
Masih di mansion utama Khan dan Ashley,
Kamar Zoya dan Ford,
pagi.
"Aku tidak sadar, demi Tuhan. Terlalu refleks bergerak dan menyakiti kamu." Ford bicara sambil menghapus air mata Zoya yang membasahi kedua belah pipi gadis tersebut, membiarkan jemari-jemari yang menyentuh kedua belah pipi gadis tersebut.
Zoya membiarkan laki-laki tersebut menyeka air matanya, dia menahan sakit dan perih di sekujur tubuhnya. Beberapa luka lecet yang di balut perban jadi mengelupas karena tarikan paksa Ford tadi, dia sadar dia salah tadi karena terlalu usil tanpa memikirkan resiko kedepannya atas apa yang dilakukan oleh dirinya.
Realita nya terkadang saat laki-laki tidur dan dibangunkan dengan mendadak atau refleks, mereka sering melakukan hal diluar akal sehat, mungkin karena efek tidur menguasai para laki-laki sehingga terkadang mereka tidak pernah sadar dengan apa yang mereka lakukan.
"Ini kesalahan ku, seharusnya aku tidak memikirkan soal keusilan, paman." dia menyesal bicara dengan laki-laki itu sembari menatap dalam bola mata Ford.
Laki-laki tersebut sama sekali tidak melepaskan kedua belah tangannya dari kedua belah pipinya di mana laki-laki itu membiarkan sumber-semarinya terus menyeka sisa air mata di pipi Zoya.
Hal itu sejenak membuat Zoya sedikit gelisah, jemari-jemari kokoh dan telapak tangan besar tersebut menenggelamkan pipi kecilnya kedalam nya.
Ford menelisik bola mata Zoya untuk beberapa waktu, membiarkan diri untuk menyentuh lembut wajah gadis cantik dihadapan nya itu.
"Benar-benar maafkan aku, Zoya." ucap Ford lagi kemudian.
Laki-laki tersebut secara perlahan melepaskan telapak tangannya dari wajah gadis dihadapannya itu.
Zoya menganggukkan kepalanya secara perlahan.
"Aku yang seharusnya minta maaf karena mengejutkanmu karena tingkah lakuku, paman." ucap Zoya kemudian.
Ford sendiri langsung bergegas mencari obat di tas yang dibawa oleh Zoya, dia langsung bergerak mengobati bagian luka yang kembali mengelupas sembari dia mengeluarkan ekspresi rasa bersalaman yang sangat luar biasa.
"Seharusnya aku tidak terlalu berhati-hati, selalu berpikir musuh ada di sekitar sehingga melakukan hal bodoh seperti itu dan melukai kamu," dia bicara sembari menghela nafas nya, membiarkan jemari dan tangan terampilnya mengobati setiap permukaan polen dari gadis di hadapannya tersebut.
Zoya terlihat meringis untuk beberapa waktu.
"Sakit sekali?," laki-laki itu bertanya dengan ekspresi wajah yang sangat rumit.
"apa sebaiknya kita memanggil dokter saja? aku akan bicara pada Ashley, meminta perempuan itu untuk mencari seorang dokter guna memeriksa luka-luka kamu." lanjutin lagi kemudian sembari bertanya apakah tidak sebaiknya mereka memanggil dokter.
Nyatanya saat dia mempertanyakan hal tersebut kepada Zoya gadis di hadapannya itu langsung menjalankan kepalanya.
"Aku pikir tidak usah, ini akan sembuh sendiri nantinya, mungkin jadi sedikit lebih lama daripada waktu seharusnya." Zoya bicara sambil menampilkan ekspresi wajah sedikit sedih.
"aku jadi lebih lama untuk bisa masuk ke tempat kuliah dan beristirahat di rumah," dari situ bicara sembari menghela nafasnya.
Ford terlihat diam dan sama sekali tidak menjawab ucapan gadis tersebut, meskipun sebenarnya dia cukup senang gadis itu bisa tinggal lebih lama di tempat kediamannya, namun nyatanya dia juga tidak benar-benar cukup senang karena itu artinya kebebasan saya akan semakin sedikit karena ulahnya. Laki-laki tersebut bener-bener menyusul karena bertindak sedikit ceroboh.
Dia membiarkan terus bergerak mengobati lukazoa hingga pada akhirnya secara perlahan dia sampai pada perut Zoya yang masih memiliki luka di dekat pusat nya. Bagian ini yang paling menyiksa dirinya selama ini, mengobati bagian tersebut, dimana dia harus melihat bagian daripada permukaan kulit yang cukup tertutup tersebut terkadang membuat dia cukup gelisah.
Sama hal nya seperti Zoya, gadis itu selalu tidak baik-baik saja setiap kali Ford menyentuh bagian tersebut, apakah itu respon alamiah seorang gadis yang sudah matang pada seorang laki-laki dewasa, dia selalu merasa terdapat desiran aneh jika Ford menyentuh bagian dari perutnya. Awalnya dia risih tapi semakin kemari, jantung nya sering merasa tidak baik-baik saja.
Dan begitu Ford mengoleskan obat disana seketika Zoya langsung menggenggam lengan laki-laki tersebut, dia sedikit memundurkan tubuhnya karena sentuhan tangan laki-laki tersebut.
''Sakit?," Ford berusaha bertanya pada gadis tersebut saat dia menyadari Zoya berusaha untuk memundurkan posisi tubuhnya.
"Itu, tidak apa-apa." Zoya terlihat menjawab dengan gugup sembari bisa dia rasakan tiba-tiba wajahnya memerah karena sentuhan tersebut.
"Itu bukan masalah," lanjut gadis itu lagi kemudian.
Ford menganggukkan kepalanya, secara perlahan mencoba untuk menyelesaikan tugas-tugasnya, memastikan jika tidak ada sedikitpun luka yang belum diobati sehingga pada akhirnya laki-laki itu meletakkan salam obat yang ada di tangannya tadi lantas memilih untuk menatap dalam bola mata Zoya.
"Kita akan pulang kerumah setelah melewati makan pagi, tapi jika kamu tidak nyaman untuk mendapatkan sarapan pagi di sini karena luka membuat kamu risih, kita bisa melakukannya di rumah hmmm?." dan pada akhirnya laki-laki tersebut kembali membuka suaranya bertanya pendapat pada Zoya di mana mereka seharusnya mendapatkan makan pagi.
Mendengar apa yang diucapkan oleh Ford ketika membuat gadis itu langsung menjawab.
"Mari pulang ke rumah dan makan di rumah, aku pikir itu lebih baik untuk kita, Paman makan sedikit;57$#+ malu-malu kucing dan bahkan mencoba untuk membatasi makan jika kita melakukan makan di luar, sangat berbeda ketika Paman berada di dalam rumah, semua terlihat lebih bersemangat dan membuat paman Lahap memakan semuanya."
Yah baginya laki-laki di hadapannya lebih bersemangat ketika makan di rumah, malah ketika makan di luar seolah-olah laki-laki tersebut mencoba untuk menjaga jarak dan juga membatasi makanannya, hal tersebut membuat Zoya tidak nyaman.
"Ya?,"
Ford cukup terkejut jika laki-laki di depannya itu memperhatikan seluruh gerak-geriknya selama ini, tidak percaya jika Zoya mencoba memperhatikan dirinya.
"Mari pulang kerumah secepat nya." lanjut Zoya lagi kemudian.
*******
Catatan \=
Mau yang agak berat cerita nya Mak?, Alur rumit yang sulit? bisa kemari.
Ini berat Mak, jadi harus pintar menyambung benang merah nya ya.
******
Seorang laki-laki berusia sekitar 32 tahunan menatap tajam pria paruh baya di hadapannya itu, wajah dingin dan bola mata tajam bak siluet setajam silet terus menatap seolah akan menembus jantung pria tua yang ada dihadapannya itu.
Wajah tampan nan kejam dengan aksen garis wajah campuran timur tengah dan daratan Eropa tercetak jelas di wajahnya, dia yang selalu disegani oleh para pengusaha kalangan pembisnis itu jelas menjadi momok paling menakutkan untuk dihadapi.
Seorang pria paruh baya tampak bersujud di bawah kaki laki-laki itu, 2 pengawal bertubuh kekar berdiri tepat di samping kiri kanan pria itu, seorang gadis muda menggunakan kaca mata tampak berdiri dengan pandangan wajah datar memandangi pria paruh baya itu.
"Aku sudah memperingati mu sebelum nya, jangan terlalu jauh bermain-main dengan ku"
Pria paruh baya itu menundukkan kepalanya, bersimpuh di bawah kaki laki-laki itu.
"Aku mohon selamatkan perusahaan kami, tuan Lincoln"
laki-laki itu terkekeh, menatap pria itu dengan pandangan mengejek.
"Memang nya kau fikir segala sesuatu didunia ini gratis? aku tidak memberikan Sedikit pun kebaikan tanpa imbalan yang sepadan"
"Kau bisa memilih salah satu dari putri ku"
Seketika bola mata laki-laki itu membulat.
"Memang nya sehebat apa daya tarik putri-putri mu?"
"Tuan bisa melihatnya...sungguh tuan bisa melihatnya"
pria itu dengan tangan gemetaran meraih handphone didalam kantung celananya, mencoba untuk membuka album foto di handphone nya.
"Tuan bisa memilih salah satunya"
ucap nya sambil memberikan handphone nya pada salah sekretaris laki-laki yang ada di hadapannya itu, perempuan di samping laki-laki itu menoleh ke arah tuan nya, melihat anggukan tanda setuju dia langsung mengambil handphone nya kemudian memberikan pada laki-laki itu.
Sejenak laki-laki itu menatap 2 gambar gadis yang ada didalam handphone itu, laki-laki itu menarik ujung bibirnya dengan pandangan yang begitu dingin.
"Bagaimana jika aku bermain dengan ke dua-dua nya?"
Pria itu jelas terbelalak kaget.
"Tapi tuan.."
Suara nya jelas tercekat.
"Yes or No?"
laki-laki itu suap berdiri Dari duduknya, berniat untuk meninggalkan pria paruh baya itu.
"Baik tuan, baik tuan akan aku lakukan, apapun yang anda inginkan akan aku berikan".
Pria paruh baya itu mencoba menarik kaki laki-laki itu, dengan penuh permohonan.
Dia tahu betul bagaimana watak laki-laki yang berjuluk manusia tidak berhati itu, jika dia sudah berkata tidak, begitu dia memutuskan nya dan menjauh maka jangan harap dia akan mengubah semua nya.
Dibandingkan kehilangan perusahaan besar nya, membuat putri-putri nya dinikahi laki-laki kejam itu bukan masalah. Dia jelas tidak mau kehilangan masa depan, perusahaan dan harga dirinya. Toh saat semua menjadi normal, dia fikir putri-putri nya pasti akan memaklumi semuanya.
"Baik aku pilih ke dua-duanya, tapi aku hanya akan menikahi salah satunya saja"
Laki-laki itu menatap tajam bola mata pria itu.
"Aku bebas memakai yang manapun yang aku mau, dan aku bebas menceraikan siapapun yang aku nikahi"
sejenak pria itu menelan salivanya.
"Saya paham tuan"
Ucap pria itu dengan tubuh lemas.
"Putri ku yang satunya berada di Paris, tuan"
"Maka biarkan dia pulang secepatnya"
Setelah berkata begitu, laki-laki itu pergi menjauhi pria itu, dengan sekali mengangkat tangan semua pengawal nya menjauhi pria itu.
******
Satu gadis muda berumur 25 tahun, pria kemarin dan seorang wanita paruh baya tampak duduk terdiam menundukkan kepala mereka saat menyadari siapa yang barusan datang kekediaman mereka.
"Tu..an"
Sang istri dari pria kemarin, istri tuan Lusio tampak bicara dengan nada tercekat, dia fikir kenapa laki-laki dengan sejuta kekejaman nya tahu-tahu bertandang ke kediaman mereka? apakah ada hal darurat yang terjadi pada suaminya?.
Lincoln jelas tidak bergeming, berusaha memperhatikan gadis yang ada di hadapannya itu. Dia bisa menebak ini adalah putri tertua keluarga Lusio, sesuai dengan foto yang dilihatnya kemarin.
Aksen wajahnya cukup manis, tapi Lincoln jelas tahu, gadis itu pasti pandai menipu, bola matanya menyiratkan ketidak jujuran, saat menatap lawan selalu terlihat gelisah dalam berbicara, dia jelas terlihat seperti gadis yang pandai berkelit lidah.
Bahkan Lincoln berani menjamin gadis ini pasti sudah sering tidur dengan para kekasih nya, apa lagi Lincoln jelas sudah banyak tahu soal gadis itu sebelum nya.
"Siapa nama mu?"
Sang sekretaris Lincoln nona Maya bertanya pada gadis itu
"Emilia"
jawab gadis itu pelan, mencoba melirik ke arah Lincoln.
Lincoln mendengus pelan, seperti sedang mengejek.
Emilia fikir ternyata tuan Lincoln setampan ini, sebab banyak sekali gosip-gosip berkata betapa mengerikannya laki-laki itu. Gadis itu awalnya ber fikir Lincoln merupakan laki-laki tua, berkepala botak dengan perut buncitnya.
Tapi siapa sangka, wajah Lincoln jelas terlihat bak lukisan dewa Yunani yang terpahat begitu sempurna, garis rahang tajam nya Begitu luar biasa, bola mata indah nya bisa menggetarkan hati gadis manapun yang melihatnya. Bahkan bibir nya Begitu indah dipandang mata, ditambah tubuh kekar yang Emilia yakini bisa membuat puas gadis atau bahkan perempuan manapun yang menyentuhnya.
"Mari susun jadwal pernikahan nya"
sang sekretaris bicara Cepat.
"Ya?"
Nyonya lusio jelas membulat kan bola matanya.
"Apa maksudnya, pa?"
Dia menoleh ke arah suami nya.
Tidak ada Jawaban sama sekali.
Emilia jelas shok, dia fikir menikah?
menikah dengan taun MC Juan?
"Karena tuan Lincoln bukan orang yang punya banyak waktu senggang, kita akan membuat pernikahan nya di catatan sipil, setelah itu baru membawa nona Emilia kembali pulang ke kediaman MC Juan.
"Emilia kenapa kamu tidak menolaknya?"
Jelas saja nyoya lusio tampak panik, bagaimana bisa dia menyerahkan putri kesayangannya pada tuan MC Juan, siapa yang tidak kenal dengan kekejaman laki-laki itu, menyerahkan putri kesayangannya pada laki-laki itu sama dengan menghancurkan masa depan putri nya.
"Aku akan mengambil sesuai kesepakatan awal"
ujar Lincoln cepat, berdiri dari duduknya lantas berjalan meninggalkan semua orang, diikuti sang sekretaris dan pengawal nya.
"Pa maksudnya bagaimana?"
Emilia jelas terkejut.
"Maksud nya bagaimana? papa sudah menyepakati semuanya sejak awal?
Sang istri jelas ikut panik dan terkejut.
"perusahaan jelas tidak punya pilihan lain"
"Apa?"
jelas saja istri lusio panik, menangis histeris Seketika.
"Pa, bagaimana mungkin kita melepaskannya Emilia?"
"Kita tidak punya pilihan lain"
"Pa... dia putri kita, bagaimana dengan pertunangan nya?"
seketika tuan lusio menelan salivanya, dia menyerah kan putri nya seolah lupa jika putri nya sudah bertunangan dengan orang lain.
Saat tahu Lincoln menginginkan sang sulung istrinya se panik dan se histeris ini, Bahkan tuan Lincoln juga meminta si bungsu mereka, bagaimana cara dia menjelaskan pada istri nya nanti, bisa dia pastikan istri nya benar-benar akan shok berat dan entahlah.... lusio jelas tidak tahu harus bicara apa.
Seketika dia memijat keningnya berat.
*****
Alicia jelas cukup Bingung saat papa nya meminta dirinya untuk kembali ke Indonesia, Dia fikir ini bukan liburan kuliah, baru masuk di semester pertama. Kata sang papa ada hal yang harus dibicarakan oleh mereka, cukup penting hingga harus dengan kehadiran Alicia.
Dan anehnya entah kenapa rektor dan dosen universitas tempat dia kuliah tiba-tiba memberikan nya izin dengan mudah, tanpa bertanya alasannya atau meminta penjelasan kenapa.
Alicia menghembuskan nafas nya berkali-kali, tampak masih terus bingung dengan semua hal yang tiba-tiba.
Herannya ketika pertama kali tiba di bandara dia sama sekali tidak mendapati papa nya, sopir kepercayaan keluarga, mama nya atau bahkan kakak nya yang menjemput dirinya. Melainkan pria asing dengan tubuh tegap berkaca mata hitam dan sebuah mobil mewah.
"Aku fikir ini kesalahpahaman, mungkin tuan salah menjemput orang"
Alicia jelas mengerutkan dahinya, menatap Bingung ke arah pria berusia sekitar hampir 40 tahunan itu.
"Tidak nona, anda adalah Nina Alicia Luciano?"
Alicia hanya mengangguk pelan,masih dengan perasaan Bingung berusaha naik ke mobil itu dibelakang nya.
"Anda bisa memilih duduk didepan nona"
Alicia jelas menggeleng cepat.
"Disini saja"
ucapnya lantas segera duduk di belakang kemudi.
Selama diperjalanan bola mata Alicia terus menatap jutaan gedung yang menjulang tinggi di sepanjang perjalanan, beberapa papan Billboard tampak menampilkan gambar-gambar aktris dan aktor dengan mengiklankan beberapa produk di sana, Alicia fikir Berapa tahun dia tidak lagi pernah pulang ke Indonesia?
Kekecewaan yang terpatri di wajahnya soal tindakan sang kakak di masa lalu jelas nyaris tidak dapat dia maafkan, 2 kesalahan paling fatal yang dilakukan kakaknya jelas membuat Alicia kecewa,apalagi sang mama yang membiarkan perbuatan kakak nya dan menutupi soal kenyataan yang sebenarnya.
"Satu hari kita akan menuai karma nya ma"
Alicia menangis menatap wajah sang mama, papa nya jelas mengusap kasar wajahnya sendiri.
"shut up dan kembali ke kamar mu"
Ucap papa nya kesal.
Alicia menghembuskan kasar nafasnya, berdiri dari duduknya lantas melesat masuk ke dalam kamarnya.
Perjalanan terasa cukup jauh bagi Alicia, entah kemana pria dewasa itu akan membawa nya, hingga akhirnya mereka tiba di satu tempat yang Alicia jelas tidak kenali
Sebuah rumah mewah yang jika di luar negeri hampir mirip seperti mansion.
"Kita ada dimana, tuan?"
Alicia semakin mengerutkan alisnya saat mereka mulai memasuki halaman luas rumah tersebut.
Seketika tidak tahu kenapa, firasat Alicia berkata seolah-olah hal buruk akan terjadi pada dirinya.
"Anda akan tahu setelah masuk"
ucap laki-laki itu cepat.
jelas saja Alicia semakin tidak paham dengan seluruh keadaan ini, dan Alicia semakin bertambah Bingung ketika melihat beberapa orang tampak menunggu diri mereka didepan pintu utama bangunan mewah itu.
"Selamat datang di rumah utama MC Juan nona"
Ucap laki-laki itu sambil membukakan pintu mobil nya, mempersilahkan Alicia keluar dari mobil dan melesat masuk menuju ke dalam.
Benar adanya, saat Alicia menginjakkan kaki nya di anak tangga pertama menuju ke arah dalam, seluruh orang-orang yang berdiri tadi tampak menundukkan kepala mereka kepada Alicia.
"Tuan?"
Alicia tampak tercekat, pria itu mempersilahkan Alicia untuk meneruskan langkah kaki nya.
Hingga akhirnya Alicia masuk ke dalam bangunan mewah itu secara perlahan.
"Sebenarnya ini Dimana, tuan?"
Alicia mencoba kembali bertanya pada laki-laki tadi.
"Ini Dirumah kakak ipar anda nona"
Laki-laki itu bicara sambil membungkukkan tubuhnya.
seketika Alicia melongok kaget.
"A...apa?"
kakak ipar? maksud nya bagaimana?
*****
Kakak ipar?
tunggu dulu, maksud nya bagaimana? suami kakak ku? Emilia?
Otak Alicia jelas terasa tidak berfungsi dengan baik saat ini.
"Dimana papa dan papa?"
jelas saja itu pertanyaan paling logis yang harus dia tanyakan saat ini, Dimana orang tua nya, agar dia bisa dengan mudah bertanya soal kenyataan yang terjadi.
Kapan kakak perempuan nya, Emilia menikah? kenapa dia harus tahu dari mulut orang lain? bukan dari mulut sang mama.
"Anda bisa bertemu dengan mereka besok pagi disaat jam sarapan pagi, nona"
Alicia tampak tercekat, dia diam dengan sejuta tanda tanya hingga akhirnya seorang wanita seumuran mama nya membawa koper nya menuju ke arah atas, meminta Alicia untuk mengikuti langkah kakinya.
Pada akhirnya Alicia mau tidak mau menyeret langkah nya mengikuti wanita itu menuju ke atas dengan perasaan bingung. Semua orang bahkan masih menundukkan kepala mereka pada Alicia, bahkan suasana kurang mengenakkan jelas terus terasa menggempur perasaan Alicia.
"Anda bisa menyelesaikan makan malam anda setelah ini nona, dan air mandi anda sudah di siapkan oleh beberapa pelayan tadi"
wanita tadi bicara sambil menundukkan kepalanya, beberapa pelayan Tampak mulai menyusun beberapa menu makanan di atas meja.
Alicia hanya mampu membalas wanita itu dengan balik menundukkan kepalanya
Saat wanita tadi sudah berlalu dari hadapan Alicia, dengan kekalutan dalam pilihan Alicia berfikir sebaiknya makan lebih dulu atau mandi? pada akhirnya Alicia memilih untuk menyantap makanan yang ada dihadapannya.
Setelah selesai akhirnya dengan gerakan cepat gadis itu melesat masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Jelas selain untuk membuang seluruh rasa lengket di tubuhnya karena perjalanan panjang 17 jam lebih, Alicia fikir dia memang butuh air untuk mendinginkan otak nya yang mulai membuntuh seketika.
Sejuta pertanyaan jelas menghantam dirinya, dia fikir apakah benar ini rumah Kakak ipar nya? kenapa tidak ada satupun keluarga yang bicara soal pernikahan kakak nya? apakah karena ini papa nya meminta agar dirinya pulang ke Indonesia Secepat nya?
Mereka baru akan menikah? atau sudah menikah?
batin Alicia.
Tapi jika iya apa hubungannya dengan dia di antar ke rumah asing yang adalah milik kakak ipar nya itu? sangat terlalu tidak masuk akal jika kakak nya yang akan menikah tapi dia di perlakukan Secara istimewa.
Seketika rasa mengantuk menyerang Alicia di saat dia tengah berendam di dalam bathtub kamar mandi, matanya jelas tiba-tiba merasa begitu berat dan tubuh Alicia tiba-tiba merasa begitu lemas.
Sejenak Alicia fikir mungkin sebaiknya dia memejamkan matanya beberapa waktu setelah itu baru keluar dan tidur ke dalam kamar barunya.
Rasa kantuknya jelas menghantam dirinya dengan cara yang sangat luar biasa, seolah-olah tidak memberikan dirinya kesempatan untuk berpindah tempat,Hingga akhirnya Alicia benar-benar terlelap di dalam tidurnya.
Tanpa Alicia Duga seseorang masuk secara perlahan dari arah pintu depan, mencoba melihat kedalam kamar namun tidak mendapati orang yang ingin dia temui, hingga akhirnya dengan gerakan perlahan laki-laki itu membuka pintu kamar mandi.
Lincoln jelas tersenyum bahagia melihat keadaan Alicia yang mulai tertidur lelap di atas bathtub, dengan gerakan cepat laki-laki itu masuk ke dalam bathtub, menyambar lembut tubuh gadis itu agar masuk ke dalam dekapannya.
"Wellcome burung kecil ku"
Bisik Lincoln pelan di balik telinga Alicia dengan senyuman iblisnya.
*****
Setelah menyelesaikan sesi sarapan pagi, Alicia bertemu dengan sang mama dan kakak nya. Mama nya jelas mengerutkan keningnya saat menyadari kehadiran Alicia.
"Kenapa Alicia pulang dari Paris?"
"Dia harus tahu jika kakak nya menikah, ma"
Sang istri tampak diam, entahlah firasatnya berkata sesuatu yang kurang baik sebenarnya sedang berlangsung saat ini.
"Mama..."
Alicia memeluk tubuh wanita yang selalu dia panggil mama itu, 2 tahun tidak bertemu jelas membuat kerinduan nya membuncah parah.
"Kakak..."
Alicia dengan gerakan cepat memeluk sang kakak dalam sejuta kehangatan.
"Ternyata kau pulang juga ke Indonesia?"
Emilia bertanya riang, memerlukan adiknya dengan perasaan senang.
Alicia seperti nya menyadari soal sesuatu
"Bukankah kakak bertunangan dengan Endrew ?"
Seingat Alicia kakak nya seharusnya telah bertunangan sejak Satu Setengah tahun silam dengan sang kekasih nya, kenapa tiba-tiba Kakak nya akan menikahi laki-laki lain yang bahkan sama sekali tidak Alicia kenali.
"Ada urusan dewasa yang cukup sulit diceritakan, Alicia"
ucap sang papa cepat.
"Kita akan membahas perihal lain saat ini"
ucap sang asisten pribadi Lincoln, nona Maya
"Pernikahan nya sudah di urus semua, kakak dan Lincoln jelas sudah menjadi suami istri"
Tidak ada pesta perayaan?
fikir Alicia
"Karena perusahaan tuan Lincoln berada di pari, maka Nona Emilia akan ikut dengan tuan Lincoln ke Paris dan tinggal disana, dan atas keputusan bersama antara keluarga, Nona Alicia akan ikut tinggal bersama tuan dan nona di mansion pribadi mereka.
"Ya...?"
Jelas saja Alicia terkaget-kaget mendengar ucapan nona Maya.
Mama Alicia jelas menoleh ke arah suami nya.
"Kenapa aku tidak diberi tahu?"
Tanya nya pada sang suami.
"Aku cukup nyaman tinggal di apartemen ku"
Potong Alicia cepat, menatap tuan Lincoln dengan tatapan yang begitu tajam.
"Aku sudah terbiasa hidup mandiri"
"Kau akan tinggal di mansion utama"
"Ya?"
"Ya?"
Alicia dan Emilia jelas saling menoleh.
"Ba.. bagaimana?"
Tunggulah dulu, maksudnya bagaimana? siapa yang istri siapa yang adik ipar? kenapa adik ipar tinggal di mansion utama?.
"Lalu kakak?"
Pertanyaan konyol itu jelas meluncur dari bibir Alicia.
"Di mansion ke dua yang letak nya tidak begitu jauh dari perusahaan"
Nona Maya menjawab cepat.
Oke cukup masuk akal, karena dekat dengan perusahaan. Otak Alicia saja mungkin yang menangkap segala sesuatu dengan cara yang salah.
Emilia tentu saja menggigit kasar bibirnya, dia jelas merasa begitu kecewa. Kata-kata Lincoln semalam benar-benar menyakiti perasaan nya.
"Pernikahan ini hanya sebuah simbol kesepakatan antara papa mu dan aku, demi menyelamatkan perusahaan kalian, jadi jangan bermimpi Terlalu jauh tentang hubungan kita, dan ingat lah satu hal jika aku sama sekali tidak mencintai kamu"
"Tapi bukan berarti aku memberi mu kebebasan dalam banyak hal, jangan sampai aku melihat kau berhubungan dengan satu laki-laki pun tanpa seizinku"
"Dan aku bebas tidur dengan siapapun sesuai kemauan ku"
Sebercanda itu kah hidup?
Emilia jelas merasa kecewa, ingin sekali dia menangis saat mendengar ucapan Lincoln.
Laki-laki itu sama saja membelenggu diri nya tanpa memberikan nya kebebasan.
Lalu kenapa saat ini bola mata Lincoln seolah menatap sang adik nya dengan begitu penuh gairah dan cinta? Emilia fikir rencana apa yang sebenar nya Lincoln mainkan? Apa laki-laki itu juga ingin membelenggu sang adik nya sama seperti membelenggu dirinya.
"Sebaiknya Alicia tinggal di apartemen nya saja"
ucap Emilia penuh ke khawatiran.
"Sejak kapan kau yang mengatur semuanya?"
Lincoln menatap tajam bola mata Emilia, suaranya jelas terdengar begitu dingin sekali.
Sejenak Emilia menelan salivanya, Alicia tampak diam tak bergeming, menatap dua manusia yang katanya sudah menikah tapi bola mata masing-masing dari mereka menyiratkan tanda jika di sana sejak awal tidak pernah ada cinta.
"Kita akan kembali ke Paris besok, naiklah ke kamar mu Alicia"
Dan saat bicara pada Alicia, jelas suara Lincoln berubah 180°.
Alicia menatap papa dan mama nya sejenak, meminta mereka mengatakan soal sesuatu, tapi sang Daddy dengan cepat berkata.
"Naiklah"
Maka apa yang harus Alicia lakukan? dia hanya bisa menurut, membalik tubuhnya kemudian beranjak pergi dari hadapan semua orang.
*******
Saat baru selesai dari sesi membersihkan tubuhnya, Alicia dengan cepat keluar dari kamar mandi dan menggunakan kamisol tidurnya yang imut.
Sejenak Alicia menoleh ke arah jam di dinding, pukul 1.45 tengah malam, tangan nya meraih body lotion yang ada di atas nakas, mulai mengolesi seluruh tubuhnya dengan lotion itu secara perlahan, kemudian meraih parfum lantas menyemprotkan lehernya dengan parfum itu.
Dengan mata mulai mengantuk Alicia mulai membaringkan tubuhnya di atas kasur, membenamkan tubuh nya dindalam kasur empuk dan membenamkan kepalanya Secara perlahan di atas bantal lembut terbuat dari bulu angsa import itu.
"Ohhh nyamannya"
ucap Alicia pelan sambil menarik selimut lembut berwarna putih dan menutupi seluruh tubuhnya.
Gadis itu mulai memejamkan bola matanya dan terlelap sempurna.
Entah pukul berapa tiba-tiba seorang laki-laki membuka pintu kamar Alicia secara perlahan, menutup dengan hati-hati lantas. Orang itu melangkah kaki nya secara perlahan, mendekati tempat tubuh Alicia terbaring.
Secara perlahan laki-laki itu membuka selimut yang menutupi seluruh tubuh itu, Seketika menampilkan pemandangan luar biasa yang bisa membuat mata siapapun tidak akan bisa terpejam melihat nya, Tubuh putih bak porselen dengan lekukan yang seperti gitar spanyol, menampilkan belahan dunia ke dua setelah belahan dunia surgawi dibawah sana.
Laki-laki itu duduk dengan tenang di samping Alicia yang tertidur lelap, menyentuh lembut wajah itu sambil menatapnya untuk waktu yang cukup lama, Kemudian tangan kanan laki-laki itu secara perlahan mulai menjelajahi setiap inci wajah indah itu dengan sapuan lembut, menyentuh lips berwarna pink alami itu yang sedikit terbuka.
Secara perlahan laki-laki itulah mulai mendekati wajahnya,mencoba menyapu lips itu dengan milik nya, begitu lembut bahkan sangat lembut sekali, menyatu dan mencoba menelusuri isi dalam nya dengan gerakan yang begitu lembut.
"Alicia"
laki-laki itu berbisik pelan, tapi suaranya terdengar seperti sebuah pernyataan jika dia sedang menginginkan sesuatu yang sulit diungkap kan dengan kata-kata.
Entah sejak awal melihat Alicia, dia merasa tingkat adrenalin nya jelas meningkat sempurnah. Apalagi saat melihat wajah gadis itu yang masih terpulas indah didalam mimpi mya, bagaikan sebuah pahatan Dewi cinta yang begitu memabukkan dirinya, dapat membuat gejolak kelaki-lakian nya naik tiba-tiba.
Dengan gerakan cepat laki-laki itu menarik dasinya, melepaskan jas mewahnya lantas membuka seluruh pelindung tubuhnya satu per satu hingga tidak menyisakan apapun di sana. lantas dengan gerakan lembut pula dia meraih sebuah gunting yang sejak awal memang dia bawa dindalam jas nya, naik ke atas kasur lantas secara perlahan mulai menggunting kamisol berwarna peach milik Alicia, bahkan dia menggunting semua pelindung tubuh indah itu tanpa pamrih agar membuat dirinya dengan leluasa memiliki seutuh nya sosok sempurna yang dia yakini belum pernah terjamah oleh siapapun sebelumnya.
Setelah memastikan semua menggila dengan sempurna, laki-laki itu kembali menyatukan kelembutan pada lips yang berwarna pink menggoda itu, bertaut Sempurna dan mencoba menelusuri hingga kedalam-dalamnya, bahkan jemari dengan sidik jarinya mulai menyapu indah dpi bawah sana, merasakan tiap lekukan dan pahatan mulus paling nyata dari pencipta.
Alicia merasa sesuatu bergerak-gerak sejak tadi, meskipun terasa lembut tapi begitu ingin menyeruak masuk ke dalam rongga mulutnya, mengukur tiap inci dari mulut nya.
Dalam rasa kantuknya dia mencoba menyadarkan diri tapi jelas terasa engan karena mata mengalahkan segalanya, tapi saat Sesuatu tiba-tiba bergerak di bawah sana, menyentuh sesuatu yang membuat dia terpaksa bangun karena rasa yang bercampur aduk jadi satu seperti ada kupu-kupu yang berterbangan menghantam dirinya, secepat kilat dia membuka bola matanya.
"Kakak?"
Dia jelas terkejut saat tahu Lincoln sang kakak ipar sudah berada tepat di atas tubuhnya.