
Zoya melangkah pelan keluar dari dalam apartemen tersebut dan memilih untuk menatap pintu apartemen saudara tirinya tersebut dalam waktu yang cukup lama, dia menggendong sebuah tas ransel yang belum diketahui oleh orang-orang apa isi nya.
"Cuihhhh.". Zoya terlihat bercuih jijik menatap pintu apartemen Laura.
Menggunakan Crawford alias Ford sebagai satu-satunya orang yang akan dijadikan tersangka baik dari sisi kiri, kanan, depan dan belakang. Sungguh luar biasa ide brilian nya, dia benar-benar ingin mendapatkan semuanya dengan laki-laki sialan itu secara bersamaan.
Meruntuhkan Crawford, mendapatkan Khan, menjadi istri pemimpin dari Khan dan membiarkan laki-laki yang bercinta dengan Laura didalam sana pemimpin Crawford berikutnya. Dan Clara akan habis di bawah jajahan Laura. Sungguh luar biasa picik rencana matang Laura.
Permusuhan Khan dan Ford yang terjadi sejak dulu hingga sekarang terus dimanfaatkan oleh Laura untuk mengambil hati Khan, perempuan tersebut selalu mendapatkan informasi jauh lebih cepat daripada siapapun untuk mendapatkan semua hal yang Khan inginkan dari Ford tanpa terkecuali.
Sangat wajar jika Laura selalu selangkah lebih maju, karena rata-rata orang-orang disekitar Ford pernah meniduri dirinya diam-diam, dia jelas mudah untuk masuk dan menguak informasi dengan caranya yang picik dan juga licik ditambah kepintarannya yang melampaui batasannya. Lucunya meksipun kakak tirinya berkata dia mencintai Khan, nyatanya perempuan tersebut tidur dengan siapapun sesuka hatinya.
"Kau pikir khan mau dengan perempuan bekas?." Sungguh enggan dia menganggap perempuan itu saudara, dia terpaksa berada di sekitar Laura karena dia punya alasan untuk bertahan hingga waktu selesai nya.
Karena itu dia terus berusaha menahan semua perasaan nya tiap kali berhadapan dengan perempuan tersebut.
"Aku sedang menyusun strategi seolah-olah aku di nodai oleh seseorang." Bisa-bisa nya perempuan tersebut menjawab dengan ringan.
Cihhhhh, ingin sekali Zoya meludahi wajah perempuan tersebut saat dia mendengar apa yang diucapkan oleh Laura.
"kau akan mengorbankan orang lain lagi untuk ambisimu?."
"Bukankah untuk mencapai sesuatu kita harus mampu untuk mengorbankan orang lain?, bukan alasan yang buruk saat kita harus menyingkirkan siapapun untuk membuat kita menang akan sesuatu."
Gadis tersebut mengehela pelan nafasnya, dia membalikan tubuhnya secara perlahan kemudian memilih untuk beranjak pergi dari sana dengan cepat. Zoya pikir kafe 24 jam adalah tempat yang paling terbaik untuknya pergi sejenak setelah itu dia baru berpikir ke mana lagi dia harus melangkah.
Minum kopi panas jelas menjadi pilihan paling bijaksana untuk gadis seusia dirinya keluar di waktu yang tidak normal seperti ini. Dia pikir kenapa tadi tidak mengambil jaket saat keluar, minimal sweater untuk menghangatkan tubuhnya di malam dingin seperti ini.
Paris sebentar lagi akan memasuki musim salju, cuaca belakangan bener-bener sangat tidak bersahabat pikirnya.
Zoya terus melangkahkan kakinya dengan cepat tanpa berpikir dua tiga kali dan mencoba untuk mencari mini market 24 jam terdekat.
********
Cafe the chocolate
Paris.
Zoya duduk di cafe yang dia datangi, memesan paket kopi coklat hangat untuk dia habiskan mungkin hingga pagi hari nanti, dia tidak mungkin hanya duduk disana bukan?. Dia jelas butuh menikmati kopi coklat bersamaan roti Kubaneh atau rori Baguette. Mengisi perut diwaktu dingin di iringi seduhan kopi dan coklat panas bisa menghangatkan tubuhnya, apalagi dia tidak menggunakan jaket sama sekali.
Sembari dia menunggu kopi hangatnya datang, secara perlahan gadis tersebut mengeluarkan sesuatu dari dalam tas ransel nya. Sebuah benda pipih kesayangan nya bersamaan dengan gadis tersebut mencoba menyambung headset bluetooth ke balik telinga nya.
"Kau di sana, Ash?." Ucap Zoya sambil menaikkan ujung bibirnya.