turun kemudian keluar menuju mobilnya yang ternyata sudah di parkirkan di depan.
"Silahkan Nyonya!" Ucap seseorang membukakan pintu.
Melihat kebingungan Cyara, pria itu pun kembali berkata.
"Tuan Vier yang memberikan pada saya kunci mobil Anda, meminta saya untuk mengeluarkannya."
"Oke Terima kasih pak," ucap Cyara ramah.
Kemudian pandangan Cyara tertuju kepada Rey dan Rain, "Ayo sayang!" Ujar Cyara yang kini membantu anak-anaknya untuk masuk ke dalam mobil.
Setelah memasangkan seatbelt, Cyara pun segera melajukan mobilnya menuju ke pusat perbelanjaan terdekat, sudah lama rasanya dia tidak membelikan mainan untuk anak-anaknya.
Beruntung saat Cyara keluar, jalanan tidak begitu macet, hingga kini Cyara pun sudah sampai ke tempat tujuan, Cyara menggandeng kedua anaknya melangkah masuk dan berkeliling mencari kebutuhan untuk anak-anaknya lebih dulu, karena begitu memiliki anak yang terpenting bagi Cyara adalah anak-anaknya.
Membeli mainan dan beberapa pakaian untuk Rey dan Rain, kini Cyara di toko pakaian sedang memilih baju yang sekiranya cocok untuk suaminya. Begitu mendapatkannya, Cyara pun segera membayar ke kasir.
"Mam aku ingin bermain di sana!" Rey menunjuk ke area permainan, Cyara pun tersenyum dan mengangguk, mengantarkan kedua anaknya kesana.
"Hati-hati ya mainnya," pesan Cyara sebelum melepaskan anak-anaknya bermain.
Rey dan Rain mengangguk kemudian berlari dan langsung berbaur dengan anak-anak seusianya.
"Jangan lari-lari sayang," tegur Cyara dan memilih untuk mengawasinya.
Cyara mencari tempat duduk, dan pandangannya tertuju pada seorang anak yang berdiam diri dan tengah tersenyum dengan pandangan lurus ke depan, Cyara pun memutuskan untuk menghampirinya.