
"Anda baik-baik saja, tuan?," tiba-tiba saja satu suara kembali mengejutkan Khan.
Laki-laki itu langsung menoleh ke arah depan nya, gimana bisa dia lihat, sang sekretaris nya ini sudah berdiri di hadapannya sembari bertanya bingung ke arah Khan, menatap sentuhannya yang menampilkan ekspresi anehnya.
Khan masih membiarkan telapak tangan kirinya menyentuh pelipis nya saat ini, hingga pada akhirnya laki-laki tersebut memijat-mijat kepalanya untuk beberapa waktu lantas setelah itu Khan berkata kepada Rei.
"Ini bukan masalah, aku hanya merasa sedikit sakit kepala." dia menjawab dengan siapa kemudian mencoba membenahi lagi posisi duduknya lantas menatap berkas yang ada di hadapannya tersebut untuk beberapa waktu.
"Apakah anda sudah menandatangani semuanya? aku akan membawanya dan mencap nya dengan cap perusahaan, tuan." Rei bicara dengan cepat kepada Tuhannya tersebut dan siap untuk mengambil berkas yang telah ditandatangani oleh Khan.
Khan sama sekali tidak menjawab, laki-laki itu terlihat menatap arah berkas yang ada di hadapannya sembari berpikir dengan keras, ingatan yang tadi membuatnya sedikit terganggu, ekspresi wajah sedih Ashley dan juga tangisannya cukup mengganggu dirinya. selama pernikahan mereka dia sama sekali tidak pernah membuat perempuan itu menangis dalam keadaan apapun bahkan dia bersumpah tidak akan pernah membuat Ashley menangis, namun tiba-tiba saja lintasan bayangan yang menghampiri kepalanya ketika istrinya menangis membuat dia gelisah setengah mati, laki-laki tersebut seketika mencoba untuk mengeratkan rahangnya.
"Bisa kita menundanya? sepertinya aku harus memikirkan ulang untuk kontrak kerjasama terbaru ini," pada akhirnya laki-laki itu membuka suara kepada sang sekretarisnya.
"Ya?," Rei cukup terkejut mendengar apa yang diucapkan oleh atasannya tersebut.
"Tapi tuan?,"
Dia pikir kedua belah pihak jelas telah bertemu dan menyepakati kerjasama tersebut, jadi dia cukup terkejut juga sang tuannya tiba-tiba membatalkan keinginan untuk melakukan kontrak kerjasama. sebenarnya tidak salah jika tuannya pun ingin mengubah keputusan karena belum ada penandatanganan secara sah di antara pihak kiri dan kanan, hanya saja ini sedikit aneh karena tiba-tiba saja kerjasama yang telah di pikirkan dengan matang dan disepakati dengan matang pula tiba-tiba harus berhenti di tengah jalan dan batalkan, mungkin akan terdapat beberapa aspek kerugian yang terjadi meskipun tidak terlalu besar tapi bagi orang-orang seperti dirinya jelas cukup berpengaruh dan besar.
Tapi Rei tidak bisa untuk mendesak tuannya untuk tetap menerima kontrak kerjasama tersebut jika Tuhan yang merasa ingin mengubah keputusannya.
"Baik tuan." laki-laki tersebut pada akhirnya menundukkan kepalanya Dan dia sama sekali tidak membuka suaranya lagi dan membiarkan sang tuan nya mengambil keputusan.
"Aku butuh sedikit istirahat, pergilah keluar dan tinggalkan saja berkas-berkasnya." Khan memerintahkan laki-laki di hadapannya tersebut untuk pergi dari hadapannya.
Rei menundukkan kepalanya tanda mengerti kemudian membalikkan tubuhnya lantas bergerak pergi menjauhi atasannya itu dengan berbagai macam pertanyaan yang menghantam kepalanya.
Cukup lama dia mencoba untuk menghubungi seseorang di seberang sana hingga pada akhirnya bisa dia dengar seseorang menahun dari ujung sana, Khan kemudian langsung berkata.
"bantu aku untuk mencari sebuah informasi." ucap laki-laki tersebut dengan cepat kepada seseorang yang ada di seberang sana.
"aku akan mengirimkan data yang harus kamu selidiki dan pastikan tidak ada yang tahu tentang hal ini," lanjut Khan lagi kemudian.
"aku hanya ingin tahu tentang sesuatu tidak lebih," dan setelah berkata seperti itu laki-laki tersebut terlihat diam untuk beberapa waktu.
"aku butuh dalam beberapa hari dan pastikan tidak ada sedikitpun informasi Yang terlewatkan." kemudian Khan langsung mematikan panggilannya sembari bola matanya kini menatap lurus ke arah depan.
Khan terlihat sedikit gelisah dengan keadaan di mana laki-laki tersebut tampak mengeratkan rahangnya.
******
Mansion utama Khan dan Ashley.
Ashley terlihat bergerak menuju ke arah bagian bagasi mobil, perempuan tersebut naik ke dalam mobilnya dan melesat keluar dari sana secara perlahan menuju ke arah sisi bagian utara. Sembari fokus menyetir mobil perempuan tersebut bicara melalui handphonenya.
"Aku pergi sendiri... tidak masalah, jangan khawatir..... hmmm aku menemui Zoya," perempuan tersebut bicara kepada suaminya melalui handphonenya.
"tidak sayang, aku tidak akan lama, aku akan pergi sebentar kemudian langsung pulang ." ucap perempuan itu lagi kemudian.
"He em, I love you too," Ashley mengembangkan senyumannya kemudian dia langsung menutup panggilannya.
Perempuan tersebut pada akhirnya kembali fokus menyetir mobilnya dan menetap ke arah depan menembus jalanan ibukota dan bergerak menuju ke arah kediaman Ford berada, tapi sebelum nya dia tidak langsung ke sana karena ada tujuan lain yang harus didatangi saat ini.