
Disisi lain,
Ruang bawah tanah,
pinggiran kota Paris.
Di sebuah ruangan gelap yang diberikan lampu cukup remang dan kurang pencahayaan, dibantu oleh sinar cahaya rembulan di atas sana yang masuk melalui kaca di bagian paling atas bangunan tersebut membuat semakin suram suasana ruang bawah tanah, seseorang terlihat bergerak melangkah dari arah sisi atas menuruni satu persatu anak tangga menuju ke arah lantai bawah kemudian dia berbelok menuju ke arah kanannya dan berjalan dengan gerakan perlahan.
Derit suara pintu terdengar memenuhi ruangan tersebut ditambah suara tapak sepatu yang mulai memecah keadaan malam membuat beberapa pasang bola mata orang-orang yang berjaga di sana seketika mencoba melirik ke arah sang empunya sepatu. Mereka yang duduk-duduk menikmati permainan kartu seketika langsung berdiri dari posisi mereka secara perlahan, menunggu kehadiran sosok yang berjalan mendekati mereka kemudian saat sosok itu sudah berada di hadapan mereka, barisan laki-laki tersebut menundukkan kepala satu persatu ke arah sosok itu.
Sosok itu hanya mengangguk kan kepalanya secara perlahan, kemudian dia melangkahkan kakinya terus menuju ke arah depan, tanpa mengeluarkan sedikitpun suaranya, sosok tersebut berjalan dengan langkah pasti dan bergerak dengan sangat hati-hati. di mana di sisi kirinya seseorang bergerak masa sejajarkan diri mengikuti langkahnya menuju ke arah depan.
Setelah cukup jauh melangkahkan kakinya sosok itu pada akhirnya tiba di sebuah ruangan yang dikelilingi oleh jeruji besi, di depan dirinya berdiri saat ini, dua penjaga terlihat menundukkan kepala mereka kepada dirinya, kemudian kedua orang tersebut membiarkan sosok tersebut untuk berbicara pada seseorang yang ada di dalam ruangan tersebut.
Sosok itu terlihat diam sejenak, kemudian dia menatap arah dalam sana di mana terdapat seseorang yang meringkuk dibalik sel tersebut, entah apa yang dilakukan oleh sosok yang meringkuk itu yang jelas bisa ditebak siapa orangnya.
"Hei sialan, bangun dan dongakkan kepala mu," satu teriakan terdengar memecah keadaan, membuat orang yang meringkuk tadi mencoba untuk mendongakkan kepalanya karena terkejut dengan teriakan melengking yang memenuhi ruangan. Dia menoleh ke asal suara dan mencoba untuk membiasakan bola matanya menetapkan pada sisi kanannya secara perlahan.
Awalnya tidak ada pergerakan, hingga pada akhirnya sosok itu kini berdiri secara perlahan, bergerak mendekat ke arah dua orang yang berdiri di hadapannya tersebut.
Seorang laki-laki dengan wajah dipenuhi warna lumpur dengan rambut acak-acakan dan tidak pernah dibersihkan selama bertahun-tahun terlihat menyeringai menatap kearah dua sosok yang ada dihadapannya tersebut.
"Kau datang setelah sekian tahun? dengan pakaian rapi dan jas mahal bahkan menggunakan identitas orang lain saat ini." suara laki-laki di dalam jeruji besi tersebut memecah keadaan, dia menatap jijik ke arah lawan bicaranya.
Kilatan kebencian jelas terlihat dari balik bola matanya, tapi meskipun begitu ini dia sedang belajar untuk mengontrol emosi ini jauh lebih dalam.
Sosok laki-laki yang diajaknya bicara terlihat menyeringai, dia bergerak maju mendekati wajahnya ke arah jeruji besi, sengaja merapatkan wajahnya di sana dan berbisik kepada laki-laki yang ada di dalam jeruji besi tersebut.
"Apa kau mulai menyerah didalam sini?," tanya laki-laki tersebut dengan suara yang cukup mengerikan.
Alih-alih menjawab, laki-laki didalam jeruji besi ikut memajukan wajahnya, mereka kini membiarkan wajah mereka nyaris tanpa jarak antara satu dengan yang lainnya, dan laki-laki di dalam dirinya besi itu pada akhirnya berkata.
"Aku mungkin menyerah, tapi jangan lupa putri ku pasti kembali untuk merebut kembali hak nya." Setelah berkata begitu, laki-laki tersebut memundurkan wajah nya, kemudian dia membuang ludah nya ke arah wajah laki-laki tersebut.
Ciuhhhh.
dan yakinlah saat air ludah tersebut berpindah, laki-laki di luar jeruji besi terlihat sangat marah.
"Bajingan, buat dia tidak bisa berdiri malam ini karena kesombongan nya...," dan teriakan melengking memecah keheningan malam, membuat sang penjaga tempat tersebut langsung membuka pintu jeruji besi dengan penuh semangat dan tiba-tiba dari arah berbeda dia laki-laki bertubuh kekar berlarian masuk kedalam sana dan mencoba mengeksekusi perintah tuan nya.