King Khan's Shackles

King Khan's Shackles
Sosok yang berbaring tidak berdaya



Rumah sakit xxxxxxx,


pinggiran kota.


Disebuah ruangan mendominasi berwarna putih terlihat seorang laki-laki berbaring di atas tempat tidur dalam keadaan tidak berdaya, berbagai macam selang yang tertancap di bagian seluruh tubuh nya terlihat dengan jelas di sana, layar monitor pengatur detak jantung terdengar memenuhi ruangan tersebut. Seorang perawat terlihat membenahi pakaian laki-laki yang berbaring di sana secara perlahan, dan seorang dokter tampak mengecek kondisi laki-laki tersebut untuk beberapa waktu.


Setelah memastikan laki-laki tersebut berada dalam kondisi cukup baik-baik saja, sang dokter terlihat langsung membenahi seluruh peralatannya, perawat bergerak keluar dari ruangan tersebut secara perlahan diikuti oleh sang dokter.


Begitu mereka keluar dari sana, tiba-tiba mereka menghentikan langkah kaki mereka saat melihat seseorang bergerak dari ujung sana, di bagian depan pintu tampak dua penjaga berdiri berjaga untuk memastikan jika laki-laki yang ada di dalam ruangan itu baik-baik saja dan tidak ada yang berani masuk untuk mengganggu.


Dokter dan perawat menghentikan langkah kaki mereka sembari menunggu sosok yang ada di ujung sana mendekat, hingga pada akhirnya kedua orang itu menundukkan kepala mereka secara perlahan dan sosok itu berkata.


"Apakah ada kemajuan dalam kondisinya?," dia bertanya pada sang dokter untuk memastikan apakah laki-laki yang ada di dalam ruangan tersebut memiliki kemajuan pada kondisinya.


Dokter yang ada di hadapan nya menjawab secara perlahan.


"masih tetap stabil di kondisi yang lama, sampai detik ini belum ada kemajuan yang signifikan, nona Ashley." jawab dokter tersebut dengan cepat.


Ashley terlihat dia dan sama sekali tidak menjawab lagi ucapan dari doktrin yang ada di hadapannya tersebut, perempuan itu memilih untuk menoleh ke sisi kanan nya, kemudian dia bergerak masuk ke arah ruangan tersebut di mana kedua penjaga kedudukan kepala mereka kemudian membuka pintu itu dengan cepat membiarkan Ashley masuk ke dalam sana dan melihat sosok laki-laki yang ada di dalam tersebut yang berbaring lemah tidak berdaya.


Ashley melangkah maju mendekati sosok laki-laki yang berbaring tertidur lelap di atas kasur mendominasi berwarna putih di hadapannya tersebut di mana bola mata perempuan itu sama sekali tidak berkedip saat dia menatap sosok laki-laki yang ada di atas kasur tersebut.


Begitu Ashley berada tepat di sisi kanan laki-laki tersebut yang berbaring itu, dia memilih duduk di atas kursi kayu yang telah disediakan di sana, Ashley menarik nafasnya secara perlahan kemudian membiarkan kedua belah telapak tangannya meraih tangan kanan laki-laki itu secara perlahan. Meletakkan nya dengan gerakan hati-hati pada sisi bagian pipi kanannya, kemudian Ashley berkata.


"Tidak kah kamu ingin bangun? aku cukup merindukan mu." Ucap Ashley sambil memejamkan bola matanya, dia membiarkan air matanya jatuh secara perlahan, menahan Isak tangis yang akan pecah.


"Aku semakin dekat masuk ke tempat tersebut." lanjut perempuan itu lagi kemudian.


*******


Mansion utama Ford,


Ruang makan.


"Apa aku sudah bisa pergi kuliah?," tiba-tiba saja Zoya bertanya pada Ford yang saat ini tengah menikmati makanannya.


Ford yang mendengar pertanyaan dari gadis di hadapannya tersebut seketika mengernyitkan keningnya.


"Aku mungkin bisa menggunakan kursi roda, paman." Zoya terlihat memikirkan alternatif nya.


"dan itu tidak bisa digunakan untuk naik turun ke lantai atas atau ke lantai bawah," Ford berusaha untuk mengingatkan.


Zoya terlihat menghela nafasnya berat.


Melihat ekspresi yang ditampilkan oleh gadis di hadapannya tersebut seketika membuat Ford diam untuk beberapa waktu.


"Jangan khawatir soal apapun, aku sudah meminta izin di kampus mu, dan mereka cukup tahu dengan kondisimu saat ini." Ford mencoba untuk memangkas kekhawatiran dari Zoya.


Tapi nyatanya Zoya masih menampilkan raut wajah rumitnya.


"Merasa bosan tinggal dirumah?," Ford langsung kembali bertanya, terlihat menampilkan ekspresi wajah khawatirnya di mana dia pikir apa nggak mungkin gadis tersebut merasa bosan terlalu lama di rumah karena hingga sejauh ini, Zoya terus berada di rumah dan tidak pernah berinteraksi di dunia luar kecuali semalam karena harus mengurusi urusan Laura.


Mendengar pertanyaan yang dilontarkan oleh laki-laki yang ada di hadapannya tersebut, Zoya yang kembali mengunyah makanannya seketika diam, dia menundukkan kepalanya secara perlahan dimana dia menurunkan kedua belah tangannya lantas membiarkan kedua belah telapak tangan yang saling memijat antara satu dengan yang lainnya.


Seakan-akan tahu apa yang ada di dalam pikiran dan juga hati gadis yang ada di hadapannya tersebut, Ford pada akhirnya berkata.


"Mari pergi ke suatu tempat weekend ini," ajak laki-laki tersebut kemudian.


"Aku yakin kamu pasti akan menyukai tempat itu karena kau pikir tempat tersebut pasti cukup sesuai dengan seleramu," lanjut laki-laki itu lagi.


Zoya jelas saya jelaskan mendoakan kepalanya dan menatap ke arah Ford.


"Apa?," gadis itu bertanya dengan nada sedikit terkejut.


Nyatanya alih-alih menjawab, Ford lebih memilih untuk tidak melanjutkan ucapannya di mana laki-laki tersebut pada akhirnya menggeser beberapa menu makanan tepat ke hadapan Zoya, laki-laki itu berusaha untuk memberikan beberapa menu makanan ke piring makan Zoya, membuat gadis tersebut agak terkejut karena sedikit banyak Ford selalu mengetahui apapun tentang dirinya dan tahu apa yang dia sukai atau tidak dia sukai termasuk soal makanan.


"Paman bagaimana selalu tahu tentang apa yang aku sukai?," gadis itu jelas saja bertanya penasaran karena dia pikir dia tidak pernah memberitahukan tentang apapun soal dirinya kepada siapapun termasuk Laura.


Ford hanya mengembangkan senyumannya sembari menatap dalam bola mata Zoya, laki-laki itu tidak menjawab sama sekali dia membiarkan kedua belakangannya kembali fokus pada makanannya gimana cara perlahan dia mulai menyuapi kembali makanan ke mulutnya dan memutuskan untuk tidak kembali mengeluarkan suaranya.


Zoya sendiri mengerutkan keningnya untuk beberapa waktu, berbagai macam pertanyaan menghantam dirinya, dia merasa Ford terlalu banyak tahu soal dirinya dan ini benar-benar cukup membuatnya gelisah, dan terkadang apapun yang dilakukan Ford rasanya cukup aneh bukan seperti seorang laki-laki yang hanya memberikan sebuah pertolongan atas kebaikan tapi seolah-olah laki-laki tersebut menolongnya karena memang sejak awal laki-laki itu ingin membantunya dan ingin mereka dekat antara satu dengan yang lainnya.


Tapi Zoya berusaha untuk menggeleng-gelengkan kepalanya dan berpikir mungkin dialah yang terlalu lebay dan berlebihan, mungkin juga terlalu ge er dengan perhatian demi perhatian yang diberikan oleh laki-laki di hadapannya tersebut.