
"Kamu mau ketemu mereka sekarang? tapi aku bersama Martin, hmm kalau tidak besok saja bagaimana?" Tanya Cyara kepada Rayyan.
"Ya sudah, sebisanya kamu saja, kapan pun itu, aku bersedia yang penting aku bisa bertemu dengan mereka, asalkan jangan terlalu lama," jawab Rayyan, dan Cyara pun mengangguk mengerti.
"Baiklah besok aku akan menghubungimu, sekarang aku harus kembali ke kantor lagi," setelah mengatakan itu, Cyara pun segera pergi meninggalkan Rayyan.
"Tanpa kamu minta itu pun pasti aku akan melakukannya Ara, aku memang sudah berniat ingin melakukan itu sebelum kamu meminta." Gumam Rayyan melihat punggung wanita yang masih dicintainya menjauh.
"Aku tidak terlambat, aku tidak terlambat, aku pasti bisa mendapatkanmu kembali Ara," tambahnya kemudian memutuskan pergi dari tempat itu.
Sementara itu, Cyara berjalan tergesa-gesa menuju ke mobil Martin.
"Maaf, membuatmu menunggu lama," kata Cyara begitu masuk ke dalam mobil.
"Ah itu tidak apa-apa, kita bisa jalan sekarang nih?" Tanya Martin dan Cyara pun mengangguk. Mobil Martin membawa Cyara kembali ke kantor.
Cyara hanya diam di dalam mobil, meyakinkan bahwa keputusan yang diambilnya tidak salah.
"Kenapa?" Tanya Martin melihat Cyara diam saja.
"Hah? Oh tidak apa-apa."
Martin ingin bertanya tapi mengurungkannya. Tak lama mereka pun sampai. Cyara segera turun dari mobil, sementara Martin membawa mobilnya ke basement.
*
*
Vier menunduk dan tersenyum saat Rey ternyata tertidur di pangkuannya. Pantas saja dirinya sedari tadi berbicara anak itu tidak menanggapinya.
"Tidur?" Tanya Stevano yang juga memeluk Rain yang juga sudah memejamkan mata.
Sementara Aira sudah dijemput oleh Alno sepuluh menit yang lalu, dan Jasmine menemani untuk mengantarkan cucunya itu, sekalian melihat keadaan Vira.
"Iya Pa, Vier bawa Rey dulu ke kamar," ucapnya pelan dan Stevano hanya mengangguk.
Vier berdiri sambil mengangkat tubuh Rey, ya walau sedikit kesusahan, tapi akhirnya Vier bisa.
Stevano memandangi anaknya yang menaiki anak tangga, "Semoga kamu segera menemukan kebahagian kamu Nak," gumam Stevano kemudian menunduk dan mencium puncak kepala Rain berkali-kali.
"Terima kasih sayang, karena kalian, Opa jadi melihat senyum putra Opa lagi, senyum yang sama seperti dulu, sebelum hal itu terjadi.
Vier merebahkan tubuh Rey pelan-pelan, dipandangnya anak laki-laki itu dengan seksama, "Entah kenapa Om sudah sesayang ini sama kalian, Om ingin kalian jadi anak Om," kata Vier kemudian mencium kening Rey. Setelah itu dia kembali keluar kamar dan turun untuk mengambil Rain.
"Papa mau jemput Mama ya, kamu nanti malam menginap saja disini!" Ucap Stevano saat Vier akan mengambil alih Raina.
"Iya Pa, ya udah, Vier bawa Rain dulu ke kamar," ucapnya kemudian mengangkat tubuh Rain dan meninggalkan papanya.
Vier turunkan tubuh mungil Rain dengan hati-hati di samping kakaknya.
"Kamu mirip banget sama mami kamu sih sayang," ucap Vier kemudian mencium kening Rain, hingga kemudian dirinya ikut merebahkan dirinya di samping gadis kecil itu, dan tangannya memeluk tubuh keduanya, benar-benar nyaman, Vier tidak bisa menjelaskan apa yang dirasakannya saat ini. Perlahan Vier pun ikut memejamkan mata bersama keduanya, tidur siang Vier untuk pertama kalinya setelah waktu panjang yang dia lalui.
*
*
"Bibi!" Cyara mendekat menghampiri Jasmine dan mencium punggung tangan wanita itu, dan keduanya saling cium pipi kanan dan kiri.
Stevano turun berjalan ke arah mereka. Cyara yang melihatnya langsung mencium punggung tangan pria itu.
"Hmm Paman, Bibi, benar Rey dan Rain ada disini?"
"Iya mereka ada disini, tadi Bibinya bilang mau pergi pulang ke kampung halaman, ya sudah sekalian aja Bibi ajak kesini, kasihan mereka berdua yang masih kecil, jika di rumah tanpa orang dewasa. Oh ya Ayo masuk! Tadi sih kata Paman mereka tidur," beritahu Jasmine dan menggandeng dan mengajak Cyara masuk.
"Maaf ya Bibi, aku jadi merepotkan Paman dan Bibi," kata Cyara merasa tidak enak kepada pasangan suami istri itu.
"Merepotkan apanya? Kami sama sekali tidak merasa direpotkan kok sayang, yang ada kami malah senang, rumah kami jadi ramai lagi, semenjak Kakak Vier dan adiknya menikah dan memutuskan untuk tinggal terpisah rumah jadi sepi, apalagi Vier punya rumah sendiri dan jarang banget pulang ke rumah ini.
"Adik Vier sudah menikah?" Tanya Cyara yang langsung merutuki dirinya sendiri, karena menanyakan hal itu yang terkesan jika Cyara begitu ingin tahu akan kehidupan pribadi bosnya dan lagi dia mengatakan bosnya dengan nama saja, Cyara rasanya ingin segera menghilang dari hadapan Jasmine.
Jasmine tersenyum, "Iya, kedua adiknya sudah menikah, oh iya ayo Cya duduk dulu, hmm boleh kan Bibi panggil kamu Cya saja?"
"Hhmmm boleh kok Bi," Cyara kemudian duduk di tempat yang dipersilahkan Jasmine.
"Ya sudah, Bibi lihat Rey sama Rain dulu ya, mereka sudah bangun belum," Jasmine pun hendak meninggalkan Cyara tapi sebuah suara mengurungkan niatnya.
"Sayang, sini!" Teriak Stevano.
"Hmm Cyara, bagaimana kalau kamu saja yang lihat mereka? Mereka ada di kamar Vier, kamu naik saja ke atas dan kamar pertama, itu kamar Vier, Bibi mau bantu Paman dulu soalnya, tidak apa-apakan?"
Cyara tampak menimbang-nimbang ucapan Jasmine, tapi mendengar suara Stevano yang kembali Jasmine, membuat Cyara akhirnya mengangguk.
"Baiklah Bi, Hmm aku permisi ya," pamit Cyara sopan.
"Iya sayang, tidak apa-apa, Bibi tinggal dulu," kata Jasmine berlalu.
Cyara pun menuruti apa kata Jasmine, menaiki anak tangga untuk menuju kamar bos sombongnya.
Cyara berdiri di depan pintu, ragu untuk membukanya, tapi hari sudah sore, dirinya harus segera mengajak anak-anaknya pulang, Cyara akhirnya tidak punya pilihan lain, dia pun membuka pintu itu, dengan sangat pelan.
Gelap itulah kesan pertama saat Cyara masuk ke dalam kamar Vier, hmm lebih tepatnya hanya ada satu cahaya dari lampu tidur yang sepertinya sengaja dinyalakan.
Dengan perlahan Cyara mendekat ke arah tempat tidur.
Dilihatnya Vier sedang tertidur memeluk kedua anaknya. Tanpa sadar Cyara tersenyum, merasa tersentuh dengan pemandangan yang ada di depannya. Pemandangan yang begitu indah menurutnya, tapi Cyara segera menggelengkan kepalanya, menepis pemikiran yang tiba-tiba terlintas di benaknya.
Cyara spontan mundur saat melihat Vier menggeliat dan kini tidur pria itu sudah dalam posisi miring menghadap ke arah dirinya berdiri.
"Kalian tidurnya nyenyak banget sih sayang," gumam Cyara kemudian berbalik badan, tidak tega untuk membangunkan mereka.
Tapi tiba-tiba Vier menarik tubuh Cyara hingga berakhir di pelukannya, membuat Cyara terpekik kaget, dan dengan segera menutup mulutnya agar tidak berteriak dan teriakannya bisa saja membangunkan putra-putrinya.