King Khan's Shackles

King Khan's Shackles
Dalam rasa lelah



Setelah melewati beberapa sesi permainan panas tanpa henti pada akhirnya bisa Khan lihat sang istri menenggelamkan dirinya dalam lelah nya, perempuan itu mulai terlelap melupakan segala sesuatu yang ada di sekitarnya. tidak bisa disalahkan karena Khan bener-bener membawa perempuan itu berpetualang hingga beberapa sesi permainan, dia tahu jika istrinya pasti kewalahan menghadapi dirinya.


tidak bisa dia pungkiri, Ashley benar-benar menjadi candu untuk dirinya di mana dia tidak akan pernah memikirkan perempuan lain setelah dia mendapatkan Ashley didalam hidup nya.


perempuan tersebut benar-benar luar biasa menurut dirinya, tidak ada yang membuatkan bisa ingin menyentuhnya berkali-kali tanpa henti karena biasanya ketika dia menyentuh seseorang itu satu kali dia tidak akan melakukannya untuk kedua kalinya tapi dengan Ashley begitu terasa berbeda baginya perempuan tersebut adalah candu mematikan dan juga nikotin yang tidak bisa dia tinggalkan.


semakin berusaha dia melepaskannya melupakannya maka semakin dia terjerat pada halusinasi tanpa jeda.


"Apa yang kau berikan padaku baby?." terkadang dia mempertanyakan hal tersebut di dalam hatinya.


Dia benar-benar sudah terpaut dan tidak ingin kehilangan perempuan tersebut dalam keadaan apapun.


Khan yang masih menggunakan handuk mandi nya, dimana bisa dilihat rambut basah masih meneteskan sisa-sisa air ke bagian wajah dan bahunya, laki-laki tersebut perlahan mendekati istrinya, memilih menatap Ashley untuk beberapa waktu.


Laki-laki tersebut duduk di sisi kanan istrinya, memilih untuk merapikan rambut istri nya secara perlahan. Dia membiarkan dirinya menelisik keberadaan sang istri nya yang belakangan menjadi hal baru yang begitu menyenangkan.


Apakah ini berkah atau tantangan dia tidak tahu, apakah ini akan jadi hal yang mungkin membuat kehidupan nya jauh lebih baik atau menggelap dia tidak tahu, tapi hingga sejauh ini Ashley seolah-olah menjadi dewi keberuntungan nya, membawa banyak hal baik untuk kehidupan nya. Sejenak laki-laki tersebut diam, dia menjongkokkan perlahan tubuhnya kemudian Khan mencium lembut bibir istrinya untuk beberapa waktu.


Khan berlahan beringsut dari posisi nya, memilih bergerak menuju ke arah lemari walk in closet, mencari pakaian ganti miliknya secara perlahan kemudian setelah itu dia mulai naik ke atas kasur tepat di sisi istrinya dan memutuskan untuk melelapkan diri dalam rasa lalu yang sangat luar biasa.


3 sesi permainan membuat dia cukup bisa tertidur dengan lelap malam ini hingga besok pagi pikir nya.


********


Disisi lain,


kediaman Alex.


Tidak tahu kenapa, melihat Clara membuat Alex muak belakangan ini, dia pikir bagaimana bisa dia lebih memilih Clara daripada Ashley kemarin. Menganggap Ashley sebagai umpan saja untuk memanfaatkan Khan.


Sekarang setelah berpisah dia pikir kenapa perempuan tersebut terlihat begitu penuh pesona, dia bahkan terlihat sangat berkelas dengan penampilan dan juga kepintaran nya.


Sial.


Alex mengumpat didalam hati nya.


Ada sedikit sesal yang dirasakan oleh nya setelah mengabaikan Ashley dan memilih Clara untuk dinikahi nya. Nyatanya Clara tidak memiliki kemampuan apapun untuk bisa di andalkan.


"Bagaimana caranya untuk bisa mendapatkan Ashley kembali ke dalam pelukan nya?, merebut Ashley dari Khan dan membuang Clara secepatnya?." Barisan tanya tersebut melintasi kepala Alex, dia memikirkan hal seperti itu sejak semalam.


"Sayang-," Clara datang, mendekati dirinya dan mulai bergelayut manja di lengan nya.


Coba tebak, apalagi yang diinginkan gadis sialan ini??.


"Bolehkah aku membeli tas limited edition-,"


"Lagi?." Alex memotong ucapan Clara dengan perasaan kesal.


"Kamu baru saja membelinya kemarin, apa kamu tidak lihat bagaimana kegagalan menghantam diri kita?, kita kehilangan berlian dan juga lukisannya lalu bagaimana kamu ingin berfoya-foya ketika kita belum mendapatkan sedikitpun keuntungan atas kerja keras yang kita lakukan?." Alex jelas terlihat sangat kesal dengan apa yang diminta oleh Clara.


Bagi nya terkadang perempuan itu sedikit tidak masuk akal, meminta sesuatu di waktu yang sangat tidak tepat.


Clara terlihat jengkel mendapatkan reaksi berlebihan dari suaminya tersebut, dia pikir bagaimana bisa laki-laki tersebut menolak permintaannya, itu membuatnya cukup kesal dan marah.


"tidak bisakah kamu bicara denganku dengan cara yang manis?, ucapanmu seolah-olah berkata kamu mulai muak dan bosan memberikanku beberapa barang barang yang aku inginkan." Clara terlihat mengoceh dengan perasaan kesal.


"ini bukan soal bosan dan muak, tapi kamu terkadang tidak tahu menempatkan situasi dan juga kondisi." oceh Alex kemudian.


Dan percayalah seketika perempuan tersebut merasa kecewa dengan Alex, dia memunculkan bibirnya kemudian dengan perasaan kesal langsung mencoba untuk bergerak menjauhi laki-laki tersebut dan keluar dari sana.


Brakkkkkkk.


Clara membanting pintu dengan keras dalam perasaan kesal.


Alex hanya bisa memejamkan bola mata ini sembari mencoba untuk menahan emosi yang menggelegar di dalam hatinya. Dia pikir mungkin benar dia harus menyingkirkan perempuan tersebut agar tidak membuat emosionalisme nya yang memuncak.


******


Yang mau kisah Tiffany adik perempuan Khan bisa intip kemari Mak, sudah hampir masuk akhir sebentar lagi.


Seperti biasa alurnya tidak bisa ditebak dan jangan berharap dia kek kisah ikan terbang 🤭🤭🤭.



Galeri Pengantin xxxxxxx


pusat kota.


Seorang gadis menatap perempuan yang usia nya hanya selisih beberapa tahun dari nya dengan bola mata berkaca-kaca, dia berusaha untuk menulikan pendengaran nya, berharap apa yang dia dengar barusan merupakan sebuah kesalahan,atau dia berharap saat ini dia sedang bermimpi,dia hanya butuh seseorang menepuk-nepuk wajah nya atau bahkan mengguncang-guncang bahu nya untuk membangunkan nya dari alam mimpinya.


Beberapa menit yang lalu dia masih tersenyum dengan senang, menatap Perempuan dihadapan nya dengan jutaan kebahagiaan, bahkan dia masih menatap sosok laki-laki yang kini berdiri disamping mereka yang membeku tanpa suara.


"Aku...apa... maksud ku.... aku pasti salah dengar"


Tiffany bicara dengan bibir bergetar.


Dia berusaha untuk berdiri dengan goyah, terlihat Ling lung sambil menahan tangisannya, dia masih berusaha mengingat apa yang terjadi beberapa menit yang lalu.


"Aku hamil"


Itu yang di ucapkan Jessica pada nya beberapa menit sebelumnya.


Dihadapan Tiffany adalah Jessica, saudara angkat yang di ambil mama dan papa nya belasan tahun yang lalu untuk dijadikan bagian dari pada keluarga mereka.


Mama nya cukup kesulitan memiliki seorang anak pada masa nya, untuk mendapat kan Tiffany dan Khan kakak kembar Tiffany, mama nya nyonya Ayana dan papa nya tuan Gao Han menggelontorkan dana yang tidak sedikit, 8 tahun berjuang untuk mendapatkan anak berakhir pada bayi yang menggunakan rahim orang lain.


Pada masa itu, rahim pengganti bukan lah hal yang selumrah saat ini dan sudah diketahui oleh para khalayak ramai, dulu sistem rahim pengganti baru di keluarkan Secara diam-diam dan di anggap ilegal.


Dan kelahiran Tiffany serta saudara kembar nya tidak semudah membalikkan telapak tangan, sangat sulit dan rumit juga butuh ke Istiqomah'an luar biasa dari kedua orang tua nya.


Setelah kelahiran mereka, mama nya pada akhirnya menemukan seorang anak kecil tanpa orang tua, ditelantarkan di depan sebuah panti asuhan dan di ambil oleh keluarga Hillatop untuk dijadikan putri di keluarga mereka.


Dia dan Jessica, tidak ada perbedaan sama sekali di antara mereka berdua, apa yang dimiliki oleh Tiffany maka Jessica juga pasti memiliki nya, bahkan meskipun hanya seujung kuku nya, tidak ada perlakuan berbeda yang diberikan, semua benar-benar disetarakan.


Dan Tiffany sama sekali tidak menganggap Jessica sebagai orang asing, bagi nya Jessica sudah persis seperti saudara kandungnya sendiri, apalagi selisih usia mereka hanya beberapa Minggu saja.


Tiffany jelas mengerutkan keningnya, sejenak bola mata Tiffany tidak sengaja menangkap satu sosok laki-laki yang turun dengan tergesa-gesa dari mobil nya di area parkiran depan, bisa dia lihat dengan jelas sosok laki-laki tersebut karena posisi galeri yang tembus pandang karena dikelilingi kaca di seluruh bagian tiap sisi nya.


Itu adalah Sean, tunangannya.


"Sean bergerak kemari mencoba untuk menghentikan ku bicara"


Tiba-tiba Jessica kembali Bicara, entahlah apa yang diucapkan Jessica membuat Tiffany agak bingung.


"Dia baru turun dari mobilnya"


Tiffany masih berusaha mengembangkan senyuman nya, masih melirik kearah Sean yang berlarian tergesa-gesa seperti di kejar oleh waktu.


"Aku ingin bilang jika aku hamil"


Ucap Jessica tiba-tiba, menatap Tiffany dengan tatapan yang tidak dia pahami, satu kegelisahan menghantam perempuan dihadapan nya, tapi ada amarah pandangan lain di sekitar bola matanya.


Tiffany jelas saja terkejut mendengar pernyataan Jessica,dia sama sekali tidak menaruh kecurigaan, gadis tersebut masih menggunakan pakaian pengantin nya, dimana hari ini dia melakukan fitting pakaian untuk pernikahan nya yang akan diselenggarakan beberapa Minggu lagi, semua persiapan telah matang, tidak ada yang belum dilakukan.


Bahkan undangan sudah di sebarkan, dua keluarga benar-benar bahagia dalam jutaan harapan untuk dirinya, Tiffany terlihat begitu cantik dengan balutan pakaian pengantin nya, meskipun belum di sapu make up dari MUA pilihan para aktris dan pengusaha kelas atas Jakarta, realitanya dia memang sudah cantik dari lahir nya.


Dia dan Sean telah lama menjalin ikatan asmara, sejak SMA sudah cukup membuat mereka dekat dan mengenal antara satu dengan yang lainnya, jadi dia pikir ketika Sean melamar nya dia langsung menerima nya dan berpikir ini memang waktu yang paling tepat untuk melepaskan masa lajang nya.


"Anak siapa? kau gila,mama dan papa bisa membunuh mu"


Tiffany bicara cepat, cukup terkejut dengan apa yang di ucapkan oleh Jessica, bola mata nya jelas langsung beralih pada Jessica.


Dia pikir Jessica tidak pernah memiliki kekasih yang benar-benar dia sukai, saudara angkat nya itu memang memiliki banyak teman laki-laki, lebih aktif dan supel dari dirinya, tapi tidak pernah berkencan dengan satu laki-laki pun hingga sejauh ini.


Alih-alih menjawab pertanyaan Tiffany, Jessica buru-buru berkata.


"Aku sebenarnya tidak ingin mengatakan ini, tapi keadaan yang membuat ku terpaksa mengatakannya, anak yang ada didalam perut ku adalah anak dari Sean"


Seketika ekspresi wajah Tiffany berubah, dia yang awal nya masih tersenyum bahagia, berganti keterkejutan karena Jessica berkata dia hamil kini langsung berubah drastis memucat dan gemetaran.


Sean dengan bersusah payah menggapai pintu galeri, berlarian mendekati kedua sosok yang sangat dia kenal, satu sisi adalah calon pengantin nya, yang satu nya lagi perempuan yang mengandung anak nya.


Dua orang tersebut duduk saling berhadapan di atas sebuah kursi, dimana Jessica tidak menampilkan emosi nya sama sekali sedangkan Tiffany mencoba untuk memahami keadaan berikutnya saat ini.


******


Tiffany terlihat mencoba untuk menahan dirinya, dia bergetar,bola matanya terasa memanas saat ini, entahlah rasanya dia mencoba untuk menyadarkan dirinya dari mimpi buruk nya hari ini, tapi nyata nya saat dia mencoba untuk mencubit paha nya, rasa nya begitu sakit.


Tapi sakit nya tidak sesakit dihatinya saat ini, saking sakitnya tidak ada yang tahu bagaimana rasanya, sesak, seakan-akan ada yang menghimpit jantung nya, dia ingin bernafas tapi rasanya tidak bisa, nafasnya tiba-tiba terasa berhenti secara mendadak, dia seolah-olah di kurung di dalam sebuah ruangan sempit yang semakin menghimpit tubuh nya dan membuat dia seakan-akan siap mati saat ini juga.


Pada akhirnya Tiffany secara perlahan mencoba menoleh kearah Sean, dimana laki-laki tersebut kini berdiri memucat menatap Tiffany dan Jessica.


"Sean.... Jessica?"


Dia ingin bicara, tapi suaranya seolah-olah terhalang sesuatu, tenggorokan nya sakit dan tercekat. Tiffany berusaha menatap Sean kemudian menatap Tiffany, dia menaikkan jemari tangan nya dan telapak tangan nya, mencoba untuk bicara dimana dia pikir nafasnya masih tercekat dan dia tidak bisa benar-benar mampu mengeluarkan suaranya.


"Sean....., aku pikir.....aku......mendengar sesuatu yang salah"


Tiffany mencoba bertanya dengan nada bergetar, menahan gemuruh di dada nya, dia menatap Sean dan berharap jawaban dari laki-laki tersebut tidak seperti apa yang di katakan oleh Jessica.


Dia berharap Sean mengklarifikasi ucapan Jessica kepada dirinya, tapi dia menunggu namun nyatanya laki-laki tersebut hanya mematung, seolah-olah hendak bicara tapi terpaksa menahan kata-kata nya.


"Tiffany...aku"


Sean mencoba melangkah mendekati Tiffany.


"Jangan berpikir soal apapun, Jessica bukankah aku...."


"Kau melarang ku mengatakan nya? aku sudah memberikan kamu kesempatan selama ini"


Jessica langsung memotong ucapan Sean.


"Jes...."


Sean sedikit membentak.


"Berhenti..."


"aku hanya ingin tahu apa itu benar?"


Dia berteriak kearah Sean, membuat laki-laki itu seketika membeku, dia memejamkan bola matanya sejenak kemudian berkata.


"maafkan aku tiff, aku akan menjelaskan..."


"Penjelasan ku cukup, aku hamil anak Sean"


Jessica bicara cepat, memotong ucapan Sean.


"Apakah ini prank? maksud ku siapa yang ulang tahun?"


Tiffany memotong ucapan Jessica,dia masih berharap ini bohong masih berharap semua hanya sebuah tipuan untuk mengerjainya, tapi kedua orang tersebut terlihat menundukkan kepala mereka dan membisu, Tiffany jelas memucat, menancapkan kuku-kuku nya ke paha nya untuk beberapa waktu dimana tubuh nya masih terbalut gaun pengantin.


Tanpa diduga Tiffany menampar pipi kanan nya berkali-kali, air matanya tumpah, dia berharap bangun saat ini juga.


"Tiffany..."


Sean Panik, gadis tersebut terus menampar wajahnya dengan histeris berkali-kali tanpa henti.


"Ini mimpi bukan ? ini pasti mimpi? tidak....kalian berbohong.....Akhhhhhhhhhh"


Gadis tersebut menjerit histeris, hati nya terasa tercabik-cabik, dia merasa di khianati secara terang-terangan, dia marah, dia kecewa, dia patah hati, dia bahkan tidak tahu bagaimana melampiaskan kemarahannya.


Tangis nya pecah, menimbulkan kehebohan disana, Sean panik, berusaha meraih tubuh nya dan Jessica tidak menyangka respon yang diberikan Tiffany akan seburuk itu, gadis tersebut benar-benar histeris di luar pemikiran nya.


Sekuat apapun Sean mencoba untuk meraih tubuh gadis tersebut, tapi Tiffany terus berteriak histeris seperti orang gila.


Jessica mematung, menatap kearah Tiffany dengan tatapan nanar.


******


Mansion utama Hillatop.


Malam


Tiffany terlihat sedikit lebih baik dari pada beberapa hari sebelumnya, setelah menghilang dari peredaran selama hampir 1 Minggu gadis tersebut kini sudah kembali ke kediaman orang tuanya, jangan ditanya kalau soal hancur hatinya tapi yang jelas pada akhirnya pernikahan antara gadis tersebut, Sean dan Jessica langsung bertukar posisi begitu saja.


Apakah dia harus marah, histeris dan lain sebagainya? tidak! dia menekan semua kesabaran nya agar tidak meledak melampaui batasan nya setelah menangis dalam kekecewaan dalam satu Minggu lebih ini.


Entahlah bagaimana pernikahan kedua orang tersebut dia tidak peduli, Tiffany tidak punya keinginan bertanya dan bagaimana cara penyelesaian semua persoalan mereka.


Semua baik-baik saja, yakinlah.


Dia selalu berkata seperti itu didalam hati nya meskipun dia tahu ini sebenarnya tidak baik-baik saja. Hati nya parah, sepatah-patah nya. Tapi seperti kata kak Xia nya, dia sedang belajar ikhlas untuk menerima segala ketetapan Nya.


Gadis tersebut mengehela pelan nafasnya, mencoba menetralisir detak jantung nya untuk beberapa waktu, memejamkan sejenak bola mata nya kemudian membuka nya kembali.


"Kamu baik-baik saja?"


Suara seseorang mengejutkan Tiffany saat gadis tersebut berusaha untuk mengoleskan selai nanas di roti miliknya, baru sadar dia belum menyentuh makanan apapun sejak siang perutnya cukup lapar saat ini. Tiffany tidak menoleh sama sekali, hanya sempat menghentikan gerakan tangannya sejenak kemudian kembali bergerak kemudian di beberapa detik berikutnya dia hanya menjawab.


"He em"


Tiffany kembali mengoleskan selai ke roti nya.


"Mau pergi jalan-jalan?"


Lagi suara tersebut terdengar, suara bariton dengan nada yang begitu hangat yang beberapa waktu ini dia rindukan. Itu adalah kakak laki-laki nya, Khan.


Sang penguasa Hillatop berikutnya itu tidak menetap di Indonesia, dia pergi ke Paris dan menetap disana sejak dulu hingga sekarang, menyelesaikan pendidikan nya kemudian langsung terjun ke dunia bisnisnya.


Laki-laki tersebut memiliki benar-benar meninggalkan Indonesia sejak usia remaja nya,hanya kembali di hari besar dan itu pun hanya pulang dua atau tiga hari saja tidak lebih.


Tiffany lah yang paling sering berkunjung kesana dan mengambil liburan untuk bertemu kakak kesayangan nya tersebut.


"Kakak tidak hapal jalan bukan? tawaran nya benar-benar menggiurkan, tapi itu cukup menyulitkan aku yang baru saja patah hati"


Gadis tersebut menjawab cepat, meletakkan selai nanas ditangan nya, dia mulai Bergerak menjauh dari meja kitchen set namun rupanya Khan bergerak mendekati dirinya.


Laki-laki cluster tersebut nyatanya sudah berdiri tepat dihadapan nya saat ini, memperhatikan Tiffany yang menundukkan kepalanya.


Khan menggunakan pakaian tidurnya, terlalu sempurna untuk ukuran seorang laki-laki di usia nya, membuat gadis manapun selalu memuja nya tak terkecuali adik nya sendiri.


Laki-laki tersebut menyentuh lembut kening Tiffany, bingkai kaca mata nya sedikit bergeser, ditangan kirinya terlihat segelas wine yang bertengger disana. Nyatanya kehidupan Barat sangat berbeda dengan kehidupan timur, kakak nya laki-laki bebas yang belum memilih untuk membuat sebuah keyakinan untuk dirinya sendiri.


Karena itu takut menghancurkan keluarga yang berbalut pada kehidupan yang cukup agamis, Khan memilih untuk menetap di luar negeri demi menghindari cemoohan orang.


Dia hanya buruh kebebasan untuk berekspresi, dan mungkin tengah menunggu Hidayat soal kehidupan nya atau mungkin ada gadis ajaib yang bisa mengubah kehidupan nya menjadi Istiqomah sama seperti kisah Daddy mereka, Gao Han di masa muda.


Entahlah siapa gadis hebat yang bisa mengubah kehidupan nya nanti, atau Khan akan tetap berada di lingkaran dunia nya saat ini hingga akhir, berkutat dengan gelap nya kehidupan malam dan mafia-mafia'an yang membuat mommy mereka acapkali berkata.


"Allah SWT tidak tidur karena Allah SWT satu-satunya zat yang mampu membolak-balikkan hati manusia dan kehidupan nya"


Dan 2 pesan yang selalu Khan dengarkan,


"Jangan merusak anak gadis orang dan jangan membunuh orang, 2 dosa itu sungguh akan menyeret kami ke jurang api neraka paling jahanam"


Dan percayalah aktifitas sek sual Khan terus dipertanyakan hingga sekarang, laki-laki tersebut benar-benar tidak pernah tertarik pada seorang gadis atau perempuan bahkan tidak berpikir untuk menikah hingga hari ini sama sekali.


Itu membuat cemas seluruh keluarga besar Hillatop, de Lucas dan Azzura.


"Apakah dia laki-laki normal?"


Seringkali semua orang bertanya.


"Dia tidak menyukai kaum perempuan"


Dan jawaban para sepupu sangat meresahkan.


Tiffany pernah bertanya kenapa laki-laki tersebut begitu enggan berhadapan dengan perempuan,


"Kenapa?"


Betrayal (Pengkhianatan) menjadi momok paling menakutkan untuk Khan.


"Jatuh cinta akan membuat mu gila dan patah, aku tidak suka. Saat kau dilambungkan ke angan-angan kemudian di hempaskan, itu terlalu menyakitkan."


Khan menjawab sambil menatap tajam bola matanya dimasa lalu


"Naikkan Kepala mu"


Khan bicara, menunggu adik kesayangannya melakukan perintahnya.


Gadis bertubuh mungil seperti adik nya itu terlihat menaikkan kepalanya secara perlahan, menatap wajah kakak nya dalam kebisuan.


"Dunia tidak akan terbalik karena patah hati bukan?"


laki-laki tersebut bertanya masih menyentuh kening Tiffany, menatap adik nya dengan tatapan yang dalam dan hangat meskipun tidak menghilangkan kesan dingin dan datar nya.



...(Hanya visual, anggap aja mereka kembar tapi beda gender dah Mak, susah cari visual nya wkwkwk🤭)...


Tiffany, gadis cantik bertubuh mungil tersebut merupakan gadis yang begitu ramah dan polos, terlalu mudah untuk menipu dan membohongi nya, mungkin karena dominan ke sifat mommy mereka, karena itu Tiffany memiliki sifat yang tidak mudah curiga pada orang lain


Bagi nya semua orang itu baik, dia lupa terkadang pemikiran seperti itu sering dimanfaatkan oleh orang lain, dia terlalu tulus bahkan sangat tulus, begitu hangat juga menyenangkan. Tidak pernah terbesit sedikitpun kecurigaan di hati Tiffany untuk berpikir ada orang-orang tidak tulus dan jahat di sekitarnya.


"Tidak terbalik, hanya saja rasanya masih sakit"


Dan Tiffany menjawab pelan, sebenarnya dia sudah enggan menangis tapi saat melihat wajah kakak nya tiba-tiba saja bola matanya berkaca-kaca.


Satu-satunya laki-laki yang begitu tulus mencintai dan menyayangi nya hanya Khan, laki-laki tersebut tidak akan pernah melukainya dalam keadaan apapun, selalu melindungi nya dan menggenggam erat telapak tangan nya.


Mereka terlahir kembar namun dengan gender yang berbeda, apa yang dirasakan salah satu dari mereka, satu nya lagi pasti merasakan nya.


"Kamu bisa menggunakan dada kakak untuk tangisan di malam terakhir"


Ucap Khan kemudian.


"Jangan meminta ku melakukan nya lagi, 1 Minggu ini kecantikan ku telah menghilang karena melakukan nya"


Tiffany berusaha terkekeh meskipun berat.


Khan menaikkan ujung bibirnya, dia tersenyum kemudian menyentuh lembut puncak kepala adiknya.


"Ini terdengar egois, tapi ingat kata ku 4 tahun yang lalu?"


Tiba-tiba laki-laki tersebut bertanya, membuat Tiffany diam dan kembali menundukkan kepalanya.


Dia ingat.


"Sean bukan laki-laki yang tepat untuk mu, percayalah"


Kala itu Khan dengan sangat tegas berkata.


"Jika penikahan mu gagal dengan nya, maka kakak dan mommy akan mengganti penikahan mu dengan laki-laki pilihan kami"


"Yah aku ingat"


Jawab Tiffany pelan.


Entahlah apakah ini mungkin kebetulan, atau ini memang takdir yang berjalan.


"Pernikahan mu akan berganti demi untuk melindungi nama baik keluarga dan diri mu sendiri"


Saat kakak nya berkata begitu, Tiffany dengan perlahan menatap kembali kearah kakak laki-laki nya, dia menggigit bibir bawahnya.


"Jadwal pernikahan kalian tidak akan diundur atau ditunda, keluarga Xavier akan datang besok, Dru putra Uncle Tristan dan untie Lana Lan akan meminang mu dan memberikan mahar sesuai permintaan kamu dulu"


Saat kalimat terakhir terucap, seketika air mata Tiffany tumpah, entahlah dia tidak bisa membedakan perasaan nya saat ini.


Apakah ini sebuah kekecewaan atau terbesit sedikit kebahagiaan, pernikahan nya pada akhirnya benar-benar berganti sesuai dengan perjanjian awal yang pernah dia cetuskan di masa lalu.