King Khan's Shackles

King Khan's Shackles
Perasaan yang tidak baik-baik saja



Pada akhirnya Ford meletakkan Zoya kedalam kamar mandi secara perlahan, membiarkan gadis tersebut duduk di atas kloset duduk, laki-laki tersebut kemudian berkata.


"Aku akan mengambil pakaiannya." ucap laki-laki itu cepat, bergerak membalikkan tubuhnya dan berjalan menuju ke arah kamar, mencari paper bag di mana dia meminta anak buahnya untuk membawa pakaian gadis tersebut dari dalam mobil mereka.


Dia merupakan laki-laki yang cukup teliti dan penuh perhatian apapun kebutuhan dari saya selalu harus ada dan tidak boleh tidak ada.


begitu menemukan paper bag mendominasi berwarna hitam yang ada di atas lemari nakas, laki-laki itu kembali bergerak menuju ke arah kamar mandi kemudian menyerahkan paper bag tersebut kepada Zoya.


"Hati-hati saat mengganti pakaian, jangan bergerak terlalu banyak di kamar mandi, karena aku takut kamu terjatuh," sebelum laki-laki itu beranjak pergi dia masih sempat berkesan kepada saya agar berganti pakaian dan berhati-hati karena gadis tersebut sempat jatuh tempo hari.


seketika ketika gadis itu mendengar kata jatuh di kamar mandi jelas saja langsung membuat wajah langsung memerah ingatkan pada malam hari beberapa hari yang lalu membuatnya kembali malu karena selain itu dia jatuh di kamar mandi yang sangat tidak menguntungkan dan handuknya terlepas dari tubuhnya sehingga membuat laki-laki di hadapannya tersebut melihat bagian tubuh yang tidak seharusnya dilihat.


"Ya." Zoya menjawab dengan nada perlahan dan nyaris tidak terdengar, dia tiba-tiba memejamkan bola matanya dan menggigit bibir bawahnya saat ingat dengan kejadian malam itu.


itu adalah kejadian paling memalukan di dalam hidupnya dan dia berharap Ford melupakan kejadian pada masa itu, nyatanya saat dia berusaha melupakannya laki-laki itu malah mengingatkannya kembali atas peristiwa memalukan tersebut.


"kenapa paman mengingatkannya lagi." Batin gadis tersebut kemudian.


Zoya pada akhirnya secara perlahan mulai melepaskan pakaian yang digunakan kemudian dia dengan gerakan hati-hati mengganti pakaian miliknya dengan pakaian yang dibawa oleh laki-laki tadi, cukup sulit untuk dia melepaskan kancing daun miliknya dari arah belakang mengingat tangannya pun masih sangat sulit untuk digerakkan ke belakang, membuat gadis itu sedikit kebingungan mencoba untuk menggerakkan tangannya dengan berbagai macam cara.


"Ohhhh bagaimana ini?," dia bertanya perlahan dengan perasaan bingung karena nyatanya tangannya sama sekali tidak bisa menggapai kancing gaun di belakangnya.


Zoya mencoba untuk menganalisis seluruh ruangan kamar mandi tersebut dan dia mencoba untuk mencari mungkin ada alat yang bisa membantunya untuk menarik resletingnya tersebut namun ke arah manapun dia mencari nyatanya dia tidak berhasil menemukan apa yang ingin dia temukan. sehingga gadis tersebut pada akhirnya merasa cukup putus asa kemudian dia langsung menatap ke arah pintu kamar mandi dan Zoya pikir apakah dia harus memanggil sang Paman untuk membantunya.


Padahal sering bicara dalam hati, bisakah dia tidak selalu merepotkan Ford? nyatanya dalam keadaan apapun dia selalu harus merepotkan laki-laki tersebut dengan berbagai macam alasan. Zoya hanya bisa mengalah kasar nafas untuk beberapa waktu kemudian gadis itu pada akhirnya mencoba untuk memanggil laki-laki yang usianya belasan tahun di atasnya tersebut.


"Paman," pada akhirnya terpaksa dia memanggil laki-laki tersebut.


"Paman...," lagi dia memanggil, menunggu laki-laki tersebut datang ke kamar mandi.


Sesuai prediksi, Ford secepat kilat datang dan menyembulkan kepalanya ke kamar mandi.


"Sudah?," Laki-laki itu bertanya sembari menatap ke arah Zoya, masuk kedalam secara perlahan dan bersiap untuk mengangkat tubuh gadis tersebut namun seketika laki-laki itu mengerutkan keningnya saat dia menyadari Zoya sama sekali belum mengganti pakaian nya.


"Apa ada sesuatu yang salah?," Ford bertanya bingung pada gadis yang ada di hadapannya tersebut.


Zoya terlihat mengembangkan senyumannya, terlihat menatap Ford dengan ekspresi malu, dia menampilkan barisan gigi putih nya kemudian berkata.


"Aku tidak bisa membuka resleting nya, paman." gadis itu bicara sembari menunjuk ke arah resleting gaun miliknya dari arah depan,


Ford menatap Zoya untuk beberapa waktu, menatap wajah cantik yang menampilkan sedikit sisi manja nya, bicara sambil melebarkan senyumannya menampilkan barisan gigi putih yang begitu indah membuat laki-laki itu terlihat berdebar-debar menatap nya. Bohong jika Ford baik-baik saja, dia selalu gelisah melihat gadis tersebut, tapi mati-matian berusaha untuk menepis perasaan yang ada di dalam dirinya.


"Ini sangat sulit," lanjut Zoya lagi kemudian.


Ford menganggukkan kepalanya tanda mengerti, dia mendekati gadis tersebut kemudian secara perlahan berdiri tepat di belakang Zoya dan membiarkan tangannya menyentuh punggung gadis tersebut.


"Maafkan aku," tidak lupa laki-laki itu berkata seperti itu.


Gadis itu menganggukan kepalanya dengan cepat dan membiarkan Ford untuk menurunkan resleting gaun nya. Bisa dia dengar laki-laki itu menurunkan tidak butuh waktu lama hingga akhirnya Ford berkata.


"Aku akan menunggu di depan."


"Terimakasih paman," Zoya langsung mengucapkan terimakasih nya.


Ford hanya berdehem pelan, kemudian secara perlahan laki-laki itu benar-benar bergerak pergi meninggalkan Zoya.


Zoya terlihat menunggu laki-laki tersebut benar-benar pergi kemudian secara perlahan dia mulai mengganti pakaian nya secara perlahan.


*******


Disisi lain,


Kamar Nyx dan Egalita.


Nyx masih berkutat di kamar mandi, membasahi tubuh nya dan mencoba meredam ribuan rasa yang ada di dalam dirinya saat ini dan mencoba mati-matian untuk menahan segalanya, dia tahu jika dia tidak berusaha menahannya mungkin akan meledak saat ini juga, sejak tadi laki-laki itu terus berusaha untuk menekan kesadarannya dan dia yakin mungkin sekretaris nya dan teman nya Jo tengah mencari solusi yang terbaik, bukan mencari para ja_lang karena dia tidak ingin lagi menyentuh mereka.


Dia sudah berjanji, jika Egalita membuka hatinya dan memberikan nya kesempatan, laki-laki tersebut bersumpah tidak akan menemui perempuan diluar sana dan tidak ingin berurusan dengan perempuan lain. Dan dia tidak ingin mengingkari sumpahnya tersebut pada dirinya sendiri, benar-benar menolak untuk melakukan hal yang disarankan oleh Jonathan.


Air shower terus membasahi tubuhnya, laki-laki tersebut menghadap ke arah dinding kamar mandi, membiarkan suhu tubuh nya turun dan meredam sedikit keadaan, mungkin dia akan bertahan di kamar mandi, mengabaikan semua rasa didalam dirinya, bukan masalah jika dia demam di keesokan harinya, asalkan bisa melewati segala sesuatu malam ini semua itu bukan masalah.


Meskipun pada akhirnya dia harus mengenyam kesulitan dan kesusahan bahkan mencelakai kondisi tubuhnya sendiri itu juga bukan persoalan berat.


Namun tiba-tiba saja ditengah pemikiran dan rasa yang menghancurkan diri sejak tadi, suara pintu kamar mandi yang dibuka mengejutkan Nyx, membuat laki-laki tersebut menoleh ke arah pintu kamar mandi dengan cepat. Nyx seketika membulatkan bola matanya saat dia menyadari tentang sesuatu.


"Egalita?," dia tercekat menatap ke arah gadis yang ada di hadapannya tersebut.


Egalita bergerak mendekati nya secara perlahan.


"Apa yang kamu lakukan di sini?," dia bertanya dengan jantung yang tidak baik-baik saja.