
Bryan POV
" kak, kira - kira, myra ada di mana ya ?" tiba - tiba ken menanyakan hal yang langsung membuatku membeku.
Selalu saja pertanyaan mengenai myra akan menjadikanku berdebar.
Bukan bukan bukan, bukan karena aku menyimpan rasa lebih dari sekedar adik.
Tapi karena ... Ehm sebenarnya selama 6 tahun myra seringkali menghubungi nya meski hanya sekedar menanyakan kabarku atau menanyakan kabar mommy dan daddy.
Tidak pernah sekalipun myra menanyakan kabar tentang ken, entah kenapa aku juga tidak berani bercerita mengenai ken.
Bagi ku saat ini, myra masih menghubungi dan masih peduli dengan kami sudah cukup. Meskipun aku hanya bisa menunggu ia yang menghubungiku terlebih dahulu.
Dan aneh nya ketika aku mencoba untuk melacak nomor nya, seakan ada dinding yang menahan untuk di akses lebih jauh.
Seakan - akan ada yang melindungi nomor pribadi myra.
BRYAN POV END
" kak, kira - kira, myra ada di mana ya ?" tanya ken.
Bryan nampak gelagapan saat ken menanyakan hal itu. Tapi hanya sesaat, karena bryan berhasil menguasai pikiran nya dan segera menetralkan ekspresi nya.
" kenapa ? Lo masih saja memikirkan myra ?" tanya bryan. Ken mendongakkan wajahnya yang semula memang sedang menunduk. Ia menatap tajam bryan yang masih menyisakan gurat kegugupan di mata nya.
" kenapa ? Jangan bilang abang tahu keberadaan myra ?" serang ken. Bryan mencelos. Tapi ia sangat hebat dalam menyembunyikan ekspresinya.
" atau jangan - jangan abang suka sama my ... "
PLAK
Dengan gemas bryan menepak punggung tangan ken. Kadang - kadang ia menanyakan kemana perinya kejeniusan otak ken itu.
" sembarangan kalau ngomong ! Mau di kemana kan vania hah ?!" jawab bryan dengan sengit. Ken hanya tergelak.
Memang benar jika bryan tengah menjalin hubungan yang serius dengan sekertaris nya. Gadis yatim piatu yang menerima beasiswa murid pintar di kampusnya dulu dan sudah menjadi sekertaris nya sejak 6 tahun yang lalu di kota B.
" ha ha ha, aku hanya bercanda bang, ken tahu kalau abang bucin parah sama kakak ipar, "kata ken sambil terus tertawa.
Bryan hanya mendengus kesal. Tapi sebenar nya dalam hati ia sangat bersyukur melihat ken yang tertawa meskipun masih terselip tawa getir di sana.
" abang juga nggak tah di mana myra,ken. Dia menutup semua akses nya. Bahkan sebulan setelah dia pergi, pria yang selalu bersama nya itu ikut - ikutan menghilang, " jawab bryan mengembalikan topik tentang pertanyaan ken.
' gery juga ikut menghilang ? Bukan nya ia memiliki hubungan dengan rose ? Dan bukan nya rose juga merupakan sahabat myra selain melvin?'
' apa mereka ada hubungan ? Tapi tidak mungkin. Rose dan gery tidak pernah terlihat cekcok. Bahkan sosial media rose masih berhubungan dengan gery,' batin ken lagi.
" memang sempat tertangkap oleh mata anak buah ku jika pria itu pulang setahun 3 - 4 kali, tetapi saat mereka mengikuti nya, pria itu pasti langsung menghilang tanpa jejak" jelas bryan lagi.
Ken sama sekali tidak berhubungan dengan rose ataupun bertanya kepada melvin. Setelah elama sebulan selalu di acuhkan oleh gery perihal pertanyaan nya tentang myra, ken lebih memilih untuk pindah sekolah di kota B dan tinggal bersama dengan bryan.
Ken juga mengambil kelas akselerasi. Menyelesaikan pendidikan menengah nya dengan cepat dan masuk ke kampus yang sama dengan bryan untuk mengambil program S1 nya. Sedangkan program S2 nya ken memilih untuk kembali ke ibukota karena sang mommy yang terus merengek kangen kepada ken dan bryan.
Bersamaan dengan bryan yang sudah menyelesaikan S2 nya, frans langsung menarik bryan untuk membantu nya di perusahaan dengan catatan bryan akan membantu ken di masa depan dengan menjadi asisten pribadi ken.
Jadi nya ken sama sekali tidak mengetahui perihal pergi nya gery dan kehidupan para sahabat myra setelah kejadian itu.
" apa menurutmu gery tahu kemana pergi nya myra bang ?" tanya ken tepat sasaran.
Bryan sebenarnya juga sudah menyimpulkan hal ini sejak lama. Tapi ia tidak bisa menanyakan na kepada myra. Sekali lagi bryan merasa tidak berani untuk bertanya lebih jauh mengenai keberadaan myra. Takut jika nanti malah myra menjauhi nya.
Apalagi melihat viona yang tidak se ceria dahulu. Memang bibirnya nampak menyunggingkan senyuman, tetapi bryan tahu di hat wanita pauh baya itu juga menyimpan kesedihan karena kepergian myra yang sudah di anggap anak nya sendiri.
Rumah myra pun sekarang di huni oleh pria kecil yang Bryan tahu jika ia pernah menemani myra saat akan berangkat dulu. Keberadaan pria kecil itu juga tidak cukup membantu karena fahmi memang memilih menutup rapat bibir nya. Ia pulang ke rumah myra hanya sekedar untuk beristirahat. Karena sepulang sekolah ia pasti akan di sibukkan dengan segala latihan dan kegiatan belajar IT.
" ada kemungkinan juga jika gery mengetahui keberadaan myra. Tapi masalah nya keberadaan pria tersebut juga sangat sulit di lacak, " sesal bryan.
" haaaahhh " kdua ny lantas menghela nafas kasar saat menemui jalan yang buntu.
Terlalu sulit bagi bryan untuk melacak myra bahkan dengan menggunakan flashdisk pemberian myra. Padahal bryan bisa menemukan apapun, tetapi entah kenapa jika info mengenai myra seakan - akan memiliki lapisan keamanan yang berbeda hingga sulit untuk di tembus.
" bang, rasa nya begitu sulit untukku menemui myra lagi " curhat ken. Bryan mengernyit heran sambil menatap ken. Tidak biasanya bocah ini dengan sukarela curhat kepada nya.
" ken sejujurnya dari sejak lama aku ingin menanyakan sesuatu kepada mu, "
" apakah kamu benar - benar menyesal ? Apakah kamu benar - benar mencintai myra ? Atau kah semua ini hanya karena rasa bersalah mu saja ?"
💨💨💨
Myra sudah sampai di sebuah cafe yang jaraknya berada di pertengahan antara kantor cabang dengan kantor milik michael.
myra nampak memasuki ruangan yang sudah hampir penuh karena memasuki waktu makan siang karyawan.
Ia melihat michael yang melambaikan tangan nya mengisyaratkan di mana ia berada. Myra segera mendekat.
" hi mike, sudah lama ?" tanya myra begitu ia sampai di depan meja yang sudah di pesan oleh pria tampan itu.
" ya, baru 5 menit. Duduklah myr, " jawab mike dengan senyuman yang tidak pernah luntur di bibirnya.
" oke, mari kita segera memesan. Jam 2 nanti aku masih ada rapat, " kata myra tanpa basa basi.
Michael tidak mempermasalahkan itu karena ia sangat tahu tabiat myra yang lebih suka blak - blak an.
Mereka memesan makanan yang tidak lama kemudian langsung datang. Myra dan michael nampak menikmati makan siang itu dengan nikmat.
" myra, bagaimana dengan pernyataan ku kala itu? Apa jawaban mu ?"