
Kalau ada yang bertanya bagaimana kondisi Zoya saat ini, telapak tangan nya sesungguhnya mengeluarkan keringat dingin nya, jantung nya tidak baik-baik saja, ketakutan menghantam nya tapi dia berusaha untuk tidak menampilkan ekspresi apapun dihadapan laki-laki tersebut, dia menggerakkan tangannya secara perlahan, siap untuk menarik senjata yang ada di punggung. Percayalah dia berusaha untuk tidak bergerak terlalu gegabah atau mekat di mana orang-orang Ford yang duduk di ujung sana tanpa memperhatikan percakapan mereka, 4 lawan 1 benar-benar tidak seimbang.
Ford bergerak perlahan, dia bergeser dan berjalan disisi kanan Zoya sambil berkata.
"Kalau kau membutuhkan banyak uang dan siap menjadi budak, aku bisa menyediakan nya." Jawab laki-laki tersebut atas pertanyaan yang di lontarkan Zoya.
Kini laki-laki tersebut terlihat berjalan memutar, dimana Zoya mencoba memejamkan bola matanya dan menarik dengan perlahan pistol di punggung nya. Namun tiba-tiba hal di luar prediksi terjadi.
Ford meletakkan jaketnya ke bahu Zoya dari arah belakang, kemudian dia berkata.
"Lain kali gunakan jaket untuk menutup lekuk tubuh mu, kejahatan sering mengintai gadis muda seusia mu di jam malam, girl."
"Ya?."
Bayangkan bagaimana terkejutnya Zoya, gadis tersebut seketika membuka bola matanya, pistol nya sudah digenggam nya namun tertutup oleh Jaket yang diberikan oleh Ford. Dia kembali meletakkan pistol nya secara perlahan dengan perasaan yang gugup.
Beberapa lembar uang secara perlahan diletakkan Ford ke atas meja dari arah punggung Zoya, gadis tersebut menatap kearah lembaran uang yang diberikan oleh laki-laki tersebut.
"Pulanglah dan jangan menjual harga dirimu di usia yang terlalu belia." Lanjut laki-laki tersebut lagi
Ford bergerak pergi, meninggalkan Zoya yang mematung bingung menatap uang yang diberikan laki-laki dewasa tersebut. Dia tidak berkutik untuk beberapa waktu sambil tidak mengedipkan bola matanya untuk beberapa waktu.
Ada apa dengan salah satu kepala mafia tersebut?!.
Zoya mencoba mengedipkan bola matanya berkali-kali hingga akhirnya setelah mencoba mengembalikan akal warasnya, gadis tersebut berusaha untuk menatap kearah mana teman-teman laki-laki tersebut tadi duduk.
Dan bayangkan apa yang terjadi saat dia tahu kumpulan orang-orang itu telah menghilang dari sana entah kemana, gadis tersebut mencoba untuk mencari dan menjelajah seluruh arah sayangnya dia tidak lagi menemukan Ford dan teman-temannya, hal tersebut cukup membuat Zoya terkejut dan berpikir.
Kemana orang-orang itu dan laki-laki mengerikan tersebut?!.
Dia menyentuh perlahan jaket yang dia gunakan, jaket mendominasi berwarna hitam yang sangat cocok dengan pakaian musim dingin tersebut terasa begitu hangat digunakan oleh dirinya. Zoya terlihat diam, dia tidak bergerak dan bergeming untuk beberapa waktu.
Ditengah kebingungan dan pemikiran Zoya yang berkacamuk menjadi satu, tiba-tiba seorang pelayan perempuan mengantar roti pesanan gadis tersebut, meletakkan nya ke atas meja secara perlahan. Seulas senyuman mengembang di balik wajah perempuan yang kini berdiri tepat di hadapan Zoya.
"Cukup takut menghadapi tuan Ford?." Tiba-tiba perempuan dihadapan nya bicara, membuat Zoya menatap kearah perempuan dihadapan nya tersebut.
"Ya?." Tanya Zoya sambil mengerutkan keningnya.
"Tuan memang seperti itu, dia terlihat cukup seram dari luar, tapi sebenarnya dia sangat baik dan hangat, rata-rata anak-anak di sini di selamatkan oleh nya masa depan mereka termasuk diriku, dia membeli kami dari kegelapan dan memerdekakan kami dan membiarkan kami hidup layaknya manusia pada umumnya." Setelah berkata begitu Perempuan tersebut kembali melebarkan senyuman nya, dia menundukkan kepalanya ke arah Zoya dan bergerak meninggalkan gadis tersebut yang terlihat cukup terkejut mendengar penjelasannya.
Tidak jauh dari sana, seorang perempuan yang menggunakan pakaian serba tertutup dengan topi, masker dan jaket musim dingin menatap kearah Zoya dari kejauhan, mengulas senyuman kemudian bergerak masuk kedalam mobil mendominasi berwarna hitam miliknya.