Love Revenge

Love Revenge
Bab 40



Plak


Tiba-tiba sebuah tamparan mendarat mulus di pipi Sheira.


"Apa yang tadi kau katakan ha? Ternyata kau adalah seorang wanita yang tidak malu, jelas-jelas sudah menikah dan kau mengatakan bahwa kau mencintai pria lain? Bagaimana perasaan suamimu jika mengetahui hal ini?" Ucap seorang wanita dengan perut buncitnya penuh amarah.


"Vira!" Vier segera menahan tangan adiknya yang akan kembali memberikan tamparan kepada Sheira. Ya wanita yang tiba-tiba datang dan menampar Sheira adalah Vira.


Vira yang tadi berada di taman belakang, bersama anak-anak, suami dan papanya, tanpa sengaja melihat Sheira, kemudian Vier berjalan di belakangnya, dan perasaan Vira semakin tidak enak saat melihat tidak jauh dari posisi Vier tampak Cyara menyusul pria itu, Vira akhirnya memutuskan untuk menghampiri mereka, Vira takut jika kali ini pernikahan Vier akan gagal hanya karena seorang Sheira yang sudah sangat menyakiti perasaan kembarannya. Vira tidak ingin Vier akan kembali gagal menjalin hubungan untuk kedua kalinya, kalau tidak Vira tidak tahu akan jadi apa Vier setelah ini, setelah dia melihat perubahan Vier setelah dikhianati Sheira.


Dan benar saja, di dapur Vira melihat Sheira menahan tangan Vier dan tidak jauh dari sana tepatnya di balik dinding, Cyara mendengar itu semua, Vira yang tidak tahan mendengar perkataan Sheira akhirnya menghampiri keduanya dan menampar mantan kekasih saudara kembarnya itu.


"Kenapa? Kau masih mencintainya? Sampai kau harus melindungi dia?" Kata Vira menunjuk Sheira dengan tangannya yang bebas.


"Kalian seperti ini bukankah menyakiti hati Kak Cya, kalian…"


"Ada apa?" Alno mendekat, saat mendengar suara ribut-ribut.


"Sayang!"


"Vier apa yang kau lakukan?" Alno dengan segera menghempas tangan Vier yang menahan pergelangan tangan istrinya begitu kuat kemudian menarik Vira masuk ke dalam pelukannya.


Vier menatap  Alno dan Vira beralih menatap Sheira kemudian segera berlalu.


"Vier kau mau kemana?" Tanya Stevano yang berpapasan dengan putranya di ruang tamu, tapi bukannya menjawab Vier justru pergi begitu saja menuju mobilnya dan kemudian meninggalkan rumah Cyara.


*


*


"Jadi ini alasan kamu menikahiku? Karena Sheira? Kenapa? Kenapa harus selalu Sheira? Kenapa? Tidak bisakah aku bahagia tanpa harus ada kata Sheira?" Isak Cyara dengan tubuh yang sudah meluruh ke lantai.


"Apa hubungannya semua ini denganku? Apa hanya aku yang harus terus merasakan luka? Tidak, kau boleh tidak boleh egois Cyara, ini semua demi Rey dan Rain, kamu tidak lihat tadi senyum mereka? Mereka bahagia Cyara, apa kau tega menghancurkan kebahagian anak-anakmu? Tidak, pasti kau tidak tega," ucap Cyara dalam hatinya.


"Tapi Cyara, dia tidak mencintaimu, apa kau tetap mau menikah dengannya? Apa kau mau menghabiskan sisa umur hidupmu dengan pria yang bahkan di hatinya sama sekali tidak ada namamu?"


"Apa kau perlu peduli pada hal itu jika dengan itu semua anak-anakmu bisa selalu tersenyum."


"Cukup! Hentikan!" Teriak Cyara menutup kedua telinganya saat dia seperti mendengar sisi lain dari dirinya yang terus berperang memperdebatkan tentang pernikahannya.


"Cukup! Aku mohon hentikan!" Cyara menutup wajahnya di kedua lipatan lututnya.


Cyara segera menghapus air matanya, kemudian berdiri dan membuka pintu.


"Iya Ma," kata Cyara dengan suara yang serak.


Jasmine langsung membawa Cyara ke dalam pelukannya, dia sudah mendengar dari Vira tadi setelah Sheira dan ibunya berpamitan pulang.


"Menangislah sayang! Menangis bukan berarti kamu lemah, tapi kamu juga manusia yang sewaktu-waktu bisa lelah, Mama tidak akan melarangmu menahan rasa sesak di dalam hatimu," ucap Jasmine mengelus rambut Cyara.


Dan benar saja, baru beberapa detik saja Jasmine mengakhiri ucapannya, isak tangis kini kembali terdengar dari Cyara.


"Kenapa Ma? Kenapa?" Rasanya Cyara tidak sanggup mengutarakan apa yang dirasakannya, dadanya terasa begitu sesak, sesak hingga rasanya Cyara sulit untuk bernafas, entah kenapa sakit yang dirasakannya jauh lebih sakit dari sakit yang selama ini dirasakannya.


"Sayang, maafkan Vier, maafkan putra Mama, Mama tidak tahu jika Vier sampai seperti itu, kamu tahu awalnya Mama dan Papa sangat bahagia, saat Vier membawa kamu ke rumah, selama ini Vier tidak pernah dekat dengan wanita lain setelah putus dari Sheira. Dan saat itu Mama dan Papa berharap jika kamu benar-benar menjadi menantu kami, dan saat Vier bilang akan menikahi kamu, Mama rasanya hampir menangis, menangis karena begitu bahagia, karena akhirnya apa yang Mama dan Papa harapkan benar-benar terwujud, sungguh Mama tidak tahu jika Vier ada niat lain menikahimu, sekarang keputusan ada ditangan Cya, apa Cya mau melanjutkan pernikahan ini atau mengakhirinya? Baik Mama atau Papa, tidak akan melarang dan akan mendukung apapun yang Cya putuskan.


Cyara semakin memeluk Jasmine erat, pelukan yang tidak pernah dia dapatkan dari Mamanya, dan saat Cyara bahagia mendapatkan sosok wanita yang sudah seperti ibu kandung, tapi kenapa semua harus diambil secepat itu.


"Kamu pikirkan baik-baik ya sayang, oh ya Mama serta semuanya pamit dulu ya," kata Jasmine melonggarkan pelukannya.


"Cya antar Ma," kata Cyara dan Jasmine pun mengangguk mengiyakan.


"Kak kami pulang dulu ya," ucap Vira mewakili semuanya, Vira kemudian memeluk Cyara, Kakak tidak sendiri masih ada kita, katakan saja jika Vier menyakiti Kakak," ucap Vira.


Cyara tersenyum begitu pelukan terlepas, "Kamu tidak perlu khawatir, Kakak bisa mengatasi semuanya," katanya kemudian.


Vira mengangguk, "Aku percaya, dan Kakak juga harus percaya, kita akan selalu mendukung Kakak," tambahnya kemudian berlalu, Alno hanya mengangguk dengan membawa Aira dalam gendongannya.


"Kami pulang dulu ya Kak," kata Zeline, Vian yang memang tidak tahu apa yang  terjadi, di susul dengan suami dan istri mereka.


"Bibi pulang ya, kasihan Paman dan anak-anak Bibi menunggu di rumah," pamit Liora yang memang datang ke tempat Cyara tanpa anak dan suaminya.


"Terima kasih Bi," ucap Cyara dan Liora mengangguk kemudian tersenyum.


Stevano menatap Cyara, "Papa percaya pada apa yang akan kamu lakukan, jika kamu sudah memutuskan, maka kamu jangan pernah meragukan keputusan yang sudah kamu ambil yang Papa yakini itulah keinginan hatimu," Stevano mengelus puncak kepala Cyara.


"Papa pamit, tadi anak-anak sudah tidur dan Papa bawa ke kamar mereka," tambahnya lagi membuat Cyara merasa lega, karena kali ini, dia tidak sendirian menghadapi semua kejadian yang menimpanya tiada henti.


"Mama pulang dulu, pikirkan apa yang tadi mama katakan, dan tidak perlu khawatir, karena semuanya pasti akan baik-baik saja, dan kita semua yang ada disini akan selalu mendukungmu," ucap Jasmine yang  kemudian berlalu untuk segera menyusul suaminya yang lebih dulu masuk ke dalam mobil.