King Khan's Shackles

King Khan's Shackles
Rencana dibalik rencana



Disisi lain,


masih kembali ke masa semalam,


di hotel xxxxxxx,


pusat kota.


Ashley terlihat berdiri tepat di bagian belakang pintu kamar hotel xxxxxxx yang kini dia tempati, dia menatap daun pintu dihadapan nya tersebut untuk beberapa waktu dimana dia mencoba menajamkan telinga nya dari satu suara dibalik headset nya.


"Target bergerak menuju ke arah kalian." bisa di dengar suara seseorang di balik headset bluetooth-nya.


Ashley yang mendengar peringatan dari seberang sana seketika menaikan ujung bibirnya, bola matanya masih menatap ke arah daun pintu dimana kiri dan pintu terdapat sosok perempuan bertubuh besar tinggi yang menggunakan pakaian serba hitam ketat seperti bodyguard, memegang pistol ditangan nya sambil bersandar dengan tenang disana.


"Masih di lantai bawah, bergerak menuju ke kamar elevator." lagi suara terdengar di balik headset nya.


"Biarkan target masuk ke kamar sesuai dengan rencana." Ucap Ashley kemudian.


"Seperti yang anda inginkan, Miss."


kemudian tidak lagi terdengar suara di balik headset bluetooth tersebut.


"Kau ingin kami mengeksekusi nya seperti apa, Ash?," ll perempuan yang ada di hadapan Ashley tersebut bertanya.


"Kau paling tahu bagaimana cara membuat seseorang bahkan tidak mampu bernafas dengan baik dan dia tidak akan mau lagi kembali ke negara ini di kemudian hari," itu adalah jawaban paling sederhana yang diberikan Ashley kepada perempuan yang ada di hadapan tersebut.


"Mungkin juga memberikannya sedikit hukuman manis yang membuat dia tidak bisa lagi menjajal tubuh perempuan manapun yang dia inginkan," lanjut perempuan itu lagi kemudian.


Bola Mata Ashley menatap ke arah perempuan yang melesatkan tanya kepada dirinya.


"Aku ingin dia merasakan penderitaan yang mungkin tidak pernah dia rasakan sebelumnya, atau kamu bisa membuat barang kebanggaannya untuk sementara tidak bisa digunakan untuk bersenang-senang." Ashley bicara sembari menaikan ujung alisnya, menyebut kata barang kebanggaan laki-laki apakah masih bisa digunakan.


"Itu cukup ekstrem." jawab perempuan di depan nya tersebut mantap.


Ashley menaikkan ujung bibirnya.


"Karena dia pantas mendapatkannya, sebab aku sangat benci ketika dia memperlakukan Zoya dengan cara sangat tidak manusia pada malam itu, aku tahu malam itu dia mengirim laki-laki itu untuk membawa Zoya, tapi sayangnya laki-laki suruhannya berbelot dan ingin menikmati Zoya lebih dulu," dan kini kilatan kobaran api terlihat sangat jelas dari balik bola mata nya, Ashley terlihat mengeratkan rahangnya.


"Dia membuat Zoya babak belur di tangan suruhannya, dan bahkan seandainya suruhan nya tidak melakukan itupun pada akhirnya ketika Zoya berpindah ke tangannya, aku yakin dia tetap akan melakukan hal yang sama, dia telah merencanakan dengan matang untuk menjerumuskan Zoya dan menikmati tubuhnya."


Setelah berkata begitu Ashley membuang pandangannya dari perempuan yang dilihat nya itu, kini kembali pandangannya fokus pada daun pintu yang ada di hadapannya.


"Seperti yang kamu mau, Ash." perempuan tersebut pada akhirnya menaikkan ujung bibirnya, dia kembali bersiap pada posisi nya.


Mendengar apa yang diucapkan oleh seseorang di balik headset bluetooth nya, membuat Ashley menaikkan ujung alisnya.


"Dalam hitungan mundur," terus terdengar suara dari balik headset bluetooth miliknya tersebut.


"7,"


"6,"


"5,"


"4,"


"3,"


"2,"


"1,"


klikkkk.


Bisa didengar suara pintu mulai terbuka, seketika Ashley langsung meraih pistol yang tadinya diletakkan nya di ujung kakinya, perempuan tersebut langsung menaikan pistol tersebut tepat dihadapan wajahnya di mana dia memejamkan sebelah bola matanya dan bersiap untuk melestarikan pistolnya kapanpun dia inginkan kepada sosok orang yang bergerak masuk kedalam kamar hotel tersebut.


Benar saja begitu pintu terbuka sosok seseorang terlihat berdiri di depan pintu.


Klatakkkkkkk.


klatakkkkkkk.


Perempuan yang berdiri di samping pintu langsung mengajukan pistol mereka kepada sosok laki-laki yang kini berdiri di depan pintu tersebut.


Laki-laki itu jelas terkejut saat dia menyadari jika dua pistol mengacung depan ke kepalanya dan Ashley juga mengangkat senjata tepat ke arah bagian kening kepalanya saat ini, salah sedikit bergerak bisa dibayangkan kematian pasti akan menghantamnya.


"Ashley?," laki-laki tersebut tercekat.


"Hello, Alex." dan Ashley menyapa laki-laki yang ada di ujung sana dengan senyuman picik nya.


Alex benar-benar menegang saat menyadari jika Ashley saat ini siap melesatkan isi pistolnya tepat ke atas kepalanya.


"Ada apa ini?," batin laki-laki tersebut kemudian.