
Cyara dengan perlahan menarik tengkuk Vier, kemudian menempelkan bibirnya di bibir Vier, tak lama Cyara pun melepaskan tautan bibir mereka, tapi Cyara terkejut saat tiba-tiba Vier justru kembali menarik dirinya dan memperdalam ciuman mereka.
Vier bahkan kini tidak membiarkan Cyara untuk menarik nafas. Dia melu*mat bibir Cyara, sementara tangannya bermain di area perut Cyara yang sudah sangat sensitif terhadap sentuhan pria itu.
Cyara refleks mengikuti apa yang suaminya lakukan. Dia mengangkat kedua tangannya agar bajunya bisa lolos melewati kepala dan akhirnya terlepas.
Vier melepaskan kancing kemejanya satu persatu, dan sebelum benar-benar melepaskan kemejanya, dia mencium Cyara kembali dan memberi gigitan kecil. Vier kini menunduk memberi ciuman di area sensitif istrinya.
Cyara melenguh panjang, dan kedua tangannya bahkan meremas sprei di sisi kanan dan kirinya.
Vier memiringkan kepalanya dan kembali melu*mat bibir Cyara.
Cyara mengalungkan kedua tangannya di leher Vier. Memberikan akses pada suaminya untuk mengeksplor tubuhnya yang polos. Menikmati gelenyar hangat yang seakan mengaduk-aduk perutnya.
...
Vier mencium kening Cyara lama, wanita itu kini tengah tertidur lelap. Setelah permainan panas mereka, Cyara bilang sangat mengantuk, dan Vier membiarkan Cyara tidur lebih dulu. Mereka kini tertidur dengan saling berhadapan. Membuat Vier bisa menatap wajah istrinya yang tampak tenang dengan suara nafasnya yang kini terdengar teratur. Vier mengusap bibir Cyara dengan ibu jarinya secara perlahan. Vier menarik nafas panjang dan membuangnya perlahan. Kemudian tangan Vier meraih selimut dan ditariknya untuk menutupi tubuh polos mereka sampai bahu. Kemudian tangannya terangkat memeluk Cyara, hingga tak lama, dia pun ikut memejamkan mata.
*
*
"Vier kita mau kemana?"
"Masuklah!" Vier menyuruh Cyara untuk masuk ke mobilnya, tanpa menjawab pertanyaan wanita itu.
Cyara memasang seatbelt sambil menunggu Vier menjawab pertanyaannya, tapi sampai mobil melaju, Vier belum juga memberikan jawaban, hingga Cyara pun kembali bertanya.
"Vier kita mau kemana? Apa kita akan menjemput anak-anak?"
Vier masih saja terdiam, dirinya menghela nafas, melirik kaca spion dan membelokkan mobilnya ke kanan, Cyara tidak tahu kemana pria itu kini akan membawanya, karena itu bukan jalan menuju ke rumah Bibi Lily, ataupun ke rumah mama mertuanya.
"Vier! Apa begitu susah menjawab pertanyaanku? Hingga dari tadi kau hanya diam saja?" Ucap Cyara yang kini mulai kesal.
Vier melirik Cyara sekilas, kemudian kembali fokus pada jalanan di depannya.
"Kau akan tahu nanti, yang jelas kita tidak menjemput anak-anak sekarang, Bibi Lily mengajak anak-anak jalan-jalan," jawab Vier yang sebelumnya memang mendapatkan telepon dari Lily yang meminta izin padanya untuk membawa anak-anak jalan, Lily menghubungi Vier, karena wanita itu tidak punya nomor ponsel Cyara.
Cyara lalu memilih diam dan menatap keluar jendela, Vier memang memberinya jawaban, tapi jawaban Vier tidak sepenuhnya menjawab pertanyaan Cyara.
Kurang lebih 30 menit, mereka habiskan perjalanan hanya dengan diam, yang terdengar hanya musik yang Vier nyalakan.
Cyara menatap jalanan yang dipenuhi pepohonan tinggi dan lebat di sepanjang jalan. Semakin masuk ke jalanan itu, semakin Cyara tidak melihat adanya kehidupan, bagaimana tidak, jika Cyara sama sekali tidak melihat mobil selain mobil mereka, suasana juga sepi, jauh dari keramaian.
Kini mobil Vier berhenti di sebuah rumah yang begitu besar, tidak ini tidak seperti rumah, tapi lebih mirip seperti kastil. Vier turun lebih dulu, kemudian memutari mobil membukakan pintu untuk Cyara.
Wanita itu turun dan terperangah melihat apa yang ada di depannya.
"Ayo!" Kata Vier membuyarkan lamunan Cyara.
Vier kemudian merangkul pinggang Cyara dan mengajak wanita itu untuk masuk ke dalam.
Beberapa pelayan berjajar menyambut kedatangan Tuan dan Nyonya, menunduk memberi hormat. Cyara hanya menatap mereka satu persatu, dirinya sudah seperti ratu yang baru saja memasuki istana.
"Ini rumah siapa?" Tanya Cyara menatap Vier.
"Vier jika mau bertamu kesini, kenapa tidak bilang, kau lihatlah penampilanku!" Kata Cyara yang memakai pakaian casual.
"Sudah ayo masuk saja, tidak ada yang akan memprotes penampilanmu," ucap Vier yang kini mengajak Cyara masuk.
Vier dan Cyara berjalan melewati orang-orang.
"Tidak Bi, aku hanya ingin berkeliling, Bibi bisa kembali bekerja," ucap Vier pada pelayan yang kemudian meninggalkan Vier.
"Apa ini salah satu rumah milik keluargamu?" Tanya Cyara berbisik pada Vier.
"Hmm, dulu Mama dan Papa tinggal disini, sebelum kami lahir."
"Kenapa Papa dan Mama tidak tinggal disini lagi? Disini begitu tenang, jauh dari keramaian."
"Kamu suka?"
"Hmmm, langkah Cyara kemudian terhenti begitu melihat taman bunga di sana. Cyara berjalan mendekat menuju ke sana dan Vier hanya bisa mengikuti di belakangnya.
"Wow ini indah sekali!" Ucap Cyara penuh kagum.
Vier hanya tersenyum melihat istrinya yang tampak senang, saat dia membawanya kesana.
Mereka berjalan menyusuri taman, sesekali Cyara berhenti dan menghirup dalam-dalam aroma bunga-bunga yang bermekaran.
"Ular!" Teriak Vier.
"Mana ular? Mana?" Cyara langsung panik saat Vier bilang ada ular, dirinya dengan cepat berbalik dan melompat ke tubuh Vier. Tapi Vier justru kehilangan keseimbangannya, membuat keduanya berakhir terjatuh di tumpukan tanah dengan posisi Cyara menindih Vier.
"Akh!" Teriak keduanya.
Cyara terkejut dan langsung menatap Vier khawatir.
"Maaf, Vier kau tidak apa-apa?" Tanya Cyara.
Vier memejamkan matanya lalu mengernyit.
Melihat itu, Cyara langsung bangkit tapi kembali terjatuh saat Vier menarik pergelangan tangannya.
"Vier!" Pekik Cyara. Cyara kemudian buru-buru menutup mulutnya takut jika pelayan datang menghampiri mereka.
"Apa yang kau lakukan?" Tanyanya yang kini dengan suara dibuat sepelan mungkin.
Vier mengedipkan mata lalu berkata, "Jangan teriak-teriak nanti ada yang dengar!"
Setelah mengatakan itu, Cyara dibuat terkejut lagi, saat tiba-tiba Vier membalik posisi mereka hingga kini berakhir Cyara berada di bawah Vier.
"Vier apa yang kau lakukan?" Teriak Cyara tanpa sadar.
"Kau ini berisik sekali," kata Vier, tapi kemudian pria itu kini menatap Cyara dan tersenyum menyeringai.
"Sepertinya aku punya cara ampuh agar kau tidak teriak-teriak lagi," ucap pria itu yang kini langsung membungkam bibir Cyara dengan bibirnya.
Cyara tampak shock dengan aksi Vier tiba-tiba itu, tapi selanjutnya Cyara kini ikut hanyut dalam ciuman itu, Cyara membalas ciuman Vier dengan kedua tangan yang sudah melingkar di leher pria itu.
Ciuman itu berlangsung cukup lama, nafas keduanya terdengar memburu saat tautan bibir mereka terlepas.
"Vierrr…"
Cyara terdengar mende*sah saat suaminya menciumi dan menjilati lehernya.
"Vier!"
Cyara segera mendorong da*da Vier, berharap pria itu tersadar dimana mereka saat ini berada.