King Khan's Shackles

King Khan's Shackles
Kemarahan Khan



Bayangkan bagaimana ekspresi Laura ketika dia mendengar apa yang diucapkan oleh istri Khan, kemarahan jelas menghantam dirinya dan bahkan dia rasanya ingin sekali mencabik-cabik wajah serta mulut perempuan yang ada di hadapannya tersebut, namun dia berusaha untuk tidak melakukannya karena dia tahu jika dia melakukan hal tersebut itu sama saja dia akan membuat Khan semakin marah.


Bisa dia lihat Khan terlihat marah sekali atas apa yang dilakukannya.


"Apakah yang diucapkan istriku benar adalah jika kamu menyukaiku hah?."Khan benar-benar bertanya dengan nada tingginya membuat Laura seketika tercekat.


"kau membentakku Khan?." Alih-alih menjawab pertanyaan Khan, perempuan itu mencoba untuk mengalihkan pembicaraan, tetap dia mendapatkan ekspresi penuh kesedihan seakan-akan dia dianiaya dan juga akan dibuang.


"Kau tidak menjawab pertanyaan dari suamiku, Laura?," dan Ashley bertanya sambil menaikkan ujung alisnya.


Laura terlihat mencoba untuk menyentuh Khan, namun Ashley dengan catatan langsung menahan tangan dan mencoba untuk mencengkeramnya dengan erat. Hal tersebut jelas saja membuat Laura terkejut dan meringis.


"Bukankah sudah terlalu lama kamu memendam perasaan pada Khan?, jadi kamu bisa mengatakannya pada Khan soal perasaanmu selama ini yang diam-diam kamu sembunyikan." Ashley sengaja berkata seperti itu tanpa rasa takut sedikitpun perasaan Laura terbongkar kepada suaminya.


Dia sengaja melakukan hal tersebut untuk tahu bagaimana perasaan dari Khan ketika mengetahui Laura mencintai dirinya.


mendengar apa yang diucapkan oleh istrinya membuat Khan langsung menoleh ke arah Laura sembari dia menaikkan ujung alisnya.


"Apa yang dikatakan istriku benar?," laki-laki tersebut ingin tahu apakah benar Laura menyimpan perasaannya sejak lama diam-diam.


"Bukankah sejak awal aku sudah mengatakan diantara semua orang yang ada dibawah payung Khan's king tidak boleh saling mencintai antara satu dengan yang lainnya, lalu bagaimana bisa kau jatuh cinta padaku tanpa izin sama sekali dan tidak berpikir dua tiga kali?." Khan bicara sembari mengeramkan rahangnya dia sepertinya cukup tidak suka dengan apa yang diucapkan oleh Ashley.


"Aku menganggapmu hanya sebagai seorang adik tidak lebih, lalu bagaimana bisa kau berani-beraninya jatuh cinta padaku Laura?."


"Khan aku-," Laura jelas aja cukup terkejut mendapatkan respon dari Khan yang sepertinya sangat marah pada dirinya.


"Kau sengaja mencium ku untuk membuat istri marah besar?, kau sedang berusaha untuk menjadi pelakor?, membuat strategi untuk menghancurkan kehidupan pernikahan aku dan Ashley?." Entahlah Khan langsung berpikiran cukup jauh soal Laura, tiba-tiba saja dia memikirkan jikalau orang bisa jadi sedang berusaha dan berencana untuk menyingkirkan Ashley.


Dia mencoba untuk merangkai benang kusut yang terjadi diantara Laura dan Ashley, sejak awal perempuan itu tidak pernah menyukai istrinya tersebut. Di kedatangan pertama Ashley, Laura terlihat sangat menentang keras soal kehadiran Ashley. Bahkan saat melakukan misi pun Laura jelas-jelas menampilkan kebenciannya kepada Ashley dan mencoba untuk berkata kepadanya bisa jadi Ashley akan menipu mereka.


Entah kenapa, ucapan Nyx tiba-tiba saja membuatnya gelisah, ketika laki-laki tersebut berkata seharusnya dia bisa membaca hati dan tatapan mata seseorang.


"Seharusnya kau tidak melakukan kecerobohan seperti itu, kau tahu aku cukup marah saat tahu tentang hal tersebut tapi aku masih berusaha memberikan kamu kesempatan untuk menebus kebodohan mu." Khan menggeratkan rahangnya, dia menatap tajam bola mata Laura dengan tatapan penuh kebencian, ini kali pertama dia tiba-tiba tidak mempercayai perempuan di hadapannya tersebut.


mengingat bagaimana seolah-olah Laura sengaja menciumnya agar istrinya melihat tindakan mereka, galagat Laura jelas membuat dia tidak nyaman dan harus mencoba untuk memasang jarak diantara mereka.


"Minta maaf pada istriku atas apa yang kau lakukan tadi, aku akan memindahkanmu pada bagian kelompok lain agar kau tidak bertemu lagi dengan istriku setelah ini." dia langsung memutuskan semuanya saat ini juga.


Bagi Khan tiba-tiba saja Laura menjadi sebuah ancaman besar untuk hubungan mereka, dia tidak bisa menyingkirkan perempuan tersebut dengan cara yang kasar dan tiba-tiba, mengingat bagaimana persahabatan mereka berjalan selama ini sejak dulu hingga sekarang. Dia masih menggunakan perasaan dan hatinya untuk memposisikan Laura dan menghargai perempuan tersebut.


"Khan." Laura jelas saja terkejut dengan keputusan yang diambil oleh laki-laki tersebut, dia benar-benar tidak terima atas apa yang diputuskan oleh Khan terhadap dirinya.


"Bagaimana kamu bisa melakukan hal tersebut pada diriku?, kau lebih memilih Ashley ketimbang diriku?." Tanya perempuan tersebut penuh dengan kemarahan, dia mencoba untuk menekan perasaannya saat ini di mana dia rasanya benar-benar ingin menghajar Ashley saat ini juga.


"Tentu saja aku lebih memilih istriku ketimbang dirimu, antara kau dan aku kita tidak memiliki hubungan apapun bahkan aku tidak pernah bersumpah kepada Tuhan untuk memilikimu." Khan bicara dengan nada kembali meninggi, suaranya memecah keadaan, wajah dan bola matanya memerah.


"Sedangkan dengan istri ku, aku jelas memiliki perjanjian dengan Tuhan, bukan dengan orang tuanya atau dirinya, aku berjanji kepada Tuhan menjadikan dia prioritas dalam hidup ku dan tidak menempatkan siapapun di dalam hubungan kami, aku berjanji membahagiakan dia dihadapan Tuhan bahkan aku berjanji tidak akan menyakiti dia, kau pikir aku akan mengingkari janji ku pada tuhan?, memangnya siapa kamu hingga harus aku jadikan prioritas utama di atas segala-galanya?." Bentak Khan pada nya.


Dan bayangkan bagaimana perasaan perempuan tersebut saat dia mendengar apa yang diucapkan oleh Khan, raut wajah Laura jelas langsung berubah dan warna wajahnya langsung memerah karena malu dan marah.


Ashley cukup terkejut atas apa yang diucapkan oleh suaminya, dia menoleh ke arah laki-laki tersebut dengan jantung yang jelas tidak baik-baik saja. Seulas senyuman tipis jelas mengambang di balik bibirnya.


"minta maaf pada istriku saat ini juga kemudian pergi dari sini secepatnya dan jangan tampilkan wajahmu lagi diantara kami hingga aku memaafkanmu." lanjut lagi tersebut lagi kemudian.


Laura jelas saja mengeram dan mencoba untuk menggenggam erat telapak tangannya yang dibalut dengan kemarahan dan juga rasa malu yang begitu dalam.