
Mendengar ucapan Nyx membuat Khan diam, dia menatap sepupunya untuk beberapa waktu, isi kepalanya berputar memikirkan bocah kecil dirumah Nyx dimana mommy mereka pasti membawa laki-laki berusia lebih dari 5 tahun tersebut datang kerumah keluarga besar Hillatop di akhir minggu atau Jum'at. Nyx Junior satu-satunya alasan kenapa Khan didesak terus menerus agar menikah selama ini oleh kedua orang tuanya apalagi mommy nya, wanita tersebut sering berkata.
"Kapan dirumah keluarga Gao Hillatop memiliki anak bayi yang lucu dan imut seperti Nyx J?."
Tidak perlu dijabarkan dengan terlalu berlebihan, dia sudah tahu maksud dari ucapan Wanita tersebut, halus tapi penuh dengan sindiran, tidak buruk tapi memiliki arti yang begitu dalam. Mereka bilang seorang ibu dari anak-anak mereka berharap menimang cucu secepat nya dimasa tua mereka, rumah yang sepi tanpa suara tawa anak-anak menjadi alasan utama kenapa mereka terus memberikan tekanan untuk anak-anak menikah.
"Tapi Nyx Junior butuh seorang ibu, kau tahu? pelayan tidak benar-benar tulus merawat mereka seperti seorang ibu," Khan bicara cepat, dia menghisap cerutu miliknya dengan gaya yang begitu angkuh, menikmati aroma tembakau yang dihembuskan nya menjadi sekelebat asap. Tungku perapian terus mengeluarkan kobaran apinya dan suara pembakaran kayu terdengar memecah keadaan.
"Tidak semudah itu, bukankah kamu juga sulit menerima seseorang disisi kamu? bertemu dengan orang yang tepat tidak semudah yang membalikkan telapak tangan. Aku mungkin tidak harus egois memikirkan perasaan ku sendiri, minimal J suka dengan pilihan nya dan yakin dia menyukai perempuan pilihan nya, aku bisa jadi mempertimbangkan nya nanti, tapi sayangnya J bahkan juga belum menemukan Perempuan yang mampu mengatasi dan mengalahkan hati nya hingga hari ini, dia hanya menuntut agar aku mencarikan nya ibu, lucunya dia tidak memiliki sosok rekomendasi yang mungkin bisa aku pertimbangan nanti." Nyx bicara, menikmati kembali wine nya, dia menggoyang gelas miliknya sejenak kemudian mulai menghabiskan sisa terakhir wine 🍷 nya.
Khan mematikan api cerutu nya secara perlahan, dia meraih gelas minuman nya dan menikmati nya dalam sekali tegukan.
"Yeah, biarkan J lebih dulu yang jatuh cinta pada perempuan pilihan nya, dengan begitu mungkin kamu juga akan jatuh cinta padanya," Ucap Khan kemudian, lantas laki-laki tersebut perlahan berdiri dari posisi duduknya.
"Jangan lupa gunakan pengaman saat kamu tengah bersenang-senang, brother." Bisa-bisa nya dia berpesan seperti itu pada sepupu nya tersebut.
Nyx mendengus.
"Kau pikir aku mau menanam benih di sembarang lubang? jangan bercanda." Jawab laki-laki tersebut dingin.
Dia kembali menuangkan minuman di gelas wine 🍷 nya, berpikir untuk menenangkan diri sejenak atas berbagai macam pikiran yang menghantam nya.
"Aku dengar dia sudah masuk sekolah tahun ini?." Dan Khan melirik kearah Nyx yang masih menikmati minuman nya.
"Yeah, dia mulai masuk sekolah tahun ini, sudah memulai semua aktifitas nya sejak minggu kemarin"
"Kamu akan cukup repot dengan semua keadaan."
"Tergantung, selama dia tidak rewel aku pikir itu bukan masalah." jawab Nyx cepat.
"Dia selalu mandiri dalam kemampuan nya sendiri, meskipun dingin dan tidak kalah arogansi dari ku, dia selalu mampu berpijak pada kedua kakinya sendiri."
Mendengar ucapan Nyx, Khan tampak mendengus.
"Dia terpaksa melakukan nya karena kau sibuk dan nyaris tidak memperhatikan nya, dia tidak suka merepotkan grandma Hayat atau grabdpa Ahem nya, cukup tahu diri dalam keadaannya sendiri, kau memaksanya dewasa lebih cepat dari usia dia yang seharusnya, Nyx." Dan Khan berusaha untuk memperingatkan sepupunya tersebut dengan serius.
"Dia sebenarnya tidak sedang baik-baik saja, kau hanya tidak menyadari nya." Lanjut Khan lagi kemudian, setelah berkata begitu Khan secara perlahan bergerak menjauhi sepupunya tersebut.
"Apa kamu bahagia hidup bersama daddy, J," Dia bertanya pada bocah laki-laki yang memiliki wajah yang setengah nya memiliki persamaan dengan dirinya tersebut.
Putra kecilnya tengah berbaring di atas kasur, baru saja selesai menggosok gigi dan mencuci kaki serta tangan nya beberapa menit yang lalu, bersiap tidur karena besok akan ada kegiatan di rumah titip anak bersama grandma nya.
Nyx J terlihat menelisik bola mata daddy nya, arti tatapan Nyx J sangat sulit di pahami, bahkan Nyx yang notabene ayah nya sendiri sangat sulit menyelam hati putranya sendiri. Nyx J diajarkan mandiri di usia dini, karena itu dia tidak pernah menampilkan ekspresi nya sama sekali kepada siapapun yang ada disekitar nya termasuk pada ayahnya sendiri hingga hari ini.
Bahkan Nyx tidak pernah melihat J menangis dalam keadaan apapun, sekalipun dia terluka, J memilih diam dan berusaha mencari alternatif pengobatan sendiri melalui kotak P3K, kemandirian J membuat laki-laki tersebut kadang cemas dibuatnya, berpikir apakah mental putranya baik-baik saja? apakah putra nya bahagia hidup bersama dirinya?!.
"He em, tentu saja." Jawab J pelan, dia bersiap untuk menenggelamkan dirinya ke alam mimpi, membuang pandangannya dan menarik perlahan selimut nya sendiri.
"J," Nyx menggenggam perlahan telapak tangan putranya, tidak mengizinkan bocah tersebut tidur lebih dulu.
"Tidak ingin menangis di dada daddy, J?." Dia bertanya pelan pada putranya, menatap dalam bola mata bocah tersebut cukup lama.
"Hanya laki-laki cengeng yang melakukan nya, aku tidak akan melakukan hal itu, dad." Jawaban putra nya terlalu dewasa, membuat Nyx terkadang kehilangan kata-kata nya.
"J, daddy."
"Aku harus pergi tidul, daddy bukankah besok halus pergi ke lual kota? ada bibi Sofiyah bersama ku, jangan khawatil soal apapun, aku bisa melakukan semuanya sendili tanpa bantuan daddy."
Dan seketika Nyx terkejut dari lamunannya, saat suara handphone nya mulai berdering memecah keadaan, membuat laki-laki tersebut buru-buru mengangkat handphone nya sembari jemari tangan kiri nya memijat-mijat pelipis kiri dan kanannya.
Itu mommy nya.
"Halo, ada apa mom?." dia menjawab panggilan diseberang sana dengan cepat, menunggu apa yang dikatakan oleh mommy nya di ujung sana. cukup lama hingga didetik berikutnya ekspresi Nyx langsung berubah.
"Apa?." keterkejutan menghantam dirinya.
"Nyx apa yang harus mommy lakukan? J menghilang ditengah malam, ini untuk pertama kalinya, udara dingin diluaran sana, dia meninggal surat dan berkata dia mencari ibu guru di sekolah nya saat ini, oh ya Tuhan, Nyx mommy akan mati jika kehilangan dia-,"
Dan bayangan bagaimana ekspresi laki-laki tersebut malam ini.
"Oh sial." Dia berdiri dengan cepat dari posisi nya, bergerak tanpa memikirkan hal yang lainnya.