LOVE ME PLEASE, MY NEIGHBOUR !

LOVE ME PLEASE, MY NEIGHBOUR !
S2_Bab 68



" awas kamu ya dek, kakak akan memberi mu pelajaran !" ucap myra tajam di telinga fahmi ketika ia berada di samping fahmi.


Keringat dingin sudah mulai megalir di belakang punggung fahmi, ia sedikit menoleh ke arah sang kakak yang sedang tersenyum menyeringai yang justru membuat fahmi bergidik ketakutan.


" buk .. Bukan kah tadi kakak udah maafin Ami, ' cicit fahmi memelas. Bibir myra berkedut, sejak kapan myra memberikan pengampunan kepada orang yang salah kepada nya ?


" enak aja, jangan harap kamu lepas " ancam myra lagi.


" ampun kak, " ucap fahmi ketakutan.


" kakak mau kamu ngerjain tugas kakak di kantor selama sebulan, " tandas myra yang langsung membuat kaki fahmi lemas.


Bagi fahmi, lebih baik ia melawan penjahat sekalian daripada harus berkutat di balik meja dan menatap layar komputer.


" tapi kan ami kuliah, " ujar fahmi mencari kesempatan untuk hengkang dari hukuman nya.


" jangan pikir kakak nggak tahu ya, sekarang kan sedang libur semester !! " telak myra.


" kak, jangan ngurusin perusahaan dong hukuman nya " ucap fahmi mengiba.


" nggak, nggak ada tawar menawar lagi. Ini hukuman yang cocok buat kamu. Lagian nanti nya juga kakak akan memberikan wewenang kepada mu buat jalanin perusahan cabang. Tinggal kamu mau pilih yang mana, " ucap myra degan santai. Fahmi hanya bisa terkulai lemas dengan keputusan mutlak sang kakak. Padahal ia anya ingin berada di samping myra sebagai pelindung kakak nya ini.


" udah nggak usah cemberut, nggak bakal ngaruh ke kakak, " kekeh myra yang melihat bibir fahmi maju lima centi.


" haaaah.. Ya sudah lah~ " desah fahmi terpaksa.


" jadi, bagaimana ? Kamu puas menguji ken ?" tanya myra dnegan bersidekap dada. Fahmi mengalihkan pandangan nya menuju myra. Ia sama sekali tidak menyangka myra akan menanyakan hal ini. Fahmi menunduk, semakin merasa bersalah kepada ken. Hanya karena keisengan konyol ya ia malah membuat ken kembali kambuh.


" maaf, kak " lirih fahmi. Myra tersenyum dan mengacak rambut adik remaja nya ini.


Myra sedikit bernostalgia saat melihat pertumbuhan fahmi yang semakin tinggi di mata nya ini. Dulu, saat ia menemukan fahmi, bocah ini bahkan belum setinggi diri nya. Buluk dan kulit nya terlihat dekil.


Tak terasa fahmi tumbuh menjadi remaja menjelang dewasa. Menjadi sosok yang bisa melindungi nya. Myra diam - diam menyusut air mata nya yang berlinang.


" kakak kenapa nangis ? Fahmi janji nggak akan iseng lagi ke bang ken, " tanya fahmi dengan panik melihat myra meneteskan air mata.


" eh, bukan. Bukan karena itu. Kakak hanya teringat saat pertama kali ketemu kamu aja, nggak terasa udah hampir 7 tahun semenjak kita pertama ketemu. Kamu semakin tinggi dan .. Ganteng " goda myra membuat fahmi merona malu - malu kucing.


" sekarang fahmi percaya nggak kalo bang ken sudah berubah ?" tanya myra. Mata ya nampak mengawasi dokter will yang sedang memeriksa ken dengan teliti.


Fahmi juga mengarahkan pandangan nya ke arah ken dan dokter will berada.


" fahmi ... Ehm, harus mengakui jika bang ken sudah jauh berubah .. " lirih fahmi. Suka tidak suka, terima tidak terima nyata nya pilihan sang kakak memang tetap ken, jadi fahmi hanya perlu memastikan jika kakak nya ini bahagia.


" lalu, bagaimana dengan kak mike ? Kasihan juga ya dia " cibir fahmi. Ia hanya tidak menyangka jika ada yang mengejar kakak nya sampai nekat menyusul ke sini meskipun alasan nya menghadiri pesta resepsi abang nya. Fahmi memang tidak meragukan pesona seorang myra. Tetapi ia tidak menyangka ada yang senekat michael.


Myra nampak menghembuskan nafas nya kasar. Ia juga merasa bingung. Bagaimana ia harus menghadapi michael nanti nya. Pasti mereka akan terasa canggung setelah kejadian ini. Tapi, hati memang tidak bisa di paksa bukan ?


" lalu, menurutmu kakak harus bagaimana ?" tanya myra balik.


" ehm,, bagaimana jika kakak ambil dua - dua nya aja " ucap fahmi sambil menaik turunkan alis nya. Mencoba mengisengi myra lagi.


Dan benar saja, myra langsung menoleh ke arah fahmi dan mengarahkan tinju nya ke arah fahmi yang langsung di tangkap oleh fahami sambil tertawa.


" lalu, ken akan menjadi semakin gila ? Heh, bocah ini. Kamu nggak lihat ? Kakak yang hanya diam saja ken sudah cemburu, apalagi jika kakak beneran main api ? Bisa - bisa kakak di demo mommy dan daddy nya ken" sengit myra. Fahmi masih saja tertawa.


" iya iya, fahmi kan cuma becanda " ucap fahmi mengakhiri keisengan nya.


" dasar boc ... "


" nona " sebelum myra dan fahmi kembali bergelut lagi, nampak dokter will sudah selesai dengan pemeriksaan nya terhadap ken.


" oh sudah selesai. Bagaimana dok?" tanya myra sambil melepaskan cekalan tangan nya pada fahmi.


" sejauh ini kondisi tuan muda sudah mulai stabil, nona " jawab dokter will sambil tersenyum hangat.


" tapi dia masih lemas, dok. Apa tidak apa - apa ?" tanya mya sedikit panik.


" ini karena tuan muda sempat meluapkan emosi nya. Rasa ketakutan nya tadi seperti nyata bagi nya. Sebaiknya nona muda segera menjadwalkan tuan ken untuk bertemu dokter ricard saja agar lebih tepat penangan nya. Jika dari saya pribadi, tuan muda hanya perlu menjaga emosi nya dan menjaga pola makan nya, " lapor dokter will.


Myra mengangguk - angguk paham, ia melirik ke arah fahmi dan fahmi langsung paham kode dari myra itu. Fahmi langsung beranjak menuju sudut ruangan dan mulai mengeluarkan ponsel nya untuk mengatur janji dengan dokter ricard yang di maksud oleh dokter will tadi.


" hmm, baik terima kasih dokter will," ucap myra dengan senyum tulus.


" sudah menjadi kewajiban saya, nona muda. " jawab dokter will sambil menatap myra dengan lekat. Mata nya sedikit berembun.


" saya sangat bahagia melihat nona muda sembuh seperti sedia kala, entah apa yang akan saya ucapkan kepada mendiang tuan dan nyonya jika saja saat itu nona tidak ... '


Myra memegang bahu dokter will dan tersenyum hangat. Dokter will meneteskan air mata terharu nya. Nona muda yang sedari kecil ia tahu perkembangan nya sudah se besar dan se dewasa ini. Saat mendengar dan melihat myra yang terbaring dnegan segala alat bantu 5 taun silam, will serasa lemas tak bertulang. Ia langsung menghubungi rekan nya yang berada di negara S untuk segera merawat myra secara langsung dan menitipkan perawatan myra kepada rekan kepercayaan nya itu karena will memiliki tanggung jawab untuk memantau rumah sakit KONDOU di negara I ini.


" dokter will, saya sudah sehat dan sembuh. Dokter jangan khawatir lagi, " myra tersenyum lembut kepada dokter kepercayaan mendiang mami dan papi nya ini.


Kedua nya mengobrol hingga fahmi sudah kembali lagi setelah mendapatkan jam janji temu dnegan dokter ricard. Dokter will akhir nya pamit dan di antar oleh fahmi.


" myraa .. "