
Terdengar notif pesan dari ponsel ken sebelum ken menyelesaikan ucapan nya. Mata nya menyipit saat tahu siapa yang mengirim. FAHMI ! Tumben sekali bocah ini. Dengan rasa penasaran, ken membuka pesan dari fahmi.
...📱BOCIL AMI...
..." SEBAIK NYA LO BERSIAP, SAINGAN LO BAKAL DATANG "...
alis ken mengernyit saat membaca pesan yang di kirim oleh fahmi. Siapa ? Saingan nya ? Siapa ?. Ken nampak bertanya - tanya kebingungan.
Bryan yang semula jengah melihat ken yang bucin, kini juga nampak penasaran karena perubahan wajah ken. Ia pun memutuskan untuk mendekat ke arah ken.
" ada apa ? Kenapa dengan wajah mu ?" tanya bryan sambil melirik ponsel ken. Karena bryan tahu, wajah ken berubah setelah melihat pesan di ponsel nya.
Ken hanya menggeleng bingung sambil menyerahkan ponsel nya kepada bryan, meminta bryan untuk membaca pesan dari fahmi.
" saingan ? Siapa saingan lo ? " tanya bryan yang juga mengernyitkan kening nya, ikut merasa bingung/.
" entah, tapi bocah ini jarang sekali mengirim pesan, jika bertemu ia kami juga masih canggung. Hmmm sebenar nya apa maksud nya ya, tanya ken.
" apa jangan - jangan, ad pria yang mengejar myra saat di negara S ?" bryan berteriak keras saat memikirkan kemungkinan yang mungkin saa terjadi.
Mata ken membola, kenapa ia tidak berpikir seperti itu ?
Ken tahu jika myra pergi ke negara S tanpa menggunakan samaran seperti saat berada di negara ini, meski pun saat itu myra terluka, bukan kah hanya selama stu bulan, setelah itu myra sembuh total dan menjalani kehidupan sekolah seperti gadis cantik biasa nya.
Hati ken berdebar sakit saat membayangkan kemungkinan jika myra di sana memiliki sejumlah penggemar. Dan jika apa yang di katakan fahmi benar, bukan kah saingan yang di maksud akan datang ke negara ini ?
Hei bung, kenapa lo baru takut sekarang ? Jika di pikir - pikir lagi, bukan kah ini yang dahulu myra rasakan ? Bahkan saat itu dengan jelas lo mengabaikan nya ? Nah, sekarang rasakan !.
" pasti saingan lo datang buat hadirin pesta gery dan rose. Besar kemungkinan mereka adalah teman saat kuliah atau saat di SMA " tambah Bryan menambah beban pikiran kan lagi.
Tanpa mendengar ucapan bryan lagi, dengan tergesa ken menyambar ponsel nya dari tangan bryan dan memutar nomor Fahmi.
TUT TUT TUT.
" assalamualaikum, ada apa ?"
" waalaikum salam apa maksud pesan mu tadi, bocah?"
" ck, gue bukan bocah, "
" lalu ? Apa maksud nya ? Siapa yang lo maksud sebagai saingan ku ?"
" masih bertanya ? Gue pikir lo pasti sudah mengira siapa, kan ? Jangan pikir lo hebat, bang. Kakak gue juga memiliki pengejar di negara S. Jangan karena lo adalah cinta pertama nya lalu lo bisa seenak nya dengan kakak gue, ingat bang, pria itu akan kesini, jai siapkan saja diri mu. Jangan sampai pria itu MEMBAWA KAKAKKU, "
" saat ini mungkin pria itu sudah tiba, kakak ku memang hanya menganggap nya sebagai teman, bahkan dia sudah menyiapkan akomodasi untuk pria itu tinggal di negara ini,"
TUT TUT TUT
" ck siaaallllllll" teriak ken yang merasa marah dengan apa yang di ucapkan oleh fahmi.
Bukan marah secara langsung kepada fahmi, tetapi marah karena apa yang di ucapkan fahmi adalah kebenaran.
Dengan tangan gemetar ia meraih ponsel nya yang sempat di campakkan ke meja kerja nya. Membuat bryan sempat terkejut tapi tidak berani untuk langsung bertanya kepada ken.
Bryan tidak bodoh untuk langsung bertanya kepada macan yang sedang terbangun. Dengan samar - samar tadi, ia bisa mendengar apa yang fahmi ucapkan.
Memang benar kata fahmi, ken sangat berbangga diri karena myra mau memaafkan dengan mudah. Tanpa mau tahu seberapa banyak saingan di luar sana.
📞: " assalamualaikum, ken. Ada apa ? Bukan kah kita baru saja bertelepon ? Sudah kangen ?"
Ken mendengar suara myra yang lembut saat menyapa nya. Hari nya sedikit menghangat. Gadis ini sama sekali tidak pernah berbicara dengan kasar. Baik dulu hingga sekarang Sekalipun ken sudah menyakiti nya. Bahkan saat ini myra nampak tengah menggoda nya. Myra sedang terkekeh saat mengucapkan kalimat terakhir nya.
Tanpa sadar ken meringis dan memegang dada nya yang terasa ngilu saat mengingat kelakuan nya dahulu dan tanggapan myra.
📞: " walaikum salam, myr...."
Ada keheningan di ujung sana, seperti nya myra sedikit tertegun dengan reaksi ken yang tidak seperti biasa. Tidak seperti ken yang akan langsung bermanja kepada nya.
📞: " ken, ada ap ... "
" pesawat dari ...... Akan segera .... "
Ken tertegun, myra nampak nya sedang berada di .... BANDARA ?!! jantung ken berdebar kencang. Jadi benar ? Saingan cinta nya akan datang ? Dan saat ini myra sedang menjemput nya ?
📞: " sa .. Sayang, kamu sedang ada di mana ?"
📞: " oh, halo ken ? Aku sedang di bandara. Mau jemput teman ku dan gery saat di kampus, "
Benar .... Myra memang sedang di bandara. Ken senang karena myra mau jujur, tetapi ? Tetapi myra nya sedang menjemput seseorang ? Teman ? Teman laki - laki kan?
📞: " ken.. Halo , hei ken? Kamu masih di sana ?"
ken kembali tersadar dan nampak gelagapan. Bryan yang berada di samping nya hanya menggelengkan kepala. Dalam diam, bryan segera memesankan sebuah penerbangan untuk ken di jam saat ini juga.
Well, bryan sangat paham dengan tabiat adik kesayangan nya ini. Jadi, dari pada ia nanti nya kebingungan, lebih baik ia melakukan inisiatif dini, kan? Benar - benar kakak idaman.
📞: " aku akan pulang saat ini juga, "
📞: " hah ? Kenapa memang nya ? Bukan nya kamu pulang sore nanti ?"
TUT TUT TUT
Ken menarik nafas nya perlahan untuk meredakan rasa sesak di hati nya. Ken perlahan memejamkan mata nya yang sudah nampak memerah.
Hati nya sakit nyut nyut an. Penuh sesak dengan rasa cemburu. Apa ini yang myra rasakan dahulu. bahkan myra saat ini sudah mengucapkan jika yang di jemput adalah seorang 'teman' bagaimana perasaan myra kala ia mengakui lusi sebagai kekasih nya dulu sementara status mereka adalah bertunangan?.
Bagaimana myra bisa menahan gejolak cemburu nya sat ia dengan terang - terangan bersikap perhatian kepada lusi ? Sungguh ken tidak bisa membayangkan hal tersebut.
Hanya dengan mendengar saingan cinta nya akan datang ken sudah kalang kabut seperti ini. Sungguh ken sangat menyesal dengan perlakuan nya dahulu.
" bang, aku mau pulang saat ini, nggak apa kan ?"