
Cyara masih menatap Vier, dia dengan jelas Vier seperti mengatakan sesuatu dan dia tidak percaya begitu saja, pada ucapan Vier yang bilang jika dia tidak mengatakan apa-apa.
"Kenapa dia menggendongmu?"
"Kakiku terkilir," jawab Cyara sambil menunjukkan kakinya.
Vier menghela nafas, karena dia bisa melihat kaki Cyara memang terluka. Vier kemudian berjongkok.
"Tahan, ini sedikit sakit!"
Ucapnya bersamaan dengan Cyara yang berteriak kesakitan.
"Bagaimana? Sudah lebih baik kan?" Tanya Vier mendongak menatap istrinya.
Cyara hanya mengangguk mengiyakan karena memang seperti itulah yang dia rasakan sekarang.
Vier kemudian kembali duduk di samping Cyara dan menatap lekat mata istrinya itu.
"Tapi kenapa harus menggendongmu? dia bisa memapahmu, tidak, dia juga tidak seharusnya memapahmu, karena semua itu pasti bisa membuat dia menyentuhmu. Atau kalau tidak dia bisa menggunakan kursi roda, atau kamu bisa memanggilku, biar aku yang menggendongmu, bukan malah dia, apalagi kamu tadi tersenyum padanya, sudah seperti adegan film yang ditonton sama Vira saja," ucap Vier panjang lebar bertanya dan menjawab ucapannya sendiri.
"Sok romantis," lanjutnya kemudian lalu berjalan menjauh untuk menelpon.
Cyara hanya mengernyit dan kemudian mengedikan bahunya acuh, mendengar perkataan suaminya yang tidak jelas.
Selesai menelpon, Vier pun kembali menghampiri Cyara dan kembali duduk di sampingnya, "Lalu untuk apa dia memelukmu?"
"Memeluk?" Cyara mengernyit mendengar pertanyaan Vier.
"Dia tidak memelukku, dia tadi hanya menolongku, kan aku tadi bilang kakiku terkilir dan dia yang menolongku, harusnya kau berterima kasih padanya," kesal Cyara karena Vier menuduhnya seperti itu.
"Aku harus berterima kasih pada pria lain yang menyentuh, memeluk bahkan menggendong istriku? Hahaha," tiba-tiba saja Vier tertawa sumbang mendengar apa yang baru saja istrinya katakan.
Cyara mengernyit, merasa heran dengan suaminya yang tiba-tiba tertawa, "Mungkinkah dia tadi kesambet?" Gumamnya pelan sedikit mundur dari duduknya takut jika suaminya itu beneran kesambet.
"Jangan harap," ucap Vier lalu bangun dari duduknya berjalan ke arah jendela yang langsung menghadap pantai.
Vier masih saja mengatakan kata-kata tidak jelas, dan Cyara hanya mengedikan bahu acuh.
"Kenapa diam?" Tanya Vier menoleh ke arah istrinya, karena Cyara hanya diam saja tidak menanggapi semua ucapannya tadi.
"Ya tidak apa-apa, aku kira kamu belum selesai bicara," Cyara mencoba berdiri kakinya sudah merasa enakan setelah tadi Vier mengurutnya.
"Lagian kamu kenapa sih sepertinya kesal sekali sama Arga, dia kan tidak ada salah apa-apa denganmu?" Ucap Cyara yang kini sudah berdiri di samping Vier.
"Tidak salah? Menyentuhmu seujung rambut saja itu adalah kesalahan terbesarnya."
"Hah? Maksudnya?"
"Intinya aku tidak suka kamu dekat dengannya," Vier menghadap Cyara dan memegang kedua bahu wanitanya itu.
"Tapi Vier…"
"Aku tidak mau tahu."
"Aku tidak bisa untuk tidak dekat dengannya Vier, dan lagi aku sudah janji, suatu saat akan bertemu dengan orang tuanya," jawab Cyara.
Vier menatap nanar istrinya, kedua tangan yang ada di bahu Cyara pun meluruh setelah mendengar ucapan wanita itu.
"Apa maksudmu Cya?"
"Hmm itu…"
Tok
Tok
Suara ketukan pintu terdengar.
"Aku buka pintu dulu," ucap Cyara hendak berjalan ke arah pintu, tapi belum juga melangkah, wanita itu terkejut saat tiba-tiba tubuhnya melayang.
"Vier!" Pekiknya kaget.
Vier mendudukan Cyara di sofa.
"Biar aku saja yang buka," ucap Vier kemudian berlalu.
Vier dengan pikiran kacau berjalan ke arah pintu dan baru saja membukanya, Vier hendak kembali menutup pintu itu ketika tahu siapa yang datang ke kamarnya.
"Tunggu, aku tahu Nia ada disini kan?"
"Nia?" Vier mengernyit mendengar nama itu, dan dia baru ingat jika Cyara menggunakan nama belakangnya disini.
"Tidak," ketus Vier hendak kembali menutup pintu, tapi pria itu segera menahannya.
Bahkan pria itu sudah membawa petugas dan hendak menyeret keluar dari kamarnya.
Cyara yang mendengar suara keributan memutuskan untuk segera keluar. Dan dia terkejut saat suaminya dan dua orang, tidak tapi tiga orang sedang ribut.
"Hentikan!" Teriak Cyara yang langsung membuat keempat orang itu menghentikan aksinya yang sedang adu kekuatan.
"Arga apa yang kamu lakukan? Dan kalian…" Cyara hanya menggelengkan kepala melihat tingkah mereka yang seperti anak kecil saja.
"Nia kamu tidak apa-apa?" Tanya Arga pada Cyara, kemudian Arga menatap tajam ke arah Vier.
"Benar kan Nia ada disini? Anda mau mengelaknya lagi?"
"Pak seret dia keluar sekarang juga!" Pinta Arga kemudian kepada kedua petugas yang tadi dia ajak.
"Mari Tuan! Atau kami akan bersikap kasar?"
Ucap salah satu orang suruhan Arga.
"Hentikan Pak!" Ucap Cyara lagi.
"Tapi Nia…"
"Aku bisa jelaskan semuanya, sekarang kamu minta kedua petugas ini untuk pergi dulu," ucap Cyara memotong ucapan Arga cepat.
"Nia!"
"Arga!"
Vier menatap keduanya bergantian, sungguh dia tidak suka dengan situasi seperti ini.
Arga menghela nafas panjang, kemudian memberi isyarat kepada kedua orang suruhannya untuk pergi.
"Sudah? Sekarang ayo ikut aku! Kamu jelaskan semuanya," kata Arga meraih tangan Cyara tapi di tahan oleh Vier.
"Siapa yang memberikan Anda izin membawa Cyara pergi dari sini?" Kata Vier melepaskan tangan Arga dari tangan Cyara. Kemudian menyembunyikan Cyara di belakangnya, takut jika tiba-tiba Arga membawa wanitanya.
"Izin? Memangnya Anda siapa? Apa saya perlu meminta izin pada Anda untuk membawanya, saya yang lebih berhak atas dirinya, bukan Anda, dan tadi apa? Cyara? Dia bukan Cyara," ucap Arga berusaha menyingkirkan tubuh Vier dari hadapannya, tapi sayangnya pria itu lebih kuat darinya.
"Jangan harap kau bisa membawanya!" Ucap Vier dan Arga pun tidak mau kalah, membuat Cyara merasa pusing.
"Stop! Apa yang sebenarnya kalian lakukan ha? Dan Arga cukup, jangan seperti itu!"
"Kau membelanya?" Tanya Arga kecewa, padahal dia berusaha sekuat tenaga untuk membantu sepupunya itu, tapi Nia justru seperti membela Vier.
"Bukan seperti itu, aku bisa jelaskan tapi bisakah kalian tenang dulu? Aku pusing melihatnya," ucap Cyara memegang kepalanya yang memang tiba-tiba merasa pusing.
"Cya kamu tidak apa-apa?"
"Nia kamu tidak apa-apa?"
Vier dan Arga bersamaan menghampiri Cyara, berada di sebelah kanan dan kiri wanita itu.
"Aku mau duduk!" Kata Cyara.
Kedua pria itu pun dengan sigap memapah tubuh Cyara dan membawanya ke sofa, membiarkan wanita itu untuk duduk.
"Kau!"
"Kau!"
Arga dan Vier saling menatap tajam begitu menyadari apa yang mereka saling lakukan.
"Please jangan ribut!" Cyara memijit pangkal hidungnya yang terasa berdenyut.
Kedua masih saling tatap.
"Dia yang mulai!" Kata mereka bersamaan lagi dengan saling tunjuk satu sama lain.
"Duduklah! Ada yang ingin aku katakan pada kalian!" Ucap Cyara menarik-narik lengan kemeja kedua orang itu.
"Vier! Arga!"
Teriak Cyara karena keduanya tidak mau mendengarkannya.
"Ya sudah terserah kalian," kata Cyara yang segera bangkit, malas menanggapi keduanya yang justru membuatnya semakin pusing.
"Kami duduk!" Vier dan Arga berucap bersamaan lagi.
Cyara menoleh ke kiri dan kanannya, kini keduanya sudah duduk dengan tenang sambil mendongak menatapnya yang sudah hendak pergi.