
Cyara menghela nafas panjang, "Aku akan ikut kamu pulang Vier," ucapnya lagi karena Vier hanya diam saja sambil terus menatapnya.
Vier tersenyum, tiba-tiba dia mendorong kursi yang diduduki, berjalan cepat ke arah Cyara dan langsung memeluk wanita itu.
"Kamu beneran akan pulang?"
"Iya."
"Sungguh kamu akan ikut denganku?"
"Iya Vier."
"Kita akan pulang bersama?"
Cyara hanya mengangguk, entah berapa kali dia harus menjawab Vier agar pria itu percaya bahwa dirinya sudah mengambil keputusan untuk kembali bersama pria itu. Dia sangat merindukan anak-anaknya, dan dia tidak boleh egois, karena bagaimanapun anak-anaknya masih sangat membutuhkannya.
"Makasih Cya, makasih sayang," ucap Vier yang membuat pipi Cyara merona. Karena sebelumnya Vier tidak pernah memanggilnya sayang. Atau mungkin pernah, entahlah Cyara lupa, mungkin karena pria itu jarang mengucapkannya.
"Baiklah aku akan siapkan semuanya sekarang untuk kepulangan kita, aku akan menghubungi anak-anak, jika kamu juga akan ikut pulang, mereka pasti sangat senang," ujar Vier yang dengan segera mengambil ponselnya.
"Jangan Vier!" Larang Cyara.
Vier menatap Cyara tidak mengerti.
"Aku akan pulang, tapi setelah aku mendapat pengganti dan serah terima pekerjaan dulu, kedua jangan dulu menghubungi Rey dan Rain, aku ingin memberi kejutan untuk mereka," ucap Cyara.
"Oh, kamu ingin memberi kejutan? Baiklah, aku setuju, sekarang lebih baik kita makan, nanti kita berangkat bersama. Aku juga harus ke resort, hari ini."
"Tidak usah, aku bisa berangkat sendiri," jawab Cyara yang kini hanya diam menikmati makanannya.
Vier memperhatikan ekspresi wajah Cyara saat ini, wanitanya itu tak marah, tapi seperti ada sesuatu yang membuat Vier entah kenapa tidak bisa merasa lega, Cyara enggan menatapnya lama-lama, sering mengalihkan pandangan jika dia menatap Cyara, kini Vier dapatkan jawabannya setelah mendengar pertanyaan yang Cyara lontarkan kemudian.
"Sebenarnya apa tujuanmu kesini Vier? Hanya untuk pekerjaan atau sungguh untuk menemuiku?" tanya Cyara akhirnya, dia tidak bisa terus menahan apa yang hatinya ingin tahu sejak awal dia melihat Vier ada di tempat ini.
Vier meletakkan sendok dan garpunya, kemudian meraih tangan Cyara dan menggenggamnya di atas meja. Vier menatap dalam ke manik mata Cyara, Cyara kembali akan mengalihkan wajahnya tapi satu Vier menarik dagu Cyara agar wanita itu juga menatapnya.
Sebenarnya Cyara bukan enggan untuk menatap Vier, dia hanya tidak ingin rasa yang dipendamnya selama ini langsung membuncah ketika menatap pria itu, Cyara merindukannya, mencintainya tapi dia juga kecewa dan terluka, bukan mengingat dia menyesal karena menikah dengan Vier, tapi mengingat betapa besarnya perasaan cinta yang Vier miliki untuk adiknya.
"Cyara dengarkan aku baik-baik, kamu salah jika aku kesini karena pekerjaan dengan bos mu itu, kita bertemu saat itu bukan hanya kebetulan semata, aku kesini, karena memang aku ingin menemuimu, karena aku tahu kamu disini, jadi aku datang untuk menjemputmu."
Cyara tertegun mendengar penjelasan Vier.
Waktu itu klien ku datang, kamu ingat dengan Damian, aku sudah membatalkan kerja sama dengannya, tapi aku langsung menyetujuinya kembali saat aku tahu lokasinya disini, makanya aku bisa datang ke resort, tapi tujuanku memang ingin bertemu denganmu dan membawamu pulang, agar kita kembali berkumpul, Cya.
"Karena aku tidak ingin terlibat dengan Sheira lagi, aku tidak tahu kenapa Damian waktu itu mempercayakan semuanya pada Sheira untuk menjalankan proyek bersamaku, wanita itu datang ke kantor tiba-tiba, dia bahkan…"
"Menciummu?" Cyara langsung memotong ucapan Vier.
"Cya kamu…"
"Ya aku tahu, bahkan aku melihatnya."
Cyara langsung melepaskan genggaman tangan Vier, lalu bangkit dari duduknya, hingga kursi yang didudukinya otomatis terdorong ke belakang. Cyara mengepalkan tangannya mengingat saat itu, ditambah dia tahu jika ternyata kakaknya mengirim Sheira pada Vier, apa maksudnya itu? Cyara benar-benar tidak mengerti.
"Cya itu semua tidak seperti yang kamu pikirkan, saat itu aku juga sama terkejutnya," jelas Vier.
"Cyara aku mohon percayalah!"
Cyara kemudian berbalik dan melangkah pergi tanpa mengatakan apa-apa.
Vier hanya bisa menghela nafasnya.
Sabar Vier dan jangan pernah menyerah, ini semua berawal dari kesalahanmu, jadi kau yang harus berjuang untuk mendapatkan kembali, kau harus berjuang untuk mendapatkan maaf darinya. Walaupun mungkin Cyara nantinya akan memaafkanmu tapi ingatlah Vier jika luka itu pasti akan tetap ada. Paku yang sudah ditancapkan di dinding, walaupun kamu berusaha untuk mencabutnya, bekasnya pasti akan berlubang, seperti itulah hati Cyara saat ini Vier.
Vier terus saja berucap seperti itu pada dirinya sendiri, mengingatkan bahwa apa yang Vier lakukan sebelumnya sangat melukai hati Cyara, mungkin mudah mendapatkan maaf tapi tidak dengan luka yang Cyara rasakan yang akan tetap membekas di hatinya dan wanita itu bisa saja mengingat hal itu seumur hidupnya.
***
Sebuah mobil, sedari tadi berada di seberang sebuah sekolah taman kanak-kanak. Seorang wanita tanpa sadar tersenyum saat melihat kedua anak yang dikenalnya keluar dari gerbang. Wanita itu terus memperhatikan kedua anak itu, entah kenapa hal itu justru membuat air matanya mengalir deras.
Seorang pria yang duduk di depannya memberikan tisu pada wanita itu.
"Apa Anda yakin tidak mau keluar untuk menemui mereka Nyonya? Sudah seminggu ini, Anda terus memperhatikan mereka dari kejauhan seperti ini," ucap pria itu dan sang wanita pun hanya menggeleng.
"Saya tidak bisa melakukannya," ucap sang wanita kemudian melihat kedua anak itu masuk ke dalam mobil yang setiap hari menjemputnya, ya, wanita itu sampai hafal, karena sudah dari seminggu yang lalu terus memperhatikan mereka.
Pria pun hanya menghela nafasnya, ego dan gengsi, itulah yang pria itu pikirkan tentang nyonyanya, Nyonya itu selalu melihat dari kejauhan tapi sama sekali tidak berniat menghampiri atau mengajak mereka mengobrol, padahal pria itu yakin, jika kedua anak itu pasti akan senang jika hal itu terjadi.
"Mereka sudah pergi Nyonya, apa Anda ingin saya mengikutinya?" Tanya sang sopir sambil melihat wajah Nyonya dari kaca di atasnya.
"Tidak perlu, kita kembali saja," ucap wanita itu akhirnya setelah sejak tadi hanya diam sambil melihat mobil yang tadi diperhatikannya melaju meninggalkan area sekolahan.
"Baik Nyonya," ucap sang sopir dan segera ikut melajukan kendaraannya.
Wanita itu menghela nafas lega setelah menemui mereka, walaupun hanya bisa menatapnya dari kejauhan, tapi hal itu bisa sedikit mengobati rasa rindu sekaligus rasa bersalahnya.