
Masih dirumah sakit xxxxxxx,
Pusat kota.
Zoya secara perlahan menggerakkan jemari-jemarinya untuk beberapa waktu dimana dia merasa sesuatu yang berat menggenggam erat telapak tangan nya.
Entahlah apakah dia berhalusinasi atau bermimpi, yang jelas sebuah ketakutan kembali menghantam dirinya atas ingatan yang terjadi padanya di mana dia akan diperkosa oleh seorang laki-laki yang jelas dia tahu siapa sosok tersebut.
Seolah-olah genggaman di tangan nya saat ini merupakan genggaman atau cengkraman tangan laki-laki yang ingin memperkosanya itu, Zoya terlihat berusaha berjuang untuk menggapai satu titik yang ada di hadapannya seakan-akan dia tenggelam pada ruangan gelap di mana tangan seseorang terus memaksa untuk mencengkram kaki dan tangannya. Zoya merasakan kembali jambakan dan hantaman dikepala dan tubuhnya ditambah tamparan yang terus di lanyangkan di wajahnya terus bergantian menghantam dirinya.
Dia benar-benar ketakutan, bibirnya bergetar dan dia berusaha untuk terus menggerak-gerakkan jemarinya seakan-akan dia mencoba untuk lari dari tempatnya saat ini.
Didalam perjuangan panjang nya, gadis tersebut merasa beberapa bagian tubuhnya begitu nyeri dan juga sakit, bahkan dia merasa seolah-olah ada beberapa bagian dari tubuhnya yang terasa bengkak dan juga sangat tidak nyaman. Dia memaksakan diri untuk membuka bola mata secara perlahan tapi dia sama sekali tidak sanggup melakukan nya, dan di beberapa detik kemudian dia menjerit keras ketakutan diiringi tangisan nya yang pecah.
"Zoya... sayang...Zoya....."
"Mom." Dia berteriak melengking sambil membukakan bola matanya secara refleks.
"Semua baik-baik saja sayang, semua baik-baik saja." Ashley bicara, memeluk gadis tersebut dengan erat.
Raut wajah perempuan tersebut jelas diliputi kecemasan saat dia melihat keadaan Zoya yang seperti itu, semalam dia tidak bisa bergerak dengan cepat karena dia tidak mungkin pergi dari kediamannya dan meninggalkan Khan, mau tidak mau dia terpaksa menghubungi Ford dan meminta laki-laki tersebut mencari keberadaan Zoya.
"Laki-laki_itu_ingin_memperkosa_ku, kak." Dia bicara terbata-bata, sesegukan dalam tangisan nya, persis seorang anak mengadu pada ibunya.
Tempat berlindung Zoya satu-satunya belakangan ini Ashley, karena itu dia bisa mengadu atau mengeluh pada gadis tersebut. Sedikit banyak Ashley lah yang mengeluarkan dirinya dari segala kesulitan dalam beberapa bulan belakangan ini. Ashley seperti sosok kakak dan ibu untuk nya.
Ashley melepas kan pelukan nya, dia menyentuh lembut wajah Zoya, membiarkan kedua telapak tangannya mengelus lembut pipi gadis cantik yang ada di hadapannya tersebut. Bisa dia lihat bola mata gadis itu terlihat memerah, bahkan wajah lebamnya terlihat jelas di bagian pipi kiri dan kanan nya, juga ada sobekan di balik bibirnya dan hal tersebut jelas saja membuat Ashley ikut menangis melihatnya.
"Maafkan kakak karena terlambat meminta seseorang datang untuk melindungi kamu." Dia bicara, mencoba untuk menghapus air Maya Zoya.
Separah itu luka yang di derita gadis tersebut. Dia pikir sungguh bajingan yang memperlakukan Zoya seperti itu semalam.
Zoya pikir apakah semalam Ashley yang meminta seseorang menyelamatkan dirinya?, seingat nya seorang laki-laki datang menerjang laki-laki yang ingin memerkosa nya dan samar-samar dia ingat laki-laki tersebut menggendong dirinya.
"Ini tidak apa-apa, laki-laki itu tidak berhasil berbuat buruk pada mu hmmm, jangan khawatir soal apapun sayang." Ashley kembali memeluk Zoya, dia berbisik dibalik telinga gadis tersebut sambil membiarkan tangan kanan nya mengelus lembut rambut Zoya untuk beberapa waktu.
"Aku sudah minta dia untuk menjaga mu dengan baik, kita akan memindahkan kamu ke kediaman nya untuk sementara waktu hmmm.". Lanjut Ashley lagi kemudian.
Mendengar ucapan Ashley, membuat Zoya terlihat mengernyit kan dahinya untuk beberapa waktu.