
Penthouse apartemen kondou.
Sebuah kamar utama.
Terlihat gulungan manusia menggunakan selimut masih nampak terlelap nyaman.
ia adalah myra yang masih nyaman dengan tidur pulas nya.
Sementara banyak orang yang sedang membicarakan nya dan mencari nya, ia malah masih berselancar dalam alam mimpi nya.
Saat ini jam dinding sudah menampilkan pukul 13.00, selesai sarapan tadi, myra memang meminta gery untuk mengantar nya ke penthouse.
Ia memang sengaja memilih tinggal di penthouse dan bukan di rumah komplek nya.
Alasan nya ? Alasan nya adalah ken, tentu saja.
Myra hanya belum siap untuk bertemu dengan mommy dan daddy ken, meskipun ia memang secara rutin dua hari atau tiga hari sekali mengirimkan pesan kepada orang yang ia anggap sebagai orang tua semenjak kematian kedua orang tua nya itu.
Myr juga sering menghubungi bryan hanya sekedar tukar kabar.
Hanya ken, hanya ken yang selama ini tidak berani ia kirimi pesan meski ia tetap menyuruh fahmi untuk mengawasi keamanan ken.
" hooooa... Ups allahu akbar, " reflek myra saat sedang menguap yang terkadang kebablasan.
" sudah jam berapa ini ?" gumam nya dengan enggan. Mata nya nampak masih sesekali mengerjab dan nampak masih mengumpulkan nyawa nya yang masih berceceran di atas sana.
" sudah jam 1 aja, duuhh enak banget deh bobo ku, " myra nampak menggeliatkan badan nya a.ka ngulet.
Myra segera beranjak menuju kamar mandi nya. Berniat untuk mandi membersihkan diri karena sedari sampai tadi ia memang tidak langsung mandi karena sudah sangat mengantuk.
Myra segera menyelesaikan agenda mandi nya. Ia sedang berhalangan jadi tidak menjalankan kewajiban nya saat ini.
Myra berencana untuk mengunjungi keluarga melvin. Tentu ia sangat kangen dengan ibu melvin dan ayah nya. Tentu saja karena ada makud lain nya juga🤠apa lagi jika bukan tentang makanan buatan ibu melvin.
' apa turun ke unit gery sama fahmi dulu ya ? Rose kan juga seang di sana, ' pikir myra.
Tanpa berpikir lain lagi, myra segera menyelesaikan poles - poles wajah nya dan beranjak keluar menuju ke lantai bawah yang merupakan unit keluarga lawson.
Di dalam unit frederick.
Saat ini tengah berkumpul. Frederick yang sudah pulang dari kantor kondou Inc berada di sana. Belum lagi kedua anak laki - laki dan di tambah calon menantu nya juga sedang berkumpul di rumah nya.
' hanya kurang nona uda nih, ' batin frederick tersenyum melihat adu mulut antara fahmi dan gery yang sudah lama tidak ia lihat.
TING NONG TING NONG
Terdengar suara bel apartemen yang di bunyikan dari luar. Membuat semua atensi beralih ke arah pintu apartemen.
Frederick dengan sigap segera beranjak untuk membuka pintu sebelum melihat siapa yang datang melalui interkom comelit.
' waaah sungguh panjang umur sekali nona muda ini, ' senyum terukir di wajah nya yang sudah nampak menua itu.
CEKLEK.
" assalamualaikum, paman fred" senyum myra lah yang pertama kali frederick lihat. Ia tidak bisa tidak terharu melihat nona muda nya yang nampak sudah sangat dewasa itu.
Frederick memang tidak bisa menunggui myra sampai selesai pemulihan nya dahulu. Karena frederick yang mengawasi KONDOU Inc kala itu. Hingga akhir nya ia harus mempercayakan nona muda nya kepada sang putra pertama nya, gery lawson.
" haloo paman, ih pama mah malah nangis, nggak seneng apa liat myra pulang ?" cemberut myra mencoba memecah suasana haru yang sudah tercipta.
Myra melangkah masuk dan memeluk tubuh tua yang sudah membantu nya mengelola perusahaan peninggalan papi dan mami nya ini.
Pria paruh baya ini lah yang membantu nya sedari awal hingga kini ia bisa mengelola semua sendiri.
" terima kasih, paman sudah mau di samping myra, mau sabar menghadapi tingkah kekanakan myra, "
" terima kasih sudah mau menjadi pengganti papi untuk menjaga myra. Paman dan kak gery adalah keluarga myra, " ucap myra penuh haru. Sekuat tenaga ia menahan lelehan air mata yang kini kian ingin membludak.
Bahkan lelaki paruh baya di hadapan nya ini sudah terdengar terisak. Tentu myra merasa sangat terharu.
" no .. Nona muda tidak perlu berterima kasih. Ini semua sudah menjadi tanggung jawab saya. " jawab frederick dengan serak.
Myra melepas pelukan kasih sayang nya. Dan mulai tersenyum ke arah frederick dengan hangat.
" mari masuk nona, mereka semua tengah berkumpul di ruang tengah. Biasa si bajin**n kecil sedang merusuh dengan kakak nya, " ajak frederick engan terkekeh.
Myra juga ikut tertawa pelan. Tentu ia sangat paham siapa yang frederick maksud sebagai bajin**n kecil itu.
" waaahh kalian seru - seru an tanpa mengajak ku ya ! " teriak myra begitu ia melihat sosok gery fahmi dan rose di ruang keluarga.
" kakak "
" myra "
Ketiga nya sontak terpekik bersama saat melihat myra berkacak pinggang. Memasang wajah yang pura - pura sedang marah.
Tak lama kemudian, myra merangsek maju meraih tubuh fahmi yang sekarang lebih berisi dan tentu saja lebih tinggi dari nya lalu menggelitiki ya.
" ha ha ha, awsshh sudah kak, sudah .. Duhh ha ha ha " tawa fahmi yang sudah nampak pasrah mendapat gelitikan dari myra.
Belum lagi kini gery dan rose yang ikut - ikut an menyerang nya. Tambah lemas sudah ia. Rontaan nya bahkan sudah melemah karena kebanyakan tertawa.
Frederick tersenyum lembut melihat pemandangan indah ini. Di sudut meja dekat tv sana terlihat dua bingkai figura foto, ada foto nya bersama sang istri yang kala itu tengah menggendong sosok gery berusia 1 tahun, dan di samping nya ada figura yang berisi gambar tuan dan nyonya besar nya yang nampak sedang mengandung myra.
" sayang, anak kita sekarang sudah akan menjadi seorang suami. Kita akan mendapatkan seorang menantu yang amat sangat cantik pemberian dari nona kecil kita, hiduplah tenang di atas sana. Tunggu aku di sisi Allah, " gumam frederick meneteskan air mata nya saat melihat foto mendiang istri nya yang sedang tersenyum ke arah kamera.
" tuan, nyonya besar. Meskipun saya sempat teledor karena tidak bisa menjaga nona muda kala itu, sekarang saya akan lebih berusaha untuk menjaga nya lagi. Terima kasih sudah memberikan saya kepercayaan untuk menjadi orang tua pengganti bagi pelita tuan dan nyonya besar. Kalian bisa mempercayakan nona muda kepada saya dan gery,"
" terima kasih atas segala kebaikan tuan dan nyonya besar untuk saya, istri dan anak saya. Semoga kalian tenang di atas sana, " gumam nya lagi sambil mengusap jejak air mata nya.
Kembali ia menatap ke arah anak - anak muda yang nampak sudak terengah - engah karena kecapekan itu.
Frederick segera mengambil ponsel nya dan memotret moment tersebut.
" semoga kalian tetap bahagia, terutama untuk mu, nona muda. " doa frederick dalam hati.
💨💨💨