King Khan's Shackles

King Khan's Shackles
Rencana busuk diseberang sana



Apartemen Laura.


Perempuan tersebut duduk tenang di atas sebuah kursi santai, menikmati wine ditangan nya dengan penuh ketenangan, dia menggoyang-goyangkan wine tersebut dengan perasaan yang begitu ringan sembari bola matanya menatap siaran televisi yang terus berputar sejak tadi.


"Kau benar-benar gila." Gadis disamping Laura bicara dengan cepat, dia hanya bisa menghela nafasnya untuk beberapa waktu.


"Cinta terkadang bisa membuatmu menjadi gila bukan?, aku ingin lihat apakah dia bisa keluar dari tuduhan tersebut dan apakah Khan akan terus melindungi dirinya." ucap Laura kemudian dia menyesap minumannya secara perlahan.


"Sebagai seorang suami, dia tidak akan mungkin mengerahkan seluruh kekuatannya untuk melindungi istrinya?." gadis disamping Laura hanya berusaha untuk mengingatkan, dia terlihat meraih minuman kaleng bersoda, memilih untuk tidak menikmati wine di hadapannya.


"Mungkin dia akan melakukan nya, mengambil langkah cepat agar istrinya tidak masuk ke dalam penjara dan dia mungkin akan menghadiri pesta perayaan ulang tahun perusahaan diselenggarakan dalam dua hari lagi, tapi saat dia mengetahui istrinya berada di dalam genggaman laki-laki lain, apakah kau yakin Khan tidak akan menjebloskannya ke penjara?." Dan kini Laura menghentikan gerakan tangannya, dia melirik ke arah gadis yang ada di sisi kanannya tersebut.


"Laki-laki yang telah melihat istrinya terjamah laki-laki lain, tidur bersama tanpa busana dan bercinta dengan orang yang dia percaya dan sangat dia hormati, kau pikir Khan akan memaafkan nya?, tidak marah?, dan tidak membunuh mereka berdua?, Zoya?." dan kembali Laura bertanya pada gadis di sampingnya tersebut.


Gadis yang dipanggil Zoya hanya menaikkan kaleng soda nya, dia melirik kearah Laura kemudian berkata.


"Aku tahu Khan pasti akan marah besar dan membunuh kedua orang tersebut, tapi aku harap kau tidak lupa yang kau hadapi adalah Nyx Zaighum, saat kau ingin menjebak laki-laki itu dengan istri Khan aku tidak yakin jika ketahuan kau akan baik-baik saja, Laura." Dan Zoya mencoba untuk memperingati dirinya.


Alih-alih takut atas peringatan Zoya, Laura langsung membuang pandangannya kemudian dia tertawa terkekeh dengan penuh kesenangan.


Zoya terlihat diam, dia hanya bisa menghela pelan nafasya.


"Bukankah begitu sayang?." Dan Laura kembali bicara, dia memejamkan bola matanya, memanggil seseorang yang tengah duduk di kursi sofa, bersandar dalam kesenangan setelah menghisap kokain dengan sebutan sayang.


Laki-laki dalam bayangan siluet yang tertimpa cahaya lampu dan juga rembulan di ujung langit yang menembuskan agar bagian kaca sisi kiri apartemen tersebut, secara perlahan bangun dari posisi duduknya. Dia merasa senang setelah mengkonsumsi kokain kesukaan nya, mendekati Laura dan meraih Laura dari arah belakang.


Laki-laki tersebut menundukkan kepalanya, dimana Laura secara perlahan mendongakkan kepalanya dan membuka bola matanya secara perlahan.


"Mau sedikit menikmati malam ini baby?." Laki-laki tersebut berbisik dalam balutan hasrat membara nya, dia sebenarnya menginginkan Zoya sejak lama tapi selalu tidak pernah berhasil mendapatkan nya karena Laura begitu melindungi nya.


"Berapa ronde kamu mampu melewati nya." Laura balik berbisik nakal, dia membiarkan bibir laki-laki tersebut meraup bibirnya dengan rakus.


Zoya terlihat jijik menata kedua orang tersebut, memilih pergi dari apartemen tersebut dan berpikir mungkin sebaik dia memilih tempat tenang untuk menghindari kedua manusia gila menurut nya tesebut.


Laura memang sudah tidak punya harga diri sejak dulu, menginginkan Khan sedangkan dia nyaris seperti seorang pelacur jalanan. Dia terus memperingatkan saudara tirinya tersebut agar berhenti bermain api dibelakang semua orang.


Pengaruh laki-laki itu benar-benar mengerikan menurut Zoya.