
Disisi lain,
Beberapa jam sebelumnya,
Apartemen Laura.
"Kemana anak itu?." Laura terlihat mengeram kesal saat dia menyadari Zoya sama sekali tidak kembali ke apartemennya sejak semalam.
Dia bicara pada laki-laki yang duduk di ujung sana tertutup pada cahaya lampu yang sengaja tidak dinyalakan. Laki-laki tersebut lebih suka berada di dalam kegelapan ketimbang berhadapan dengan cahaya secara langsung, selama ini laki-laki itu memilih untuk berbaur dengan orang-orang karena dia hanya ingin memanfaatkan orang-orang di sekitarnya.
"Mungkin karena sesi percintaan kita semalam membuat dia cukup gerah berada di apartemen." Laki-laki tersebut bicara dengan cepat sembari dia menyadarkan tubuhnya dan menikmati kokain yang ada di hadapannya, ke bulan asam terlihat menggumpal di udara di mana ruangan tersebut tanpa bercampur aduk dalam berbagai aroma yang menyeru di sana.
Alkohol, kokain, rokok dan aroma sisa percintaan yang terjadi beronde-ronde antara Laura dan laki-laki tersebut.
Bayangkan saja, gadis mana yang akan betah tinggal di tempat itu ketika dia harus mencium berbagai macam aroma menjijikan di dalam ruang apartemen tersebut, jadi cukup tidak heran jika Zoya lebih memilih untuk pergi dari sana menginap di rumah temannya atau bahkan memilih untuk menginap di hotel atau di manapun yang dia inginkan dalam satu atau dua malam.
"Cihhhh." Laura terdengar berdecih saat dia mendengar apa yang diucapkan oleh laki-laki di ujung sana.
Laki-laki yang tengah menikmati kokain di hadapannya itu berkali-kali menghirup udara, persis seperti orang yang kecanduan obat-obatan dia menikmati pesta sejak semalam bersama Laura. Mereka melakukan nya karena Laura sedang berlibur dan tidak memiliki misi apapun dengan Khan, dan dia juga sedang tidak memiliki pekerjaan apapun saat ini sejak kemarin.
"apa kau ingin melewati banyak ronde lagi malam ini, sayang." Laura menawarkan dirinya secara langsung di mana dia sengaja merapatkan tubuhnya pada laki-laki tersebut dan membiarkan tangan laki-laki itu menyusup masuk ke dalam handuknya secara perlahan.
Bayangkan lagi lagi mana tidak tergiur dengan perempuan yang begitu agresif seperti itu?, jelas saja laki-laki itu begitu menyukainya namun sayangnya sepertinya mereka tidak benar-benar bisa melewati ronde malam panjang mereka malam ini karena laki-laki tersebut memiliki rencana lain secara diam-diam di belakang Laura.
Dia menyambar bibir Laura untuk beberapa waktu menyesatnya dengan penuh hasrat dan gairah, di mana dia menyesatnya berkali-kali bahkan membuat Laura cukup kehilangan cara bernafasnya kemudian bibir itu menjelajah kemanapun yang dia inginkan hingga akhirnya bibir itu berakhir tepat di samping telinga Laura dan dia berbisik lembut di balik telinga Laura.
"Mari menikmati satu ronde saja aku harus pergi sejenak karena ada urusan yang harus aku lakukan." Ucap laki-laki tersebut perlahan pada kekasih gelapnya tersebut.
Laura menaikkan ujung alisnya, dia menata bola mata laki-laki tersebut kemudian bertanya.
"kemana?." Tanya nya ingin tahu.
"Aku sedang mencari sesuatu yang cukup penting, aku akan pulang membawa kesenangan untukmu, ini tidak lama sayang." Bisik laki-laki tersebut lagi.