King Khan's Shackles

King Khan's Shackles
Rahasia besar Ashley



Kedatangan mommy nya jelas membuat Khan dan Ashley senang, sayangnya wanita tersebut tidak bisa tanggal terlalu lama karena wanita tersebut harus kembali dan tidak bisa meninggalkan suami nya terlalu lama di rumah. Tuan Gao tidak betah terlalu jauh dengan istrinya tapi tidak bisa ikut berkunjung karena urusan perusahaan cabang juga cukup menyiksa.


"Menginap disini beberapa hari lagi mom." Itu yang diucapkan Khan.


"Daddy mu bisa mati berdiri di rumah sendirian." Canda wanita tua terbesar.


Yah Gao Han tidak terbiasa jauh dari nya, tiap kali dia pergi sendiri mengunjungi anak-anak dengan pengawal pribadi atau pelayan kepercayaan, Gao Han terus menghubungi nya dan bertanya kapan pulang. Dia selalu berkata dia tidak akan lama, bukankah semua kebutuhan ada pelayan atau asisten Gao Han yang bisa membantu nya dari pakaian bersih,makan atau minta bantuan untuk membeli apapun yang diinginkan. Nyatanya suaminya selalu menjawab.


"Mereka tidak bisa melakukan segala sesuatu sesempurna kamu sayang."


"Aku tidak mungkin berteriak minta ambilkan handuk dengan pelayan atau asisten ku, sayang."


"Masakan mereka tidak seenak buatan mu."


"Tidak ada bantal guling sebaik dirimu."


Seribet itu nyatanya seorang laki-laki jika jauh dari istrinya?.


"Baiklah, aku tahu itu." jawab Khan pelan.


Begitu mommy nya pulang Khan sebenarnya cukup berat melepas nya, tapi apa boleh buat, dia harus membiarkan wanita tersebut pulang seusai keinginan nya.


Pada akhirnya hari ini dia memilih pergi untuk bergerak menuju ke perusahaan. Dia tetaplah pemimpin perusahaan dibalik topeng gelap ketua mafia nya bukan?, dia memiliki kehidupan normal laki-laki pada umumnya dan semua orang tidak pernah tahu kedok sesungguhnya seorang Khan.


"Jangan terlalu malam kembali." Ashley berpesan padanya, saat merapikan jas dan dasi nya.


"kenapa?, apakah kamu merindukanku jika kita berjauhan?." Dia selalu memiliki tingkat percaya diri yang tinggi.


"Anggaplah salah satu nya itu." Dia bicara mencoba membuang urat malunya sendiri.


"Baiklah aku berjanji akan pulang jauh lebih awal dan ingatlah untuk tidak keluar rumah atau pergi ke manapun tanpa pengawasan saat aku tidak ada." Khan menjawab ucapan istrinya dengan cepat dan mencoba mengingatkan Ashley agar tidak pergi ke mana-mana tanpa dirinya atau tanpa pengawalan.


"Tentu saja, aku tidak akan pergi kemanapun tanpa izin dirimu juga tanpa ditemani oleh mu dan aku tidak akan pernah pergi bersama para pengawal." Ashley bicara untuk memastikan.


Khan langsung melebarkan senyumannya, dia memilih untuk mencium puncak kepala istrinya dan bergegas pergi dari sana.


Begitu Khan beranjak pergi, Ashley memilih untuk bergerak menuju ke lantai atas, mungkin sedikit mengistirahatkan diri untuk beberapa waktu hingga makan siang nanti.


Sendirian dirumah besar hanya ditemani pelayan jelas membosankan tapi dia punya tugas lain yang sebenarnya tidak pernah di ketahui oleh sang suami nya.


Perempuan tersebut bergerak cepat menuju ke lantai atas tanpa banyak bicara, dia merasa harga kamar mereka dengan cepat dan memilih untuk menutup pintu kamar dari arah dalam agar tidak ada yang masuk tanpa sepengetahuannya.


Ashley terlihat mencoba untuk berdiri sejenak di tengah-tengah kamar tersebut di mana perempuan itu memejamkan bola matanya untuk beberapa waktu hingga pada akhirnya dia membuka kembali bola matanya, menyambar sesuatu di lemari nakas, mengambil sebuah kacamata dan mencoba untuk menelisik ruangan tersebut dengan kaca mata itu.



"Pastikan suami ku tidak terdeteksi oleh mereka, Ran." Ashley bicara dengan seseorang di balik alat pendengar nya sembari memperhatikan bagian atap kamar mereka, mencari sesuatu disekitar sana.


Perempuan itu bergerak cepat menuju kearah walk in closet, mencari sesuatu di satu sisi di dalam sana. Tidak butuh lama hingga akhirnya dia mengeluarkan sesuatu dari sana sambil menaikkan ujung bibirnya.


"Mari masuk ke misi selanjutnya, Ran."