
Mendengar ucapan Egalita sedikit membuat Rei terdiam, dia menatap kearah gadis tersebut untuk beberapa waktu kemudian pada akhirnya laki-laki itu menundukkan kepalanya secara perlahan.
"Baik, nona." ucapnya secara perlahan.
"Kamu yakin?," Zoya bertanya untuk meyakinkan gadis dihadapannya tersebut.
Dia pikir itu memang keputusan yang tepat tapi itu juga sebenarnya bukan keputusan yang baik, membiarkan Egalita berada di sana, mempertanggung jawabkan sesuatu yang bukan urusan nya.
"Laura benar-benar ingin cari mati." pada akhirnya Zoya mengeram, dia tidak percaya jika kakak tirinya tersebut tega melakukan hal seperti itu.
"Sama persis seperti bibi, menghalalkan segala cara untuk mendapatkan apa yang dia inginkan termasuk laki-laki yang dia harapkan." ucap Zoya lagi kemudian.
Dia pikir bagaimana bisa Laura bertindak sebodoh itu sehingga membuat semua orang harus merasakan imbas dari perbuatan picik nya, entah hukuman apa yang pantas diberikan pada perempuan tersebut, mungkin benar pada akhirnya apapun itu menyingkirkan Laura adalah cara yang terbaik untuk membuat semua orang merasa tenang.
Tapi melihat Egalita yang kebingungan jelas saja membuatnya tidak tega, gadis di hadapannya tersebut baru saja membuka hati setelah sekian banyak kesulitan yang di hadapi. Termasuk menghadapi kehidupan penuh plot twist soal J kecil putra Nyx, bahkan setelah mengetahui kenyataan di masa lalu, juga termasuk mencoba memaafkan orang-orang yang menghancurkan masa depan nya, saat ini mungkin Egalita masih butuh waktu menata diri dan hati menerima semuanya. Tapi kini secepat ini Egalita harus menyerahkan diri pada Nyx dalam hubungan yang jauh lebih dalam dan in_ tim.
"He em, ini bukan masalah, aku akan membantu mengatasi semuanya." Egalita pada akhirnya menjawab pertanyaan Zoya pelan, dia menganggukkan kepalanya dan berusaha untuk menyakinkan dirinya sendiri.
"Bukankah pada akhirnya tidak ada yang bisa di pungkiri, dia ayah dari putra ku, dan aku akan masuk dalam kehidupan pribadinya dalam waktu dekat, cepat atau lambat hal ini pasti akan terjadi juga." lanjut Egalita lagi kemudian.
Zoya terlihat diam, dia masih ragu dengan apa yang diputuskan oleh Egalita, ingin sekali mencari pemecahan masalah yang lainnya misalnya tidak menggunakan perempuan tapi melakukan hal yang mungkin jauh lebih terhormat dan masuk akal. Tapi bener seperti kata yang disampaikan oleh dokter Jonathan, dia bocah kecil yang bahkan belum menyelesaikan kuliahnya, usia nya baru 21 tahun, mana tahu dia urusan seperti itu. Memangnya jika laki-laki menginginkan sesuatu karena mengkonsumsi obat, mereka tidak bisa menahan nya? itu terdengar aneh dan mengerikan ditelinga nya.
Jadi ingat kejadian menjijikkan dan mengerikan malam itu pada dirinya di mana dia nyaris diperkosa oleh laki-laki gila tempo hari, apakah karena tidak bisa menahan untuk meniduri nya, laki-laki sialan itu dulu menyiksanya dan mencoba mem'perkosa nya?, kenapa laki-laki terlihat mengerikan, tidak tercapai hasrat mereka, bisa mengorbankan para perempuan tidak bersalah seperti mereka.
Apa sesuatu dibalik celana laki-laki terlalu rumit untuk dijinakkan dengan cara lain?.
Ditengah pemikiran yang menghantam nya, tiba-tiba saja seseorang mengetuk pintu dan mencoba menyeruak masuk, itu adalah Ford. Dia mengerutkan keningnya, Zoya pikir apakah urusan Khan sudah selesai? laki-laki tersebut sudah menukar Khan dengan suami bibi nya? apakah Laura sudah masuk ke kamar yang seharusnya ditempati Khan malam ini?.
"Bagaimana?," Ford bergerak masuk, mendekati semua orang, bola matanya menatap kearah sekretaris Rei dan dokter Jo.
"Aku pikir nona Egalita yang akan menyelesaikan semuanya." sekretaris Jo bicara dengan cepat, beringsut bergerak dari sana, mencoba membawa semua orang untuk segera keluar dari ruangan tersebut dan meninggalkan Egalita juga Nyx yang kini ada di kamar mandi dan dia yakini laki-laki itu sedang kesusahan di dalam sana.
Ford yang mendengar apa yang diucapkan oleh Jonathan hanya diam, dia melirik kearah Zoya, mendekati gadis itu dan menjongkokkan tubuh nya dengan cepat. Laki-laki tersebut menyambar tubuh Zoya, menggendong nya tanpa pemberitahuan, membuat Zoya agak terkejut.
"Bantu bawa kursi rodanya keluar Rei." Pinta Ford pada sekretaris Rei.
"Anak buah ku didepan."
"He em, baiklah." Sekertaris Rei menyahut cepat.
"Paman kita mau kemana?," Zoya langsung berpegangan pada leher Ford.
"Semua berjalan sesuai rencana, kita menunggu hingga esok pagi ketika keadaan Laura pecah, mari kembali ke kamar hotel kita untuk beristirahat sejenak." Dan laki-laki tersebut menjawab cepat.
"Ya?," Zoya bertanya agak terkejut.
Kamar hotel kita?, tunggu dulu, bagaimana maksud nya?.